EPS 36 NJ ENTERTAINMENT
Pagi ini sangat cerah. Secerah hati Ren yang sedang berbunga-bunga. Sejak subuh tadi dia sudah mandi dan mempersiapkan diri. Lalu memakai pakaiannya yang terbaik. Mengusap wajahnya dengan bedak bayi tipis-tipis, lalu memoles bibir ranumnya dengan sarimadu. Biar cerah dan sedikit berkilat. Ren memang tidak pernah membeli peralatan make up yang mahal, karena dia memang tidak punya uang.
Lalu berjalan ke kamar sahabatnya yang masih terlelap dalam mimpinya. Gadis yang terlatih bermain pedang itu membuka pintu kamar Song yang tidak terkunci. Setelah itu dia menarik kain korden jendela selebar-lebarnya. Sinar matahari yang hangat dan menyilaukan langsung jatuh ke wajah Song. Tapi tetap saja gadis itu tidak bereaksi apapun. Barulah dia menepuk pipi sahabat satu-satunya di Seoul itu.
“Song bangun! Song bangun!” panggil Ren berulang-ulang.
Tapi tubuh Song seperti batu. Sama sekali tak bergerak, membeku dalam selimutnya yang cukup tebal. Ren menjadi kesal. Dia memegang ujung rambut Song. Lalu dimasukkan ke dalam hidung sahabatnya itu, sambil di putar-putar. Perlahan hidung mungil itu bergerak-gerak, lalu wajahnya mulai menyeringai. Tiba-tiba Song bangun dari tidunya lalu duduk sambil membuka mulutnya.
“Haa…cim!”
Song bersin dengan hebatnya. Suaranya begitu keras menggema. Mulutnya melontarkan berbagai jenis sisa makanan serta menebarkan bau tak sedap. Untung Ren dengan sigap melompat kebelakang, jadi tidak ikut terkontaminasi kuman-kuman yang bertebaran di udara. Mata Song berkedip-kedip. Lalu jari telunjuknya mengusap-usap cuping hidungnya yang gatal. Ren menepuk bahu sahabatnya keras-keras sambil tertawa.
Bug! Hahaha!
“Heh! Tukag tidur! Bangun!” teriaknya.
Song tersentak kaget. Lalu menengok ke belakang, mengusap-usap kedua matanya. Lalu memelototi Ren dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tanpa sadar mulutnya perlahan terbuka. Seperti tak percaya apa yang dilihat di depan matanya.
“Ren? Itu kau?” katanya takjub.
Ren semakin gemas. Dicubitnya kedua pipi Song.
“Iya. Tentu saja ini aku. Memang ada orang lain yang berani masuk kamarmu tanpa ijin?” sahut Ren.
“Ap..apa kau berdandan?” tanya Song lagi.
Ren sedikit terkesiap. Ada kekhawatiran tersirat di wajahnya.
“Iya. Apa bedakku terlalu tebal Song? Atau bibirku menor?”
Song menggeleng cepat.
“Bukan begitu maksudku Ren. Tapi…”
Song menghentikan kata-katanya. Lalu melihat tubuh Ren sekali lagi dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Tapi apa Song?” tanya Ren panik.
“Kau cantik sekali Ren. Aku belum pernah melihat gadis secantik dirimu,” ujar Song.
Hehh!
Ren menghela nafas lega. Lalu tersenyum malu. Ada semburat merah menghiasi wajahnya yang bening sempurna.
“Kau membuatku panik saja Song,” ujarnya. “Ayo cepat mandi!”
Song mengernyitkan keningnya.
“Memangnya kita mau kemana?”
“Eh? Apa kamu lupa kita diundang ke NJ Entertainment?”
Song menggeleng perlahan.
“Ya. Tapi apa salahnya kita datang lebih awal Song? Daripada kita datang terlambat?”
Song malah tertawa.
“Kenapa kau malah tertawa?”
“Waduh yang mau jadi artis, semangat banget.”
Ren kembali tersipu malu.
“Bukan begitu Song. Kita harus membuat kesan yang baik pada NJ Entertainment. Bagaimanapun kalau kita datang lebih awal mereka akan menyambut kita dengan baik.”
Song menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Baiklah. Kalau begitu aku akan mandi dulu, tuan puteri,” kata Song sambil membungkukkan tubuhnya, memberi hormat kepada Ren.
