DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 38 AKU BUKAN SASAENG


EPS 38 AKU BUKAN SASAENG


Huh, lega rasanya. Akhirnya proses kasting yang menegangkan itu selesai juga. Wajah Ren terlihat gembira. Senyum manis menghiasi wajahnya yang sedikit kelelahan. Dengan sapu tangannya dia mengeringkan butir-butir keringat yang masih menetes membasahi kening dan kedua pipinya. Sekarang tinggal menunggu Song yang tadi dipanggil oleh manajer Seon Jun.


Di luar ruang kasting, masih banyak orang berlalu lalang. Iseng-iseng dia berjalan naik ke lantai dua. Di lantai dua ini banyak ruangan-ruangan tempat karyawan dan staff NJ Entertainment bekerja. Langkah kakinya berbelok ke belakang ruangan-ruangan itu. Menyusuri lorong yang panjang, sepi dan sedikit gelap.


Tidak ada orang yang lewat, kecuali seorang laki-laki yang sedang berjongkok sambil minum air mineral. Punggungnya ditempelkan ke dinding. Memakai jaket hitam ketat dan kerudung yang menutupi kepalanya. Ren tidak merasakan keanehan, sampai lelaki itu menoleh kepadanya. Wajah lelaki itu seperti terkesiap kaget, dan langsung berdiri.


“Astaga! Sudah ngumpet disini masih ketemu kalian juga!” desisnya dengan nada sedikit kesal.


Dengan sigap dia berlari, lalu melompat ke lorong yang satunya. Ren langsung mengejarnya. Instingnya mengatakan kalau lelaki itu mempunyai niat jahat terhadap NJ Entertainment. Tubuhnya melayang ringan melompat dari satu lorong ke lorong lainnya. Kemudian dengan langkah teratur dia mengejar lelaki misterius itu.


“Hai! Berhenti!” teriaknya.


Tapi laki-laki itu tak mempedulikan teriakannya. Dia terus saja berlari menuju ujung lorong. Nampak ada dua orang penjaga keamanan yang sedang berbincang. Ren merasa lega. Pasti lelaki itu langsung ditangkap oleh kedua satpam itu. Tapi ternyata dugaannya salah. Kedua Satpam itu hanya tersenyum saat lelaki mencurigakan itu melewati mereka.


Ren menjadi kesal. Dia mempercepat larinya. Saat melewati kedua petugas sekuriti itu, senyum mereka semakin lebar. Ren terpaksa memelototkan matanya.


“Huh! Itu kan tugas kalian menangkap orang yang mencurigakan. Malah tertawa-tawa,” batinnya.


Saking kesalnya Ren mencopot sarung pedangnya, lalu dilemparkan sekuat tenaga ke arah lelaki mencurigakan itu.


Wing!


Benda yang terbuat dari kayu keras itu melayang cepat, menyasar ke arah tarjet.


Bug!


Tepat mengenai punggungnya.


Aduh!


Bruk! Bug!


Lelaki mencurigakan itu mengaduh. Lalu jatuh tersungkur. Tubuhnya berguling-guling sebentar sebelum berhenti menabrak tembok.


Heya!


Dari jarak lima meter, tubuh Ren melayang lalu turun menyambar seperti elang. Begitu turun lututnya langsung menekan punggung lelaki itu dan memelintir tangannya ke belakang. Laki-laki itu menjerit keras sekali.


“Aw! Lepaskan bodoh!” umpatnya.


Tapi Ren malah mengencangkan genggamannya. Tentu saja lelaki itu semakin tersiksa.


“Aw! Aw! Baik! Ampun! Ampun!”


Terdengar langkah kaki dua orang sekuriti yang berlari cepat menghampiri mereka. Ren langsung menarik rambut lelaki itu supaya berdiri. Mulut lelaki itu terus mengaduh.


“Aw! Aw! Ampun!”


Ren langsung mendorong laki-laki itu ke arah kedua Satpam yang baru datang. Dengan sigap satpam tinggi kekar itu menangkap tubuh lelaki yang mencurigakan itu.


“Apa yang kau lakukan nona?”tanya salah satu satpam dengan nada tinggi.


“Tindakanmu terlalu berlebihan nona! Kau bisa membuatnya terluka parah!” ujar satpam yang satunya lebih keras lagi.


Ren terkesiap kaget, lalu mengernyitkan keningnya.


“Huh! Bukannya berterima kasih malah marah-marah.”


“Berterimakasih? Apa maksudmu?”


