EPS 91 YANG PERGI DATANG KEMBALI
Badai belum reda di Megapolitan. Di tengah kinerja perusahaan yang mulai merangkak naik, kejutan kembali terjadi. Beberapa hari setelah Marcon mendapatkan seluruh saham Megapolitan, dia langsung melakukan perombakan terhadap jajaran Direksi. Desta Rahman diberhentikan sebagai presiden direktur, dan dikembalikan ke kantor pusat Subrata’s Holding Company.
“Kamu kembali ke kantor pusat Des. Aku membuthkanmua,” ujar Subrata via ponsel.
“Siap pak!” sahut Desta.
Jabatan presiden direktur sementara dikosongkan. Beberapa jabatan direktur juga mengalami perubahan. Marcon menempatkan orang-orangnya untuk menduduki beberapa pos penting, seperti direktur personalia dan direktur keuangan. Kejutan lainnya adalah diangkatnya Fitri Ray sebagai wakil presiden direktur Megapolitan Intercorp. Lalu siapa yang akan menggantikan Desta Rahman sebagai presiden direktur? Semua merasa penasaran.
“Selamat bu Fitri,” bisik Joni Kamandanu, mantan direktur personalia.
Fitri tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Termia kasih pak Joni.”
Pagi itu seluruh direksi dan beberapa staf berkumpul di hall kantor Megapolitan Intercorp. Mereka sedang mengikuti rapat yang diadakan secara mendadak. Dipimpin oleh wakil presiden direktur yang baru Fitri Ray Queena Aisha. Melalui Fitri juga, Marcon memberitahu kalau hari ini presiden direktur yang baru akan datang. Dia meminta Fitri untuk mempersiapkan penyambutan yang luar biasa untuk presiden direktur yang baru.
“Mister Marcon meminta kita semua untuk menata ulang dekorasi kantor,” ujar Fitri.
Joni menggelengkan kesal, soalnya dekorasi kantor belum lama di rubah oleh Desta.
“Huh, orangnya belum datang saja sudah ribet begini,” bisik Joni Kamandanu. “Kemarin waktu pak Desta baru diangkat gak ribet begini.”
Setelah dicopot dari jabatan direktur personalia, kini Joni ditempatkan sebagai kepala bagian riset dan perencanaan, jabatan yang dahulu diduduki oleh Fitri. Waduh! Joni menepuk kepalanya, karena Fitri telah bekerja dengan sangat baik. Untunglah dia bukan orang yang mudah gengsi melihat status Fitri yang belum lama menjadi anak buahnya.
“Tenang pak Joni. Semua orang juga penasaran dengan pengganti pak Desta,’ ujar Fitri yang duduk di depan Joni.
Sejak kemarin sore seluruh staf kantor sibuk mempersiapkan semuanya. Interior ruang langsung diganti perabot baru. Bahkan wallpaper di ruang resepsionis juga diganti, sesuai permintaan presiden direktur yang baru. Walapun terlihat aneh, namun Joni merasa tidak asing dengan segala macam perabot itu.
“Hobimya mirip pak Pramono. Suka memajang gambar-gambar yang sedikit eksotis,” gumamnya.
Fitri tersenyum mendengar celotehannya Joni. Namun dia membiarkannya. Dia tahu kekesalan di dalam hati mantan atasannya itu, yang masih belum terima kehilangan jabatannya.
“Dunia itu berputar pak Joni, nasibnya juga. Siapa tahu orang yang hari ini dianggap kecil, besok malah menjadi besar. Seperti bapak.”
“Aaamiin,” sahut Joni.
Lalu mereka kembali fokus mempersiapkan acara penyambutan. Musik jass dan blues mengalun lembut memenuhi ruangan yang cukup dingin. Grup yang di sewa untuk acara penyambutan hari itu lumayan bagus. Sebagian orang menjadi terhanyut dan bernostalgia kembali ke masa lalu.
Drrt..drrt..drrrt…
Ponselnya bergetar. Fitri segera membaca pesan Whattshapp dari resepsionis yang berjaga di depan, katanya mobil presiden direktur Megapolitan Intercotp telah tiba-tiba.
“Pak Joni. Orangnya sudah datang. Ayo kita ke depan.”
Dengan langkah sedikit terburu, Fitri dan beberapa direktur segera berlari ke ruang lobi, menyambut kedatangan pemimpin baru. Beberapa karyawan yang penasaran juga ikut berjalan keluar. Lalu siapa pengganti pak Desta Rahman yang dikenal baik dan perhatian terhadap karyawan?
