xEPS 14 TALI JIWO
Pertarungan antara Ratu istana Karang Bolong Dewi Suryakanti dengan gadis setengah siluman Ken Darsih, telah membuat ruang Balairung Istana yang megah menjadi berantakan. Beberapa bagian sudutnya malah telah hancur. Banyak korban tewas dari siluman-siluman penghuni istana bawah laut selatan Jawa itu. Bahkan Dewi Suryakanti pun terlihat tak berdaya saat Ken Darsih mengeluarkan senjata mustika lainnya.
Segulung benang berwarna merah darah di lemparkan ke arah musuhnya. Benang itu langsung terurai dan mengejar tubuh Sang Dewi. Wajahnya nampak terkesiap kaget dan berubah mejadi pucat. Dia sama sekali tidak menyangka kalau gadis bidadari itu memiliki salah satu senjata yang sangat di takuti oleh para siluman.
“Tali Jiwo? Mana mungkin…”
Dia tak sempat lagi berpikir, karena benang berwarna merah darah itu tiba-tiba telah mengikat tubuhnya dari ujung kaki hingga lehernya. Hanya kepalanya yang masih bias di gerakkan. Tapi semua kekuatan silumannya sudah tidak berfungsi lagi. Semuanya menjadi lumpuh dan membeku.
“Aaakh!” teriaknya.
Tali Jiwo adalah benang pengikat sukma pemberian Nyai Nagabadra. Ken Darsih pernah menggunakannya untuk mengikat sukma Ki Badranaya atau Ki Nagabadra, siluman naga jantan penguasa hutan Kecipir, suami Nyai Nagabadra. Setelah membunuh wadag silumannya, kemudian gadis itu mengikat sukma Ki Badranaya dengan Tali Jiwo dan melemparkannya ke alam tanpa ruang, tanpa waktu.
Alam tanpa ruang dan waktu adalah sebuah alam kosong yang membeku, pada dimensi yang berbeda dengan alam kita. Siapapun yang tinggal di sana akan hidup abadi. Sukmanya akan melayang-layang kesana kemari tanpa arah dan kepastian. Dan mereka tidak akan pernah kembali karena memang tidak ada jalan untuk kembali.
Ken Darsih melangkah mendekati tubuh Dewi Suryakanti yang tergeletak di bawah singgasananya yang megah. Wajahnya berubah menjadi ungu, pertanda dia sedang di puncak amarahnya. Matanya semerah darah, menatap dengan penuh dendam. Hawa kematian begitu terasa mengguncang jiwanya, untuk mengakhiri hidup Dewi Suryakanti yang dianggapnya telah menyiksa ibundanya, Daningrum.
“Ken Darsih, lepaskan aku! Kau tidak tahu apa yang terjadi dengan ibumu!” teriak Dewi Suryakanti.
“Aku memang tidak perlu tahu semuanya Dewi. Toh. Apa yang aku lihat sudah menjelaskan semuanya,” sahut Ken Darsih dengan suara datar.
Ken Darsih mengeluarkan serulingnya kembali. Dewi Suryakanti yang sejak tadi bersikap tenang mendadak menjadi gelisah. Wajah Ken Darsih begitu dingin. Dia kemudian berjongkok di samping tubuh lawannya yang sudah tidak berdaya. Lidahnya yang bercabang menjulur keluar masuk mulutnya. Seperti sedang mendeteksi sesuatu yang tersembunyi.
“Ap … apa yang akan kau lakukan kepadaku, Ken Darsih?”
“Dalam satu tarikan nafas, aku memberimu kesempatan untuk hidup lebih lama. Tahanlah nafas terakhirmu itu, lalu nikmati kemegahan istanamu untuk yang terakhir kalinya. Karena begitu kau mengeluarkan nafasmu, seketika itu pula aku akan membunuhmu.”
Lalu mengangkat suling kecilnya ke udara, siap menghabisi nyawa penguasa istana Karang Bolong itu. Dewi Suryakanti menarik nafas dalam-dalam, kemudian menahannya di dalam perutya selama mungkin. Ken Darsih menunggunya dengan sabar. Sesuai janjinya, memberi kesempatan kepada lawannya untuk menikmati hal yang di sukai pada detik terakhir kematiannya. Tapi tetap saja, di dunia siluman pun, kematian adalah urusan Yang Maha Kuasa.
