EPS 96 KEAJAIBAN HIDUP
Begitulah hidup, selalu penuh keajaiban. Kita tidak pernah menyangka, hal yang tidak pernah kita pikirkan akan terjadi pada kita, malah terjadi. Ryong Bae yang baru saja membangun keyakinan untuk hidup di Korea Selatan, setelah membelot dari Korea Utara, malah sekarang ada di Indonesia. Dia yang sebelumnya bertekad untuk hidup dan mencari pasangan hidup orang Korea Selatan, malah mendapatkan kekasih orang Indonesia.
Seperti sebuah alur film yang sudah diatur oleh sang sutradara, tapi tidak bisa ditebak endingnya. Bukan hanya oleh penontonnya, bahkan pelakunya pun tidak tahu kalau hidupnya akan berubah seratus delapan puluh derajat. Bagaikan sebuah mimpi, dia yang baru berkenalan dengan Andini beberapa hari yang lalu, kini telah menjadi kekasihnya. Bahkan kemungkinan besar gadis itu akan menyandang nama nyonya Ryong Bae.
“Terimakasih Andini,” ujar Ryong sambil memegang kedua bahu gadis itu.
“Terimakasih untuk apa?” ujar Andini heran.
“Karena telah menyelamatkan hidupku.”
Andini menundukkan kepalanya, merasa malu. Ucapan Ryong terdengar begitu tulus.
“Aku berjanji untuk membuat hatimu selalu bahagia. Akan ku persembahkan hidupku padamu,” ujar Ryong lagi.
Dan semburat merah jambu itu semakin terlihat menghiasi wajah Andini. Gadis desa yang cantik, polos dan lugu. Seperti juga Ryong, dia juga pemuda yang polos, jujur dan apa adanya. Bahkan baru kali ini dia menjalin hubungan yang begitu dekat dengan seorang gadis. Merasakan cinta yang begitu dalam dari lubuk hatinya. Ah, tapi Andini merasa Ryong sekarang sudah pandai merayu.
“Aku juga berterima kasih kepadamu Ryong,” balas Andini.
Ryong tersenyum.
“Alasannya?”
“Karena kau juga telah menyelamatkan hidupku. Membuat hidupku lebih berarti dengan cinta yang kau hembuskan ke dalam hatiku,” sambung Andini lagi.
Ryong memandang wajah cantik itu dalam-dalam. Kedua tangannya yang tadi berada di bahu Andini, sekarang sudang memegang kedua pipinya. Dan tanpa mereka sadari wajah mereka semakin mendekat. Seperti ada medan magnet yang tercipta diantara kutub utara dan kutub selatan yang saling tarik menarik. Bibir Ryong dan Andini terlihat bergetar, bahkan Andini sudah memejamkan matanya.
“Hem!”
Terdengar suara orang terbatuk. Ryong dan Andini langsung menoleh. Dan wajah mereka langsung terkesiap, tubuh mereka gemetar. Perasaannya campur aduk, antara rasa malu dan takut. Di depan mereka berdiri seorang laki-laki separuh baya. Badannya tinggi besar. Memakai baju hitam dan celana hitam dibawah lutut. Kumisnya yang melintang membuat penampilan laki-laki itu begitu menakutkan. Jari telunjuknya yang sebesar kaki bayi, menunjuk ke arah Ryong.
“Eh, kamu! Kesini!” perintahnya.
Ryong berjalan perlahan mendekati laki-laki itu. Kepalanya di tundukkan.
“Apa benar kamu menyukai Andini?” tanya laki-laki itu.
Ryong menganggukkan kepalanya.
“Jawab yang bener! Kamu tidak punya mulut!”
Tubuh Ryong sampai tersentak dan mundur satu langkah ke belakang.
“Eh, iy..iya punya ups! Iya aku menyukai Andini..” sahut Ryong terbata-bata.
“Dan kau berniat menjadi suaminya?”
“Hah? Ap..apa? Su..suami?”
“Jawab yang tegas!” bentak laki-laki itu lagi.
Suaranya semakin menggelegar. Dan Ryong tersentak sekali lagi.
“Oh. Iy..iya, aku berniat menjadikan Andini sebagai isteriku.”
Laki-laki gahar itu menatap wajah Ryong dengan tajam. Wajah Andini tertunduk semakin dalam. Tapi hatinya berbunga-bunga mendengar kata-kata Ryong barusan.
“Pakai ini!” ujar laki-laki itu sambil mengulurkan sebuah caping.
