DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 72 SAKIT BIBIR


EPS 72 SAKIT BIBIR


Ken Darsih berdiri dengan gelisah. Satu sisi hatinya ingin menunggu kedatangan Dandung, tapi satu sisi lainnya ingin segera pergi dari bukit Kethileng. Tujuannya hanya satu menuntaskan dendamnya kepada Miryam, perempuan yang telah membuangnya begitu saja dengan cara yang hina. Setelah memantapkan hatinya, kedua kaki Ken Darsih langsung menghentak, menerbangkan tubuhnya ke udara, menuju Pesantren Ksatrian Santri.


Namun belum ada setengah perjalanan, mendadak dia seperti mendengar suara yang memanggil-manggil namanya. Suara pemuda yang diam-diam dirindukannya selama lima purnama. Dan entah kenapa suara itu mampu mendinginkan suasana hatinya yang sedang diliputi kemarahan.



“Ken! Ken Darsih! Dimana kamu? Ini aku Dandung!” suara itu terus memanggil namanya berulang-ulang.


Suara itu dibawa gelombang udara yang datang terus menerus menusuk gendang telinganya. Menggugah hatinya dan menghentikan perjalannya. Terasa keraguan yang tiba-tiba menyergap menyelubungi hatinya.



“Dandung?” gumamnya.


Seperti kendang yang dipukul bertalu-talu, getarannya begitu menggaung Meruntuhkan segala amarah dan dendam yang mengepung. Namun layaknya kisah dalam film roman picisan, diatas dendam selalu ada rindu yang menggunung. Dan akhirnya Ken Darsih memutuskan dengan penuh keyakinan, dia akan pulang untuk menemui Dandung.



“Danduung!” teriaknya penuh kerinduan.


Tubuh Ken Darsih melayang kembali di udara. Tapi kali berbalik arah, kembali menuju hutan Kethileng. Untuk sesaat amarahnya yang tadi sempat meledak menjadi sirna. Hatinya yang panas kembali menjadi dingin. Dan dendamnya yang menyala-nyala seketika mati tersiram air kerinduan.



Sementara di hutan Kecipir di puncak bukit Kethileng, Dandung masih terus mencari sosok Ken Darsih. Tubuhnya yang tinggi kekar menyeruak diantara pepohonan besar yang memagari keberadaan hutan larangan itu. Batang pohon kecipir yang begitu lebat merambat dan menggantung diantara pepohonan sedikit menghalangi geraknya.



“Ken! Ken Darsih! Dimana kamu? Ini aku Dandung!” teriaknya sekali lagi.



Di atas sebuah gundukan batu besar, dia berhenti. Kedua tangannya di letakkan di pinggang. Pandangannya tajam menembus kegelapan hutan Kecipir. Walaupun matahari sedang berada di puncaknya, tapi sinarnya tidak mampu menembus kerapatan hutan ini. Tidak ada seorangpun yang berani menebang pohon di hutan ini. Orang-orang masih meyakini keberadaan Nagabadra, naga siluman berkepala dua penghuni hutan ini.



Tanpa sadar ada sepasang mata yang mengawasi Dandung. Seorang gadis cantik, memakai celana jeans hitam dan kaos hitam dengan cardigan berwarna putih. Tubuhnya berdiri melayang diantara batang-batan pohon besar itu. Tanpa suara, tubuh itu melayang turun semakin mendekati tubuh Dandung. Dibelakang tubuh pemuda itu, dia membalikkan tubuhnya. Rambutnya yang hitam panjang terurai ke bawah sementara kakinya di atas.



“Wuss…”



Gadis itu menghembus tengkuk Dandung perlahan. Terasa hawa dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Tapi perwira muda itu tidak takut. Dia sudah beberapa kali mengunjungi hutan ini, bahkan di malam hari, namun tidak pernah menemui gangguan yang berarti. Baginya dua supranatural hanyalah mitos yang tidak terbukti dan hanya omomg kosong saja.


Namun hawa dingin yang terus membuat bulu kuduknya berdiri, membuatnya menjadi waspada. Perlahan tangan kanannya meraba revolver yang terselip di pinggangnya. Dikokangnya senjata kecil dan siap ditembakkan bila sewaktu-waktu ada bahaya yang mengancam keselamatannya.


“Dandung!”


Tiba-tiba gadis itu berseru memanggil namanya persis di belakang telinganya. Seperti mendengar petir di siang bolong, tubuh Dandung terloncat ke depan. Reflek dia berbalik dan menembakkan pelurunya tepat ke arah wajah yang terbalik itu.


