DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 56 KEMBALI KE BUKIT KETHILENG


EPS 56 KEMBALI KE BUKIT KETHILENG


Tiba-tiba angin berkesiur lembut menggoyangkan dedaunan. Wajah Frida terlihat mengkerut, seolah di dalam hatinya tumbuh beribu pertanyaan. Dia belum pernah sekalipun melihat wujud makhluk astral, entah itu jin, hantu apalagi manusia setengah siluman. Yang dia tahu, dia hanya meyakini keberadaan alam ghaib sebagai bagian dari iman. Keberadaan mereka juga diakui dalam kitab suci al-Qur’an.



“Siapa musuh yang disebut Ken Darsih itu mas, hingga manusia setengah siluman pun dapat dikalahkannya,” tanya Frida dengan wajah cemas.



Bagaimanapun dia mengkhawatirkan keselamatan Dandung. Bisa saja kekasihnya itu sedang menghadapi kekuatan lebih besar yang masih terselubung. Karena tak ada satupun yang bisa meredakan kemarahan perempuan saat dia marah dan tersinggung. Apalagi kalau sampai melukai hati yang sedang bermimpi, lalu ternyata cintanya tak tersambung.



“Ken Darsih tidak pernah menyebutkan namanya,” sahut Dandung sambil menggelengkan kepalanya. “Yang jelas dia adalah manusia biasa.”



“Memang seberapa hebat Ken Darsih itu?”


“Kau tidak akan bisa membayangkannya Frida. Dia jauh lebih hebat dari apa yang bias kau bayangkan.”


“Wow,” seru Frida lirih.



Lalu hening. Mereka terlarut dalam diam, bermain dengan pikirannya masing-masing. Bulu kuduk Frida terasa merinding. Apa yang bisa meredakan kemarahan makhluk seperti itu, dan membuat hatinya bisa berpaling? Hmh, kepalanya jadi pusing. Beberapa saat kemudian, Frida mengambil gelas lemon dan nasi goreng di atas piring.



“Minumlah dulu mas. Biar pikiranmu menjadi jernih,” ujar Frida. “Dan ini nasi goreng kesukaanmu, aku memasaknya khusus buatmu. Makanlah, walaupun aku tahu kau sedang tidak ingin makan.”


“Terimakasih sayang.”



Dandung menerima gelas lemon itu, lalu menegaknya sampai habis. Setelah itu memakan nasi goreng hangat yang ditaburi bawang goreng dan telur dadar yang diiris tipis-tipis. Ah, cukup menjernihkan pikirannya, apalagi didampingi kekasih yang selalu tersenyum manis. Walaupun dia tahu hatinya sedang teriris.



“Enak sekali nasi gorengnya. Mungkin ini sarapan pagi paling lezat yang pernah kurasakan selama hidupku,” ucap Dandung lagi.



Frida tertawa, walau terdengar sumbang. Tapi cukup untuk meredakan suasana yang cukup tegang. Dia tetap harus bersikap tenang. Agar Dandung tidak terus terombang-ambing perasaannya yang begitu bimbang. Antara meninggalkan dirinya, atau menjemput Ken Darsih yang sedang bertapa di dalam sendang.



“Terus apa rencanamu pagi ini?”


Dandung menghela nafas, lalu memandang wajah kekasihnya.


“Pagi ini aku ingin menuntaskan janjiku. Aku akan menjemput Ken Darsih ke bukit Kethileng,” ujar Dandung dengan penuh keyakinan.



Frida menganggukkan kepala. Dia sependapat dengan pikiran kekasihnya. Bagaimanapun janji harus ditepati, supaya tidak ada hati yang salah paham dan terluka. Apapun yang akan terjadi, apapun resikonya. Laki-laki sejati selalu mempertanggung jawabkan perbuatannya dan menepati kata-katanya. Dan dia selalu siap bila Dandung terpaksa harus berbagi cinta.



“Kau tidak ingin pergi denganku Frida?”


“Tidak mas. Selesaikan urusan kalian, aku tidak ingin mencampurinya. Pergilah, dan jangan pikirkan perasaanku. Aku akan baik-baik saja.”



Dandung memeluk tubuh gadis itu erat-erat. Ada rasa bersalah yang begitu kuat. Tapi bagaimanapun ini adalah keputusan yang tepat. Walaupun terasa begitu berat. Meskipun nafasnya terasa tersendat. Dan kakinya terasa terikat.


***


Menempuh perjalanan dari Jakarta ke bukit Kethileng, membuat tubuhya rerasa lelah dan begitu penat. Kedua kakinya satu persatu menapak jalan yang menghilang di kerimbunan hutan yang lebat. Dia mengandalkan ingatannya saat mengantar Ken Darsih ke puncak Kethileng agar tak tersesat.