Dengan ragu Ryong menerima caping itu, lalu dipakainya di atas kepala.
Laki-laki itu mengulurkan sebuah cangkul. Ryong menerimanya dengan tangan genetar. Entah kenapa, dia yang biasa hidup di medan tempur, sekarang nyalinya menjadi ciut di depan laki-laki itu.
“Sekarang ikuti langkahku!” perintah laki-laki itu dengan keras.
Laki-laki itu membalikkan tubuhnya, lalu berjalan cepat meninggalkan Ryong dan Andini. Bagaikan prajurit yang diperintah komandannya, Ryong langsung berdiri tegak dan memberi tanda hormat. Dengan memakai caping dan membawa cangkul di pundaknya, Ryong setengah berlari mengejar laki-laki itu. Andini yang melihat semua itu menjadi cemas. Dia takut terjadi apa-apa dengan kekasihnya.
“Kau mau mengajak Ryong kemana, Abah?”
“Ke sawah! Calon menantuku harus bisa mencangkul!” bentaknya.
***
Ryong berdiri tertegun dengan pandangan takjub. Di hadapannya terbentang persawahan yang sangat luas sejauh mata memandang. Petak-petak sawah dengan warna-warna cerah, hijau muda, hijau, kuning dan warna hitam uantuk sawah yang baru saja dipanen dan jeraminya baru saja dibakar. Seperti mengobati kerinduannya akan kampung halaman, dia jadi teringat masa-masa kecilnya di Korea Utara.
Setiap hari dia bermain di sawah membantu orang tuanya. Mereka harus bekerja keras karena tanah di korea utara yang sedikit berbatu. Sistem pengairan juga tidak tertata dengan baik, sehingga mereka harus berjuang mendapatkan air. Saat panen hasilnya harus dibagi dua, separuh buat kebutuhan sendiri, sisanya akan diambil oleh tentara. Di Korea Utara tentara adalah warga negara kelas satu. Paling tidak mereka mendapat jatah makan tiga kali sehari.
“Assalamu’alaikum! Selamat pagi Abah!”
Serombongan gadis-gadis muda yang baru saja mencuci di sungai berjalan melewati mereka. Bibir mereka menyapa abah, tapa matanya melirik ke arah Ryong. Keberadaan pemuda tampan berkulit putih dan bertubuh tegap itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Apalagi Ryong memakai caping dan membawa cangkul di pundaknya, rasanya selama hidup mereka baru pernah melihat pemandangan unik seperti itu. Mungkin inilah yang disebut keajaiban kehidupan.
“Ini akang siapa?” tanya salah satu dari mereka.
“Itu calon suaminya Andini. Awas! Kalian jangan berani-berani menggodanya ya?” kata Abah dengan wajah galak.
“Kalau yang ganteng begini mah, digalakin abah juga gak apa-apa.”
Lalu mereka tertawa cekikikan. Meninggalkan Abah dan Ryong yang jadi pada salah tingkah. Hrggh..pada bikin gemes saja.
“Ini sawah milik Abah?” tanya Ryong.
Abah menggelengkan kepalanya.
“Sawah ini milik Andini. Abah hanya mengumpulkan uangnya lalu abah belikan sawah ini. Semua ini adalah hasil kerja Andini selama bekerja di luar negeri,” sahut Abah. “Makanya siapapun laki-laki yang mendampinginya harus punya tanggung jawab atas kehidupannya. Apa kamu paham?”
Ryong menganggukkan kepalanya.
“Iya. Aku paham Abah.”
“Bagus! Kau bisa mengerjakannya mulai hari ini”
“Siap!”
Abah menepuk-nepuk bahu Ryong yang kekar. Rasanya dia bisa mempercayai pemuda ini. Lalu sambil tersenyum, dia segera berlalu meninggalkannya.
“Eh, Abah!”
Abah membalikkan tubuhnya.
“Ehm, aku harus mencangkul sampai mana?” tanya Ryong bingung.
“Ke arah Timur batasnya sungai, ke arah Utara batasnya bukit itu, sebelah barat batasnya jalan raya.”
Ryong terkesiap kaget.
“Hah? Memang luasnya berapa?”
“Sekitar sepuluh hektar. Dan harus selesai dalam waktu limabelas hari.”
Abah membalikkan tubuhnya kembali. Lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Ryong begitu saja. Pemuda itu hanya diam mematung. Pandangannya menerawang jauh ke arah bukit kecil jauh di depannya. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia juga tidak tahu.