DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 95 REINKARNASI?


EPS 95 REINKARNASI?


Jangan kau simpan rindumu. Luapkan semua apa yang kau rasa. Biar rahasia mengungkap segalanya. Biar resah pun punah, dan semua khayalan menjadi kenyataan. Maka jangan kau simpan rindumu. Karena itu…berat.



Andika terbaring gelisah di bed perawatannya. Jam dinding yang berdentang menunjukkan waktu sudah menjelang dini hari. Sepi yang merambat, kerinduan yang menyayat, membangunkan tubuhnya dari tempat tidurnya. Dilepaskannya semua peralatan medis yang membelit tubuhnya. Dia merasa sudah cukup kuat, karena sesunggguhnya secara fisik dia sudah pulih, Dan jantung serta matanya sudah tidak bermasalah.



“Hm, kelihatannya semua orang sudah terlelap,” batinnya. “Inilah saatnya. Aku harus melakukan sesuatu.”



Beberapa saat pemuda itu terdiam. Indera pendengarannya di pertajam, untuk memastikan kalau semua orang sudah benar-benar terbuai ke alam mimpi mereka. Rupanya dia sedang berencana untuk pergi meninggalkan rumah sakit. Kerinduannya terhadap Miryam sudah tak tertahankan lagi.



“Aku harus pergi untuk menemui Miryam. Saat ini dia sangat membutuhkan kehadiranku.”



Sebagai seorang dokter dan putera pemilik Rumah Sakit megah itu, dia paham betul setiap sudut bangunan rumah sakit ini beserta sistem keamanannya. Dia melirik ke arah kamera CCTV yang mengarah tepat ke tempat tidurnya. Ada petugas medis dan pengawal ayahnya yang selalu mengawasi kamera itu. Lalu di depan kamarnya juga ada dua orang pengawal ayahnya yang selalu siaga.



“Aku harus mencari cara agar bisa keluar dari sini.”



Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya dia mendapatkan cara untuk lari dari tempat itu. Perlahan dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Lalu dengan gerakan sangat lembut dia menggeser bantal guling besar ke dalam selimutnya. Kemudian dengan gerakan sangat pelan dia turun dari sisi sebelah kanan yang tak terlihat CCTV. Lalu dia bergerak menuju ke pintu.



“Maafkan aku bang Jali dan bang Herman,” batinnya.



Rupanya Andika sudah mempersiapkan semuanya sejak siang hari. Sebagai seorang dokter dia dapat mencampur beberapa senyawa menjadi obat bius dosis tinggi tapi tidak sampai membahayakan keselamatan. Obat bius itu sudah disiapkannya kedalam dua buah jarum suntik. Lalu Andika mengetuk pintu dari dalam.



Tok! Tok! Tok!


“Bang Jali! Bang Herman! Tolong aku,” panggilnya dengan suara tertahan.



Kedua orang penjaga itu terkesiap kaget. Lalu dengan cepat keduanya masuk ke dalam kamar perawatan. Begitu kedua pengawal itu masuk, Andika yang bersembunyi di balik pintu langsung menyuntikkan obat bius itu ke arah leher keduanya.



“Auh!” keduanya seperti terkejut.



Sebenarnya tusukan jarum itu tidak menyakitkan, seperti digigit semut. Tapi cukup mengagetkan. Keduanya berbalik memandang Andika tanpa curiga. Pemuda itu hanya tersenyum.



“A..ada apa bos?” tanya bang Jali.


Brug!



Tidak sampai hitungan menit, keduanya langsung ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri. Andika bergegas keluar, ditutupnya pintu kamarnya kembali. Dan tak lama kemudian tubuhnya sudah melaju di jalanan bersama mobil kesayangannya.


***


Dan di kegelapan malam itu, Miryam berjalan sendiri. Berjalan di atas jalan layang yang berlapis-lapis, dan dia ada dipuncaknya. Sinar purnama yang terang tak mampu menerangi sisi hatinya yang begitu gelap. Di pagar jalan yang terbuat dari beton, dia berhenti, lalu duduk bersila menikmati wajah bulan. Kemudian menyanyikan kidung Asmarandana kesukaannya, saambil matanya menatap keindahan bulan purnama.