“Dor”


Dandung menyesali kecerobohannya. Kenapa dia menembak sembarangan? Makhluk apa yang ada di depannya ini? Matanya mengawasi makhuk aneh dari atas sampai ke bawah. Pemuda itu baru menyadari kalau sosok itu adalah tubuh manusia yang melayang terbalik. Dandung terus mengarahkan senjatanya kepada sosok aneh itu.


“Siapa kamu!” teriaknya.


Gadis itu malah terkekeh. Dia membalikkan tubuhnya, lalu menapakkan kedua kakinya di bumi. Setelah itu mengeluarkan peluru yang berada di dalam mulutnya. Di buangnya benda kecil itu ke tanah. Dandung langsung mengenalinya.


“Ken…Ken Darsih?”


Ken Darsih masih terkekeh. Dengan santainya dia mengacak-acak rambut perwira muda polisi itu.


“Hai, kau terkejut kan?”


Dandung menghempaskan nafas kasar.


“Kau hampir saja membunuhku tahu!” sahut Dandung kesal. “Rasanya jantungku mau copot.”


Tawa Ken Darsih semakin kencang. Tubuhnya sampai terguncang-gunang. Akhirnya Dandung ikut tersenyum. Ah, gadis bidadari ini begitu polos dan apa adanya. Dia tidak pernah bisa menebak hatinya, walaupun mereka sedekat ini. Tiba-tiba Dandung ingin memeluknya, meluapkan kerinduan yang tiba-tiba menyeruak diantara mereka berdua.


Tapi Dandung berusaha menahannya. Dia khawatir Ken Darsih akan marah dan melukainya. Bukan hal yang sulit bagi Ken Darsih membunuh manusia seperti dirinya. Dia pernah merasakan dulu saat dirinya dibanting gadis itu dengan entengnya. Ken darsih mendekatkan wajahnya ke wajah Dandung, sambil meneliti setiap detil wajahnya dari ujung kepala sampai ke dagu.


“Kenapa diam Dandung? Apa kau masih tidak percaya kalau ini aku?” tanya Ken Darsih lagi.


Dandung tergagap. Wajah bidadari itu hanya berjarak satu senti dari wajahnya. Hembusan nafasnya yang hangat menyapu wajah Dandung, membuat matanya terpejam Menimbulkan desiran-desiran halus di dalam hatinya. Dan tanpa rasa takut lagi, Dandung langsung memeluk tubuh Ken Darsih dan mencoba merasakan ranum merah itu dengan bibirnya.


“Mmpff..huft,” terdengar bunyi-bunyian aneh dari bibir Dandung.


“Apa yang kau lakukan Dandung? Kenapa kau bersikap aneh begitu?” tanya Ken Darsih.


Dandung langsung membuka matanya. Dan pemuda itu terkejut bukan main. Rupanya dari tadi dia hanya memeluk angin dan bermain dengan halusinasinya sendiri. Dia tidak tahu, begitu dia bermaksud memeluk Ken Darsih, tubuh gadis setengah siluman itu mundur dengan kecepatan yang tak bisa dilihat manusia. Dan pemuda itu menjadi malu karena telah memeluk dan mencium bayangannya sendiri.


“Apa yang kau lakukan Dandung? Kenapa kau jadi aneh begitu?” Ken Darsih mengulangi pertanyaannya.


“Oh, eh, anu..ehm maksudku aku sedang sedikit sakit bibir,” kilahnya.


“Sakit bibir?” Ken Darsih menatap heran.


Dandung mengangguk cepat.


“Eh, iya. Apa itu namanya, ehm..sariawan. Ya, bibirku sedang terkena sariawan.”


“Sariawan? Apakah sakit?”


“I..iya sakit sekali.”


Tiba-tiba Ken Darsih menempelkan bibirnya ke bibir Dandung. Pemuda itu merasa bibirnya menjadi panas. Tubuhnya terangkat, saat dia merasa gadis itu menyedot bibirnya dengan kuat. Setelah itu, Ken Darsih melepaskan bibirnya kembali. Dandung merasa tubuhnya masih melayang dan berubah menjadi lebih ringan.


“Bagaimana rasanya?” tanya Ken Darsih.


“A,,apa?”


“Aku baru saja menyedot seluruh kuman penyakit yang ada di dalam tubuhmu dan membakarnya dengan racunku. Apakah kau sudah merasa baikan sekarang?”


Dandung terdiam takjub. Oh, ternyata Ken Darsih baru saja menyedot seluruh kuman yang ada di dalam tubuhnya, dengan cara menyedot bibirnya. Membuat tubuhnya terasa lebih segar dan nyaman sekarang. Hanya itu saja, tanpa maksud lainnya.