EPS 58 SEMBURAN LUMPUR PANAS
Bagaikan setitik air di tengah padang pasir yang kering, begitu segar dan memberi energy baru. Demikian juga dengan kehadiran Fitri di Megapolitan Intercorp, benar-benar telah menyelamatkan nyawa perusahaan yang hampir sekarat. Perlahan tapi pasti, permasalahan-permasalahan yang menghinggapi anak perusahaan milik Subrata itu mulai dapat diatasi satu per satu.
Salah satu yang paling cemerlang yang dilakukannya adalah kebijakan restrukturisasi dan penanganan semburan lumpur panas akibat kesalahan pengeboran. Walaupun kelihatannya Desta yang membuat keputusan itu, tapi sesungguhnya Fitrilah yang berdiri dibalik semua keputusan-keputusannya. Dia menganalisis semua permasalahan dengan cermat, kemudian mencarikan jalan keluar yang tepat.
“Kau punya pandangan bagaimana mengatasi semburan lumpur panas itu Fit?” tanya Desta suatu saat.
Dia memang sekarang rajin mengunjungi ruang kerja gadis itu, untuk menanyakan berbagai masalah perusahaan. Dia juga selalu berkonsultasi saat mengeluarkan kebijakan apapun mengenai perusahaan. Dan gadis lulusan terbaik program Magister Beijing’s University itu selalu bisa menjawabnya dengan cerdas.
“Lho kok tanya ke saya pak. Kan banyak insinyur tekhnik di lapangan?” tanya Fitri.
“Itulah kenapa aku bertanya kepadamu. Semua kajian dan teori mereka gagal semua. Lumpur panas itu tetap menyembur sampai sekarang,” sahut Desta.
Fitri yang diam-diam telah membuat analisis dan survey langsung ke lokasi kejadian pun tersenyum. Sejak seminggu yang lalu dia sudah membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk mengatasi semburan lumpur itu. Namun dia tak pernah menyampaikannya kepada Desta, karena takut dianggap berlebihan. Lagian masalah tekhnis seperti itu memang bukan urusan seseorang yang berlatar belakang pendidikan ekonom seperti dirinya.
“Maaf pak Desta, sebenarnya saya juga sudah melakukan survey lokasi dan melakukan analisis berdasarkan fakta di lapangan. Kemungkinan itu adalah ledakan lumpur vulkanik yang akan berhenti saat volume gas dan lumpur di perut bumi sudah habis, alias sudah dikeluarkan semua,” ujar Fitri panjang lebar.
“Semburan lumpur vulkanik? Maksudmu ini bukan semata kesalahan pengeboran?”
“Bukan pak, walaupun ada kaitannya.”
“Berarti dugaan adanya sabotase dari pihak ketiga itu juga salah?”
“Bisa jadi sabotase itu ada pak, tapi keluarnya gas berlumpur dari dalam bumi yang terjadi terus menerus diluar perkiraan mereka.”
Desta mengangguk-anggukkan kepalanya. Hatinya semakin kagum kepada Fitri. Dipandanginya wajah perempuan cantik berhijab itu. Memakai baju muslimah berwarna biru laut membuat penampilan Fitri semakin mempesona. Dan hal yang paling membuatnya terpesona adalah kecerdasannya.
“Aku masih jomblo Fit,” ucap Desta seperti tidak sadar.
Fitri terkesiap, kedua alis matanya langsung dinaikkan, sambil menatap heran pada presdir termuda di Indonesia itu.
“Apa? Jomblo? Apa maksudnyapak? Apa hubungannya dengan ledakan lumpur panas?”
Desta langsung tergagap. Iniliah akibat orang yang sedang terpesona, sampai lupa kata-kata. Kepalanya yang tidak gatal pun di garuk-garuk. Kenapa aku jadi tidak professional begini ya? batinnya.
“Eh, oh, ehm..maksudku banyak karyawan muda kita masih tetap jomblo gara-gara memikirkan semburan lumpur itu?” ucapnya ngasal dan tidak professional.
Fitri terdiam. Wajah polosnya jelas terlihat tidak mengerti maksud kata-kata Presdir Megapolita Intercorp itu. Mungkin inilah kata-kata yang paling sulit di analisis sepanjang hidupnya. Memang ada ya korelasi jomblo dengan semburan lumpur panas?
“Ehm, sudah Fit lupakan saja. Itu bukan hal yang penting untuk perusahaan,” kata Desta akhirnya.
