EPS 32 PERTARUHAN SUBRATA
MEGAPOLITAN CITY, Koordinat 80 (Pukul 04.00)
Tang! Tang! Tang! Tang! Tang!
Pagi baru saja menjelang. Hari masih gelap dan hawa masih terasa dingin. Para pekerja di titik koordinat delapan puluh masih sibuk bekerja. Mereka sedang melakukan pengeboran untuk mencari cadangan gas bumi yang ditemukan lewat citra satelit di sekitar hulu sungai Tambra di bawah kaki bukit Grilangan. Cadangan gas itu rencananya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan gas yang akan di salurkan ke setiap tempat dan gedung di wilayah megaproyek Megapolitan.
Mereka sedang membuat lubang bor dengan Cable Tool Drilling. menancapkan pipa besi sepanjang sepuluh meter yang terus ditanam sampai kedalaman seribu duaratus meter di bawah kulit bumi. Pada kedalaman itu cadangan gas yang berada di perut bumi dapat di ambil. Lubang bor dibuat dengan menumbuk numbukkan mata bor pada lapisan tanah yang akan ditembus.
Mata bor tersebut terbuat dari semacam lonjongan pipa casing dan diikat pada kabel yang ujungnya dibuat bergigi yang kuat untuk merusak batuan, sedang penggalinya masuk dalam silinder yang bentuknya mirip perangkap. Tanah yang di gali kemudian terangkat kepermukaan untuk dibuang. Untuk menjaga agar dinding lubang tidak runtuh maka secara bertahap pipa diturunkan sambung menyambung.
Pekerjaan hampir selesai. Target pekerjaan sebelum fajar hampir usai. Ada senyum kelegaan di wajah para pekerja itu. Kerja keras mereka beberapa hari tiada henti menunjukkan hasil yang positif. Sebentar lagi mereka bisa pulang untuk beristirahat. Menikmati waktu bersama keluarga, menikmati bonus kerja keras mereka selama beberapa hari di Megapolitan.
Tut! Tut! Tut! Tut!
Tiba-tiba alarm berbunyi, menggema di udara. Orang-orang tersentak kaget. Petugas yang berjaga di perimeter melihat jarum bergerak menuju batas daya tampung gas yang seharusnya. Ada grafik peningkatan timbunan gas bumi yang secara agresif mendesak untuk keluar. Dan pergerakan itu semakin cepat dan semakin kuat, tidak bisa di hentikan lagi.
Sejenak terjadi kegaduhan. Beberapa petugas mencoba mengatasi dengan membuka saluran lubang cadangan. Namun rupanya itu tidak cukup. Bukan hanya timbunan gas yang mendesak keluar, tapi juga cairan lumpur panas yang ikut terdorong naik. Terasa bumi mulai bergetar, semakin lama semakin cepat. Dan kegaduhan berubah menjadi kepanikan.
Tut! Tut! Tut! Tut! Tut! Tut! Tut! Tut!
Bunyi alarm semakin rapat. Getarannya terasa semakin keras. Menggoyahkan dan memporak-porandakan material dan barang yang tersusun rapi. Orang-orang mulai tidak bisa mengendalikan diri. Mereka saling mencari pegangan agar tidak terjungkal. Para pekerja mulai cemas dan tidak tahu harus berbuat apa, saat akhirnya kepala operator memutuskan agar mereka menghentikan aktivitas mereka.
“Berhenti semua! Segera bersiap untuk evakuasi. Selamatkan diri kalian melalui jalur yang sudah di tentukan!” teriaknya.
Para pekerja segera menghentikan pekerjaannya. Seolah berpacu dengan waktu, mereka berhamburan lari untuk menyelamatkan diri. Mereka tahu tempat itu akan meledak dan hancur. Tapi tindakan itu agak sedikit terlambat. Jarum di angka perimeter telah bergerak melampaui garis merah.
“Bum! Bum! Bum!”
Terjadi ledakan yang sangat keras. Permukaan bumi seperti dirobek dari dalam, menciptakan lobang yang sangat besar. Pipa-pipa yang baru mereka tanam seolah terdorong keluar. Diikuti semburan lumpur panas dan gas bumi, terpancar setinggi lebih dari seratus limapuluh meter ke udara!
Bum!
Byur!
Werrrrd!
