EPS 130 AKU DATANG REN!
Kita boleh berdoa meminta kelonggaran, tetapi tidak bisa meminta kesulitan itu dihilangkan. Karena justeru masalah dan kesulitan itulah yang membuat kita menjadi dewasa. Cinta terkadang membuatmu rapuh, tetapi berterima kasihlah kepadaya, karena cinta juga yang bisa membuatmu lebih kuat dari sebelumnya. Kita akan besar dengan segala kesulitan bukan besar dengan segala kesenangan. Dan penderitaan cinta yang menempamu menjadi lebih matang.
Tubuh Ren terbaring lemah di atas dipan kayu beralaskan kain sutera berlapis-lapis. Mata dan bibirnya terkatup rapat. Hanya desah nafasnya yang mengalun pelan. Biksu O mempersilahkan Ryong Bae untuk masuk ke biliknya. Hanya dia yang diijinkan masuk, karena dia adalah satu-satunya kakak kandungnya. Sementara Lee Min Ho menunggu di luar bilik bersama detektif setianya Joshepine Conan.
“Hampir satu minggu dia tertidur tak sadarkan diri, tanpa makan dan minum. Untunglah ketahanan tubuhnya sangat baik, sehingga dia bisa bertahan,” ujar biksu O.
Ryong memandang wajah pucat itu dalam-dalam. Ren begiu tabah menghadapi sakitnya. Kata biksu O, dia tidak pernah mengaduh atau berteriak sakit. Tak terasa air mata pemuda itu menetes satu persatu. Ada penyesalan yang begitu dalam, mengapa dia tidak bisa mendampingi adik satu-satunya itu. Digengamnya tangan kurus nan lentik itu dengan penuh perasaan, berharap Ren juga merasakannya.
“Maafkan aku, Ren,” bisiknya lirih, hampir tak terdengar. “Bangunlah adikku, aku sudah datang. Kau rindu ingin bertemu denganku kan?”
Tapi tubuh Ren tak lagi bergeming. Dia sangat tenang dalam tidurnya.
“Ya Tuhan, pindahkan penyakit itu ke dalam diriku. Dan biarkan adikku hidup bahagia dengan cintanya.”
Beberapa saat kemudian, biksu O meminta Ryong untuk keluar. Karena dia akan melakukan ritual pengobatan bersama beberapa biksu lainnya. Dengan langkah gontai dia berjalan menghampiri Min Ho yang juga sedang duduk gelisah.
“Sudah ada tanda-tanda kemunculan Rich Pranaja?” tanya Ryong.
Dia tahu hanya Pranaja yang bisa menyembuhkan penyakit adikknya. Tapi Min Ho hanya menggelengkan kepalanya. Lalu mengalihkan perhatiannya pada Josephine.
“Bagaimana Josh?”
“Ribuan penggemarmu mengaku sebagai Rich Pranaja. Tapi akun mereka semua palsu.”
Ryong berjalan menghampiri layar monitor. Sejenak dia mengamati dengan cermat. Lalu dia menscroll dari atas ke bawah perlahan.
RICH PRANAJA
RICH PRANAJA
RICH PRANAJA
RICH PRANAJA
YEONGHON UI SIJAG
RICH PRANAJA
RICH PRANAJA
…
Wajah Ryong seperti terkesiap. Dia scroll lagi ke atas. Di antara ratusan ribu akun Rich Pranaja, sekilas dia membaca nama Yeonghon Ui Sijag. Dia kembali ke akun tersebut, Yeonghon Ui Sijag? rasanya dia mengenalnya. Bukankah itu nama pedang milik kakek Kim yang diberikan kepada… bola matanya membulat. Secepat kilat dia menekan tombol Enter.
Klik!
“Who…aaaat!”
Hampir saja Ryong berteriak. Tapi dia langsung menutup mulutnya. Dia melihat wajah yang sangat dikenalnya di layar monitor. Wajah Pranaja!
“Min Ho kemarilah!” panggilnya.
Min Ho bergegas berjalan mendekati Ryong. Pandangannya ikut terpaku menatap wajah lelaki gagah di layar monitor. Lalu menatap wajah Ryong yang mendadak menjadi bisu, lidahnya menjadi kelu. Perasaannya diantara terharu, bahagia dan lega.
“Josh! Cepat hubungi dia!” teriak Min Ho.
Josh segera melaksanakan perintah bosnya. tapi belum lagi dia menyentuh ponselnya, tiba-tiba terdengar keributan di luar. Min Ho, Ryong dan Josh segera bergerak ke luar kuil. Nampak beberapa pengawal tergeletak pingsan. Di tengal halaman, berdiri tegak seorang pemuda bertubuh gempal tinggi menjulang. Dan Ryong kembali terkesiap kaget.
“Pranaja!” teriaknya.
