EPS 63 AKU AKAN MEMBANTUMU, REN
Bulan merah tembaga di ufuk timur. Muncul benderang pada pergantian hari yang belum sempurna. Karena matahari belum sepenuhnya terlelap. Masih menyisakan cerita pada sisa perjalananmu. Ini bukan tentang cinta, tapi kepingan hati yang terluka. Karena ada sesuatu yang menggumpal. Ialah rindu yang mengental. Dan hari yang berlalu tanpa kepastian, selalu…begitu.
Ren duduk sendiri di luar tenda. Tidak ada makhluk lain yang masih terjaga. Semua sudah terlelap, berselimut dingin yang merayap, Menyeret letih, karena mimpi yang terlalu sulit untuk diraih. Dan bulan merah itu membuat matanya gemerlap. Butir air yang menggumpal di sudut mata membiaskan cahayanya. Karena rindu yang mengental ini bukanlah pualam. Yang terlihat indah, namun asing pada rasa dan perasaan.
“Kau menangis Ren?”
Satu suara tiba-tiba mengagetkannya. Pada jarak dua meter, Lee Min Ho terlihat berdiri menatapnya. Ketiak kanannya mengapit tongkat penyangga, sementara kakinya berdiri tidak sempurna. Ada perban yang membalut dengan ketat pergelangan telapak kakinya. Mungkin karena urat yang keseleo tadi saat syuting. Dan karena kecelakaan yang dialami Lee Min Ho, proses syutingpun di undur tanpa batas waktu. Sampai pemuda itu sembuh kembali.
“Kau menangis Ren?” tanya pemuda itu sekali lagi.
“Hah?”
Ren terkesiap kaget. Dengan cepat dia menghapus air matanya. Tapi tidak berhasil. Entah kenapa, air mata itu tidak mau berhenti, masih saja menetes seiring perasaannya yang gundah. Dia jadi merasa malu karena Lee Min Ho memergokinya sedang menagis sambil memandang wajah bulan.
“Tidak usah kau hapus Ren. Biarkan air matamu mengalir, biarkan dia menghilangkan rasa sedih di dalam hatimu. Biarkan dia menyembuhkan luka-lukamu,” kata Min Ho lirih, seperti berbisik.
Ren menghentikan gerakan tangannya. Dibiarkannya air mata itu terus mengalir, sampai perasaan gundah itu hilang dari dalam hatinya. Dan Lee Min Ho masih berdiri di sana. Setia menunggu dengan hati yang bisu. Karena kesunyian justru menghadirkan banyak makna. Terutama saat kau melihat kecantikan sempurna di depan matamu.
“Bolehkah aku duduk menemanimu. Aku berjanji aku tidak akan banyak berkata-kata,” ucap laki-laki tampan itu.
Ren tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Duduklah. Berucaplah sebanyak-banyaknya. Biar sepi ini cepat berlalu. Dan wajah bulan tidak lagi menggangguku.”
Min Ho menyeret kursi kecil itu sejajar dengan kursi Ren. Kemudian dia duduk diam ikut menikmati wajah bulan. Ah, selalu saja dia kehilangan banyak kata saat berada di dekat gadis ini. Padahal dia sudah betekad untuk membuka hatinya kepada gadis itu. Tapi entah mengapa selalu gagal.
“Mengapa kau diam Min Ho?” tanya Ren setelah beberapa saat.
“Untuk apa aku berkata-kata, kalau wajah bulan telah menyedot seluruh perhatianmu?” sahut Min Ho.
Lalu mereka terdiam kembali. Bermain dengan perasaannya masing-masing. Seperti ada jarak yang tercipta diantara keduanya. Padahal Min Ho justru ingin memangkas jarak itu, biar dia bisa dekat denga Ren.
“Siapa yang sedang kau rindukan Ren?” ujar Min Ho tiba-tiba.
“Apa?” suara Ren sedikit tersentak.
“Maaf. Kata orang, siapa yang suka memandang wajah bulan, berarti dia sedang merindukan seseorang.”
Ren terdiam, tidak langsung menjawab pertanyaan Min Ho. Mungkin pertanyaannya terasa sedikit menyulitkan hatinya untuk menjawab.
“Tidak perlu kau jawab Ren,” ujar Min Ho lagi. “Lagipula tidak penting juga kau menceriterakan kepadaku siapa yang kau rindu. Aku kan bukan siapa-siapa.”