Ratusan pipa besi sepanjang sepuluh meter yang terdorong ke atas, kembali berjatuhan menghujam ke bumi.
Prang!
Bumm!
Prak!
Aaargh!
***
Berita tentang hancurnya pembangunan fasilitas gas bumi di Megapolitan langsung terdengar oleh Subrata, sang big bos Megapolitan di Amerika. Melalui satelit pribadinya, dia menyaksikan langsung kejadian ledakan dahsyat itu dan akibatnya. Bangunan dan infrastruktur hancur lebur, puluhan pekerja tewas dan sebagian besar terluka. Semburan lumpur panas dari dalam bumi itu terus terpancar, mengakibatkan genangan lumpur panas yang semakin lama semakin membesar setelah berhari-hari tak bisa diatasi
“Hahaha…beristirahatlah kau orang tua, kini giliranku menguasai dunia,” ujar Marcon Allpanigard, CEO muda pemilik Mexican Medcom Vision
“Kenapa kau terlihat begitu bahagia Marcon?” suara seorang perempuan tiba-tiba mengagetkannya.
“Susan? Kapan kau mulai ada di situ?”
Susan tersenyum.
“Aku dari tadi berdiri disini melihatmu. Tapi kau terlalu fokus dengan berita yang terjadi di Megapolitan.”
Susan Ferguson, perempuan cantik pemilik firma hukum Susan See Law and Justice, yang di kontrak perusahaan Marcon. Tugasnya memberi landasan hukum setiap proses akuisisi perusahaan-perusahaan yang di ambil alih oleh Marcon. Tentu saja setelah dihancurkan, kemudian dibeli dengan harga murah. Aset-aset perusahaan itu dibagi menjadi beberapa perusahaan kecil, kemudian dijual lagi dengan harga pasar. Tentu saja Marcon mendapat keuntungan berlipat.
“Kau tidak menyuruh aku masuk Marcon? Atau kau tidak suka dengan kehadiranku?”
Marcon yang terlihat masih syok langsung tergagap. Entah mengapa, setiap bertemu Susan. Marcon seperti kehilangan separuh kecerdasannya. Daya tarik perempuan itu sungguh luar biasa. Cantik, mempesona, cerdas dan licin bagai belut. Mudah bagai setiap lelaki untuk jatuh cinta dengannya pada pandangan pertama. Apalagi Marcon yang hampir setiap hari berjumpa dengannya.
“Oh, e.hm, maaf Susan. Aku begitu terpesona melihatmu. Hari ini kau terlihat cantik sekali,” ujar Marcon gugup.
“Apa? Hari ini aku cantik? Maksudmu aku biasanya jelek?” tanya Susan sambil tersenyum mengggoda.
“Tentu saja kau cantik setiap saat, Susan. Seperti Edelweiss yang selalu tampil cantik di setiap musim."
Marcon langsung berjalan menghampiri wanita cantik yang masih berdiri di depan pintu itu. Di raihnya tangan kanan Susan, kemudian diciumnya punggung tangan Susan dengan lembut dan penuh perasaan. Lalu di bimbingnya tangan itu agar masuk ke dalam ruangannya.
“Kenapa kau masih sungkan sayang. Kau bebas keluar masuk kantorku,” kata Marcon.
Susan menguntit di belakang Marcon. Kemudian duduk di kursi sofa besar yang terletak di sudut ruangan.
“Katakan Marcon, kenapa kau begitu gembira dengan musibah yang dialami Subrata?”
Marcon mengambil dua buah gelas. Lalu diisi dengan wine berwarna merah. Satu gelas diulurkan kepada Susan.
“Minumlah dahulu biar kau tenang.”
Susan tersenyum sinis, dia sudah hapal permainan Marcon di dunia bisnis.
“Apa kau tengah menghancurkan Megapolitan?”
Dampak ledakan lumpur itu memang luar biasa. Bukan hanya menghancurkan infrastruktur yang sudah dibangun, tapi juga mulai menenggelamkan sebagian wilayah Megapolitan dan terus meluas. Harga saham Megapolitan di Bursa Efek Dunia langsung turun ke titik terendah. Banyak konsumen membatalkan pesanannya, para investor mulai menarik modalnya, bank-bank penyalur kredit juga mulai menghentikan aliran dananya.
Reputasi Subrata sebagai taipan raja bisnis properti dunia di pertaruhkan.