EPS 112 MAUT SANG KYAI
Hati menumbuhkan cinta, tapi cinta membutakan hati.
Mendengar kata-kata Panembahan Mbah Iro yang menghina calon isterinya, Dewi Nawangwulan, kemarahan Pranaja mencapai puncaknya. Mendadak sekujur tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki diselubungi api biru yang sangat panas. Lalu dengan satu kali hentakan segumpal api biru melesat dengan kecepatan tinggi, siap membakar tubuh Mbah Iro hingga hancur menjadi abu.
“Beraninya kau menghina calon isteriku kakek! Terima kematianmu!”
“Pran… Pranaja! Tunggu!”
Panembahan Mbah Iro, yang tidak menyangka akan diserang oleh cucunya sendiri, terkesiap kaget. Dengan reflek tubuhnya melompat ke belakang menghndari serangan bola api biru itu. Serangan Pranaja hanja hanya mengenai tempat kosong. Bola api biru itu terus melesat menabrak tembok istana, menimbulkan kerusakan dan kebakaran yang hebat. Dindingpun jebol dan berwarna merah membara.
Blar!
“Terima seranganku lagi kakek!”
Kegagalan serangan pertama tidak menyurutkan langkah Pranaja. Kemudian dia menghujani kakeknya itu dengan bola-bola api biru yang kekuatan panasnya tiga kali lebih panas daripada api biasa. Puluhan bola api biru itu langsung mengurung pertahanan Panembahan Mbah Iro yang terus melayang mundur. Lalu pemimpin tertinggi Trah Somawangi itu memutar kedua tangannya membentuk lingkaran.
“Kekuatan Dinding Angin!” teriaknya.
Panembahan Mbah Iro melindungi tubuhnya dengan tingkatan paling tinggi dari kekuatan Dinding Angin. Sekujur tubunya diselubungi dinding angin setebal satu meter yang bukan hanya kuat tetapi juga sangat dingin karena mengandung titik-titik air yang diserap dari udara sekitar. Begitu bola-bola api itu masuk ke dalam putaran angin, mereka langsug hilang tanpa bekas.
“Pranaja! Apa yang kau lakukan? Aku ini kakekmu sendiri!” teriak Panembahan.
Pranaja menghentikan serangannya. Keraguan kembali menghampiri hatinya. Melihat hal itu, Nawangwulan langsung terbang di sampingnya. Sambil meniupkan hawa pengasihan, dia berbisik di telinga pemuda berwajah imut itu.
“Jangan dengarkan kata-katanya kakang. Dia berusaha mengacaukan pikiranmu. Gunakan kekuatanmu yang lain.”
Seperti ada dorongan yang muncul, pemuda itu kembali menyerang Panembahan Mbah Iro, kali ini dengan kekuatan Tirtanala.
“Kekuatan Tirtanala!”
Teriaknya sambil mengibaskan kedua tangannya ke depan lalu ditangkupkan.
Plok!
Kemudian angin berkesiur lembut. Terasa hawa dingin yang membekukan menyebar di dalam ruang istana. Membekukan darah Panembahan Mbah Iro dan Kyai Badrussalam. Dua orang manusia di ruangan itu selain Pranaja. Sedangkan Dewi Nawangwulan dan para penghuni istana lainnya tidak terpengaruh apa-apa. Para siluman merupakan makhluk berdarah dingin, sehingga mereka bisa menyesuaikannya.
Tubuh Panembahan yang melayang mundur akhirnya tertahan tembok dibelakangnya. Namun anehnya, begitu tubuh renta itu menempel di tembok, dia langsung menghilang. Tidak ada yang bisa melihat keberadaannya.
“Kakang Kawah Adi Ari,” gumam Panembahan meminta pertolongan Sedulur Papat, yaitu kekuatan ghaib yang bertugas menjaga keselamatan dirinya dari empat arah.
Tubuh Panembahan Mbah Iro seketika hilang dari pandangan.
‘Eh, kemana kakek? Mengapa tubuhnya hilang begitu saja?’ batin Pranaja.
Kyai Badrussalam tersenyum kecil. Ilmu Kejawen yang dia sendiri kurang memahaminya. Dia memang tidak bisa melihat tubuh Panembahan, namun dia bisa mengetahui keberadaan sahabatnya itu melalui desah nafasnya yang sangat lembut. Lalu dia terbang mendekati desah nafas Panembahan Mbah Iro.
“Sahabatku, lebih baik kau urus siluman perempuan itu, biar aku yang akan meladeni Pranaja,” bisik kyai Badrussalam.
Melihat gerak bibir Kyai Badrussalam yang seperti sedang berbicara dengan seseorang, Pranaja mempertajam indera pendengarannya.
Belum hilang rasa penasarannya Kyai Badrussalam sudah berdiri di hadapannya.
“Kenapa kau menyerang kakekmu sendiri Pranaja? Apa kau lebih menyayangi calon isterimu itu di banding kakekmu sendiri?”
