
.”Dua hari lagi akan ada sidang akhir dimana sidang penentuan hukuman, tapi disana nanti nona diminta datang untuk memberikan bukti kepada public dan akan diperiksa langsung disaksikan oleh beberapa saksi yang sudah disiapkan. Apakah nona sudah bisa melakukannya atau belum? Jika belom sidangnya akan diundur saja.”Ujarnya dengan helaan nafas. lelah juga bicara panjang dalam satu tarikan nafas.
“Tidak-tidak. Dia baru saja ba-arhghhhh“:
“Diem...!” Lingling mncubit tangan Andes.
Andes memekik nyaring disana merasa nyeri ditangannya, ini sakit sekali ia bahkan hampir terjengkang. Tangan Lingling bagai capit kepiting batinnya. Ia menatap Lingling tak terima.
Lingling menatap polisi kalem dengan polisi menahan tawaya karena tak tahan melihat wajah Andes yang ta terima dan tangan yang membintu pastinya. “Saya mau kok. Saya akan datang dalam persidangan itu. Jadi tidak usah ditunda lagi,”Ujarnya tenang.
‘Tap—“
“Diem..”
argg.. Andes terdiam merasa nyeri Dilengannya. Cubitan Lingling bukan main sakitnya, Lingling disana mendengus.”Lengan kamu keras banget jadi sulit cubit nya. Pasti ngak sakit. Lebay." Gumam nya Lingling tak suka dan tak terima.
“Pala kau nggak sakit. Mau nyoba?”Tanyanya pelan dan tajam pada Lingling.
“Kamu bentak aku?”Tanya Lingling dengan wajah memelas. Andes kicep.”Ehh maksudnya bukan gitu. Mangkanya kalo ngomong tu pakek otak jangan pakek dengkul.. ini sakit Ling Sampek biru gini tau nggak. Tangan kamu keknya ada bisanya deh.”Ujarnya dengan lembut merayu Lingling.
“Mana ada ngomong pakek otak dan dengkul. Yang ada tu ngomong pakek mulut.”Ia menarik mulutnya Andes. Andes jadi kaget dan menepisnya pelan. Lingling mendengus,” Nah ini mulut buat ngomong. Otak buat mikir kalo dengkul buat dikaki. Paham pak?”Tanyanya ketus.
“Lingling..”Gumam Andes dengan pelan mengerang kesal, lingling memberikan jejeran giginya tersenyum manis.
”Iya sayang????” tanyanya. Ia meneguk saliva kering melihat wajah merah dari sang Andes terlihat sangat-sangat mengerikan batinnya.
Polisi yang disana mereka terkekeh melihat keduanya.” Maaf tuan nona memotong pembicaraan kalian. Jika nona setuju menghadiri persidangan dua hari lagi tolong tanda tangan disini.”Ujarnya memberikan kertas ditangannya.
Andes tak jadi marah. Lingling menatap Kertas itu lalu mengangguk, tenang saja ia tau apa itu tanda tangan karena dikerajaanya ada tanda tangan kok,
“Dimana?”Tanyanya melihat kertas itu. Tulisan yang tak ia pahami. Jujur ini ia tak bisa membacanya ini bukan tulisan yang ia kenali selama ini.
“Disini nona.”Ujarnya polisi Rugi pada Lingling tepat dibagian kanan sudut yang tertera nama Lingling. Lingling menerimanya mengangguk dan menandatanganinya.
“Lingling. tanda tangan bukan mengambar.”Ujar Andes menahan tangan Lingling yang malah mengambar bunga teratai.
Lingling menatapnya dengan bengis.”Yah ini tanda tanganku Des jadi apa yang salah?” Tanyanya pelan.
“Tanda tangan kamu bunga? Bentuk bunga?”Tanya Andes yang diangguki oleh Lingling.
“Bunga teratai itu sama dengan arti namaku. Artinya kejujuran dan kesucian jadi ini memang tanda tanganku bentuknya begini. Aku suka bunga teratai apa salahnya coba kalo tanda tangaku bentuknya bunga teratai?”Tanyanya Lingling tak terima. Lagi pula dikerajaan nya dulu tak ada juga gunanya tanda tangan dirinya. Dia bukan bangsawan atau pejabat kok. Jadi bebas saja.
“Sekaligus aja Ling bentuk kuda gitu biar ngabisin satu kertas. Atau bentuk gunung gitu kan tanda tangan kamu.” Ujar andes mengeleng. Fufg.. para polisi disana menahan tawa mendengarnya. Andes mendengus melihat Lingling yang masih penuh hati-hati mengambar bunga teratai disana.
“Memang boleh?”Tanya Lingling polos pada Andes. “Kalo boleh boleh juga si sarannya.. apa mau gan-“
“TIDAK..!”
Andes dan para poloisi serentak betteriak disana memancing gelaknya Lingling yang mendengarnya. Diakan hanya bercanda saja kenapa mereka berlebihan sekali toh hanya gambar?
