DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 55 SEMUA KARENA JANJI


EPS 55 SEMUA KARENA JANJI


Pagi kembali dengan suasana yang sedikit tegang. Meskipun terasa lega, setelah semalaman dicekam wajah bulan yang semerah darah, kemudian berganti cahaya pagi yang begitu cerah. Aura mistik yang menegakkan bulu roma, seperti hilang seketika, tersapu udara pagi yang menyapa. Kekhawatiran akan datangnya serangan hipnotik, berganti dengan rasa lega melihat wajah sang surya dalam warna jingga yang begitu cantik.



Frida membawa sepiring nasi goreng special dan jus lemon hangat ke Gazebo besar di dekat kolam renang. Setelah semalaman berjaga, tubuh Dandung langsung terlelap begitu azan subuh berkumandang. Membawa mimpi buruknya dalam kemelut di dasar sebuah sendang. Tubuhnya yang tenggelam tak bisa bergerak karena terikat sebuah selendang. Ingin hati berteriak tapi suaranya seperti tercekat di dalam tenggorokan.



“Ah, uh, ah, uh!” teriak Dandung dengan mata terpejam.



Frida bergegas menaruh nampan itu di atas meja kecil. Jemari tangannya yang lentik menyentuh tubuh sang komandan yang bergerak menggigil. Menggoyangkan bahunya perlahan, sementara bibir ranumnya terus memanggil. Namun setelah sekian lama, usahanya tidak juga membuahkan hasil. Tubuh Dandung malah semakin bergetar, dalam irama dan desah suara yang ganjil.



“Uuuhhh…hrrrr…ssshhh!”



Suaranya mendesis, dan lidahnya terjulur seperti ular. Frida membaca dzikir dalam hati dengan bibir yang gemetar. Belum pernah dalam hidupnya dia mengalami hal-hal mistis di luar nalar. Namun dalam hatinya dia bertekad akan terus melawan, menyelamatkan jiwa kekasihnya yang sepertinya sedang tersesat di alam liar. Mata batinnya terus dipertajam, agar dia bisa menghadapi semuanya dengan tegar.



“Laa illa ha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimiin.”



Dibacanya doa yang pernah diucapkan nabi Yunus saat ditelan ikan raksasa itu berkali-kali. Menyerahkan sepenuh jiwanya dalam kepasarahan perlindungan Illahi Robbi. Membisikkan di telinga Dandung dengan alunan doa dan kalimat-kalimat suci. Mengharapkan pertolongan datang untuk menyelamatkan kekasih yang dia cintai. Terakhir kali dia bisikkan lafadz ayat kursi.



"Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim”.



Tubuh Dandung bergetar begitu hebat. Kepalanya digeleng-gelengkan dengan cepat. Begitu cepat, lalu terdiam sesaat. Dari ujung kepalanya keluar asap hitam yang begitu pekat. Lalu terlihat bayangan hitam keluar dari tubuh Dandung, berkelebat. Rupanya ada jin Khorin, pengikut Ken Darsih, yang ikut menyimpan dendam kesumat. Jin yang bersemayam di dalam tubuh Dandung itu mengetahui pemuda itu telah berkhianat.



“Aargh!” teriak Dandung.



Suaranya begitu menggelegar. Mengagetkan semua orang yang sedang berjaga di dalam dan di luar. Frida menyuruh petugas yang berdiri di dekatnya agar memanggil Iptu Khaidar. Komandan petugas jaga yang masih mengawasi keadaan dari dalam pagar. Bergegas perwira polisi yang usianya lima tahun lebuh tua dari Dandung datang ke gazebo besar.



“Ada apa Frida?”


“Rupanya ada yang mengganggu tubuh Kapten dari dalam. Aku tidak tahu apa, tapi aku melihatnya sendiri berkelebat keluar begitu aku bacakan ayat Kursi.”


Khaidar terlihat lega.


“Alhamdulillah. Kalau begitu teruslah berdzikir Frida, aku akan berusaha membangunkan komandan.”



Frida menganggukkan kepalanya. Bibirnya terus mengalunkan dzikir dan doa-doa. Sementara tangan Khaidar memijat tubuh Dandung dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan usaha mereka tidak sia-sia. Perlahan tubuh perwira paling tampan di polda metro itu membuka matanya. Mengerjap-ngerjamkan bola matanya sejenak, lalu segera duduk bertumpu pada kedua tangannya.