Pandangannya sama sekali tak beralih. Dia terus memandang bulan sambil berharap ada sesuatu yang membalas kerinduannya. Tapi bulan tak pernah berubah. Dari waktu ke waktu wajahnya tetap sama. Begitu cantik dan menenangkan. Seolah tidak ada kesedihan yang diembannya.


“Cuiiit!”


Saat sedang asyik masyuk menikmati suasana malam purnama, mendadak sebuah mobil berhenti. Mercedes Maybach warna hitam berhenti tepat di belakangnya.


“Miryam!” suara seseorang memanggilnya.


Miryam tersentak kaget. Tiba-tiba hatinya berdegup kencang, seperti saat dia bersanding dengan Santika. Dia langsung menoleh. Seorang pemuda tampan, kulitnya putih, tatapannya lurus ke depan turun dari mobil mewah itu. Apa? Miryam seperti tak percaya dengan sosok di depannya.


“Miryam!” pemuda itu memanggil namanya kembali.


Miryam langsung berdiri, menegaskan penglihatannya.


“Kakang Santika?”


Pemuda itu berjalan mendekatinya. Wajah pemuda itu terlihat berbinar melihatnya. Kedua tangannya dibentangkan, seolah ingin menumpahkan kerinduan pada kekasih yang telah lama tak ditemuinya.


“Miryam!” suaranya begitu sendu, penuh kerinduan.


Pemuda itu semakin dekat. Jantung Miryam semakin berdegup kencang. Namun sinar rembulan membuyarkan harapannya. Karena wajah lelaki itu bukanlah wajah suaminya, tapi wajah Andika.


“Kau!!” bentaknya.


Tubuh Miryam langsung melayang menyambut kedatangan Andika dengan kemarahan. Dicengkeramnya leher pemuda itu dengan satu tangan, lalu diangkatnya ke atas. Dengan satu pukulan saja, pemuda itu pasti tewas oleh tangan Miryam. Tapi entah kenapa, perempuan itu mengurungkan niatnya. Detak jantungnya yang semakin kencang menghentikan gerakannya. Telinganya yang tajam juga mendengar detak jantung pemuda itu semakin bertambah frekwensinya.


“Kakang Santika?”


Kening Miryam nampak berkerut. Kenapa pemuda ini memiliki degup jantung yang sama dengan suaminya? Miryam menurunkan tubuh Andika kembali ke tanah. Dipandanginya tubuh pemuda itu dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Jelas dia bukan kakang Santikanya, tapi mengapa dia memiliki irama detak jantung yang sama?


“Siapa kamu?” tanya Miryam dengan tatapan tajam.


“Aku? Aku kakang Santikamu. Apa kau tidak mengenaliku?” sahut Andika sambil membalas tatapan gadis itu.


Hah? Miryam tersentak kaget. Tatapan mata itu…itu milik kakang Santika, batinnya. Apa kakang Santika sedang merasuki tubuh Andika? Reinkarnasi?


“Kemarilah Miryam. Peluklah aku,” kata Andika lagi.


Tangannya masih terbentang. Miryam masih membeku di tempatnya berdiri. Suara detak jantung dan tatapan mata Andika membuatnya menjadi limbung. Keyakinannya berubah menjadi keraguan. Dia bahkan terdiam saat pemuda itu berjalan mendekatinya dan memeluk tubuhnya. Meraih kepala perempuan bidadari itu diatas dadanya yang bidang.


Dugdug! Dugdug! Dugdug!


Detak jantung Andika terdengar jelas di telinga Miryam. Tatapan mata pemuda itu berhasil meluluhkan hatinya. Tak kuat menahan perasaannya, akhirnya tubuh Miryam menggelosoh dan jatuh ke tanah.


“Miryam!” Andika terkejut.


Dia segera merunduk, membopong tubuh Miryam yang terkulai dan mendekapnya dengan penuh kelembutan. Miryam diam tak bereaksi dengan semua perlakuan Andika. Dia hanya menikmati degup jantung Andika yang terdengar begitu jelas di telinganya. Seperti juga degup jantungnya yang meningkat frekwensinya.


‘Dugdug! Dugdug! Dugdug! ...”