DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 42 KAMERA CCTV


EPS 42 KAMERA CCTV


Suasana pagi di rumah Dandung seketika menjadi heboh. Dandung menghubungi pak Simson, melaporkan keadaan yang terjadi. Satu kompi pasukan brigade mobil, satu regu pasukan antiteror dan petugas dari Bareskrim segera di kirim ke rumah Dandung. Mereka menyisir kawasan hunian elit, Pantai Indah Kapuk dan sekitarnya. Personel penembak jitu juga diperbanyak, juga tim dari forensik yang bergerak begitu cepat.



“Ada berapa korban yang jatuh Dandung?” tanya Simson.


“Satu orang pingsan dan terluka ringan atas nama Ulin Nuha, dia kepala asisten rumah tangga du rumah saya, satu lagi Bripda Vino Bastian, anggota pasukan pengawal. Aku sendiri yang menembaknya di bagian lengan karena dia hendak menembak Frida. Satu lagi korban tewas atas nama Abripda Herwan Irrwanto, dengan luka tusuk di bagian ulu hatinya.”



“Kumpulkan semua anggota yang tadi malam bertugas. Kita membutuhkan keterangan mereka,” kata Simson kepada komandan regu pengawal rumah Dandung yang berdiri di belakangnya.


“Siap Ndan!”


“Kumpulkan mereka semua di ruang CCTV.”


“Siap Ndan!”



Di sekeliling rumah Dandung memang sudah ada kamera CCTV ditambah beberapa kamera tambahan yang tadi malam mendadak di pasang oleh personel Bareskrim. Setiap pergerakan yang terjadi di sekeliling rumah besar itu pasti terpantau kamera CCTV. Bahkan pergerakan hewan pengeratpun bisa terdeteksi dengan tepat dan akurat. Dandung dan Frida juga ikut masuk ke dalam ruang pemantau kamera CCTV.



“Apakah ada sesuatu yang aneh yang kalian rasakan tadi malam?”


“Tidak ada Ndan. Suasana begitu sunyi dan senyap, tidak terdengar peregerakan apapun, sampai peristiwa itu terjadi,” sahut komandan pasukan pengawal.



Jawabannya diiyakan oleh seluruh anak buahnya yang memang tidak merasakan ada sesuatu yang mencurigakan malam itu. Hanya satu orang yang merasakan keanehan, yaitu penembak jitu yang berada di atap rumah Dandung.



“Memang tidak ada pergerakan yang mencurigakan Ndan. Hanya terus terang saja, tadi malam saya agak terkejut ketika melihat Pak Dandung tiba-tiba muncul dari dalam kegelapan.”



Dandung dan Frida terkesiap kaget mendengar pengakuan si penembak jitu.


“Apa? Kau melihatku munul dari dalam kegelapan?”



Penembak jitu itu menganggukkan kepalanya.


“Aku bahkan hampir saja menarik pelatuk, tapi aku urungkan setelah memastikan yang berjalan mengendap-endap itu adalah pak Dandung.”



Dadung memandang Frida sekejap lalu mengalihkan pandangannya kepada pak Simson yang tengah menatapnya. Lalu dia menggelengkan kepalanya.



“Tidak. Tadi malam aku berjaga di kamar Frida. Aku tidak pergi kemanapun semalaman,” ujar Dandung.


“Benar. Pak Dandung tadi malam berjaga di depanku. Tidak kemana-mana,” sambung Frida.



Dahi pak Simson terlihat mengkerut, pertanda dia sedang berpikir keras. Bagaimana mungkin anak buahnya melihat Dandung berkeliaran dan mengendap-endap di rumahnya sendiri, padahal dia tidak kemana-mana?



“Jam berapa peristiwa saat kau melihat Dandung, Brigadir?” tanya Simson kepada penembak jitu itu.


“Jam 00.24 tepat Ndan. Pak Dandung keluar dari dalam kegelapan pohon di taman depan rumah, lallu berjalan mengendap dan menghilang dibalik rimbunnya tanaman pagar,” sahut si penembak jitu dengan sangat detail.



Simson mengangguk-anggukan kepalanya.


“Bagaimana menurutmu Dandung?”


“Lebih baik kita periksa kamera CCTV saja pak,” sahut Dandung.



Lalu dia menghampiri operator kamera CCTV diikuti pandangan semua orang yang ada di dalam ruangan itu.



“Coba kau periksa kamera nomer 13 yang ada di atap, kamera no 08 dan 25 yang mengarah ke taman,” perintahnya.


