
“Cepat..!!” Wulan diam menenangkan debaran jantungnya yang menggila, kenapa harus dteriaki si?? Kan semua orang juga kerjanya cepat.
Ditambah dirinya yang melihat-lihat bagaikan mata-mata semakin membuat ia kaget tadi. Apa semua orang disini memang hobinya buat dirinya jantungan? Hey dia belum siap mati muda...! Ia belum minta maaf dengan sang adik
“Yang disana jangan diam saja, kamu dibayar bukan untuk diam seperti patung tak berguna disini..!!” Wulan disana diam menatap ke sumber suara. Tatapannya jatuh pada lelaki yang tinggi membawa tongkat besi panjang.
“kamu tuli..!! hey..!!” Brak.. Wulan kaget ketika kepalanya dilempar batu cukup besar. Ia memegang kepalanya sakit dan meringis, terasa jika ini berdarah dan lecet.”Mangkanya kerja yah kerja bukan termenung. Kamu pikir ini tempat untuk merenung Ha?!!”
Wulan menatap kedepan, disana ia tertegun, ada Vuang dan temannya. Disana ada tiga orang. Vuang pun disana diam tertegun melihat Wulan. Bukannya tak mau membantu tapi jika ia bantu nanti mereka ketahuan.
“HEY..!! Astaga,.!! Plak..Dasar tuli arhhh”Wulan disana kaget ketika kepalanya dipukul pakai kayu. Ia limbing jatuh ketanah merasakan sakit di kelapanya. Ia belum menemukan kesadarannya.
“Sekali lagi hilang fokus kepalamu akan ku bakar.!!” Ujarnya tegas. Ia ketua pengawas disini bernama Bir. Matanya tajam menatap Wulan, disisinya ada ken da nada Vuang. Vuang hendak membantu tapi ditahan oleh Ken. Mata ken melotot menatap Vuang menegaskan untuk tidak membantu.
Wulan mengatur rasa sakit di kepalanya,, ia tak menangis atau meringis lagi, ia cukup memutuhkan waktu untuk memenangkan diri dari keterkejutan dna rasa sakit. Ini sangat sakit. Kepalanya terasa perih dan berputar.”BANGUN..!” Teriak Bir menaruh tongkat didagu Wulan dan menaikannya supaya bisa melihat wajah Wulan.
Wulan menatapnya dengan tatapan datar, tapi hatinya tak mengelak untuk takut, ia takut ketahuan, ia tak lagi mau mendapatkan siksaan ditempat kejam ini. Bir menatapnya sulit diartikan.”Bangun..!! jika lemah keluar saja jadi umpan harimau.”Ujarnya disana pelan. Tubuh nya tidak sekekar bodyguard Dalam film. Tapi ia tinggi, kurus dan juga hitam manis. Ia tampan.
Wulan mengangguk pelan mengusap kepalanya, ternyata darahnya menetes dipelipisnya. Kepalanya terasa pening dipaksa berdiri.”Kamu cepat pergi keruangan bawa tanah dan ambilkan karung untuk panen dan pesanan. Kamu hanya butuh waktu sepuluh menit.. jika kurang ku pastikan hukuman berat akan kau dapatkan.”Ujar Bir tanpa perikemanusiaan.
Wulan menatapnya kaget. Sepuluh menit? Ia bukan orang disini dan tidak tau itu dimana, apa ia tolak saja yah dari pada ia terkena masalah. ?”Maaf tapi aku tidak bisa disini terlalu lama, aku disuruh mengwas diarah lain yah itu anu--- yah benar.”Ia gugup tapi tetap menenangkan diri.
Bir tersenyum licik, umurnya sudah memasuki ke 35tahun, ia pengawal setia Keyna dari dulu hingga sekarang berasal dari desa sini dan terkenal akan kepintarannya dalam mengingat, membaca cepat, mengatur dan juga menghafal dengan muda. “Saya tidka peduli. Kamu pergi mengammbil karung atau pergi ke neraka.”Ujarnya pelan.
Wulan terdiam mengerjab.”Ngomong-ngomong kenapa wajahmu penuh luka?? Apa kau pernah disiksa karena pernah melakukan kesalahan fatal oleh Queen?”tanyanya pelan tanganya menyelusuri wajah Wulan yang banyak baret luka, bahkan beberapa disana berbentuk baret hidup dan membengkak. Wajahnya sangat jelek itulah batinnya Bir.