“Turunkan senjatamu anak muda! Ssshhh… !”
Satu suara terdengar lembut di akhiri suara desisan seperti ular, begitu menggema.
Serentak Ken Darsih dan Dewi Suryakanti menoleh ke arah pintu gerbang. Keduanya terkesiap kaget dengan ekspresi yang berbeda. Ken Darsih terlihat heran dengan sosok yang baru pernah dilihatnya. Sebaliknya Dewi Suryakanti begitu gembira dan bersemangat. Matanya melotot dan bibirnya tersenyum lebar. Seketika dia berseru memanggil sosok yang baru dating itu.
“Kanjeng Ratu Nyai Blorong!”
***
Rasa malas adalah candu bagi jiwa-jiwa yang tidak menghargai kehidupannya. Maka teruslah melangkah walau di jalan yang berkerikil tajam. Sebab sekali kau berhenti, kau akan enggan beranjak dan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke tujuan. Itupun sepanjang kau tidak kehabisan semangat dan kehilangan motivasi.
Sementara Kyai Badrussalam duduk di atas batu yang lebih besar sambil duduk bersila. Matanya terkatup rapat, namun bibirnya terus melantunkan doa-doa dan pujian kepada Yang Maha Kuasa. Sesekali tangannya bergerak memperbaiki sorban di bahunya yang terus berkibar karena deru angin yang kadang berhembus cukup kencang.
Sudah dua hari mereka menunggu dengan sabar di luar pintu keluar padukuhan Somawangi. Dan selama itu pula mereka belum bertemu dengan orang-orang Somawangi yang biasanya rutin keluar di pagi hari untuk menjual hasil pertanian mereka. Mungkinkah orang-orang padukuhan Somawangi sudah tahu kalau ada orang asing yang sedang menunggu mereka? Kenapa mereka tidak melaporkannya kepada Panembahan Mbah Iro, pemimpin mereka?
“Hoaahmm.”
Andika menutup mulutnya rapat-rapat. Rasa kantuk yang hebat begitu menyerangnya, namun dia bertahan tidak tidur karena belum ada perintah dari gurunya, Abah Kyai Badrussalam. Matanya terus saja memelototi layar ponsel miliknya. Hm, belum ada perubahan juga, kata hatinya.
“Tidurlah Andika. Kau pasti merasa lelah dan butuh istirahat.”
“Abah tidak mengantuk?”
Abah kyai tersenyum.
“Tidurlah dulu. Aku akan tidur kalau kau nanti bangun.”
Hrrr…
Belum lagi kyai Badrussalam selesai berbicara, tubuh Andika sudah tertelungkup di atas batu besar itu dan tertidur pulas. Dan kyai Badrusslam masih saja tersenyum melihat Andika. Anak ini benar-benar memiliki semangat juang yang tinggi. Dia rela melakukan apapun untuk membantu orang lain walaupun itu tidak berkaitan dengan kepentingannya sendiri.
Jarang ada orang yang tahu, kalau Andika adalah putera satu-satunya Subrata, Taipan Amerika yang berdarah Indonesia. Crazy Rich yang sangat dikenal kepiawaiannya dalam membangun bisnisnya dari nol hingga menjadi imperium yang perusahaannya mengular hampir ada di seluruh penjuru dunia. Sejak kecil Andika dititipkan Subrata kepada kyai Badrusslam, demi ambisinya meraik kesuksesan di negeri Paman Sam.
Banyak orang menjuluki Andika sebagai pemuda berhati malaikat. Dokter muda yang memilki Rumah Sakit Sendiri, Madani’s Hospital, yang pengelolaannya diserahkan kepada teman-temannya sesama dokter. Karena dia lebih suka mengelola sebuah klinik kecil untuk melayani kesehatan para ustad dan santri di pesantren Ksatriyan Santri. Andika tidak pernah meminta bayaran apapun, bahkan obat-obatanpun dia beli dengan uang dari kantungnya sendiri. Ibunya selalu mengiriminya uang dalam jumlah besar setiap bulannya.
Mendadak Kyai Badrussalam menengadahkan kepalanya. Indera pendengarannya yang tajam menangkap langkah beberapa orang yang baru datang, menelusuri jalan setapak menuju ke padukuhan Somawangi. Dan ketika dia melihat siapa orang-orang itu, wajahnya nampak semringah.
“Panembahan Mbah Iro..” gumamnya.