DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 113 GUNA-GUNA DARAH


EPS 113 GUNA-GUNA DARAH


Bukan cinta yang kau cari, tapi kegelisahanmu yang mengharapkan belaian cinta dari jodoh yang digariskan Tuhan kepadamu. Dan itu butuh waktu....


Pertarungan Rich Pranaja dan Kyai Badrussalam hampir mencapai puncaknya. Mendadak diserang dengan kekuatan Tirtanala tingkat tingga, tubuh sang Kyai langsung membeku. Pranaja meletakkan telapa tangan kanannya di atas kepala pendekar tua itu. Lalu menyalurkan kekuatan Tirtanala yang membekukan dan menghancurkan. Tangannya siap mencabut kepala Kyai Badrussalam dari batang lehernya. Tanpa rasa sakit, tanpa darah yang tertumpah.


“Hentikan cucuku! Bukalah hatimu!” teriak Panembahan Mbah Iro yang mendadak menunjukkan dirinya kembali.


Pranaja terkesiap, hatinya menjadi ragu. Selama hidup dia belum pernah mencabut kepala manusia, meskipun mampu melakukannya. Kyai Badrussalam memejamkan matanya. Dia memanfaatkan keraguan pemuda berhati lembut itu. Walaupun lehernya seperti tercekik dan susah bernafas, mulutnya juga terkatup rapat, tapi hatinya masih bisa berdzikir dan berdoa. Memohon pertolongan Alloh agar diberikan kekuatan dan dilepaskan dari syetan yang dzolim.


“Laa ila ha illa anta inni kuntu minadzolimin,” batinnya.


Dan kekuatan itu muncul dari dalam jiwanya. Perlahan hawa panas berpendar dari dalam jantungnya. Setiap jantungnya berdegup, aliran darah membawa rasa hangat itu keseluruh tubuh. Membebaskan tubuhnya dari serangan hawa dingin yang berasal dari telapak tangan Pranaja. Bahkan secara perlahan, kulit tangan pemuda itu yang tadinya dingin, mendadak terasa panas.


“Arkh!” teriak Pranaja sambil melompat ke belakang.


Lalu dia mengibas-ngibaskan tangannya karena rasanya seperti terbakar. Kyai Badrussalam melemparkan tasbih mutiara putih yang selama ini digenggamnya. Benda mustika itu beputar-putar di udara selama beberapa saat. Butiran-butiran mutiaranya memancarkan cahaya terang yang menyilaukan mata Pranaja. Secara reflek dia mengedipkan matanya. Dan waktu yang setengah detik itu cukup bagi sang Kyai untuk melumpuhkannya.


“Laa haula wa kuwwata illa billa hil ‘aliyyil ‘adzim.”


Tasbih itu hilang dari pandangan, lalu terlihat kembali tapi sudah melingar di leher Pranaja. Pemuda itu langsung merasakan tubuhnya menjadi begitu berat, dan lehernya menjadi panas. Seperti ada kekuatan super tak terlihat yang menekannya untuk bersimpuh. Pranaja menundukkan kepalanya. Sudut matanya menangkap benda aneh yang bersinar terang tadi sudah melingkar di lehernya.


‘Tasbih apa ini?’ batinnya. ‘Kenapa terasa berat sekali?’


Pranaja menggunakan kedua tangannya untuk menarik rangkai tasbih itu hingga putus. Tapi tak berhasil. Dorongan itu malah semakin kuat,. Tak kuasa melawan dorongan kekuatan itu, tubuh Pranaja langsung menggelosoh duduk di lantai. Seluruh kedigdayaannya mendadak hilang, seperti musnah tak bersisa. Hanya matanya yang masih bisa bergerak-gerak kesana kemari.


“Apa kau akan membunuhku orang tua?” tanya Pranaja.


“Tidak!” kyai Badrussalam menggeleng tegas. “Sama sepertimu, aku juga bukan pembunuh sesama, kecuali saat terpaksa. Kau mempunyai hati yang lembut dan baik hati.”


Pranaja berusaha meronta kembali, tetapi semakin dia bergerak, semakin kencang tekanan yang dirasakannya. Ahirnya pemuda itu terdiam.


“Aku tidak akan membunuhmu Pranaja. Bahkan aku akan menolongmu untuk menjadi dirimu kembali” ujar kyai Badrussalam tegas.


“Apa maksudmu?” sahut Pranaja dengan nada marah.


“Kau akan mengetahuinya nanti.”


