EPS 48 BULAN SEMERAH DARAH
Matahari merapat senja. Semburat warna jingga tergambar jelas di garis cakrawala. Sekawanan burung pipit menghitam hendak kembali ke sarangnya. Di dorong angin kerinduan untuk bertemu yang tercinta. Mengalirkan bening air telaga yang menyejukkan di ujung matamu.. Begitu menyejukkan. Membasuh wajah yang telah bersemayam di ruang hatiku.
Duduk gelisah bersandar pada dinding hati. Mengalunkan lembut deru nafasmu mengetuk hatiku. Menikmati rindu yang terus merambat di ruang waktu. Benarkah ini cinta? Yang kata orang-orang begitu indahnya. Tapi mengapa menimpakan rasa perih di sudut hatiku? Seperti pisau tajam yang merajam. Layaknya paruh pelatuk yang mematuk. Meninggalkan bekas luka yang menganga.
Malam ini purnama akan datang kembali. Bulan akan bersinar kembali dalam bentuknya yang bulat sempurna. Menggantung gagah pada langit yang hitam. Sebagai pertanda perjalanan waktu, telah mencapai ujungnya. Karena lima purnama yang telah dilalui, adalah perjalanan sunyi yang memberi banyak pembelajaran hidup menuju proses penyempurnaan kekuatan. Dan Ken Darsih sedang menunggu kedatangan Dandung.
FLASHBACK ON…
Dandung masih berdiri termangu di tepi Sendang Kumitir. Hatinya begitu galau mendengar kata-kata permintaan Ken Darsih. Gadis itu meminta agar Dandung menenggelamkannya ke dasar sendang.
“Dandung,” bisik Ken Darsih lagi, suaranya terdengar semakin lemah, “Kau tak mendengar kata-kataku?”
Dandung menghela nafas panjang.
“Aku mendengarmu Ken, tapi…apa yang akan terjadi denganmu?”
Ken Darsih tersenyum.
“Hm, kau mengkhawatirkan aku?”
Dandung terdiam, tak langsung menjawab pertanyaan Ken Darsih.
“Saat ini kau berada di Sendang Kumitir, di tengah Alas Kecipir. Ini adalah rumahku Dandung. Sendang ini adalah sumber kekuatanku. Airnya yang sejuk akan menyembuhkan rasa sakitku dan mengembalikan tenagaku seperti semula.”
Dandung menatap wajah yang putih memucat itu. Dia mulai paham sekarang. Ken Darsih bukanlah manusia biasa, dia manusia yang memiliki kekuatan supranatural. Sesuatu yang tidak dia pahami.
“Tapi berapa lama air sendang ini akan memulihkan tenagamu?”
“Aku tidak tahu Dandung. Yang jelas aku bukan hanya ingin menyembuhkan lukaku, tapi juga meningkatkan kekuatanku untuk bertarung dengan musuh bebuyutanku.”
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan bertapa di dasar Sendang Kumitir selama lima purnama. Setelah aku mencapai kekuatan yang aku inginkan, aku akan kembali berpetualang lagi.”
Dandung diam termangu. Lima purnama? Itu artinya selama lima bulan Ken Darsih akan bertapa di dasar Sendang Kumitir. Dan selama itu pula dia tidak akan melihatnya.
“Dandung,” panggil Ken Darsih lagi, “Mengapa kau belum juga mengabulkan permintaanku?”
Dandung tersadar dari lamunannya. Matanya sedikit berembun, tapi dia tak mau menangis di depan Ken Darsih. Lalu dengan menggendong tubuh gadis itu, kakinya mulai melangkah masuk ke dalam danau. Semakin ke tengah semakin dalam, sampai air danau benar-benar menenggelamkan tubuh mereka.
“Setelah lima purnama, aku akan datang kembali untuk menjemputmu. Berjanjilah kau tetap hidup Ken,” bisik Dandung di telinga Ken Darsih. “Ini janjiku.”
Dandung menyelam ke dalam danau, menuju dasar yang paling dalam. Airnya yang jernih membuat matanya bisa menembus kedalaman. Lalu tubuh Ken Darsih didudukkan di atas batu datar. Mencopot satu per satu setiap lembaran yang menutupi tubuh indah gadis bidadari itu, dengan mata terpejam.