Pranaja terkesiap. Tubuhnya diam membeku. Ada pertarungan hebat dalam dirinya.
‘Betul juga kata-kata kakek Badrussalam. Kenapa aku menyerang kakekku sendiri?’
Dewi Nawangwulan kembali mendekati Pranaja. Saat bibirnya hendak membisikkan sesuatu, mendadak ada pukulan keras tepat di ulu hatinya. Padahal dia tidak melihat siapapun di dekatnya.
Bug!
Tubuh siluman cantik itu langsung terhempas ke belakang sampai menabrak tembok.
Blug!
Pranaja yang masih dalam kebimbangan terkesiap kaget. Reflek dia bergerak untuk menyelamatkan calon isterinya. Tubuhnya melesat bagai bayangan, berusaha meraih tubuh Nawangwulan, tapi terlambat. Tubuh calon isterinya itu menghempas tembok istana dengan keras hingga hancur. Nawangwulan yang cantik jelita berubah kembali ke wujud aslinya, wajah siluman buruk rupa yang mengerikan!
“Siapa kamu!”
“Aku calon isterimu kakang,” isak Nawangwulan.
Dengan pendengarannya yang sangat tajam. Pranaja mengetahui keberadaan Panembahan tidak jauh darinya.
“Tunjukkan dirimu kakek! Kau harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu terhadap calon isteriku!” teriaknya lagi.
Belum lagi Panembahan menjawab kata-kata Pranaja, Kyai Badrussalam kembali berdiri di hadapan Pranaja.
“Ini bukan kesalahan kakekmu Pranaja. Itulah wujud calon isterimu yang sebenarnya,” ujar kyai Badrussalam.
“Tidak perlu berbasa-basi lagi Badrussalam! Sambut kematianmu!” teriak Pranaja.
Tubuhnya langsung melesat ke depan. Kecepatannya sungguh mengagetkan kyai Badrussalam. Seperti sebuah bayangan, tiba-tiba tangan Pranaja sudah berada di depan wajahnya. Untunglah gerak refleknya masih bereaksi dengan baik. Secepat tangan Pranaja menyentuh wajahnya, secepat itu pula tubuhnya meloncat ke belakang.
“Tunggu! Tunggu Pranaja! Jangan kau menyerangku dulu!” ucapnya. “Kau belum tahu siapa calon isterimu itu, biar aku buka kedoknya!”
Kata-katanya membuat Pranaja menghentikan serangannya. Seyakin apapun nalurinya, tapi dia tetap menghindari kesalahan. Dia tidak mau keliru membunuh orang, apalagi itu kakeknya sendiri dan Kyai Badrussalam yang sangat di hormatinya.
“Aku tidak butuh penjelasan dari kalian semua!” bentaknya.
“Sabar. Tenangkanlah hatimu. Dengarlah kata-kataku sampai selesai. Setelah itu kau boleh membunuhku” ujar kyai Badrussalam tenang.
Pranaja semakin bimbang. Dan itu mebuat kemarahannya kembali memuncak. Nafasnya semakin memburu. Dia tidak tahu kepada siapa dia harus melampiaskan kemarahannya itu. Namun yang jelas, dia membutuhkan keterangan orang tua itu.
“Jangan biarkan mereka menpengaruhimu kakang. Selamatkan cinta kita,” ucap Nawangwulan dengan suaranya yang serak dan jelek itu.
Kyai Badrussalam menggelengkan kepalanya.
“Aku minta maaf kepadamu. Calon isterimu yang cantik sudah tiada, karena semua yang dia pertontonkan hanyala tipuan. Tapi aku janji...” belum selesai kyai Badrussalam berbicara, pemuda tangguh di depannya itu sudah melompat menerjangnya.
“Dasar pembohong! Songsonglah malaikat mautmu!” teriak Pranaja.
Tubuhnya melayang ringan dengan cepat, lalu mengibaskan kedua tagannya didepan wajah kyai Badrussalam. Terasa ada dinding tembok sedingin es yang menerjang tubuh sang Kyai. Seketika tubuh kyai Badrussalam langsung terserang rasa dingin yang amat sangat,. Hawa dingin itu masuk ke dalam pori-porinya, lalu merasuk ke dalam pembuluh darah, dan membekukan aliran darahnya.
Melihat tubuh sang Kyai telah membeku, Pranaja menyerangnya lagi dengan jurus pamungkasnya, ajian Tirtanala yang membekukan sekaligus menghancurkan. Telapak tangan Pranaja diletakkan diatas kepala sang kyai, lalu digengamnya rambut yang tumbuh di kepala kyai Badrussalam. Terasa ada rasa sejuk yang luar biasa yang berubah menjadi rasa dingin hingga darahnya membeku.
Dalam kejadian yang begitu cepat, Pranaja hendak mencabut kepala yang Kyai dari lehernya.
.