Dimensi Putri Lingling Ke Dunia Masa Depan (Putri Zhu Qira Han2)

Dimensi Putri Lingling Ke Dunia Masa Depan (Putri Zhu Qira Han2)
Bir dan Wulan


Disisi lainnya Wulan sudah sangat lelah satu bulan disini, ia menderita dibuat semena-mena oleh mereka disini, oke lihatlah bagaimana Bir memperlakukanya? Saat ini ia berada disatu kolam buaya besar miliknya. Ia disuruh memberi makanan mereka secara dekat. Ia mati-matian menahan dirinya tidak takut dan gemetar tetapi reaksi tubuhnya merespon lain dari yang ia inginkan. Dirinya gemetar tak karuan, ia sangat takut saat ini.


Bir terlihat menyeringai disana, ia menatap Wulan dengan tatapan tajam dan juga sinis. “Ayo beri makannya.” Mereka melewati jembatan kedepan. Wulan didepanya terdiam dan juga gemetar memegang nampan berisi daging-daging. Terlihat airnya tenang belum ada buayanya. Ia melirik Bir dibelakang takut jika dirinya didorong dari belakang.


Sampai ditengah ada satu napal yang berbentuk batu, disana biasanya mereka memberikan makan buaya-buaya yang ada. Tangan Wulan semakin gemetar dibuatnya, ia melirik Bir dengan takut.


“ Aku-aku- jangan tolong aku takut.”Wulan memelas kepala Bir supaya tidak memperlalukan dirinya begini.”Apa salahku sampai kau melakukan hal yang tidak manusiwi begini terhadap diriku? Aku takut BIr.”Ujarnya lirih dan pelan. Kakinya mendadak menjadi jelly saking takutnya, ia merasa semua tulangnya melembut.


Bir menyeringai dan mengangkat bahu acuh.”Aku tidak melakukan apapun, aku hanya menyuruhmu memberi mereka makanan bukan membuatmu jadi makanan mereka. Bagian mana salahnya? Bukankah kau laki-laki?”Tanyanya membuat Wulan tertegun.


Iya Bir tidak tau dia perempuan tapi bukan begini juga caranya." Bukan berarti aku pria aku tidak boleh takut dengan predator tuan.”Gumamnya takut.


Bir terkekeh ditengah napal itu. ia menunjukan kebelakang Wulan. Wulan meliriknya Kyaaaa.. ia kaget hampir saja buaya yang disana entah sejak kapan ada mengigit pantatnya. Ia mundur dan melihat ada dua buaya yang sedang didekatnya. Bir tersenyum miring lalu melangkah meninggalkan Wulan sendiri tempat itu.. ia berjalan dengan santai dijembatan itu sampai di daratan ia menarik trail nya. Jembatan itu terhenti dan menyusut menyisakan Wulan ditengah danau dengan keadaan diatas napal.


Wulan tak sadar, ia benar-benar tidak sadar jika dirinya dijebak. Ia dengan gemetar memberikan daging itu melemparnya jauh dari buaya yang hampir saja menyerangnya. Lalu barulah buaya itu pergi dari sana. Wulan semakin gemetar hendak mundur barulah ia kaget melihat sudah tidak ada jembatan. Dan ia hanya sendiri disini.


Ia merasa sangat gugup dan takut, nyalinya menciut melirik Bir yang ada diujung jembatan tadi. Bir yang duduk meminum soda seakan dirinya adalah sirkus yang sangat seru untuk dilihat dan dijadikan tontonan.”Tuan tolong, apa yang kau lakukan padaku?!!” Tanyanya berteriak kepada Bir. Ia kesal, ia marah tetapi ia juga sangat-sangat takut untuk saat ini.


Bir menggeleng.”Hanya melihat pertunjukan yang sangat bagus.”Ujarnya pelan.


Wulan menatapnya membelalak.”Mak-maksudmu apa ha? Hey aku manusia bukan sirkus ataupun tontonan yang bisa kau lihat dan permainkan seenaknya saja. Lepaskan aku tolong.!” Teriak Wulan padanya.


Bir terkekeh mendengarnya mengangguk memilih duduk.” Dari pada marah terus cobalah lihat dibelakang mu.!” Teriaknya pada Wulan.


Kya.. Wulan kaget merasa celananya di Hap oleh Biaya. Ia segera mundur tetapi cengkraman buaya itu sangat kuat. ia jadi tidak tau harus apa, ia meneguk Saliva kering dan menendang mata buaya itu kuat. barulah celananya terlepas ia membuang daging-daging dibakul miliknya. Ia mundur melihat sekitar, nafasnya naik turun karena takut. Buaya semakin banyak naik ke napal yang ia pijak, dan ada puluhan jumlahnya mulai dari yang besar dan juga tidak terlalu besar.