Ken Darsih menatapnya sambil tersenyum. Dandung mencium keningnya, Ken Darsih diam saja. Lalu tubuh pemuda itu naik ke permukaan lagi. Meninggalkan Ken Darsih yang mulai menata dirinya untuk bertapa di dasar Sendang Kumitir. Meninggalkan jejak rasa yang diam-diam tersimpan di sudut hatinya yang paling dalam.
FLASHBACK OFF…
Ken Darsih begitu ingat tatapan penuh cinta itu. Dan malam ini dia yakin, Dandung akan datang untuk menjemputnya. Membayar kerinduannya selama lima purnama. Memenuhi janjinya sebagai seorang laki-laki sejati. Dan laki-laki sejati tidak pernah mengingkari janji yang diucapkannya sendiri.
***
“Oaak! Oaak!” terdengar suara gagak dari atap rumah.
Tapi itu bukanlah suara yang keluar dari paruh burung, karena itu adalah suara tiruan dari penembak jitu di atap rumah. Suara burung gagak dua kali merupakan pertanda bahwa situasi di atap rumah aman terkendali.
“Wik! Wik! Wik! Wuiik!”
Terdengar suara balasan dari rekannya di bawah menirukan suara burung malam.
“Mas Dandung,” bisik Frida.
Dandung menatap wajah Frida.
“Malam ini malam bulan purnama kan?”
Dandung menganggukkan kepalanya.
“Aku ingin menikmati keindahan bulan purnama denganmu.”
“Kenapa? Kau bosan seharian tinggal di dalam kamar?”
Frida menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Kan ada kamu,” ujar Frida sambil mengelus tangan berotot milik Dandung. “Aku tidak akan pernah bosan berada dimanapun, selama ada kamu disisiku.”
Dandung tersenyum sambil mengangkat kedua alis matanya.
“Jadi, apa alasannya?”
Frida terdiam, wajahnya sedikit merah jambu.
“Aku ingin menikmati malam purnama kita yang pertama setelah jadian,” ujar Frida malu-malu.
Senyum Dandung semakin lebar. Malam ini adalah malam ke limabelas sejak dia menyatakan cintanya kepada Frida. Tepat ketika bulan purnama menampakkan keindahannya yang abadi. Melayang di angkasa, memberi terang pada semesta. Dan menikmati purnama dengan orang terkasih akan menciptakan romansa tersendiri.
“Kok malah diam? Apa mas keberatan?” tanya Frida. “Kalau mas Dandung keberatan, tidak usah…”
Dandung menempelkan jari telunjuknya di bibir Frida, memotong kata-katanya.
“Tentu saja aku tidak keberatan. Tapi, tunggu sebentar ya. Aku harus konfirmasi dengan regu pengawal untuk mengondisikan keamanannya,” sahut Dandug sambil mengambil ponsel dari dalam sakunya.
“Ya, aku paham.”
Frida mengangguk mengerti. Sebagai seorang perwira polisi, tentu di paham sekali dengan protap pengamanan pada situasi darurat semacam ini. Hanya dia merasa aneh dengan dirinya saja. Biasanya polisi yang mengawal masyarakat, eh sekarang malah dia yang di kawal.
“Selamat malam Ndan!” terdengar suara dari ujung telpon.
“Selamat malam Haedar!” sahut Dandung. “Frida ingin keluar melihat bulan purnama. Amankan lokasi sekitar gazebo dan kolam renang!”
“Siap Ndan!” sahut Iptu Haedar, komandan pasukan khusus pengawal rumah Dandung.
Dan formasi pengamanan rumah Dandung pun mendadak berubah. Satu unit pasukan pengawal berjaga di kerimbunan pohon sekitar kolam renang. Beberapa penembak jitu juga ditempatkan di ruang tersembunyi. Hanya Frida dan Dandung yang duduk di ruang terbuka di pinggir kolam, sambil menikmati wajah bulan yang begitu tenang.
Namun, mendadak wajah bulan berubah merah. Semerah darah…