
“Siapa dia?”Tanyanya dingin.
Lingling melirik peria yang ditanya Andes.” Enggak tau, tadi dia kasih aku makan ikan sama roti jadi yah aku terima.. aku tidak tau namanya.”Jujurnya pada Andes,
Andes menatap pria itu tajam. Pria itu tersenyum memasang wajah polosnya.”Hallo perkenalkan namaku Jimly. Kalian bisa memanggilku Jim. Aku juga pengunjung disini. Kebetulan kakakku menikah ditaman ini.”Ia menunjuk lain arah dan tepat disana terlihat sangat ramai ohh Lingling jadi tau dimana suara yang jelek tapi tetap memaksa menyanyi. Itu disana toh.
Andes mendengus tak suka mengusap pupi Lingling. Ia mengangguk.”Kami duluan..!” Ia meninggalkan pria yang bernama Jimly itu datar.
"Dah Jimly...!"
Lingling melambaikan tangan tapi ditahan Andes. Andes segera mencium tangan Lingling. Lingling melihatnya menjadi gemes dan memukul bahunya. Andes tak peduli tetap saja melangkah tak membiarkan Lingling melambaikan tangannya.
Jimmy tersenyum miring dibali tubuhnya Andes. Ia disana mengubah bentuk dirinya menjadi abu. Entah pergi kemana dan siapa. Ia menjadi angin dan tak ada yang menyadarinya.
Lingling dan Andes disana menghabiskan banyak waktu bermain. Mulai dari bermain ikan, memancing bakar ikan., bakar makanan direstoran disana. ini sangat enak bagi Andes dan Lingling. Kenapa andes tidak pernah kepikiran membuat quality time dengan Lingling begini? Ini sangat seru batinnya.
...----------------...
Prang.. tring.. prang. Dunia lain ada Eliza yang mati-matian berlatih pedang untuk bertahan hidup, Sangat berbeda jauh dari hidup Lingling kenapa hidup tak pernah adil? Ada yang bahagia ada yang menderita? Ia meneguk Saliva keringnya melihat lawannya yang tak lain adalah Zahan. Hari ini Zauhan mengetes kemampuannya ini saja ia sangat kewalahan padahal dirinya hanya menyerang dan Zauhan hanya menahan sefrangan dengan satu tangan. Ia sudha tak kuat tapi ia harus tetap bertahan.
Tring..tring.
Suara denting pedang terdengar nyaring disekeliling. Tangan Eliza sudah sangat merah merasakan nyeri bahkan sudah berdaya dan terkoyak kulitnya. Eliza melihat Zauhan yang menatapnya datar.
" Fokus jangan terlihat lelah atau kau dikendalikan oleh tubuhmu. Kendalikan dirimu bukan dirimu mengendalikan duniamu.’” Ujar Zauhan pada Eliza yang tak juga bisa menggoreskan luka ditubuhnya berbeda jauh dengan Lingling yang licik.
Eliza yang disan menajamkan pikirannya. Zauhan mulai menyerangnya.”Fokus dan lihat jika tidak kau akan terluka. Ayah tidak akan pernah pandang bulu dalam menyerang.” Zauhan mau dengan pedang yang lurus. Eliza membola melihatnya. Ia mundur dan mengelak. Zauhan menyerangnya dnegan cepat tak memberi cela untuknya bernafas atau mengatur nafas., ia merasa guncangan hebat ditubuhnya merasa tak bisa menerima serangan yang membuat mentalnya jatuh.
Srak.. au... lengannya Eliza terluka terkena pedang Zauhan. Zauhan masih diam menyerang tak menyela sekalipun. Eliza tak bisa menolak dan tetap menahan diri untuk tak terkecoh luka. Zauhan masih menyerangnya Eliza tak kuat kurang fokus.
Srrrak.. auu. Ia kembali terluka dibagikan kakinya/ Ia terjatuh memegang pedangnya.
Prang.
Pedang Zauhan jatuh dibuang oleh pemiliknya. Zauhan mendengus menatap lain arah.” Kau terlalu termakan materi. Kau harusnya memiliki satu jiwa dnegan pedang bukan malah mengendalikan pedang. Jika kau sibuk mengendalikan pedang ,maka kau akan terus berfikir untuk gerak kaku. Fokus Eliza fokuss..!! kau harus fokus dan harus berfikir untuk melihat gerak lawan bukan gerak dirimu sendiri..!” Tegasnya kesal. Eliza sangat kaku.