“Ken Darsih,” desisnya perlahan.



Lalu menoleh pada Khaidar dan Frida yang nampak tercengang. Kepalanya menunduk kembali dengan hati penuh bimbang. Sebenarnya dia ingin jujur, menceriterakan semuaya biar menjadi terang. Tapi dia takut melukai hati Frida, satu-satunya perempuan yang saat ini dia sayang.



“Ken Darsih?” ucap Frida. “Dari kemarin kau selalu menyebut nama itu. Maukah kau menceriterakannya kepadaku?”



Dandung masih terdiam. Lalu memandang wajah Frida dalam-dalam. Lalu menoleh kepada Khaidar yang berdiri tenang.


“Siap Ndan!”



Khaidar membalikkan tubuhnya kembali ke pos utama. Meninggalkan Dandung dan Frida berdua. Kalau sudah urusan hati mah, aku gak ikutan, batinnya.



“Mas Dandung, mau berbagi cerita denganku?” ulang Frida.



Wajangnya begitu tenang, seolah memberi Dandung keyakinan bahwa dia akan baik-baik saja, apapun yang akan di dengarnya nanti. Sudah lama dia mengikhlaskan dirinya hanya buat Dandung, apapun yang terjadi. Satu kalipun dia tidak pernah menunjukkan raut marah atau cemburu, bukan karena tidak merasa memiliki, tapi karena dia hanya punya hati.



“Berjanjilah Frida, kau tidak akan marah kepadaku,"


Frida mengangkat kedua alis matanya.


“Apa mas Dandung pernah melihat aku marah atau cemburu?” tanya Frida. “Tidak mas. Sejak awal aku hanya mencintai mas Dandung tanpa pernah berhitung apapun. Aku akan menerima mas Dandung, kapanpun dan dimanapun mas Dandung siap menerimaku.”



Dandung memandang Frida dengan sorot mata kagum. Entah terbuat dari apa hati Frida, apapun yang dia lakukan bibirnya selalu tersenyum. Padahal dia yang sudah mengambil kesucian gadis itu, lalu tinggal bersama di apartemennya, melihat dia pulang pagi dengan tubuh penuh aroma wangi perempuan yang tercium. Tapi Frida selalu menyambutnya, menyiapkan air hangat dan membuatkan minum.



“Terimakasih sayang.”



Untunglah Frida seperti menyadarkannya dari kesesatan yang terlalu jauh. Menariknya dari dasar jurang yang penuh racun yang bisa membunuh. Menyadarkannya pada jalan lurus yang seharusnya dia tempuh. Hingga pada akhirnya hatinya luruh dan menyerahkan cintanya secara penuh.



“Iya mas. Sekarang ceritakanlah semua ceritamu kepadaku.”


Dandung menghela nafas dalam-dalam. Lalu duduk mencangkung di atas kursi lantai marmer berwarna hitam.



“It’s all because of a promise,” ujarnya.



Frida memandang Dandung tanpa reaksi. Dia sudah meraba masalah Dandung pasti tidak jauh dari masalah janji. Memberi harapan palsu kepada para perempuan yang tidak ditepati. Menuang racun pada botol madu yang ditenggak habis hingga kosong tak berisi. Lalu mereka mengumpat waktu pada penyesalan yang tiada henti.



“Ken Darsih adalah perempuan setengah siluman yang tidak sengaja berkenalan denganku. Dia salah sangka dengan wajahku yang mirip musuhnya di masa lalu.”



“Musuhnya di masa lalu?”


“Iya. Namanya Dadhungawuk, orang yang telah memisahkan dirinya dengan ibunya. Tapi aku bukanlah Dadhungawuk. Sejak saat itu aku dan dia berteman. Bahkan dia tinggal di rumahku. Hingga suatu saat dia pulang dengan tubuh penuh luka seteka bertempur dengan musuhnya yang lain. Lalu dia memintaku menenggelamkannya di dasar Sendang Kumitir, di tengah hutan Kecipir di puncak bukit Kethileng.”



Dandung menghentikan ceritanya. Lalu menarik nafas perlahan dan menghempaskannya.



“Dan aku berjanji akan menjemputnya setelah lima purnama.”



“Dan tadi malam adalah purnama yang kelima?” tanya Frida dengan mata nanar.



Dandung menganggukkan kepalanya.