Pranaja memandang wajah kyai Badrussalam dengan perasaan marah. Kenapa Kyai Badrussalam malah bermain teka-teki. Hal yang membuatnya bertambah penasaran saja. Tapi dia menangkap kejujuran dari wajah laki-laki yang selalu bersorban itu. Dan melihat kenyataan sekarang, mau tidak mau dia harus menuruti apapun kemauan sang kyai.


***


Pada saat yang sama, di tempat yang sama, Panembahan Mbah Iro juga sedang berjibaku dalam pertempuran melawan Dewi Nawangwulan, dan Ratu istana peri beserta ribuan siluman anak buahnya. Mereka beramai-ramai mengeroyok Pemimpin Besar Trah Somawangi dengan berbagai senjata beracun. Sang Panembahan harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghancurkan kekuatan para siluman itu.



“Gelap Ngampar!” teriaknya.


Ajian Gelap Ngampar adalah ciptaan Begawan Wanayasa, manusia setengah Dewa yang menjadi cikal bakal keturunan Trah Somawangi. Gelap Ngampar berasal dari kata yang dalam bahasa Jawa memiliki arti petir, sedangkan ngampar berarti menyambar. Maka kata Gelap Ngampar memiliki arti petir yang menyambar. Gelap Ngampar tergolong sebagai salah satu ilmu tingkat tinggi dan tak semua orang bisa mencapai tingkatan ajian ini.


“Heyaaa!”


Suara teriakannya membahana dan menyebar dengan cepat kemana-mana. Bagaikan ribuan jarum yang di sebarkan lalu terbang dan menusuk indera pendengaran siapapun yang mendengarnya. Para siluman yang sedang mengepung dirinya langsung bergelimpangan jatuh ke tanah dengan telinga yang banyak mengeluarkan darah. Lalu dari tubuh Panembahan keluar lidah-lidah petir yang menyambar kesana kemari. Menghempas dan memusnahkan siluman-siluman itu hingga hilang tak berbekas.


Sang Ratu peri, satu-satunya peri yang berwajah tua dan jelek, langsung terbang berusaha melarikan diri, tapi terlambat. Panembahan Mbah Iro mengibaskan tangan kananya. Terlihat cahaya yang sangat menyilaukan melesat dan melabrak tubuh sang ratu hingga gosong, lalu hilang tak berbekas. Hanya tinggal Dewi Nawangwulan yang masih tergeletak tak berdaya.


“Ampunilah aku manusia, aku mengakui kekalahanku,” ujar Nawangwulan.


“Aku tidak akan mengampunimu, dosamu terlalu banyak dan keberadaanmu membahayakan keselamatan para manusia. Sekarang tinggal pilih jalan kematianmu, mau mati dengan cara cepat atau aku siksa dulu sampai nafasmu yang penghabisan?”


Nawangwulan menggelengkan kepalanya.


“Jangan! Bunuhlah aku secepat yang kau bisa,” ujarnya memohon.


Panembahan menganggukkan kepalanya.


“Baiklah aku kabulkan permintaanmu. Tapia ada syaratnya.”


“Syarat? Syarat apa?”


“Bebaskan Pranaja dari pengaruh pengasihanmu dulu.”


Nawangwulan menggelengkan kepalanya.


“Tidak bisa. Pranaja telah terkena guna-guna darah. Hanya kematian yang bisa membebaskannya.”


“Guna-guna darah? Apa maksudmu?”


“Darah iblisku telah tercampur ke dalam darahnya, dan itu tidak bisa disembuhkan.”


Panembahan Mbah Iro merasa kesal bukan main. Dari kedua matanya memancar kilat yang menyilaukan, langsung menyambar tubuh Dewi Nawangwulan. Jasad siluman peri itu terlihat bersinar terang, lalu hilang. Bahkan sukma silumannya pun ikut terbakar habis, musnah tanpa bekas.


“Apa tindakan kita untuk menyelamatkan Pranaja, saudaraku?” tanya Kyai Badrussalam.


Panembahan Mbah Iro tersenyum.


“Kita tidak perlu cemas. Pranaja bukan manusia biasa, di dalam darahnya mengalir Kristal Mustika milik peradaban langit. Seiring kematian Nawangwulan, darah siluman itu akan dimusnahkan oleh darahnya sendiri.”


Kyai Badrussalam ikut tersenyum. Lalu dia menarik kembali tasbih yang ada di leher Pranaja dengan tangannya.


“Loh kakek Panembahan dan kakek Badrussalam, kita kok ada di sini? Apa yang terjadi?”


Pranaja bangkit dari duduknya. Sama sekali tak terlihat kalau dia baru saja kehilangan kekuatannya. Rupanya dia telah kembali menjadi Rich Pranaja yang sesungguhnya.


.