EPS 67 LAKI LAKI NORMAL
Akhirnya tamu yang ditunggu-tunggu pun datang. Dipimpin Panembahan Mbah Iro, rombongan dari padukuhan Somawangi menunggang lima ekor kuda besar berwarna hitam. Panembahan Mbah Iro, Eyang Penatus, Raden Mas Parto, serta seorang kepala dukuh Somawangi menolak waktu Pranaja menawari mereka naik mobilnya. Mereka lebih suka menunggang kuda-kuda yang merupakan keturunan Jalitheng, kuda kebanggaan leluhur mereka, Panembahan Somawangi.
“Assalaamu’alaikum,” sapa Pranaja mewakili eyang-eyangnya.
“Wa’alaikumsalam wa rokhmatullohi wa barokatuh,” sahut Kyai Badrussalam.
Disampingnya berdiri Andika dan kakek Mursyid serta dua orang ustadz senior. Mereka menyambut kedatangan para tamunya dengan senyum yang ramah. Kyai Badrussalam menyalami dan merangkul tubuh mereka satu persatu.
“Sugeng Rawuh Romo Panembahan Mbah Iro. Selamat datang kami ucapkan kepada seluruh keluarga besar Trah Somawangi yang hari ini berkenan hadir di pesantren kami,” ujar kyai Badrussalam berbasa-basi.
Setelah itu dia mempersilahkan para tamunya untuk masuk ke pendopo gedung utama. Sepanjang jalan menuju pendopo, para santri yang sejak pagi sudah menunggu, melambai-lambaikan tangannya. Beberapa santriwati senior banyak yang mengagumi ketampanan Pranaja. Memakai jubah kebesaran Trah Somawangi berwarna merah hati dan ikat kepala dengan warna yang sama, dia terlihat begitu keren.
“Lihat pemuda itu tampan sekali, tidak kalah sama mas Andika,” bisik mereka.
“Dia juga terlihat sangat kuat, lihat otot-otot lengannya yang bertonjolan, uh jadi gemes ingin mencubitnya.”
“Ih pikiranmu itu suka aneh-aneh deh. Dosa tahu … kekeke…”
Mereka pun tertawa cekikikan.
Beberapa santri segera menyajikan berbagai makanan dan minuman untuk menjamu para tamu dengan makanan khas pesantren. Ada kalontong, rengginang, cikruk, godeblag, soto ayam Pataruman, kupat tahu dan tentu saja nasi liwet diatas nampan bundar yang dihiasi aneka lauk. Seperti kluban, srundeng, ikan asin dan ayam ingkung. Minumnya wedang jahe, bajigur, kopi klothok dan es bojong. Tidak lupa kambing guling yang masih terpanggang.
“Eh, Andika. Kamu mau kasih makan satu kampung, kok makanannya banyak banget,” bisik Pranaja sambil mencolek pundak Andika.
“Sudah tidak usah banyak omong. Kalau kamu tidak doyan ya tidak usah dimakan. Biar aku habisin semua,” sahut Andika dengan wajah serius.
“Enak saja! Siapa yang bilang tidak doyan? Aku kan nanya” sungut Pranaja.
Andika tersenyum simpul.
“Eh, kamu kan biasa hidup di London, memang doyan makanan beginian?”
“Aku sudah lama meninggalkan lidahku di sana. Sekarang aku biasa makan godogan boled di Somawangi,” sahut Pranaja.
“Godogan Boled? Makanan apa itu?”
“Singkong rebus.”
“Enak?”
“Baru membayangkan saja aku sudah kenyang.”
Hahaha..keduanya yang duduk di belakang rombongan tergelak.
“Sst!” Alimin meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.
Kyai Badrussalam mempersilahkan Panembahan Mbah Iro dan tamu lainnya untuk menikmati hidangan yang disajikan.
“Luar biasa sekali sambutan yang diberikan kepada kami romo Kyai,” ujar Panembahan Mbah Iro.
Kyai Badrussalam tersenyum.
“Kebetulan nanti malam ada acara selamatan tujuh hari jabang bayi putera Miryam, sekalian Aqiqah dan potong rambut,” sahut Kyai Badrussalam.
“Selamatan tujuh hari putera Miryam?” tanya Eyang Penatus. “Maksudmu dia lahir saat purnama kemarin?”
“Ya. Seperti yang pernah aku sampaikan dulu tentang kehamilan Miryam. Tujuh hari yang lalu puteranya sudah lahir dengan selamat.”
Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya.
“Ya. Justru karena itulah aku mengundang kalian untuk datang pada hari ini.”
Kyai Badrussalam menghentikan ucapannya. Mungkin sedang mencari kata yang tepat untuk menyampaikannya. Suasana menjadi hening. Insting Panembahan Mbah Iro yang tajam dapat menangkap kegelisahan sang kyai.
“Apa ada sesuatu yang terjadi dengan bayi Miryam?” tanya Panembahan Mbah Iro.