Ren menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pada alunan desah yang panjang. Seperti menghempaskan perasaan yang sedang membelenggu.
“Aku…aku sedang merindukan kakakku, Ryong Bae.”
Min Ho menoleh, menatap wajah cantik Ren. Nampak kedua matanya membulat.
“Apa? Kau punya seorang kakak?”
Ren menganggukkan kepalanya.
“Kenapa kau tidak pernah menceriterakannya kepadaku? Dimana dia sekarang?”
Ren tersenyum mendengar pertanyaan Min Ho yang bertubi-tubi. Lalu perlahan gadis itu mulai menceriterakan sedikit tentang latar belakang hidupnya. Tentang kakaknya yang pernah menjadi perwira angkatan udara Kore Utara sebelum membelot ke Korea Selatan.
“Dan kau sama sekali tidak mengetahui dimana kakakmu sekarang?” tanya Min Ho.
Ren menganggukkan kepalanya, wajahnya terlihat begitu sedih.
“Terakhir kali aku melihatnya saat kami diserang jet tempur. Aku tak sadarkan diri sampai kemudian aku terbangun di sebuah ruang karantina di Korea Selatan. Aku tidak yakin apakah kakakku masih hidup atau tidak,” ucapnya tersendat.
“Jangan khawatir Ren. Aku bisa membantumu,” ujarnya.
Ren memandang ragu wajah Min Ho.
“Aku pasti membantumu,” Min Ho menegaskan. “Aku punya banyak teman di departemen dalam negeri.”
Perlahan kedua sudut mata Ren kembali mengembun. Dia tak tahu apa yang harus diucapkan. Dia juga tidak mau berharap banyak. Mendengar kesediaan Min Ho yang bersedia membantunya saja, dia sudah merasa bahagia.
“Terimakasih Min Ho,” gumamnya.
Lalu mereka kembali duduk memandang bulan. Min Ho tersenyum sendiri, ah entah apa yang membuatnya tersenyum. Apa karena dia merasa bisa membantu meringankan beban Ren? Dan dia yakin, dengan kapasitasnya dia mampu menemukan Ryong Bae.
“Aku pasti akan menemukan kakakmu Ren. Yakinlah,” ujarnya dengan begitu yakin."
Ren menunduk. Rupanya masaih ada kegelisahan lain yang mengganggu lubuk hatinya.
“Min Ho?”
“Ya?”
“Benarkah kau memiliki banyak teman di departemen Dalam Negeri?”
Min Ho menganggukkan kepalanya.
“Hmm. Ya, aku banyak teman disana. Kenapa?”
Wajah Ren terlihat ragu, namun kemudian dia berbisik lirih.
“Sebenarnya masih ada orang lain yang aku rindukan.”
Min Ho mengernyitkan keningnya.
“Oh ya? Katakan saja.”
“Ada orang lain yang juga hilang bersama kakakku. Namanya Rich Pranaja.”
Lee Min Ho terkesiap kaget. Ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya.
“Rich Pranaja? Apa dia kakakmu juga?”
Ren menggelengkan kepalanya.
“Bukan. Dia kekasihku.”
Deg!
Hati Min Ho seperti dipukul palu godam. Dia tak pernah menyangka gadis seperti Ren sudah punya kekasih. Walaupun memiliki rupa yang mempesona, tapi Ren terlalu naïf untuk gadis yang sudah memiliki kekasih, tidak seperti gadis-gadis Korea Selatan yang dikenalnya.
“Min Ho. Kenapa kau malah terdiam?”
Min Ho tergagap.
“Eh, owh aku tiba-tiba merasa sedih saja Ren.”
Ren tersenyum, air matanya kembali menetes.
“Bantulah aku menemukan mereka. Kau bersedia kan?”
“Tentu saja Ren. Aku berjanji akan menemukan mereka.”
Hati pemuda itu seperti bergetar lembut. Ada rasa kecewa di sana, tapi dia berusaha menyembunyikannya. Apapun yang terjadi, aku akan tetap membantumu Ren. Asalkan kau bahagia, batinnya.
Dan bulan semakin terang dalam bentuknya yang bulat sempurna. Seolah memberi pencerahan di hati Ren yang sekian lama tertutup kabut ketidakpastian. Dan dia yakin, Lee Min Ho akan menemukan orang-orang yang dia cintai di dalam hatinya.