Pasokan udara didadanya Wulan terasa sangat sempit. Ia mendadak menjadi asma melihat banyak buaya, tangannya gemetar kakinya menjadi jelli. Ia sangat takut sungguh. Ia diam melirik kearahnya Bir tadi tetapi bIr terlihat tenang menikmati dirinya. Oke dirinya tidak boleh takut supaya dia tidak berani mlakukan hal begini lagi padanya. Tetapi tubuhnya mengkhianati dirinya. Ia tidak bisa tidak panik.


Ia melirik sekeliling ada satu perahu tetapi sangat jauh, ia mau kemana? Disini tidak ada yang bisa ia Gunakan sebab memang tidak ada jalan lain, ia diam memegang dadanya bergetar. Buaya buaya ini makan daging ini kan? jika ia yang buang daging kekanan dan ia meloncat dikiri untuk berenang ke tepi itu tidak menjamin ada buaya yang terpengaruh malah mengejarnya kan? ia juga akan mati jika begini.


Ia mengepalkan tangannnya disana merasakan ia tak punya harapan. Ia terduduk ditengah buaya, ia hanya pasrah jika mati yaj mati saja. Bir yang diujung sana melihatnya mendengus,


“Sangat—sangat tidak menarik.”Gumamnya lalu melangkah memngambil jalan tadi lalu ia segera melangkah menuju Jembatan yang sudah memanjang menuju tempatnya Wulan.


Ia mengambil satu kayu panjang dan mendekat seakan Wulan bukan hal penting yang harus diselamatkan padahal sudah sangat banyak buaya disekitarnya hendak memakannya.


“Bangun..!!, Menyusahkan saja.” Kaki Wulan sangat lemah ia tidak bisa berdiri.


Bir melihat dirinya tak kunjung bangun pun bertanya.”Kenapa? mau dimakan buaya disini??”Tanyanya tak suka.”Atau mau coba mati, punya banyak nyawa gitu?” Ia sangat ketus dalam berbicara.


Wulan diam merasakan dadanya sempit. Ia sangat tidak bisa berdiri sementara. Bir melihatnya mendengus lalu menarik tangannya menggendongnya. wulan diam melirik Bir. Bir disana tersenyum smirk.


” Huaa...” Kyak.. suara teriakan Wulan sangat kencang disana karena Bir yang bermain-main mau menyemburkan dirinya.


Wulan disana menepuk dada bidangnya Bir dan bergumam.” Jahat sekali..!!” Ujarnya,


Bir terkekeh.”Kau saja yang lemah. Disenggol dikit ah. Kayak cewek.”Ujarnya mengendong Wulan.


Wulan disana diam ingin sekali ia marah tapi ia diam saja. “Cepatlah kau menyusahkanku saja.” Bir meninggalkan Wulan ditengah jalan karena merasa lelah lagi pula sudah tidak lewat jembatan.


Wulan meringis melihat Bir menjauh. Bir diam melangkah mengepalkan tanganya, sial kenapa jantungnya berdetak sangat kencang karena Wulan?? Jangan sampai dirinya menyukainya. Apalagi kan dia Gay mana mungkin dia suka wanita? Ia bahkan sudah menggauli setengah dari penjaga lelaki disini, iya penjaga laki-laki dan sekarang malah suka perempuan? Bukankah itu hal yang mustahil.


“Wulan..!!” Wulan mendengarnya melihat kesamping. Ada Vuang berlari menghampirinya dan memeluknya. Tangisnya Wulan langsung pecah dbuatnya. Ia sangat takut, bahkan sudah pasrah.”Hiks hiks. Vuang dia gila.. aku hampir mati Vuang,, aku takut.” Ia berkata sangat lirih kaena isakanya yang memilukan hati,


Vuang mengusap bahunya pelan menghela nafas.”Bersabarlah Lan, karena hanya sebentar lagi.. “Ia sangat prihatin akan Wulan yang diuji mental oleh BIr, ini bukan hanya stau kali tapi berkali-kali dnegan cara lain lain. Bir seakan menyiksa batinnya tanpa jeda.


Vuang sendiri tadi sejujurnya dari gudang belakang untuk mengecek makanan para tahanan tetapi ia malah melihat Wulan yang dihukum, ingin rasanya ia membantu tetapi ada Bir disana ia takut ketahuan berakhir mati pun diam saja. Ia melihat semuanya sampai ia hampir kehilangan diri untuk menahan diri.


Ia mengusap kepala Wulan.”Ayo kau harus tenangkan dirimu dulu. Kau harus iistirahat. Kamu capekkan?”Tanyanya pelan. wulan menangis diam merasakan pelukan dan digendong oleh Vuang. Ia hanya diam tak menolak, ia sangat-sangat takut sunguh..


.


.


.


.