***
Dengan bantuan Lucra, Pranaja mendapat tumpangan pesawat jet militer TNI yang akan terbang membawa logistik ke Korea Selatan. Tak sampai setengah hari dia sudah mendarat di lapangan tempur milik Angkatan Bersenjata Republik Korea atau Daehanminguk Gukgun. Disana dia dijemput oleh pejabat atase militer Inggris. Namun di tengah perjalanan di minta diturunkan, dengan alasan akan melaksankan tugas penyelidikan sendiri.
“Terimakasih Grace,” katanya sambil mengedipkan salah satu matanya.
“Oke. Aku tunggu kamu di apartemenku Rich.”
Pranaja menganggukkan kepalanya.
“Pasti. Suatu saat aku pasti mengunjungimu.”
Setelah bercipika-cipiki mobil atase militer itu melanjutkan perjalanan. Sementara Pranaja berjalan ke tempat yang sepi, lalu mengeluarkan pedang Yeonghon Ui Sijag.
“Tunjukkan kepadaku dimana Ren berada.”
Perlahan, Pranaja menarik pedang itu dari sarungnya.
“Sreeng!”
Sinar merah menyilaukan langsung terpancar dari pedang itu. Auranya begitu kuat terasa sampai tubuh Ryong merasa merinding. Tanpa sadar di melangkah ke belakang dengan posisi siaga. Tubuh Pranaja bergetar hebat, seperti memegang aliran listrik berdaya tinggi. Nampak ada kilatan-kilatan cahaya keluar dari tubuhnya. Kekuatan dahsyat dari pedang itu perlahan merasuki tubuhnya. Menguasai tubuhnya dan menempatkan jiwanya hanya di dalam jantungnya.
“Kekuatan Geni Sawiji!” teriaknya.
Tiba-tiba seluruh tubuh Pranaja dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, diselubungi api berwarna biru yang sangat panas. Dengan satu kalau hentakan, api biru itu melesat terbang menembus angkasa. Gumpalan api itu mengikuti kemauan pedang Yeonghon Ui Sijag menuju kuil Bongjeong dimana tubuh Ren berada.
***
Angin sejuk berhembus semilir di lembah perbukitan yang termasuk lereng gunung Cheondeung. Pemandangan dari kuil terlihat sangat indah dengan nuansa alam yang memanjakan mata. Beberapa pengawal Lee Min Ho berpakaian serba hitam berjaga di beberapa titik mengawasi para peziarah yang datang ke kuil. Mendadak mereka kaget ketika melihat kedatangan pemuda gagah bertubuh gempal setengah berlari akan masuk ke halaman kuil.
“Ren!” teriaknya.
Para pengawal segera menghadang jalannya.
“Stop! Berhenti!”
Namun Pranaja sedang tidak ingin berbasa-basi. Dia harus bertemu Ren secepatnya. Rasa rindu dan khawatir memenuhi dadanya. Dengan sekali kibas, pukulan Dinding Bayangan membuat tubuh mereka terbang bertebaran kemana-mana.
Bug!
Brak!
Aduh!
Suara gaduh itu memancing perhatian pengawal lain dan orang-orang di dalam kuil. Ryong Min Ho dan Josh terlihat terkejut dengan kehadirannya.
“Pranaja!” teriak Ryong. “Hentikan serangan kalian! Dia orang yang kita cari!”
Joshepine mengangkat tangan kanannya. Memberi tanda agar anak buahnya menghentikan serangan.
“Ryong!”
Pranaja berlari menghampiri Ryong, lalu memeluk tubuhnya dengan erat. Setelah itu dilepaskan kembali. Ditatapnya wajah sahabatnya dalam-dalam. Di belakangnya Lee Min Ho memperhatikannya.
“Katakan Ryong, dimana Ren? Aku harus menemuinya sekarang!”
Ryong menganggukkan kepalanya. Terlihat kedua matanya berkaca-kaca.
“Ren ada di dalam Pranaja. Dia menunggu kedatanganmu.”
Tanpa banyak berkata lagi, Pranaja segera melesat masuk. Seperti angin, tubuhnya hampir tak terlihat saat melewati Min Ho dan Josh.
“Ren!” teriaknya.
Pranaja langsung masuk ke dalam bilik. Dilihatnya tubuh Ren terbaring lemah diatas pembaringan, dikelilingi beberapa biksu yang sedang mendoakannya. Melihat kedatangan Pranaja, para biksu itu segera memberi jalan. Dengan tangan gemetar Pranaja menyentuh tangan Ren. Terasa dingin dan kaku, nafasnya juga sudah berhenti.
“Ren!” bisik Pranaja sedikit panik. “Aku datang Ren!”
Segera dia menempelkan telapak tangannya di ujung kepala gadis itu, menyalurkan kekuatan Tirtanala yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan. Hawa sejuk perlahan meresap dan merasuk ke dalam tubuh Ren. mengalir dalam pembuluh darah dan memperbaiki sel-sel yang rusak. Tonjolan daging yang tumbuh di hati Ren dan mendesak jantungnya perlahan hilang. Tubuhnya kembali hangat dan jantungnya berdetak kembali.