Wajah Ren semakin merah mendapatkan ledekan dari sahabatnya itu. Tapi dia diam saja. Percuma juga meladeni sahabatnya yang memang punya bakat usil itu..hehehe…
***
Gedung NJ Entertainment begitu megah. Bangunan berlantai tiga itu begitu kokoh dan eksotik. Melihat bangunanya, orang mudah menebak ini pasti rancangan arsitek nomer satu di Korea. Terlihat setiap bagian-bagiannya, walaupun dengan desain yang berbeda, tetapi saling berkaitan, sehingga enak di pandang. Setiap ruangan dibuat dari bahan nomer satu didatangkan dari berbagai penjuru dunia. Seperti keramik dari Brasil, batu marmer dari Turki serta kayu Gaharu dan Ebony dari Indonesia serta batu-batu alam lainnya.
Eksterior dan interior ruangannya juga menggunakan berbagai macam perabotan yang eksklusif. Di langit-langit ruangan seluas lapangan sepakbola itu menggantung lampu hias raksasa yang memberikan penerangan yang sempurna. Setiap lampunya dilapisi Kristal yang dibalut dengan emas buatan tangan Salviati Chandeliar dari Italia. Di pasaran umum lampu hias seperti itu harganya di kisaran tigabelas hingga empatbelas milyar rupiah.
Dengan sedikit rasa takut, Ren berjalan mengikuti langkah Song yang berjalan di depannya. Karpet merah setebal delapan sentimeter dari Baghdad terasa begitu empuk. Banyak sekali orang berlalu-lalang di tempat itu. Song sampai bingung melihatnya. Untung ada Song. Gadis manis sahabatnya itu dengan penuh percaya diri berjalan menembus kerumunan orang-orang yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Di bagian lain nampak serombongan gadis dan wartawan yang sedang mengejar-ngejar aktor pujaannya. Suara teriakan mereka terdengar menggema memekakkan telinga. Untung saja sang aktor langsung keluar ruangan dan menghilang entah kemana. Terlihat sekali wajah-wajah mereka begitu kecewa, bahkan ada yang menangis dan dihibur oleh teman-temannya sendiri.
Berkali-kali Song melihat surat undangan yang diterima Ren. Surat itu mengatakan mereka harus menemui manajer bagian kasting yang bernama Seon Jun. Sampai dia melihat tulisan besar-besar di sudut ruangan yang menunjukkan ruangan Kasting, barulah dia bernafas lega. Sambil tersenyum, di pegangnya tangan Ren dan di tarik menuju ruangan itu.
“Ini ruangannya Ren,” ucap Song akhirnya.
Ren menganggukkan kepalanya. Banyak orang berdiri mengantri di tempat itu.
“Hm, ramai sekali ya?” gumam Ren.
Song menganggukkan kepalanya.
“Iya. Mereka adalah orang-orang yang direkomendasikan oleh para pencari bakat yang memang disebar oleh pihak NJ Entertainment. Termasuk kau.”
“Owh,” Ren menyahut pendek.
Mereka kemudian ikut berdiri mengantri di belakang orang-orang yang sudah datang terlebih dahulu.
“Ternyata kau benar Ren. Tak ada ruginya kita datang lebih awal. Lihat banyak orang yang datangnya bahkan lebih awal dari kita dan sudah mengantri sejak pagi,” kata Song lagi.
Ren hanya terdiam. Dia mengedarkan pandangannya. Mengamati kerumunan orang-orang yang juga sedang mengantri di ruangan lainnya. Sambil menikmati keindahan setiap sudut bangunan NJ Entertainment. Dia lalu teringat kehidupan di Korea Utara yang sangat jauh berbeda. Di Korea Selatan setiap orang bebas berusaha untuk meraih kesuksesan, sedangkan di Korea Utara hanya beberapa gelintir orang yang bisa mengecap kekayaan.
Anggota militer adalah warga negara kelas satu di negaranya. Juga para petinggi partai komunis yang berkuasa. Mereka begitu di hormati dan memiliki keleluasaan untuk mewujudkan setiap keinginan mereka. Banyak gadis-gadis seusianya yang terpaksa menjadi gundik para pejabat agar bisa menikmati hidup yang layak dan terlindungi. Untunglah selama kakaknya menempuh pendidikan dia disembunyikan di rumah kakek Kim.
“Ayo Ren! Sekarang giliran kita!” sentak Song.
Ren tergagap. Apalagi tangannya ditarik dengan cepat oleh Song untuk masuk ke dalam ruangan kasting.