DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 99 NIKMAT CINTA


EPS 99 NIKMAT CINTA


Kosong adalah sesuatu yang belum terjadi saat jari-jari alam semesta masih berada pada titik nol. Hampa adalah ketersesatan rasa pada jarak tertentu setelah perjalanan waktu. Halu adalah emosi yang tersaji pada layar imaji tanpa melihat kemampuan diri. Frustasi adalah keputusasaan akan kenyataan yang seharusnya kau hadapi. Sedangkan sia-sia adalah perasaan tidak ikhlas setelah kau gagal mendapatkan cinta yang kau perjuangkan.



“Apa dokter sudah memberitahumu apa yang terjadi dengan Ren?” tanya Song kepada Min Ho.


Pemuda itu menganggukkan kepalanya.


“Ya. Dugaan sementara dia terkena asam lambung. Mungkin karena pola makannya yang tidak teratur. Beberapa hari ini, dia sama sekali tak menyentuh makanan yang aku sediakan.”


Song melirik wajah pemuda Korea paling tampan itu lagi dengan wajah penasaran. Tadi ditanya apakah dia mencintai Ren, diam saja. Tapi kenapa perhatianmu kepadanya begitu besar? Batinnya sedikit cemburu.



“Aku mencintai Ren dengan segenap jiwaku,” kata Min Ho seperti menjawab keraguan Song.



Suaranya begitu tegas dan penuh keyakinan. Matanya menatap jauh keluar jendela kaca, menelusuri batas cakrawala. Hati Song bahkan terasa bergetar mendegar kata-kata itu. Sudah begitu dalamkah cinta Min Ho kepada Ren? Apakah dia tidak tahu kalau sudah ada cinta yang lain di hati gadis cantik sahabatnya itu?



“Kau berucap dengan penuh keyakinan seolah kau sudah benar-benar mengenal Ren.”


Min Ho tersenyum.


“Aku memang belum sepenuhnya mengenal dirinya. Tapi aku sudah bisa mengenali hatinya.”


“Seperti apa hatinya?”


“Sejenis hati yang sangat pantas aku cintai,” ucap Min Ho. “Sudah lama aku mencarinya, jadi aku tidak akan melepaskannya.”



Kata-kata Min Ho begitu menyentuh. Bibir Song sampai terbuka karena takjub. Tapi kemudian dia memalingkan wajahnya dengan cepat. Apa Min Ho sudah tahu kalau Ren memiliki seorang kekasih yang sangat dicintainya? Song tidak tega membayangkan wajah pemuda idamannya itu kecewa dan frustasi karena kenyataan cinta yang tidak sesuai harapan.



“Apa kau yakin Ren juga mencintaimu?”


Min Ho menggeleng cepat.


“Tidak. Karena dia sudah memiliki cinta yang lain. Kekasih yang sangat dicintainya, Rich Pranaja.”


Song kembali menatap takjub. Min Ho mengatakannya sambil tertawa.


“Kau tidak merasa kecewa? Sedih, frustasi atau marah kepada dirimu sendiri?”



Lagi-lagi Min Ho menggelengkan kepalanya.


“Karena aku menikmati cinta yang saat ini sedang aku rasakan.”


Song menatap Min Ho tak mengerti.


“Seperti kata orang-orang, cinta tidak harus memiliki. Karena cinta itu tidak mesti datang setiap waktu. Jadi nikmatilah cinta yang kau rasakan dan berbahagialah.”



“Apa itu artinya kau tidak begitu mengharuskan Ren menjadi milikmu?”


“Itu kan kata orang-orang. Kalau aku tidak begitu. Cinta itu harus memiliki, tapi tidak boleh memaksakan. Aku akan berjuang dengan segenap jiwa dan ragaku agar suatu saat nanti Ren membuka hatinya untukku. Dan aku akan menunggu saat itu datang. Entah kapan…”


Song menundukkan kepalanya semakin dalam. Mendadak wajahnya terasa panas, dan kedua matanya mulai berembun. Namun dia berusaha sekuat tenaga agar tidak tertumpah. Ah, betapa beruntungnya Ren. Banyak cinta yang mengelilingi dirinya, bahkan seorang Min Ho pun mengakuinya. Sedangkan dia? Bahkan satu cinta pun belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.


‘Aku tidak iri kepadamu Ren, karena aku juga sangat menyayangimu, batin Song. Kau memang pantas mendapatkan semuanya.’