Sampai di puncak bukit, pandangannya berputar ke sekeliling, Mencoba mengingat kembali letak Sendang Kumitir, lalu menyusuri jalan setapak yang banyak ditutupi daun kering. Saat memasuki hutan Kecipir, dia merasa mengenali tempat itu dan tidak merasa asing. Sedikit berjalan ke utara melewati dua pohon besar Sonokeling.



Dari jarak limapuluh meter sudah terdengar bunyi kecipak air. Berarti dia sudah dekat dengan sendang Kumitir. Ada rasa lega yang menyergap meskipun dia tetap merasa khawatir. “Hm, keadaannya masih seperti dulu. Terakhir kali aku disini bertemu seorang pemuda aneh yang sedang mengintip Ken Darsih,” batinnya.



Dia teringat saat bertemu dengan Pranaja di tempat ini. Pemuda culun itu ketahuan sedang mengintip Ken Darsih yang dikiranya sedang mandi.



FLASBACK ON…


Lentik hitam bulu mata gadis itu menancap tajam di relung hati Pranaja. Entah magnit apa yang menariknya sehingga membuatnya terpaku di titik waktu. Sebening air telaga dan sesejuk wajahnya membasuh kering di relung hati. Menstimulasi rasa yang berpendar di setiap degup jantungnya. Serasa badai yang terdengar dari nafasnya yang memburu.


“Siapa gadis itu? Kecantikannya begitu sempurna,” ujar Pranaja. “Kenapa dia duduk bertapa di dasar danau ini?”



Gadis itu duduk di atas batu besar di dasar telaga tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Wajahnya begitu pucat dan bibirnya terkatup rapat. Seperti sedang menahan rasa sakit yang tak tertahankan. Nampak bagian dadanya melepuh hitam seperti terbakar.



“Rupanya gadis itu baru saja mendapatkan pukulan hebat yang membakar seluruh kemampuannya” batinnya.


Raganya terlihat utuh, tapi jiwanya hancur berantakan. Dan meditasi adalah cara yang paling jitu mengobati penyakit hati dan angan-angan. Karena dengan meditasi orang dapat mencapai kebeningan jiwa pada tingkat yang paling tinggi, the highest level. Serta menyembuhkan luka-luka fisik dan mengembalikan kekuatannya. Walaupun semua itu butuh waktu yang cukup lama.


‘Pasti gadis sakti ini baru saja mengalami pertempuran hebat dengan pendekar lainnya, dan dia berhasil dikalahkan. Kasihan sekali gadis itu. Tapi siapa yang berhasil mengalahkan gadis setangguh itu? Seandainya aku tahu…’


Pranaja tak bisa membayangkan kesaktian pendekar yang berhasil mengalahkan gadis itu. Jelas dia bukan gadis biasa. Sinar terang yang berpendar dari tubuhnya merubah suasana danau yang gelap dan kaku menjadi terang dan menyenangkan. Apalagi kemampuan nafasnya di dalam air sangat luar biasa. Sejak Pranaja datang melihatnya sampai tengah malam, gadis itu nampak belum beranjak dari semedinya.


“Betapa inginnya aku masuk ke dalam air, duduk dihadapanmu dan menikmati wajahmu. Tapi aku takut akan mengganggu semedimu,” angan Pranaja sambil tersenyum.


Entah kenapa hatinya jadi begitu melangkolis dan sok puitis. Bukan karena dia pemuda yang mudah terpesona. Tapi karena keindahan tubuh gadis itu begitu menyedot perhatiannya. Setiap lekuk tubuhnya seperti memiliki mantra yang membelenggu akal sehatnya. Membuat hatinya berkali-kali terjerembab jatuh dengan rasa tak menentu.


Prol!


Entah sudah berapa kali jantung Pranaja ambrol ke relung hati. Yang jelas dia enggan meninggalkan tempat itu. Akal sehatnya menjadi tumpul, kewaspadaannya hilang dan indera keenamnya terabaikan. Dia tak mendengar langkah kaki seseorang mendekatinya. Kemudian menempelkan benda tumpul ke punggungnya.


Drrtt..Drrtt..Drrtt..


Tongkat itu mengeluarkan setrum listrik tingkat tinggi. Tubuh Pranaja langsung terlempar ke tanah dan kelojotan. Seluruh tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki mengalami kaku dan kejang-kejang. Kedua manik matanya menjadi juling, dan mulutnya melongo dengan postur tak seimbang kanan dan kirinya. Dalam keadaan begitu dia hilang kesadarannya dan otomatis tidak mampu mengeluarkan kemampuannya.


“Dasar pemuda cabul! Beraninya kau mengintip tubuh kekasihku. Rasakan akibatnya,” umpat laki-laki itu. “Aku saja belum pernah menikmatinya, malah kamu yang mendahuluiku. Dasar mata mesum!”