Polisi dan Andes mengusap dada akan ulah absrutnya Lingling. Jangan sampai Ling-ling benar-benar melukis kuda disatu kertas iitu. Maka tidak akan diterima., ini saja mereka bingung harus bagaimana menjelaskannya pada Lingling jika tanda tangan itu tidak boleh begini, atau ia harus menjelaskan pada pengadilan akan tanda tangan aneh ini? mereka cukup memijit kening melihat Lingling yang masih asik mengukir bunga teratai dengan polos. Mereka baru tau ada manusia sepolos Lingling didunia ini.
" Tuan..." Melas Rugi pada Andes supaya menghentikan aksi Lingling. Tapi Andes pura-pura tidak lihat dan mendengar saja.
...----------------...
Didunia lain dimana tubuh Lingling yang ditempati oleh Eliza saat ini pun sedang berlatih pedang dengan keras bersama ayahnya bersama jendral Wong, jendral utama dikerajaan itu yang diutus langsung oleh Zauhan mengajarnya. Jendral yang juga mengangap Qira anak dan mengetahui apa yang dialami Eliza, ia tau ini bukan Lingling tapi Eliza jiwa lain yang memasuki tubuh cucunya.
Ia cukup marah pada Qira dikalah tau bisa-bisanya seorang ibu membiarkan anaknya bertukar jiwa. Bagaimana jika nanti Lingling tak kembali atau mati? Bagaimana jika dia terluka? Kelaparan? Ada banyak yang dipertimbangkan. Qira dimarah habis-habisan oleh kerabatnya hanya pasrah akan kebodohannya saja. Mau bagaimana lagi? nasi jiga sudah menjadi bubur kan?
“Sudah-sudah. Kau sudah latihan sedari pagi. Kau tidak lelah?”Tanya jendral Wong pada Eliza yang sangat bersemangat belajar pedang.
Elzia menggeleng pelan.”Tidak kakek. Aku akan kembali satu bulan lagi, jadi aku harus kuat dan harus membuktikan kepafa kedua orang tuaku jika aku bisahebat dan aku bisa menjadi anak yang dibanggakan.”Ujarnya bergetar dan penuh tekat.
Jendral Wong menatapnya tertegun, tekat anak ini sangat kuat. ia sudah mendengar kisah menyedihkan anak ini. mungkin itu salah satu motivasinya untuk maju dan berkembang didunianya nanti. Tapi ia juga kasihan ini sudah siang sangat panas juga.”Tapi kamu perlu makan dna istrahat. Kamu akan sakit jika dipaksakan.”Ujarnya tak tega melihat Eliza.
Eliza menggeleng.”Aku kuat kakek. Aku masih bsia bertahan. Aku mau latihan lagi.”ujarnya Eliza penuh tekat tak mengindahkan keringat yang bercucuran. Kulitnya yang terasa terbakar karena terik matahari. Ia harus tetap berlati dan kuat sebelum kembali keduanya lagi nanti. Supaya tak ada hinaan yang ia dapatkan lagi, ia harus membungkam mulut mereka itu tekatnya.
“Kau tak kasihan dengan pinggang kakek Woong El?”Tanya Wolly mendekati Eliza terkekeh yang datang entah dari mana.
"Lihatlah dia sudah tua.. rambutnya sudah beruban. Kau tak kasihan jika dia nanti malah mati? Tenaga anak muda dan yang tua itu berbeda. Benar bukan benar kakek?”tanyanya Wolly menaik turunkan alisnya menatap Jendral Wing tersenyum mengejek.
“Anak ini cekkkkk.”Jendral wong mendengus
. Eliza terkekeh merasa bersalah juga pada kakek Wong memang benar si dia sudah tu jadi wajar juga yah. “Kekuatanmu sudah sangat cukup dalam melindungi diri. Bahkan sangat bagus El. Beristiraharlah dulu sebelum kakekmu ini patah pinggang karena kelelahan.”Ujar Wong memilih pergi.
“Kan sudah ku bilang El haha.”Ujarnya Wolly menepuk pundakjnya Eliza. Eliza disana hanya tersenyum tipis.” Ayolah El kamu sudah terlalu lama berlati dan berlati hingga lupa menghabiskan waktu denganku didunia ini. kamu tidak ada niatan untuk mengelilingi pasar dan membelikan beberapa makanan, kau tau? Makanan disini sangat enak loh..” Ujarnya berbisik menggoda.
Eliza tersenyum senang.”Memang boleh?”
Wolly mengangguk semangat hingga kuncirnya ikut bergoyang. ”Ikut aku. Kita harus menikmati hidup. hidup seperti Wolly..” soraknya bahagia. Eliza hanya terkekeh pelan mendengarnya. Ia pernah mendengar kalimat itu tapi kapan yah?
.
.
.