Di tatapnya wajah Ren dalam-dalam, lalu di peluknya. Di saat itulah pada akhirnya air matanya tertumpah.


“Huks! Bangunlah Ren. Semua orang mengenalimu sebagai gadis yang sangat kuat.”


“Kalau kau merasa sebagai sahabatnya, jangan tunjukkan wajah sedihmu itu kepadanya,” kata Min Ho.


“Hah? Terus, apa yang harus aku lakukan?”


“Tetaplah tersenyum. Biar saat dia bangun nanti, wajah pertama yang dia lihat adalah wajah Song yang dikenalnya. Semangat, enerjik selalu ceria dan selalu berteriak.”



Song jadi tersenyum. Wajahnya sedikit memerah karena malu.


Min Ho menganggukkan kepalanya. Lalu dia berbalik, berjalan ke arah pintu.


“Min Ho! Kau mau kemana?”


“Beli makanan. Kau juga harus banyak makan agar Ren juga bersemangat untuk makan.”



Song tersenyum. Di tatapnya tubuh yang menjulang tinggi itu berjalan hingga menghilang di balik pintu. Ah, ternyata Min Ho teman bicara yang sangat menyenangkan. Ramah, lucu, perhatian, ganteng banget, setia, bucin, uangnya banyak. Hehe, sejuta pujian tumbuh dan berkembang di hati Song. Tiba-tiba saja dia merasa begitu dekat dengan Min Ho.


***


Dan begitulah cinta. Datang untuk dinikmati, pergi jangan di ratapi. Karena cinta bisa datang dengan tiba-tiba, dan pergi tanpa ngasih aba-aba. Satu poin yang dipelajari Song hari itu. Poin kedua, cinta harus diperjuangkan tapi tidak boleh mengharuskan. Jadi kalau kita tidak bisa mendapatkan cinta yang kau harapkan, jangan kau tangisi dengan penuh kesedihan. Hidup satu kali, buatlah dirimu selalu happy, haha..



“Song…”



Gadis itu terkesiap kaget, lalu menutup mulutnya dengan cepat. Alangkah malunya kalau ketahuan orang dia sedang tertawa sendiri. Lalu dia menengok kesana-kemari. Hah? Tidak ada siapa-siapa? Lalu siapa yang tadi memanggilku? Mendadak bulu kuduknya langsung merinding. Apa ada hantu di rumah sakit ini? Suster ngesot? Hantu dokter tanpa kepala, atau arwah para pasien yang belum rela mati tapi harus segera menghadap sang Ilahi?



“Song…”



Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih keras, dan arahnya lebih jelas. Song menatap ke tempat tidur dimana Ren terbaring pingsan. Tampak wajah Ren yang pucat tersenyum. Pikiran Song yang masih diselimuti dunia halu membuatnya menjerit. Lalu secara otomatis terloncat ke belakang.



“Haaa..haaa….haaaann…” ucap Song tergagap.


“Song kamu kenapa?”


Song terkesiap. Sepertinya dia sudah mulai sadar dan mengenali suara sahabatnya. Ditatapnya wwajah Ren sambil mengucek-ucek kedua matanya. Itu benar Ren? Batinnya.


“Ren? Kau sudah sadar?”


“Iya. Dari tadi.”


“Hah? Kenapa aku tidak tahu?”


“Kau sedang asik dengan dunia halumu, tersenyum-senyum sendiri tanpa mempedulikan aku.”



Song jadi tersenyum malu.


“Song, kenapa aku ada di sini?”


“Min Ho yang menemukan tubuhmu tergeletak pingsan di sebuah kuil tua yang tak terawat di pinggir hutan,” ujar Song.


“Min Ho? Lalu dimana dia?”


“Sedang kembali ke lokasi syuting, memenuhi panggilan sutradara,” ujar Song. “Tapi semalaman dia menunggumu disini.”


“Oh ya? Min Ho? Berarti dia ikut menungguku bersamamu?”



Song mengangguk penuh bahagia.


“Betul. Semalaman dia disini bersamaku.”


Ren mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ow, begitu ceritanya? Nunggu bareng? Pantes Song tertawa sendiri, batinnya.


“Ciee! Yang barusan nunggu bareng. Makanya tertawa-tawa sendiri,” ledek Ren.



Akhirnya Song ikutan tertawa.


“Jangan-jangan kalian sudah jadian nih,” ledek Ren lagi.


“Amiiiin”



Teriak Song dengan suara keras. Dan mereka pun tetawa dengan riuhnya.