Zauhan mendengus.”Kau urus lukamu baru kita mulai lagi.”Ujarnya ,memilih mundur meninggalkan Eliza yang terduduk terluka ditanah.
"Dasar Eliza bodoh. bodoh tetap saja bodoh ..!!!" Ia memukul kepalanya sendiri kesal. Otaknya sangat lamban dalam berfikir.
Eliza menghela nafas mengusap keningnya berkeringat. Ia tak bisa bangkit. Namun berselang beberapa detik ia merasa dirinya diangkat dan dibantu berdiri. Ia membuka matanya menatap sang pelaku. Itu Zauhan ayahnya Lingling. Ia merasa jantungnya mencelos. Ia pikir Zauhan meningkatnya karena ia bodoh dan lemah seperti ayahnya. Ternyata tidak..
Zauhan disana membantunya duduk dipinggir lapangan membawa kotak obat. Oh Zauhan mengambil kotak obat. Zauhan disana mengusap lukanya dan membersihkan.”Kau harus fokus dan mengendalikan diri untuk melihat gerakan orang lain. Jika kamu terluka sekarang itu sebagai cambukan jika kau lengah maka kau akan terluka. Jika kau tidak bisa membaca gerak lawan maka kau akan terus saja terluka. orang hebat berasal dari orang-orang yang berani terluka untuk tujuannya..!! paham kan?!!” Tanyanya Zauhan tegas sembari mengobati luka.
Eliza mengangguk semangat. Zauhan disana mengangguk datar. Ia menepuk kepala Eliza.”Ini putriku. Ayo istirahat dan minum. Beristirahatlah sebentar lalu nanti kita akan berlatih lagi untuk dirimu..!!! “ Tegasnya.
Eliza mengangguk tersenyum halus.”Terimakasih ayah.”Bibirnya bergetar mengatakan kalimat terakhir..
yang begini yah Tuhan yang ia inginkan. Ayah yang mendukung meski ia sendiri memiliki kelemahan dalam berfikir. Ayah yang memberikan dirinya semangat dan masukan dalam ia melakukan kesalahan bukan malah mengatakan dia bodoh dan menjauhinya.
Membuat mentalnya semakin jatuh. Mana bodoh semakin bodoh dikarenakan tak ada yang mendukung serta membantunya berkembang.. Zauhan dan Qira keras tapi mendidik dengan penuh pengertian dan juga dukungan meski tau kekurangan Eliza sekalipun. Eliza memiliki otak yang kurang cepat berkerja.
Zauhan disana menggeleng pelan.”Ayah tidak melakukan apapun, jika kau mau berterimakasih berterimakasih pada diri kamu sediri karena bisa bertahan sejauh ini. Jika mau minta maaf maka minta maaf pada diri kamu sendiri karena belum bisa mengendalikan diri kamu sendiri. Tunjukan pada ayah dan dunia jika orang bodoh itu tidak ada, yang ada itu adalah orang yang malas belajar dan orang yang tidak memiliki tekat. “ Ujarnya semangat.
Tapi aku bodoh karena tak ada yang mendukung dan mengajariku juga..!! batinnya Eliza menjerit mengingat ayahnya yang mengasingkan tak mau mengakuinya sebagai anak. Ia disana menahan air mata mengepalkan tangannya.”Iya aku berjanji ayah akan menjadi kuat. Aku berjanji.!!” Tekannya.
Zauhan mengangguk menepuk kepalanya, ia mencium kepala Eliza dan menepuknya pelan.”istirahatlah. ayah menunggu perkembangannya.”Ujarnya meninggalkan tempat latihan. Saat Zauhan pergi air mata Eliza jatuh.
Eliza mengusapnya cepat dan menghela nafas.”Rasanya kau tak ingin pergi dari sini. Karena semuanya terasa sangat indah. Tuhan aku tidak boleh egois kan?? hiks hiks.” Ia menangis dalam diam merasakan kasih sayang yang begitu besar membuat ia gelap mata satu kali. Ia kalaf dan ia terjebak. Tapi kali ini ia tak bisa membohongi diri jika ia ingin bahagia.
Disini ia bahagia bisa memiliki cinta dari ayah dan ibu, ia bisa merasakan dukungan dalam semua kekurangannya, ia bisa merasakan disemangati dalam setiap kegagalan nya. Ia memiliki sandaran dalam keadaan mau menyerah. Ia punya pondasi dalam bertahan hidup.
.
.
.
.