“Ya. Bayi yang telah menghuni Rahim ibunya selama lebih dari limaratus tahun. Terendam kekuatan Tirtanala, Geni Sawiji dan Anugerah Mata Dewa yang dikuasai ibunya, telah lahir ke dunia. Ditambah lagi kecerdasan Roro Lawe, sang Dewi Pengetahuan. Bisa kalian bayangkan bagaimana kekuatannya kan?”
Wajah-wajah yang hadir di ruangan itu menjadi tegang. Mereka tahu benar betapa dahsyatnya kekuatan-kekuatan itu. Tirtanala, Geni Sawiji dan Anugerah Mata Dewa adalah Tri Tunggal. Tiga kekuatan dahsyat yang dimiliki Begawan Wanayasa, yang kemudian diwariskan kepada putera-puterinya.
Tirtanala diwariskan kepada Panembahan Somawangi, Geni Sawiji dan Anugerah Mata Dewa adalah milik Eyang Karangkobar, sedangkan puteri sulungnya Roro Lawe adalah Dewi Pengetahuan atau dikenal juga sebagai Dewi Segala Tahu. Mereka semua mewariskan kekuatan itu kepada Miryam. Dan sekarang mengalir di dalam darah puteranya.
“Kalau sampai salah asuh, anak itu bisa menjadi bencana bagi kehidupan manusia,” gumam Panembahan Mbah Iro.
Lagi-lagi semua terdiam. Bermain dengan pikirannya masing-masing. Bayi itu memiliki kekuatan raga yang luar biasa, diimbangi kecerdasan otak di atas ambang batas manusia. Wow! Mereka bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Bagaimana kalau kita menghadap eyang Miryam bersama-sama kakek?” usul Pranaja.
Panembahan Mbah Iro, Eyang Penatus dan Raden Mas parto saling berpandang-pandangan. Lalu mereka menganggukkan kepalanya, seolah menyetujui usulan Pranaja. Setelah itu Panembahan mengalihkan pandangannya kepada Kyai Badrussalam.
“Bagaimana romo Kyai, menurutku usulan Pranaja sangat baik. Paling tidak kita bisa tahu apa keinginan Miryam dengan bayinya itu.”
Tapi Kyai Badrussalam menggelengkan kepalanya.
“Mohon maaf romo Panembahan. Usulan itu mungkin jalan yang terbaik, tapi sulit untuk dilaksanakan.”
Panembahan Mbah Iro mengernyitkan keningnya.
“Apa alasannya?”
Kyai Badrussalam menghela nafas panjang. Lalu memberi tanda agar Alimin dan para santri yang melayani mereka untuk keluar dan menjauh dari pendopo. Rupanya ada hal rahasia yang ingin disampaikan kyai tanpa harus di ketahui banyak orang. Beberapa orang yang tidak berkepentingan juga menyingkir dari ruangan itu. Suasana menjadi semakin hening.
“Apa alasannya kakek Badrussalam?” tanya Pranaja yang sudah tidak sabar menunggu.
“Miryam mengakui, kalau panembahan Somawangi adalah suaminya yang pertama. Beliau jatuh hati kepada kecantikan Miryam, dan hidup bersama selama sepuluh tahun lamanya. Namun rahasianya terbogkar oleh Santika, kalau Panembahan Somawangi telah membunuh ayah Miryam dan ayah Santika karena dendam. Lalu Miryam melumpuhkan Panembahan Somawangi dan meninggalkannya. Setelah itu dia menikah dengan Santika.”
“Kalau begitu eyang Miryam menaruh dendam kepada kami selaku keturunan Eyang Panembahan Somawangi dengan Eyang Riyani?” tanya Pranaja lagi.
Kyai Badrussalam kembali menggelengkan kepalanya.
“Bukan itu yang membuat kalian sulit menemuinya.”
“Apa alasannya kakek? Katakan saja,” Pranaja semakin penasaran.
“Mohon maaf sebelumnya romo Panembahan. Tapi Miryam menganggap kalian semua adalah pembohong.”
“Apa!?”
Bagai mendengar petir di siang bolong, mereka semua terkejut mendengar kata-kata kyai Badrussalam.
“Dia menganggap kami pembohong?” ujar Raden Mas Parto. “Apa alasannya?”
“Mohon maaf sekali lagi aku harus mengatakan ini. Menurut Miryam Panembahan Somawangi bukanlah lelaki sejati. Kekuatan Tirtanala membuat organ kelelakiannya tidak berfungsi sebagaiman mestinya.”
“Apa!?”
Lagi-lagi semua orang tersentak kaget. Setelah itu hampir bersamaan mereka menoleh ke arah Pranaja. Bahkan Andika memandangnya dengan wajah memelas. Ya, satu-satunya orang di ruang itu yang memiliki kekuatan Tirtanala hanyalah Pranaja.
“Eh, kenapa kalian memandangku begitu rupa?”
Pranaja jadi salah tingkah. Tapi orang-orang malah menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajah mereka penuh rasa simpati kepadanya. Pemuda berbadan kekar tapi imut itu jadi kesal.
“Woi! Aku ini laki-laki normal woi!”