DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 84 TABIR MIMPI


EPS 84 TABIR MIMPI


Mimpi yang berlalu. Tak menjerakan langkahku. Karena matahari selalu bersinar, dan bulan selalu berpijar. Mengabarkan bahwa harapan belum juga pudar. Selalu ada waktu untuk berintrospeksi, untuk memperbaiki diri. Mengejar mimpi yang baru.



Miryam membaringkan tubuh suaminya di depan altar pemujaan. Dia baru ingat, Panembahan Somawangi pernah mengatakan, ajian Tirtanala disamping memiliki kekuatan menghancurkan, bisa juga digunakan untuk menyembuhkan bahkan memperbaiki sel-sel yang rusak. Miryam belum pernah melakukannya, tapi dia akan mencobanya ke tubuh Santika, suaminya sendiri.



Diletakkannya tangan kanannya di ujung kepala Santika, menyalurkan kekuatan Tirtanala. Mengalirkan hawa sejuk yang mengalir lewat ubun-ubun kepala suaminya. Perlahan hawa sejuk itu merasuk ke dalam saluran darah kemudian meresap ke dalam urat-urat nadi dan syarafnya. Memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak. Mengembalikan luka yang menganga menjadi tertutup sempurna.


Tak berapa lama luka-lukanya menjadi sembuh, jaringan urat yang rusak pun kembali normal, termasuk jantungnya yang rusak kembali utuh. Ajaib tubuh Santika yang mengalami luka terbuka tepat di ulu hatinya, kembali menutup rapat. Bahkan jaringan darah, hati dan jantungnya juga kembali seperti semula. Bahakan suara detak jantungnya, masih terdengar di telinga Miryam, walau sangat lemah. Wajah perempuan bidadari itu terlihat lega.


“Kakang Santika, bangunlah kakang,” bisik Miryam di telinga Santika.


Tidak ada jawaban. Tubuhnya masih membeku seolah tidak mendengar panggilannya.


“Kakang Santika, bangunlah,” panggil Miryam lagi. Tangannya lembut mengusap-usap wajah Santika. “Bangunlah kakang. Luka-lukamu sudah sembuh. Aku juga telah mengeluarkan seluruh racun yang ada di dalam tubuhmu. Jantungmu terdengar berdegup lirih. Artinya kau masih memiliki kehidupan.”



Santika tak bergeming. Tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terjadi pada dirinya, walaupun Miryam terus berusaha. Tetapi semuanya sia-sia. Mungkin karena terbawa perasaan atau mengikuti kata hati, dia lupa bahwa kehidupan dan kematian adalah hak sang Maha Pencipta. Kekuatan Tirtanala memang bisa menyembuhkan luka dan memperbaiki sel sel yang rusak, tetapi tidak dapat menghidupkan orang yang sudah mati.


“Bangunlah kakang. Aku tidak bisa hidup tanpamu,” isaknya.


Sepanjang waktu dia terus berusaha membangunkan suaminya sampai dia menyadari kalau perbuatannya adalah sia-sia. Dia harus menerima kenyataan bahwa satu-satunya kekasih dalam hidupnya telah pergi meninggalkannya. Dewata telah merenggut teman masa kecil yang dipujanya itu dari kehidupannya.


“Tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian kakang. Dewata telah memperlakukan kita dengan tidak adil. Aku tidak akan kalah. Akan aku tunjukkan kekuatan cinta kita,” tekadnya dalam hati.


Miryam bangkit dari tidurnya. Pandangannya berputar mengitari setiap sudut Sanggar Pamujan. Lalu berhenti pada peti yang terbuat dari batu dibawah arca di depannya. Miryam memindahkan arca itu ke tempat yang lebih rendah. Kemudian membuka tutup peti yang terbuat dari batu tua yang sangat keras.


Zerrrgh! terdengar suara benda berat yang digeser.


Ternyata peti batu itu cukup tebal. Ukurannya lebih panjang dari rata-rata tinggi orang dewasa, tapi tingginya hanya selutut Miryam. Ruangannya cukup longgar, bisa untuk tidur dua orang. Isinya beberapa kitab dan buku-buku catatan Acarya. Ada juga beberapa lembar daun lontar yang diatasnya ada tulisan tangan Acarya.