“Cuiit!”
Bunyi suara rem yang diinjak halus. Sebuah mobil Limousin panjang berwana putih berhenti persis di depan pintu lobi. Beberapa pengawalnya turun terlbih dahulu. Mereka menyebar ke beberapa titik. Salah satu dari mereka membuka pintu mobil, dan mempersilahkan orang yang duduk di dalamnya untuk keluar. Semua mata tertuju kepada orang yang baru turun itu.
Berperawakan sedang, berpakaian setelan jas putih atas bawah, memakai kacamata hitam. Semua barang yang melekat ditubuhnya bernilai jutaan. Betul-betul laki-laki yang parlente. Setelah itu dia berjalan mendekati Fiti bersama anak buahnya. Semua orang terkejut, bahkan mulut mereka terlihat melongo. Seperti tidak percaya dengan pandangan mata mereka sendiri.
“Pak..Pramono?” desis Fitri seperti tak sadar.
“Gila!” batin Joni.
****
Keheningan menyelimuti suasana ruang rapat Megapolitan. Semua terpana melihat sosok presiden direktur baru yang turun dari mobil. Rasa penasaran yang sejak kemarin membuncah dalam hati mereka terjawab sudah. Presiden Direktur mereka adalah sosok lama yang sudah sangat akrab di mata mereka kecuali Fitri, walaupun dia mengenalnya.
“Selamat datang kembali kepada bapak Pramono, Presiden Direktur Megapolitan Intercorp,” ujar host acara pada pagi hari itu.
Fitri pun berjalan menyambut kedatangan Pramono dengan penuh rasa ragu. Om Pramono? Bukankah saat ini dia tengah berseteru dengan calon mertuanya? Tapi kenapa dia memilih dirinya menjadi wakil Presdir? Yang lebih mengherankan lagi, kenapa Subrata membiarkannya tetap bekerja di Megapolitan?
“Selamat datang kembali om,” sapa Fitri sambil tersenyum ramah.
Pramono hanya menganggukkan kepala, tanpa senyum sama sekali tersungging di bibirnya. Seolah dia tak mengenal calon menantu mantan bosnya, Subrata. Setelah menyalami Fitri, dia terus berjalan menyalami jajaran direksi yang lainnya. Melewatinya begitu saja, lalu duduk di kursi yang disediakan untuknya. Fitri dan yang lainnya ikut duduk kembali di kursi masing-masing.
“Terimakasih kepada kalian semua yang telah bekerja keras menyelamatkan perusahaan ini. Saya ingin kalian bersikap professional, hindari perasaan pribadi diantara kalian. Aku akan menghargai siapapun yang menunjukkan kinerja dan prestasi yang terbaik, tanpa melihat latar belakangnya” ujarnya seperti menyindir Fitri.
Hm, mungkinkah itu alasan Pramono mengangkat dirinya sebagai wakil presdir? Karena kinerjanya yang dinilai baik, bukan karena dia mengenal dekat Pramono karena dia adalah mantan kepercayaan calon mertuanya? Hm, semoga saja tetap begitu. Bagaimanapun Fitri lebih suka jika dinilai karena kinerjanya untuk mendukung kemajuan perusahaan.
***
Sementara itu di kantor Subrata’s Holding Company, Desta sedang berbicara secara virtual dengan big bosnya, Subrata.
“Kau akan aku persiapkan untuk menduduki jabatan penting di perusahaan baruku Desta,” ujar Subrata.
“Siap pak,” sahut Desta.
Subrata sedang mempersiapkan pendirian perusahaan baru dibidang pertambangan. Desta diminta oleh Subrata untuk menjadi CEO di perusahaan tambang miliknya itu. Tapi Subrata belum menjelaskan apapun terkait perusahaan itu. Tapi Desta tidak bertanya lebih jauh. Hanya instingnya merasakan kalau big bosnya itu sedang mempersiapkan sesuatu yang besar.
“Sementara kau tetap bekerja di kantor pusat membantu membenahi yang lainnya,” sambung Subrata lagi.
“Maaf pak, perusahaan tambang apa yang akan kita dirikan?” taya Desta penasaran.
Subrata terdiam sejenak.
“Kita akan menambang emas.”
“Emas?”
Subrata menganggukkan kepalanya.