
Ketika sore telah tiba, Hara mulai merasa nyut-nyut pada luka di tubuhnya. Efek obat bius telah menghilang hingga rasa sakitnya mulai terasa.
Kala itu Hara sedang tertidur dan ia mengeryit sambil mengangkat tangannya dan menghempaskannya lagi dan seterusnya.
Kendra yang menyadari hal itu memperhatikan gadis itu lalu meletakkan laptopnya dan mendekati Hara.
Ia meraih lengan Hara dan melihat ada noda darah di perbannya, sepertinya lukanya kembali berdarah karena terkena benturan akibat gerakan gadis itu.
Dengan perlahan Kendra membuka perban di tangan Hara, memang benar lukanya kembali berdarah.
Ia dengan telaten membersihkan lukanya seraya sesekali meniup luka itu.
Setelah membersihkan luka di tangan Hara, Kendra memeriksa luka di kaki gadis itu, untunglah lukanya baik-baik saja.
Hara kembali tidur setelah itu dan terbangun di malam hari.
"Sudah bangun." Pria itu baru saja masuk kamar membawa makanan untuk Hara.
Kendra membantu Hara bangun "Apakah lukanya terasa sakit?" Tanya pria itu.
"Mmmh,,. Sakit." Hara merengek dan meminta dipangku dengan mengulurkan dua tangannya pada pria itu.
"Kemari," ucap Kendra membawa Hara ke pangkuannya, gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu bidang Kendra seraya menunduk melihat tangannya yang telah diganti perbannya.
"Ayo makan dulu," ucap Pria itu lalu meraih makanan yang ia letakkan di meja.
Itu adalah sup ayam yang baik untuk pemulihan Hara.
Hara makan sesuap demi sesuap sebelum mengaku kenyang.
"Obat ini untuk mengurangi rasa sakitnya, minumlah," kata pria itu seraya membantu Hara mengkonsumsi obatnya.
Uhuk-uhuk.. Hara tersedak.
Kendra dengan sigap mendapatkan tisu dan membersihkan bibir Hara seraya menepuk pelan punggung gadis itu.
"Aku akan memandikanmu sebentar lagi," Kendra menyandarkan Hara pada sandaran ranjang lalu berjalan ke kamar mandi menyiapkan pelengkapan mandi Hara.
Tok tok tok, suara pintu di ketuk dari luar.
"Masuk," ucap Hara dan melihat Anni membuka pintu kayu tersebut.
"Nyonya, saya akan membereskan piring kotornya." Anni melangkah masuk dan membereskan piring kotor di meja samping ranjang.
"Sedikit, tapi aku sudah makan obat, mungkin perihnya akan hilang sebentar lagi." Hara menjawab.
"Semoga lekas sembuh Nyonya,"
"Terima kasih Anni," ucap Hara mendapat balasan senyum dari Anni lalu wanita itu keluar dari kamar Hara bersamaan dengan Kendra yang keluar dari kamar mandi.
"Ayo," ucap Kendra menyingkap selimut Hara dan membawa gadis itu ke gendongannya.
"Mmmh, bagaimana caraku mandi?" Hara merasa bingung, kedua kaki dan tangannya sedang di perban.
"Duduk di sini," Kendra mendudukkan Hara di kepala bak berendam lalu menunduk melepaskan satu per satu pakaian Hara.
Kendra menelan air liurnya seraya membuka kancing piyama Hara satu per satu sementara Hara bersandar ke dinding memperhatikan pria itu.
Ketika tertinggal pakaian dalam Hara saja, Kendra memperlambat gerakannya. Sanggupkah ia menahan diri untuk tidak menyentuh Hara?
"Ada apa?" Tanya gadis itu menyadari gerakan Kendra yang semakin lambat.
Kendra mengangkat wajahnya melihat Hara, wajah menggoda itu. Sialan!
Kendra menarik nafas dan menghembuskannya dengan cepat "Tidak apa," lalu ia melanjutkan pekerjaannya.
Kendra mengulurkan tangannya melepas kaitan bra Hara dan melemparkan benda itu ke keranjang pakaian kotor.
Kendra memejamkan matanya untuk menghindari melihat pemandangan menggoda itu.
Setelah menahan selama 3 detik, ia lanjut membantu Hara membuka pakaian dalam bagian bawah gadis itu.
Kendra menelan air liurnya dan merasakan tenggorokannya tercekat saat melihat Hara tanpa pakaian.
Hara memperhatikan Kendra yang terdiam dan jakunnya bergerak karena menelan air liurnya.
Ha ha ha...
Hara tertawa keras melihat pria itu menahan diri. Ini pertama kalinya ia melihat Kendra seperti itu.
Kendra menggelapkan matanya melihat gadis itu tertawa.
"Cepat bantu aku mandi!" Hara berkata setelah tawanya reda. Betapa menyenangkan menggoda pria itu!