
Wulan meneguk saliva kering sedari tadi, ia membutuhkan air minum, ia sudah menghabiskan dua gelas tapi tetap terasa kering tenggorokannya. Kenapa? Itu karena Bir yang terus saja menatapnya dan juga berpenampilan seksi. Janting wulan sendiri tidak bisa diajak kompromi akibatnya. Bir? Oh ayolah, ini memang ia sengaja. Ia ingin melihat sampai mana Wulan tahan nelihat pesonanya, Secara dia Gay.. dia tidak tau jika Wulan perempuan. Ia hanya mengetes saja jika Wulan itu penyuka sesama jenis juga atau tidak. Dan yang terahir jika dia memang benar-benar bukan kalangan pelangi. Ia akan merusaknya dan menjadikanya untuk menjadi bagian dari mereka. Jahat? Oh disini tidak ada yang namanya orang baik.
Augh... Wulan melukai tangannya tanpa sengaja karena mengiris jahe yang akan ia giling. Ada banyak dan itu cukup menguras tenaganya. Ia meringis memegang tangannya yang mengeluarkan cukup banyak darah. Ia ingin menghisapnya namun terenti ketika tangan kekar dna tangan yang jauh lebih besar daribya menangkap tangnya dan menariknya.
Wulan menatapnya kaget. Ia melihat sang empu bertanya-tanya kenapa. Ia disana kembali tertegun merasakan tangannya hangat.. Bir mengecup tanganya yang berdarah.
Jantungnya berdesir merasa ada sesuatu yang mengalir deras. Slubb.. dadanya semakin berdesir hebat. Peritnya terasa penuh dengan kupu-kupu. Bir mengceup tanganya dan menjilat darahnya. Lebih parahnya ia memasukan jarinya kedalam mulutnya dan menyedotnya,
Wulan meneguk Saliva keringnya disana, ia tak bisa bergerak sama sekali akibatnya. Ia semkain berdesir karena Bir malah memainkan tanganya secara aneh. Emmm sensual? Oa tau itu hey..! dia bukan wanita polos. Dia suka nonton film f0rno dan jujur itu membuat ia sedikit merasa panas.
Dengan kewarasna yang masih ada ia menghempaskan tangan Bir dna bergumam kikuk.”Ehmmm terimakasih tapi saya pikir tuan tidak usah begitu. Itu tidak baik untuk atasan dan juga bawahan. Apalagi nanti jika ada yang melihat. Orang lain bisa salah paham melihatnya.”Jujurnya tak enak meliriknya pelan lalu melirik lain arah lagi,.
Bir disan amenyeringai mengusap bibir bawahnya. Ia menatap Wulan dalam. “hemm tapi aku tidak peduli ucapan dan tatapan orang lain terhadap saya. Saya ketua disini tidak ada yang berani mengatakan apapun kepada saya.” Ia menjeda kata-katanya dna tersenyum miring. Ia mendekati Wulan. Wulan mundur dengan gugup. Bir memegang pinggangnya dan mencengkramnya.” Enak hmm? bagaimana jika punyamu aku puaskan begitu??”Ia menjilat daun telinga Wulan.
Wulan tersentak kaget segera menjulak Bir. Ia melotot tak terima.”Apa-apa maksudmu? Ak-aku tidak mengerti. Tolong menyingkirlah aku harus melakukan pekerjaanku lebih cepat.. ini sudah sangat larut aku sudah sangat lelah.” Ia mengalihkan pembicaraan sekaligus pandangannya. Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Bukan karena jatuh cinta tetapi lebih ketakutan. Ia takut ketahuan, ia takut semuanya. Tuhan bantu dirinya batinnya,
Bir tak bergeming. Ia tetap menatap Wulan dengan tatapan berbeda. Ia dengan kurang ajarnya menarik baju Wulan menampilkan pusatnya Wulan. Wulan kaget disana dan Plak.. Ia menampar Bir dengan kuat. ia menutupi mulutnya.”Ap-apa uyang kau lakukan..!!” Tanyanya dengan genetar dan mundur tapi tidak bisa. ia terjebak antara patri meja untuk masak. Ia tak bisa maju ataupun mundur. Bir disana merasakan pipinya terasa panas dan juga pedar. Kalian tau pedar? Pedar itu campuran antara panas, sakit dan mati rasa menyisahkan campiran antara ketiga rasa tersebut.
