
Setelah aksi ranjang yang hebat itu, Kendra hendak melanjutkannya lagi di kamar mandi.
Sayangnya di tengah pemasan mereka, perut Hara berbunyi keras. Lapar.
Kendra menghentikan aksinya dan tertawa keras sebelum berkata "Ayo mandi dan makan dulu."
Kendra tidak menunggu Hara yang masih mengeringkan rambutnya dan langsung turun ke bawah.
Hara mengacuhkannya dan mengeringkan rambutnya. Setelah selesai ia hendak turun ke lantai bawah ketika ponsel Kendra di atas tempat tidur bergetar.
Ia meraih ponsel itu hendak membawanya pada Kendra, gapi ketika ia melihat nama pengirim pesannya, ia mengerutkan keningnya dan berpikir sebentar sebelum membukanya.
Wanita itu: Di mana kau? Aku membutuhkan bantuanmu untuk memilih hadiah untuk ulang tahun Ibu.
Hara mengerutkan keningnya, ia ingat, besok memang ulang tahun Bibi Marita.
Tapi kemudian ia mengabaikan pesan itu dan melihat ke atas untuk semua pesan lain, tampak Kendra membalas semua pesan, meski pun balasannya sangat singkat dan terkesan cuek.
Ia kini mengerti, siapa pengirimnya. Ia adalah Asyila tunangan Kendra.
Hara kemudian meletakkan kembali ponsel itu dan tersenyum penuh arti.
Hara tiba di dapur dan melihat Kendra sedang duduk menunggunya.
"Maaf, kau menunggu lama." Katanya dan duduk di samping Kendra.
"Makanlah," kemudian Kendra memberikan roti yang telah di oles selai pada Hara.
Hara menghabiskan satu potong roti, "Oleskan lagi untukku." Katanya pada Kendra.
Kendra dengan patuh mengoleskan roti bagi Hara lalu memberikannya pada gadis itu.
Hara tidak menghabiskannya, ia meletakkan sisanya di piring.
Tapi ia ternganga ketika Kendra meraih potongan roti itu dan melahapnya. "Apa yang kau?"
"Ada apa?" Tanya Kendra kemudian.
"Itu bekas gigitanku." Hara mengulurkan tangannya untuk mendapatkan roti itu.
"Lalu kenapa? Aku bahkan menikmati air liurmu." Kendra dengan acuh berkata.
"Hah?"
"Kau tidak tahu malu!" Ucapnya dengan kesal.
"Apa yang tidak tahu malu? Aku mengatakan yang sebenarnya. Kau lupa yang terjadi barusan?"
Wajah Hara memerah, tentu saja yang dimaksud Kendra ialah ketika mereka berciuman.
"Kau seharusnya tidak mengatakannya di sini. Ada Olan yang bisa mendengarnya." Hara melirik ke sekeliling ruangan dan menghela nafas lega ketika ia tidak melihat Olan dimana pun.
"Ha ha ha... Aku sudah menyuruh Olan pulang. Kau bisa menghubunginya ketika kau membutuhkan bantuannya."
Hara akhirnya terdiam dan tidak berkata apa pun lagi.
Setelah makan, Hara menggosok giginya sebelum menemui Kendra yang sedang membalas emailnya.
Ia duduk di pangkuan lelaki itu sambil memeluk dan mencium ringan leher Kendra.
Saat pria itu lengah ia membuat kecupan besar di leher Kendra. Ia mendangi kecupan itu dengan puas, bagaiman pun Kendra menutupinya, tak akan bisa menghilangkan jejaknya.
Menurut yang ia alami, bekas kecupan akan bertahan selama 3 hari, dan karena yang ia buat sangat besar, kemungkinan akan bertahan lebih lama di leher milik Kendra.
Kendra meletakkan laptopnya dan melihat wajah tersenyum Hara. Sangat memikat!
"Apa kerjanya masih lama?" Tanya Hara dengan suara sensual.
Kendra melihat masih ada email yang belum di balasnya, "Masih ada beberapa."
"Apakah sangat mendadak?" Hara menatap dalam Kendra. Terlihat nafsu di mata Hara yang meningkatkan gairah Kendra.
"Tergantung bagaimana kau merayuku," Kendra berkata acuh.
"Hmm? Merayumu?" Hara menggigit bibir bawahnya berpikir sesaat.
Apakah merayu lelaki itu sepadan dengan hasil akhirnya? Bagaimana kalau ia sudah merayunya dan tenyata rencananya gagal?
Hara menggigit kuat bibirnya berpikir mengenai tindakannya.
Lakukan saja! Lagi pula tak ada gunaya menjaga harga diri di depan Kendra.
Pada akhirnya Kendra akan membuatnya merintih ke nikmatan. Apa bedanya itu dengan wanita penggoda yang juga pandai menggoda?