
Pada malam harinya, Ranan terbangun dan melihat penuh kehangatan pada semua orang di sana.
Kendra membantunya duduk sebelum posisinya digantikan oleh Marita. Marita menyiapkannya bubur dan menyuapi suaminya dengan sabar.
Setelah makan, Ranan memanggil Asyila dan Kendra, keduanya berdiri di masing-masing sisi ranjang.
Ranan mendapatkan masing-masing lengan kanan kedua orang itu dan menyatukannya di genggamannya. "Ayah sudah tua, dan terlalu rindu untuk menimang seorang cucu. Kalian sudah memasuki usia yang cukup untuk menikah. Ini adalah permintaan Ayah, supaya kaian segera menikah dan memberi kami seorang cucu. Kalian mau kan menuruti permintaan Ayah?"
Dalam hatinya, Asyila melompat kegirangan, namun ia mempertahankan ekspresi terkejutnya seraya melihat ke arah Kendra.
Wajah lelaki itu tampak datar dan dingin, seolah ia akan menolak mentah-mentah permintaan ayahnya.
Asyila mulai gelisah dan merasakan keringat membanjiri telapak tangannya.
"Baik Ayah." Ucap Kendra kemudian membuat seisi ruangan itu terkejut lalu tersenyum.
"Bagaimana denganmu Asyila?" Ranan melihat ke arah Asyila sambil mengeratkan genggamannya.
"Ayah, aku mengikut saja apa yang dikatakan Kendra." Katanya dan tertunduk malu.
"Kalian semua mendengar mereka bukan?" Ranan tersenyum lepas, semua bebannya menghilang dan ia merasa sembuh seketika.
"Selamat untuk kalian berdua." Marita pertama memeluk Kendra lalu Asyila.
Semua dalam keadaan bahagia, terutama orang tua Asyila yang merasakan beban berat di pundak mereka terlepas.
"Aku akan keluar sebentar." Kendra meminta ijin dan keluar beberapa saat sebelum kembali bersama asistennya.
Ia mengeluarkan sebuah cincin dengan berlian yang besar di atasnya, untuk Asyila.
Semua orang terkejut.
"Astaga Kendra, kau sudah menyiapkan semuanya?" Marita merasa sangat senang.
Tapi Kendra hanya berwajah datar dan tidak mengatakan apa pun.
"Benarkah?" Ranan tertawa. "Kalau begitu aku merusak acara lamaran yang disiapkan itu, maafkan aku." Kata Ranan dan menepuk punggung kendra.
"Tidak masalah Ayah, aku cukup senang dengan acara sederhana ini." Asyila tersenyum penuh ketulusan.
"Maafkan Ayah," kata Ranan dan kembali memukul bahu Kendra "Berandal! Berapa lama kau mempersiapkan ini semua? Jadi kita bisa segera mengadakan pesta pernikahannya?"
"Tuan besar, Tuan Muda telah mempersiapkannnya selama 2 tahun, tapi karena pernikahannya di rencanakan digelar dengan mewah di,, maaf, sebenarnya ini harus menjadi kejutan, saya tidak bisa memberitahu kalian. Hanya saja, persiapannya belum selesai sampai sekarang.
"Itulah sebabnya Tuan Muda masih menahan diri dan terlalu sibuk belakangan ini, ia mengerjakan banyak hal demi kejutan itu. Bahkan cincin yang seharusnya sepasang, baru bisa selesai untuk milik Nona Asyila, milik Tuan Muda masih dalam proses pembuatan." Radi.
Meski semua orang tidak puas dengan Radi yang menjelaskan, namun mereka lebih dikuasai perasan senang sehingga tak bisa merusak suasana bahagia itu.
Lagi pula, Kendra memang orang yang irit bicara, ia lebih banyak bertindak daripada berbicara.
"Baiklah, kami akan menunggu saja kejutannya, biarkan Kendra menyelesaikan persiapannya dulu." Ranan akhirnya memutuskan.
Kendra kemudian memasang cincinnya pada Asyila.
"Terima kasih," ucap Asyila dengan senyuman memandang berlian besar yang mengkilap di atas cincin itu.
"Silahkan tandatangan di sini," ucap Radi membuka buku nikah yang telah dipersiapakan itu.
Asyila kemudian dengan hati-hati membubuhkan tandatangannya dan tersenyum puas melihatnya.
Radi menutup buku itu dan menyimpannya dengan baik seraya berpamitan pada semua orang di ruangan itu.
"Tunggu, bolehkah aku memegang buku nikah milikku?" Asyila menyelah di tengah perjalan Radi ke luar kamar. Ia ingin memamerkan buku itu pada semua sahabatnya.
"Tentu saja Nyonya, tapi Tuan berencana membuatnya dalam bentuk pajangan, untuk rumah pernikahan kalian nantinya." Radi menjawab.
Ha ha ha... Semua orang tertawa bahagia "Nak kau merencanakannya dengan matang!" Marita merasa bangga pada tanggung jawab anaknya.
Asyila merona sambil tertunduk malu sebelum menjawab, "Kau bisa membawanya saja." Ucapnya membuat semua orang harus tertawa sekali lagi.