Tak berdarah kok. Tapi bercap lima jari milik Wulan. Tangannya terkepal dan menarik tubuh Wulan dan hap.. tubuh mereka menempel sempurna, wulan yang diperlakukan begitu mengelleng kaget. Demi Tuhan ia katakana ia tak berani. Tubuhnbya gemetar, Bir disana mengusap pipi Wulan. Satu tangannya menahan tuuh Wulan supaya tidak lari. Ia mengapit tubuh itu disudut patri.
Ia mengusap pipinya lembut dan berbisik.” Hukuman apa untuk pemberontak yang sudah menampar pipi seorang ketuanya hemm?” Nafasnya menerpa leher Wulan. Wulan merasa sesak dijantungnya. Ia tidak bisa bernafas satu karena ia sudha lama tak gosok gihi. Kedua karena dia tak tau harus melakukan apa selain memberontak tetapi berujung sia-sia.
Mati-matian ia menahan nafasnya dan juga wajahnya yang merasa terpahan nafas Bir yang berbauh jahe itu.
“Yang tidak senonoh bagaimana hmm? bukankah kita sama-sama lelaki kadi bukankah itu bukan masalah?? Lagi pula kau tak akan rusak seperti perempuan jika aku pegang dan menyentuhmu. Atau bahkan lebih.”Bisiknya pelan. Suaranya sangat serak dan basah menambah kesan seksi didirinya.
Wulan merrasa perutnya Bir sangat licin karena ketingat. Tanganya ia ganti kedada tapi kenapa sangat besar dan juga ehemm.. keras.. ia menahanya dengan gelisah. Ia jadi salfok akan apa yang ia pegang saat ini. “Dam saat ini kau sudha melakukan pelevehan terhadapku hm. Apa aku boleh membalasnya dengan tubuhmu seperti apa yang kau lakukan?” Bir yang merasa gelenyar tangan yang ada diperut dan dadanya semakin menambah kadar nafsu miliknya. Ia merasa jiwa diirnya naik tanpa cela untuk ia hentikan saat ini.
Wulan dengan cepat melepaskan tangannya dari dada Bir. Bir tak melepakan kesempatan semakin memeluk Wulan erat. Aneh tapi nyata ia merasakan sesuatu yang meluk menima dadanya. Ia menatap Wulan dengan tatapan dalam.”Kau tak pernah olahraga hm? Kenapa dadamu terasa sangat empuk seperti milik perempuan.”Ujarnya berbisik
Plak..”Kyak.. kau Bir kurang ajar..!” Teriak Wulan,
Entah dari ,mna keberaniannya tapi saat ini ia merasa sangat-sangat dilecehkan. Apalagi kata-kata Bir melukai hatinya sebagai seorang perempuan. Dia masih punya harga diri yang harus ia pertahankan.
Bir merasakan tampanan itu menekan Wulan. Wulan masih dalam pengaruh marah menambah kadar keberaniannya.
Bugh.. au... ia menendang asetnya Bir dengan kencang. Arghh. BIr mundur beberapa langkah memegang junior miliknya. Wajahnya terlihat sangat kesakitan menunduk dan terduduk. Wulan disana melihatnya merasa bersalah tapi ia tutupi. Ia mengepalkan tanganya na menatapnya tajam.
“Hey.. kita ini sama-sama lelaki tidak seharusnya kau melakukan hal kurang ajar seperti itu padaku. apa kau tidak punya malu he?!!” Tanya Wulan membentak pada Bir. Bir disana mendengarnya tanpa menyahut. Inti tubuhnya sangat sakit saat ini. Wulan tak membiarkan kesempatan hilang begitu saja. Ia segera menghindar dan bergeser menjauh dari sana..”Sialan kau. Mati kau.. Semoga mandul sekalian. Dasar mesum..!!”Teriaknya berlari meninggalkan bir yang tergeletak tak elit memegang asetnya yang teramat nyeri.,
Bir disana terlihat memerah, tangannya terkepal dengan erat mendengarnya, matanya terpejam merasa Wulan menjauh,. Ingin menahan tak bisa jadi ia memilih menenangkan inti tubuhnya.”Sialan kau Roli.. ku pastikan kau akan memohon ampun kepadaku lain waktu..”Gumamnya dalam hati. Tak akan ia biarkan Wulan lepas dari drinya sebelum ia balas dan memberikan pelajaran. Ingat tak akan..!!!