Fitri menganggukkan kepalanya. Sekilas dia melihat semburat warna merah di wajah Desta, mungkin karena malu atau ...
“Jadi itu hasil dari kajianmu tentang lumpur panas yang terjadi di Megapolitan? Terus apa kau juga membuat rencana penyelesaiannya?” tanya Desta kemudian.
“Ini adalah lubang sumur tempat ledakan terjadi. Dari lubang sumur inilah, ratusan kubik lumpur setiap hari dipompa keluar dari dalam bumi,” kata Ftri.
Desta diam mendengarkan penjelasan gadis didepannya itu.
“Kita akan membuat tiga sumur baru untuk mengurangi volume lumpur di sumur utama. Di setiap sumur baru itu dibuatkan kanal yang mengarah ke sungai Tambra, sehingga lumpur panas yang keluar dapat langsung dibuang ke sungai Tambra.”
“Wow!”
Tanpa sadar mulut Desta sampai melongo. Tak henti-hentinya dia berdecak mengagumi Fitri Ray. Tentu saja sambil merutuki dirinya sendiri. Rencana Fitri begitu sederhana dan relatif lebih mudah dibanding hasil kajian insinyur-insinyurnya. Mengapa dia tidak pernah berpikir untuk membuat sumur baru?
“Memang sungai Tambra mampu menampung semua lumpur itu?” ujarnya. “Bukankah itu beresiko terjadinya sedimentasi, penebalan lapisan lumpur di dasar air yang akan merusak ekosistem di sungai Tambra?”
Fitri mengangukkan kepalanya.
“Aku sudah berusaha menghitungnya semampuku pak. Lebar sungai sekitar seratus meter, dengan kedalaman hingga sepuluh meter di tengahnya.. Dengan kondisi semacam ini, sungai Tambra mampu menyerap sekitar seratus ribu meter kubik lumpur setiap harinya.”
Desta mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Snngai Tambra bakal berubah menjadi waduk lumpur dong?” gumamnya. “Pasti akan ada banyak protes dari masyarakat karena kerusakan ekosistem di sungai Tambra.”
“Betul pak. Tapi kita bisa menggunakan air dari sendang Kumitir di atas bukit Kethileng untuk menggelontorkan air supaya arusnya lebih deras dan mendorong endapan lumpur itu ke muara sungai. Disamping itu kita akan melakukan upaya pengerukan terus menerus untuk mencegah sedimentasi parah di dalam sungai.”
“Ya. Rencanamu sangat masuk akal Fit, tapi tetap saja akan mengundang protes terutama dari Lembaga Swadaya Masyarakat dan organisasi yang peduli lingkungan.”
Fitri menganggukkan kepalanya.
“Kau benar pak. Namun memang, apapun solusi yang kita pikirkan pasti berdampak ganda. Seperti pisau yang bermata dua, siap melukai segenap hati.”
Kata-kata Fitri begitu menyentuh. Desta jadi tersenyum sendiri. Kau benar Fit. Dan itulah gunanya pemimpin. Dibutuhkan keberanian yang kuat untuk memutuskan segala sesuatu, termasuk dampak yang harus di tanggungnya. Namun sejauh ini, pangan Fitri adalah hal yang paling masuk akal dan paling mudah untuk dijalankan.
“Oke. Bagaimanapun aku berterimakasih atas kerja kerasmu. Sungguh kinerja yang luar biasa. Bahkan kau sudah melangkah lebih jauh walaupun aku belum memintanya.”
“Sama-sama pak. Dan ini rencana terakhir saya,” ujar Fitri sambil membuka gulungan kertas terakhir. “Di muara sungai Tambra, kita akan mengumpulkan endapan lumpur itu untuk dijadikan lahan basah. Nantinya di atas lahan basah itu kita buat hutan mangrove yang sangat bermanfaat untuk memperbaiki ekosistem yang rusak.”
“Maksudmu?”
“Hutan Mangrove bernilai ekonomi yang tinggi pak. Sebagai hutan bakau bisa menjadi tempat pemijahan bibit ikan dan menjadi daerah penyangga untuk pertambakan udang. Selain dapat digunakan sebagai destinasi wisata baru.”
Desta hanya terdiam tanpa mampu berkata-kata lagi. Rasa kagum itu berhasil membuat kata-katanya menjadi tercekat di tenggorokan.
“Wow!”