EPS 29 I LOVE YOU, FREE
Kepada Gerimis yang turun.
Membentuk lingkaran embun di bening matamu.
Ku usap dengan lembut, cintaku.
Mendekapmu,
Memberi hangat sekejap dalam dingin yang menyergap.
Kau lah buah hatiku, belahan jiwaku.
Menyentuh sisi riangku
Membuat hujan ini tak begitu bernada….
Dandung limbung. Tubuhnya membeku di tengah kesibukan orang-orang yang tengah melakukan evakuasi. Jasad dokter Santoso, Brigadir Rozak dan Brigadir Aman dimasukkan ke dalam kantong jenazah. Wajah-wajah mereka terlihat pucat dan bersih, karena telah terendam semalaman di permukaan Banjir Kanal Timur. Dari sudut bibir mereka tersungging senyuman tipis, mungkin sambutan mereka saat menghadapi malaikat maut.
Dandung duduk bersimpuh diantara jenazah-jenazah tadi. Betapa dia menyesali keputusannya memberi perintah kepada dua polisi muda itu untuk mengawal Santoso. Harusnya dia yang mengawalnya. Padahal dokter forensik itu sudah memberitahunya, kalau dirinya sedang terancam bahaya. Masih membekas dalam ingatannya, wajah Santoso yang begitu kecewa ketika dia tidak jadi mengawalnya.
“Maafkan aku…maafkan aku,” ucapnya berulang-ulang. “Kalian semua mati karena kesalahanku.”
Beberapa saat dia masih bersimpuh di sana sampai Ipda Erwin mengingatkannya.
“Maaf Ndan. Jenazah akan segera di evakuasi ke Rumah Sakit,” katanya.
Dandung menganggukkan kepalanya.
“Bawa saja,” katanya.
Regu penolong dari tim SAR segera melakukan tugasnya. Kantong-kantong jenazah itu ditutup rapat, kemudian dinaikkan ke atas tandu. Lalu di masukkan ke dalam mobil ambulance. Ada hati yang tersayat, ada tangis yang tersumbat. Semua bersedih, semua tenggelam dalam rasa yang tak tergambarkan. Saat mobil-mobil jenazah itu berangkat, perlahan gerimis turun membasahi bumi Jakarta.
Tapi Dandung masih duduk bersimpuh di tempat itu. Membiarkan titik-titik air menghujani tubuhnya. Mengabaikan rasa dingin yang menyergap. Sampai suasana menjadi sepi. Hanya ada satu regu pasukan khusus yang masih berjaga di tempat itu. Dengan sikap siaga. Beberapa penembak jitu juga di tempatkan di ruang-ruang yang tersembunyi.
“Kau hanya akan terus menyia-nyiakan waktumu Dandung. Apa yang kau sesali tidak akan membuat mereka kembali,” suara Simson tiba-tiba terdengar di belakangnya.
Dandung terkesiap. Dia langsung menengok ke belakang dan berdiri dengan sikap hormat.
“Sekarang pulanglah. Kau butuh waktu untuk beristirahat,” sambung Simson.
Dandung menganggukkan kepalanya. Namun sudut matanya menangkap pergerakan pasukan khusus yang masih ada di beberapa titik.
“Mengapa masih ada pergerakan pasukan disini Ndan?”
“Mereka itu pasukan khusus yang aku tugaskan untuk mengawalmu.”
“Apa? Tapi Ndan…”
“Sudah jangan membantah. Aku akan memberimu cuti selama satu minggu.”
Kali ini Dandung benar-benar terkesiap kaget.
“Apa? Bagaimana mungkin..”
“Mungkin saja. Aku tidak mengijinkan kau menangani kasus ini, kalau kau masih terbawa emosi. Rasa marah dan dendam bisa membuat pikiranmu tidak obyektif Dandung.”
Dandung diam terpaku.
Dandung menghela nafas panjang. Dia tahu keputusan pak Simson tidak mungkin berubah.
“Baik pak. Aku akan berlibur selama satu minggu. Tapi masalah pasukan pengawal itu, aku rasa terlalu berlebihan pak.”
Pak Simson melotot.
“Apa? Kau meragukan integritasku?”
Dandung terdiam.
“Ingat korban-korban yang berjatuhan Dandung. Mereka adalah polisi-polisi terlatih. Mereka terbunuh dengan mudahnya, tanpa meninggalkan jejak apapun. Aku tidak mau kehilangan anggotaku lagi. Ingat Dandung, kau adalah salah satu polisi yang diincar oleh pembunuh itu,” kata pak Simson dengan nada tinggi.