“Baik pak,” sahut sang operator.



Kamera 13


Pukul 00.15


Terlihat suasana taman depan rumah Dandung yang sepi dan gelap. Tidak ada tanda-tanda orang lewat atau sesuatu yang mencurigakan.


Pukul 00.22


Terlihat ada dedaunan yang bergoyang. Lalu perlahan muncul bayangan seseorang yang berjalan mengendap-ngendap. Saat langkahnya melewati lampu taman yang bersinar temaram, tampak sosok manusia memakai pakaian serba hitam dengan topeng putih di wajahnya. Tepat pukul 00.24.


Wajah si penembak jitu terlihat kebingungan. Tidak mungkin dia salah lihat. Tapi Simson menyuruhnya diam dulu.


“Ta..tapi pak jelas sekali saya melihat..”


“Sst..Kita lanjutkan memeriksa kamera nomer 08,” ujarnya.


Kamera 08


Pukul 00.22


Terlihat pergerakan seseorang berpakaian serba hitam, serta topeng berwarna putih menutupi wajahnya. Kedatangannua di sambut salah satu anggota pasukan pengawal. Anehnya anggota pengawal ini terlihat memberi hormat pada tamu bertopeng tadi. Bahkan tamu bertoppeng tadi menepuk-nepuk pundaknya. Lalu manusia bertopeng itu membungkam mulut si pengawal dari belakang dan menusukkan pisau belati tepat ke jantungnya. Tanpa perlawanan, pengawal itu jatuh ke tanah.


“Abripda Herwan!” seru komandan pasukan pengawal dengan suara tertahan.


“Kurang ajar,” gigi Dandung terdengar bergemeletuk menahan marah.


Suasana langsung diliputi ketegangan. Di depan mata, mereka melihat salah satu polisi kembali gugur ketika melaksanakan tugasnya. Dandung menutup wajah dengan kedua tangannya, sementara Frida tanpa sadar meneteskan air mata. Hanya Simson yang tak bergeming, dia memerintahkan operator untuk memeriksa kamera no 25.


Kamera 25


Setelah menusuk anggota polisi pengawal berjalan ke pintu ruang depan. Lalu sesorang datang menyambutnya. Mereka terlihat berbicara begitu akrab. Tamu bertopeng terlihat menyerahkan jubbah hitam dengan topeng berwarna putih yang diletakkan diatas lipatan jubah hitam tadi. Lalu memberikan perintah-perintah dan yang satu mengangguk-anggukan kepalnya.


“Coba kau perjelas wajah orang yang menyambut tamu kita,” perintah Simson.


Operator segera menekan tombol zoom. Nampak jelas sosok yang menyambut tamu bertopeng tadi, Dan tampilan di layar CCTV sangat mengagetkan mereka.


“Pak Ulin?” seru Dandung dan Frida.


Simson berbalik memandang Dandung, tapi tidak bereaksi apa-apa.


“Dimana korban yang masih hidup?” tanya Simson


“Ada di ruang khusus di rumah saya Ndan. Mereka masih dalam keadaan tak sadarkan diri serta dalam penjagaan yang sangat ketat.”



AKBP Simson Hutapea, Kepala Bareskrim Polres Kota Besar itu menganggukkan kepalanya.



“Baik. Aku akan mengunjungi mereka. Kau tetap disini bersama yang lainya.”


“Siap Ndan!” sahut mereka serempak.



Simson segera beranjak ke sebuah ruang kosong di belakang rumah Dandung. Di setiap sudut rumah besar itu sudah berdiri pasukan penembak jitu dengan senjata siap tembak. Sampai di depan ruang khusus itu, Simson disambut komandan pasukan Brimob yang menjaga ruangan itu dengan ketat.



“Selamat malam Komandan!” ujarnya dengan sikap hormat.


“Selamat malam Heidar! Bagaimana kondisi para terduga pelaku penyerangan?”


“Mereka semua ada di dalam pak. Semua sudah sadar, tapi tatapan mereka seperti kosong, dan tidak dapat di mintai keterangan.”



Simson masuk ke dalam ruangan. Memeriksa keadaan pak Ulin dan Bripda Vino. Dia tidak mengajukan pertanyaan apapun.



“Heidar!”


“Siap Ndan!”


“Mereka berdua dalam kondisi terhipnotis. Dan mereka belum sadar, itu artinya pelakunya masih berada dekat di sekitar kita!”



Simson membuang pandangannya keluar, menembus kegelapan malam.