Tapi Miryam tidak memperdulikannya. Dia menata kembali benda-benda peninggalan Eyang Senthir itu ke pinggir. Sehingga ada ruang kosong yang cukup longgar. Rupanya dia ingin menyimpan jazad Santika di dalam peti batu itu.


Diangkatnya tubuh Santika, lalu diletakkan kembali di dalam kotak itu dengan hati hati. Lalu tangannya kembali menyentuh ujung kepala Santika. Menyalurkan kekuatan Tirtanala dalam tubuh suaminya. Kali ini hawa yang sangat dingin merasuki pori-pori kulitnya, menembus saluran darah sampai ke dalam tulang sumsumnya.


Miryam membekukan tubuh Santika dibawah nol derajat. Dan kondisi sedingin itu, bakteri pembusuk tidak mampu melakukan pekerjaannya.


“Aku akan membawamu pulang ke rumah kita, dimana ada pohon cintamu yang selalu tumbuh berkembang,” ucapnya.



“Tidak akan ada yang mampu melawan cinta kita kakang. Aku akan melawan takdir ini. Biarkan Dewata tahu bahwa cinta kita tidak akan pernah berakhir. Cinta kita akan menjadi kisah legenda sebagai cinta yang tidak berujung,” bisiknya di telinga suaminya.


Sambil memandang wajah Santika, bibir Miryam mulai bersenandung menyanyikan tembang Asmarandhana kesukaan mereka. Suaranya begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Perlahan suaranya semakin lirih dan menghilang.



Dengan kekuatan Tirtanala, Miryam membekukan dirinya hingga suhunya dibawah nol derajat. Dengan suhu sedingin itu, tubuh mereka tidak akan membusuk selamanya. Hawa yang sangat dingin menyelubungi kedua tubuh mansia yang terikat oleh jalinan cinta yang tumbuh dari ketulusan hati. Takdir memang terkadang terasa kejam, saat kita belum tahu kisah akhirnya. Dan Miryam bertekad melawannya dengan kekuatan cinta yang dimilikinya.



Angin musim kemarau berkesiur lembut. Menjatuhkan daun-daun dari pohon cinta ke dalam lubang dimana peti batu itu berada. Satu per satu jatuh dan menutupi peti itu hingga tidak kelihatan lagi.


***


“Aow..kekekow..!”



Pranaja langsung terbangun dari tidurnya. Rasanya dia mendengar suara bayi sedang berceloteh sendiri. Beberapa saat dia masih terdiam, memulihkan kesedarannya. Kedua tangannya mengusap-usap mata dan kedua telinganya. Lalu memandang ke setiap susdut kamarnya, tapi dia tidak melihat sosok bayi atau anak kecil di sekitarnya. Di perhatikannya wajah Andika yang tidur disampingnya, ah biasa saja. Lalu suara bayi itu…



“Aow..kekekow..!”



Suara bayi itu terdengar lagi. Suara anak siapa itu? Kenapa terdengar begitu dekat? Pranaja langsung bangkit berdiri, lalu tubuhnya melayang ringan mendekati jendela kamar yang terbuka. Dia menengok kesana-kemari. Dari jendela kamarnya yang terletak di dekat gedung utama pesantren, dia melihat kamar Miryam yang nyala api yang berkedip-kedip. Walaupun sudah hidup di jaman modern, tapi Miryam menolak memakai lampu listrik.



“Suara bayi itu…apakah itu anaknya Eyang Miryam? Kenapa suaranya terdengar jelas di telingaku, tapi yang lainnya tidak terganggu?” batin Pranaja. “Apa yang sedang dia lakukan?”



Lalu dia teringat mimpi tentang Miryam yang baru saja dialaminya. Dalam mimpi itu jelas menggambarkan saat-saat terakhir Miryam memasukkan jasad Santika ke dalam peti batu bersama dirinya. Apakah Arya Janu sedang berusaha memberitahunya tentang kisah ibunya yang membekukan dirinya dan mengubur dirinya bersama suaminya dibawah pohon Cinta? Lalu apa tujuannya?



Huh! Pranaja mejadi pusing tujuh keliling.