
Olan berusaha menghindari tatapan Hara, ia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Ada apa? Mengapa kau bertingkah seperti ini? Dimana Anni?" Tanya Hara seraya mengulurkan tangannya untuk menyentuh Olan, tapi gadis itu malah mundur dan menghindarinya.
"Katakan sesuatu," ucap Hara lagi.
Namun saat itu Olan sudah menutupi wajahnya dan terjatuh ke lantai sambil terisak.
Hara menjadi panik ketika ia mengangkat kakinya dan meletakkannya di lantai seraya ia bergabung dengan Olan dan memeluk gadis itu.
"Jangan menangis, kuatkan dirimu." Hara tidak tahu harus mengatakan apa, tapi hanya itu yang bisa ia ucapkan untuk menghibur gadis itu meskipun ia tidak tahu apa yang membuat wanita itu menangis.
Tapi ia juga tidak bisa melepaskan pikirannya dari pikiran negatif bawa terjadi sesuatu pada Anni. Dugaan buruknya diperkuat dengan cara Olan menghindarinya saat ia menanyakan keadaan Anni.
" Nyonya, Anni, Anni, dia,, hiks huhu.... Dia,, dia sudah tiada!" Olan menangis dengan sangat tersedu-sedu.
"Apa maksudmu dengan sudah tiada? Apakah ia sudah dikirim ke pulau terpencil untuk menjaga villa? Jangan menangis seperti ini dan tenangkan dirimu. Bagaimana bisa kau menangis lebih keras dariku ketika kau baru saja memarahi ku karena aku menangis?" Hara bergantian menepuk pelan punggung wanita itu.
"Nyonya, maaf,," ucap Olan dengan liri seraya ia membersihkan sisa-sisa air matanya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, sekarang berhentilah menangis dan biarkan aku kembali ke tempat tidurku. Lantai ini sangat keras dan membuat kakiku terasa pegal." Ucap hara seraya berusaha berdiri.
"Maaf Nyonya, ini salah saya," Olan dengan panik membantu Hara bangkit berdiri dan membantu gadis itu naik ke atas ranjang.
Olan masih berusaha menahan air matanya yang hendak keluar, dengan menarik nafas yang panjang dan menghembuskannya dengan keras, ia kemudian mulai berbicara "Saat Nyonya diculik, orang-orang yang membawanyanya pergi membuat kami pingsan, tapi saat aku tersadar kembali Anni,, dia sudah,, sudah tidak bernyawa lagi."
Kembali air mata oleh membasahi pipinya seraya ia berusaha menghapus air mata di pipinya.
"Kau bilang Anni meninggal?" Tanya Hara dengan ekspresi tidak percaya seolah ia hanya sedang dikerjai oleh Olan."
Olan kembali menangis sambil berpegangan pada ranjang Hara dan terisak menjawab pertanyaan Hara "itt,, itu benar,, Nyonya,, Anni,, dia,, dia sudah pergi! Huhu.. hikss,, semua ini salah saya! Saya tidak bisa menjaga kalian berdua." Terlihat jelas keputusasaan dari ekspresi suara dan cara gadis itu berkata-kata.
Meskipun Hara tidak memiliki hubungan yang terlalu dekat dengan Anni, tapi ia bisa merasakan bagaimana gadis itu sangat memperhatikannya.
Hara berusaha menahan tangisnya seraya meraih tangan Olan dan berpura-pura kuat, menguatkan gadis itu "Tidak ada yang abadi di dunia ini, semua yang hidup akan mati. Semua yang ada akan hilang. Semua yang datang akan pergi, bahkan dunia ini pun tidak abadi. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, kau perlu hidup untuk tetap tegar agar Anni yang melihatmu tidak merasa sedih di alam sana."
Olan masih menangis ketika ia menjawab Hara "Nyonya maafkan saya, saya di sini untuk menghibur Nyonya, tapi malah Nyonyala yang menghibur saya."
"Tidak perlu sungkan, sekarang pergilah beristirahat aku juga akan istirahat dan menunggu Kendra selesai dioperasi."
"Tidak apa Nyonya, beristirahatlah dan saya akan duduk disini menunggu i Nyonya." Olan menyeka air matanya lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana seraya menyalakan tv di depannya.
Ketika itu juga Hara sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya. Meski itu ialah siang hari tapi ia perlu tidur dan mengistirahatkan tubuhnya saat lelah.
Ia perlu terlihat bugar supaya ketika Kendra terbangun, lelaki itu tidak akan mengkhawatirkannya dan ia bisa menjaga pria itu sampai kondisinya benar-benar pulih.