Deg!
Apa? Salah satu yang diincar? Mendadak Dandung teringat dengan Frida. Ya, dari berkas yang diberikan dokter Santoso tadi malam, terselip dua lembar foto yang sudah ditandai garis silang berwarna merah darah. Dan itu adalah foto dirinya dan Frida.
“Frida?” tak sadar Dandung menyebut nama Frida.
“Frida juga sudah ada di tempat tersembunyi bersama satu unit pasukan khusus dan tiga orang penembak jitu untuk menjaganya,” ujar Simson.
Dandung menatap wajah atasannya itu dengan perasaan campur aduk. Ah, pak Simson sangat memperhatikan keselamatan anak buahnya saat terancam. Berkali-kali pak Simson menyelamatkan nyawanya. Termasuk tadi malam saat dia akan mengawal Santoso, tapi malah dia meminta dirinya untuk menghadap.
“Mohon ijin Ndan. Dimana Frida sekarang?”
“Dia memilih rumahmu yang berada di Pantai Indah Kapuk sebagai tempat persembunyian.”
Dandung segera membalikkan tubuhnya. Setengah berlari dia menuju mobilnya. Pasukan khusus yang mengawalnya juga ikut bergerak. Mengendarai dua mobil, sedangkan para penembak jitu bergerak menggunakan sepeda motor trail, saling berboncengan. Satu didepan mengendalikan sepeda motornya, dan satu lagi duduk dibelakang dengan senjata terkokang siap untuk di tembakkan.
***
Gerimis belum usai saat Dandung tiba di salah satu rumahnya di kawasan elit Pantai Indah Kapuk. Rumah tingkat dua seluas 5000 meter persegi itu begitu mewah dengan warna serba putih. Orang tua Dandung memang memiliki lima rumah mewah di beberapa kawasan elit yang tersebar di Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Kelima mansion itu kosong karena papa dan mamanya lebih suka tinggal di luar negeri, sementara Dandung memilih tinggal di apartemen miliknya sendiri.
“Frida!” teriaknya begitu kakinya menginjak lantai rumahnya.
Tidak ada jawaban. Dandung menebarkan pandangannya ke sekeliling rumahnya dengan sikap waspada. Dia melihat pasukan pengawal Frida masih siaga di tempatnya. Satu orang penembak jitu juga terlihat di atas atap rumahnya, sedang yang lainnya tidak terlihat, entah bersembunyi di mana.
Zrrd!
Terdengar suara benda berat yang di geser. Pak Ulin, kepala pelayan di rumahnya membuka pintu. Terlihat wajah pak Uin sedikit tegang.
“Selamat dating mas Dandung,” sambutnya dengan sikap hormat.
“Terimakasih pak Ulin. Dimana Frida?” tanya Dandung.
“Mbak Frida sedang beristirahat di gazebo dekat kolam renang mas,” sahut pak Ulin.
Dandung langsung berlari ke gazebo dekat kolam renang di belakang rumahnya. Sebelum melihat langsung keadaan gadis itu, hati Dandung belum tenang. Dia harus memastikan keselamatan Frida, kalau tidak, dia akan merasakan penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Walaupun masih satu komplek tapi jarak gazebo itu dari belakang rumahnya hampir seratus meter. Gazebo besar yang cukup luas dengan bantal-bantal empuknya. Di dalamnya ada sebuah kasur gantung di atas sebuah ayunan besar yang bisa digunakan untuk tiduran tiga orang. Kolam renangnya sendiri cukup luas dikelilingi pepohonan hutan yang tinggi, teduh dan damai.
Dan di atas keranjang gantung itu, tubuh Frida bersemayam dengan damai, seolah dia sedang tidur di rumahnya sendiri. Wajah cantiknya begitu bahagia, tidak nampak ada rasa takut sedikitpun. Sama sekali dia tidak menyadari. Betapa Dandung sangat menghawatirkan keselamatannya. Dandung duduk di samping keranjang gantung itu. Di pandanginya wajah Frida beberapa saat lamanya.
Dengan lembut dia mengusap butiran air hujan yang membasahi matanya. Lalu direngkuhnya wajah cantik itu dan dibenamkan ke dalam dadanya yang bidang dengan penuh rasa sayang. Mungkin ini pertama kalinya Dandung merasa takut kehilangan seorang gadis yang mencintainya. Perlahan bulu mata lentik itu bergerak mengerjap. Lalu terbuka, menatap wajah Dandung di atasnya.
“Mas Dandung. Apa yang kau lakukan?” bisik Frida.
“I LOVE YOU, FREE.”