“Laki-laki ini menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Duduk sendirian di dalam gelap, terus langsung lari begitu melihatku,” jelas Ren. “Makanya aku kejar.”


“Apa!” ujar lelaki mencurigakan itu dan kedua satpam berbarengan.


Lalu mereka saling berpandangan.


“Maksudmu kau bukan Sasaeng?” tanya lelaki mencurigakan itu.


“Sasaeng? Tentu saja bukan. Namaku Ryung Nae atau Ren,” jawabnya tegas.


“Apa kau tidak mengenalku?”


Ren mendengus kesal.


“Huh! Memangnya kamu siapa sehingga aku harus mengenalmu!”


Ketiga lelaki itu malah tertawa. Lelaki mencurigakan itu menghampiri Ren sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


“Maafkan aku nona Ren. Rupanya ada kesalahpahaman diantara kita. Tadinya aku mengira kau adalah Sasaeng,” katanya.


Ren memandang ketiga lelaki itu bergantian. Ah, rupanya mereka sudah saling kenal. Mungkin benar telah terjadi kesalahpahaman. Tapi siapa itu Sasaeng? Ah peduli amat. Ren menggelengkan kepalanya. Lalu berbalik bermaksud meninggalkan ketiga lelaki tadi.


“Eh, nona Ren! Ilmu bela dirimu sungguh hebat. Apakah kita boleh berkenalan?” ujar lelaki mencurigakan itu sambil mengulurkan tangan kanannya.


Ren melengos dan menampik uluran tangan tadi.


“Tidak perlu. Lagian kau kan sudah tahu namaku.”


Ren terus berjalan meninggalkan mereka. Meninggalkan rasa penasaran laki-laki paling tampan di Korea itu.


“Apa kau betul-betul tidak ingin mengenalku? Mungkin saja suatu saat nanti kita saling membutuhkan bantuan. Kita bisa saling membantu, sebagai teman,” ujar lelaki itu.


Ren menghentikan langkahnya. Tiba-tiba dia teringat dengan kakaknya Ryong Bae dan kekasihnya Rich Pranaja. Dia sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka. Kali saja laki-laki ini bisa menolongnya. Ren menoleh ke belakang, menyibakkan rambut hitamnya yang tergerai menutupi garis punggungnya. Laki-laki tampan itu baru sadar, ternyata wajah gadis hebat itu begitu mempesona. Membuat hatinya bergemuruh hebat.


“Baiklah. Cepat sebutkan namamu,” ujar Ren sambil mengerjapkan matanya.


“Na..namaku Lee Min Ho.”


***


“Ren!”


Terdengar suara Song memanggilnya. Ren memutar kepalanya, mencari tubuh sahabatnya diantara orang-orang yang sedang berlalu lalang. Nampak Song sedang menekuk tubuhnya, Kedua tangannya bertumpu di atas lutut, nafasnya tampak terengah. Lalu Song menghampirinya.


“Heh! Kamu kemana saja sih? Sampai capai aku mencarimu.”


Ren tersenyum tipis.


“Aku hanya berjalan-jalan saja. Bagaimana hasil kasting kita?” tanya Ren.


Wajah Song nampak berubah sedih. Dia hanya menundukkan kepalanya tanpa mau melihat wajah Ren.


“Sudahlah Song. Kalau memang belum diterima ya tidak apa-apa. Masih ada kesempatan lain untuk meraih kesuksesan,” ujar Ren sambil mengusap-usap punggung sahabatnya.


“Kenapa kau berkata begitu?” tanya Song. “Aku kan belum mengatakan apa-apa?”


“Aku hanya ingin memberimu semangat Song. Aku tidak lolos kasting kan?”


Song menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Kau salah Ren.”


Ren mengernyitkan dahinya.


“Apa maksudmu?”


“Aku bukan lagi sedih, tapi terharu karena..”


“Karena apa?”


“Kau lulus kasting Ren. Dan mendapat kontrak kerja di NJ Entertainment!” teriak Song. “Kau akan bermain film bersama beberapa artis yang sudah terkenal di dunia.”


“Apa!”


Ren berdiri terpaku. Memandang wajah sahabatnya tak percaya. Itu artinya dia juga akan menjadi artis film, sesuatu yang tak pernah terpikirkan akan dijalaninya dalam hidupnya. Ingatannya langsung tertuju pada kakek Kim, yang telah membimbing dan melatihnya sehingga dia bisa menguasai ilmu beladiri. Dan kerinduan itu begitu berat, menggelayuti hati dan pikirannya.


Terimakasih kakek, katanya sambil mengusap air mata yang menetes membasahi kedua pipinya.