Wulan menepisnya cepat.”It-itu iya siksa karena punya kesalahan Fatal. Jika begitu saya harus pergi tuan. Permisi.”Ujar Wulan kocar kacir pergi meninggalkan ketiganya tapi sebelumnya melirik Vuang memelas. Vuang hanya diam cukup takut Wulan ketahuan. Vuang hanya diam.
Ken dan Bor saling lirik dan tersenyum. “Rupanya ada tikus kecil disini.”ujarnya Bir disana pelan. Vuang mendengarnya membelalak, matanya terbuka lebar beberapa detik tapi beralih lagi datar detik berikutnya.
“Maksudnya apa?”Tanya Vuang pelan pada mereka.
Ken tertawa kencang. "Kau tidak tau??”Tanya Ken menepuk pundak Vuang. Vuang mengeleng pelan.
Ken mendengus.”Maksud Bir itu salah satu pengkhianat’”bisiknya Ken pelan tapi menusuk. Jantung Vuang berhenti sebentar laku lalu berdetak tak terkendali kaget. Tubuhnya bahkan menegang tanpa bisa ia cega. Reaksi alami dari tubuh manusia
Ken disana terkekeh melihat Vuang.Kau kenapa??? Kenapa tegang begitu?”Tanyanya pelan. Bir menatap keduanya tanpa bicara.
Ken berbisik lagi. “Lagi pula dia sudah masuk kedalam lingkaran kami, jadi bermain-main sebentar dengan tikus kecil tak apa kan??? ah anggap saja ini hiburan buat kita.”Ujarnya tersenyum manis.
“Oh tidak-tidak..”Ujar Ken pelan.”Ku rasa kau bukan penjaga asli disini Karena otakmu sangat sedikit.” Vuang kembali menegang mendengarnya. Kenapa? Apa salahnya? Apakah bakat menyamarnya sudah luntur? Kenapa mereka mudah sekali menemukan pengkhianat. Bravo..!!
“Ah kenapa tegang?”Tanya Bir terkeke.”Ken hanya bercanda kok.”
Vuang menghela nafas tanpa sengaja. Bahunya yang tadi kaku sekarang mengendur kebawa pertanda ia sudah lega. Bir tertawa kencang memancing Vuang menatapnya tanda Tanya.” Kau sangat kucu Vuang mirip seperti pengkhianat. Apa kau bagian darinya? Katakana padaku ayo.”ujarnya disana.
Vuang lagi-lagi kaget. “Hanya bercanda jangan serius begitu.” Bir tertawa lagi keras disana karena Vuang. Vuang menatapnya datar dan mendengus.
“Berhenti tertawa. Aku sedang tidak menjadi badut.”Ujarnya Vuang tak suka. suaranya datar karena marah dipermainkan sedari tadi.
“Tapi kau lebuh lucu dari badut...” Ujar Bir. Ken ikut tertawa disana.Vuang merasa jantungnya terguncang seperti sudah ketahuan, ia merasa ucapan dari Bir ataupun Ken adalah salah satu singgungan jika mereka tau jika dirinya salah-satu penyamar dan pengkhianat? Tapi apakah benar mereka tahu? Kan tadi ken teman pertamanya ada disini? Masa sudah ketahuan saja?
“Oh ayolah Vuang... humormu sangat buruk. Kami hanya bercanda,.”Ken memegang perutnya keram tertawa, Bir pun mengusap sudut mata yang mengeluarkan air mata saking lepasnya tertawa.
"Hahahaha... iya lucu..." Vuang tertawa terpaksa tak tau harus bilang apa lagi.
“Kau pasti bukan salah satu dari mereka kan?? aku percaya akan hal itu.”Ujar ken menepuk undak Vuang. Vuang diam tak menjawab tapi setelahnya mengangguk. Bir meliriknya menyeringai.
“Jadi mari kita bermmain dengan penyamar pengkhianat itu. Ini pasti sangat mengasyikkan sekali..”Ujarnya Bir pelan.
Vuang menatapnya, keningnya berlipat.”Kalian mau bermain apa?”Tanyanya pelan.
Bir terkekeh.”Suatu hal yang mengasyikkan pastinya. Kenang-kenangan untuk tikus kita harus yang paling bisa ia ingat seumur hidup.” bisiknya ditelinga Vuang. Bulu-bulu halus disekitar telinganya menegang meriang merasa tak nyaman.
Vuang semakin risih dan semakin resah. Resah jika seusngguhnya mereka sudah tertangkap tapi dibiarkan saja. Hanya disuruh menjadi pelawak dan mereka tertawakan. Jika memang benar Vuang mau mati saja. Mati karena malu, mati karena harga dirinya sudah jatuh.
.
.
.
.
Maafin Kalo ga bagus...