
Hari ketiga ketika Hara tidak pernah keluar dari kamarnya, Olan dan Ani sudah sangat cemas.
Mereka telah berkali-kali mengetuk pintu itu dan tidak pernah ada jawaban dari dalam.
Sementara mereka terlalu bodoh tidak memiliki kunci seret untuk kamar tersebut. Keduanya mondar-mandir tidak tahu harus melakukan apa.
"Bagaimana ini, kemungkinan Nyonya sudah pingsan di dalam sana karena tak makan selama 3 hari." Olan merasa sangat cemas.
"Mari mendobrak pintunya saja," Ani merasa sangat cemas.
"Sepertinya itu pilihan terakhir kita, Ayo pergi." Kata Olan dan kedua gadis itu pergi ke lantai bawah menemui pengawal yang berjaga.
"Tolong bantu kami mendobrak pintu kamar milik Nyonya," katanya pada dua pengawal itu.
Sayangnya kedua pengawal itu tidak bergerak sama sekali bahkan tidak berkedip mendengar mereka.
Mereka seperti patung yang diletakkan di sana dan hanya berfungsi sebagai hiasan saja.
"Mengapa Kalian diam saja? Cepat bantu kami!" Teriak Olan pada kedua pengawal tersebut.
Tapi kedua pengawal tersebut sepertinya tidak mau bergerak meskipun mereka dicungkil dari tempatnya.
"Cepat dobrak pintu itu! Kemungkinan Nyonya kami sudah jatuh sakit di sana, ia tidak makan selama 3 hari!" Kata Anni dengan prestasi pada kedua pengawal itu.
Sayangnya setelah mencoba beberapa lama untuk meminta bantuan kepada kedua pengawal itu, mereka mendapat hasil yang sia-sia.
Kedua pengawal itu mengacuhkan mereka dan hanya berdiri disana seperti patung tanpa ekspresi.
Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Olan merasa sangat kesal dan mondar-mandir memikirkan segala cara.
"Apa yang bisa kita lakukan? Kita tidak memiliki tenaga untuk membuka paksa pintu itu. Bahkan kita tidak bisa menghubungi Tuan saat ini."
"Apalagi yang bisa kita lakukan sekarang? Nyonya kemungkinan sedang jatuh sakit di kamarnya. Dan kita berada disini bahkan tidak bisa menyelamatkannya."
Sampai mereka terus berada di sana tidak tahu harus berkata apa pun tiba-tiba bel pintu berbunyi.
Olan segera berlari untuk membuka pintu. Tapi ia dihentikan oleh pengawal yang berdiri di sana. "Siapa yang datang?" Tanya pengawal itu pada Olan.
"Kau bisa mengetahuinya ketika membuka pintu!" Ketus Olan pada pengawal.
Yang lebih mengejutkan Olan ialah kedua pengawal itu mengeluarkan pistol dan mengarahkan pistolnya ke arah pintu sebelum bersiap untuk membukanya.
Olan terpaku di sana menutup mulutnya tidak tahu harus mengatakan apa.
"Mundur!" Pengawal itu memperingatkannya.
Olan segera mundur sesuai dengan perintah pengawal itu. Ia berdiri bersama Anni mengintip dari sisi dinding.
Seperti yang diduga pengawal itu, beberapa orang berseragam hitam segera masuk dan terjadi baku tembak di antara mereka.
Mendengar suara tembakan itu dan melihat salah satu pengawal tela tumbang, Olan dan Ani segera berlari ke lantai atas dan menggedor-gedor pintu kamar Hara.
"Nyonya, buka pintunya!"
"Nyonya beberapa orang berada di sini untuk membunuh kita, cepat buka pintunya!"
"Nyonya kita harus melarikan diri. Kumohon Nyonya buka pintunya!"
Dua-duanya terus berteriak histeris berusaha meyakinkan cara untuk membuka pintunya.
Sayangnya saat itu, hara telah jatuh pingsan di atas tempat tidurnya dan ia tidak mendengarkan apapun.
Sampai beberapa orang berseragam hitam itu itu telah naik ke lantai atas, Olan dan Ani hanya bisa terpaku menatap semua pria-pria itu.
"Minggir!" Teriak salah 1 pria itu.
"Apa yang kalian inginkan?" Olan berteriak sambil kedua wanita itu membuat pagar betis mencegah pengawal itu menerobos masuk ke dalam kamar Hara.
Sayangnya pengawal itu mengangkat senjatanya dan mengarahkannya kepada mereka berdua. "Minggir!" Teriak pria itu.