EPS 47 PESTA KECIL
Begitu pemegang saham minoritas Megapolitan Intercorp jatuh ke tangan Marcon Allpanigard, secara perlahan harga saham Megapolitan mulai merambat naik. Rupanya nama besar CEO Mexican Vision Medcom, perusaahaan telekomunikasi terbesar di Amerika Selatan ini, membuat kepercayaan para investor kembali menguat. Para konsumen juga satu persatu sudah kembali merevisi keputusan mereka untuk meninggalkan Megaproyek milik Subrata’s Holding Company.
Di bursa-bursa efek dunia, nama Marcon menjadi bahan perbincangan karena keberaniannya membeli saham Megapolitan yang tengah merosot tajam. Apalagi masalah utama yaitu semburan gas lumpur di lokasi pengeboran gas bumi belum juga teratasi. Mereka yakin kolaborasi Marcon dan Subrata dapat mengembalikan kembali kredibilitas perusahaan yang tengah menjadi sorotan dunia itu.
“Lihat Susan, tindakanku benar kan? Saham yang ku beli pasti mendapat kepercayaan para pelaku bisnis. Kau bisa menghitung berapa keuntungan yang aku dapatkan dalam beberapa hari ini,” ujar Marcon sambil tersenyum bangga.
Susan See hanya terdiam. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Nalarnya masih belum bisa menerima fenomena yang terjadi dalam beberapa hari ini. Yang jelas sikap diam Subrata merupakan tanda tanya besar dalam dirinya. Dia masih yakin Subrata sedang mempersiapkan rencana besar dan sedang menggali lubang untuk mengubur musuh-musuh yang berani mengusik kerajaan bisnisnya.
“Kenapa kau terdiam sayang? Masih meragukan kapasitasku?” desak Marcon.
Akhirnya Susan mengangguk-anggukkan kepalanya. Bagaimanapun saat ini dia belum punya alasan untuk membantah ‘prestasi’ bos Mexican Vision Medcom itu.
“Baik Marcon. Tentu saja aku ikut senang dengan keberhasilanmu. Tapi kewajibanku, sebagai pengacaramu, adalah bersikap waspada terhadap segala konsekuensi hukum yang mungkin terjadi,” kilah lulusan terbaik jurusan hukum Oxford University itu.
Marcon tertawa lebar.
“Just relax Susan. Dengan orang-orang sekelas Pramono di belakangku, aku bahkan bisa merubah dunia ini mejadi milikku.”
“Pramono? Apa yang kau janjikan Marcon, hingga dedengkot mafia hitam macam Pramono bersedia membantumu?”
“Aku akan mengembalikan kedudukannya sebagai Presiden Direktur Megapolitan Intercorp.”
“Kapan?”
Marcon tersenyum datar. Berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri tempat duduk Susan. Meletakkan kedua tangannya di atas bahu perempuan yang diam-diam disayanginya itu, sambil menatap matanya dalam-dalam. Wajahnya begitu optimis saat membisikan sesuatu ke telinga pengacaranya itu.
“Saat Subrata menyerah dan memberikan kekuasaannya atas Megapolitan kepadaku.”
Sesaat tatapan kedua manusia beda gender itu saling berpandangan. Sama-sama muda, sama-sama idealis dan sama-sama cerdas. Perlahan tangan Susan menarik dasi yang dipakai bosnya itu, mendekatkan wajah CEO tampan itu ke wajahnya sendiri. Saat cuping hidung Marcon mulai mengendus-endus karena dorongan sesuatu dari bawah tubuhnya, mendadak, sambil duduk Susan menaikkan kaki kanannya ke dada Marcon, lalu mendorongnya ke belakang.
Wud!
Tubuh tinggi tegap itu terdorong ke belakang. Namun sesaat kemudian dia dapat segera menguasai dirinya. Dorongan kaki Susan tak cukup kuat membuat tubuh CEO tampan itu terjatuh ke lantai. Tapi konaknya yang sudah sampai ke ujung kepala, membuat wajahnya menjadi memerah.
“Jangan terlampau bergembira Marcon, Kau baru melangkahkan satu kakimu di jalan yang berliku tajam. Sementara satu kakimu lainnya masih ada ada di luar arena.”
Perlahan Marcon mulai menguasai dirinya. Lalu tersenyum kembali ke arah Susan.
“Kau lupa Susan, aku selalu mengadakan pesta kecil untuk merayakan kegembiraanku?”
Susan balas tersenyum.
“Tentu saja aku tak pernah melupakan kebiasaanmu itu Marcon.”
***
Musik mengalun lembut di ruang kantor pusat Megapolitan City. Desta Rahman yang ditunjuk menjadi Presiden Direktur sementara menggantikan Pramono sedang duduk serius memeriksa file-file kontrak karya yang masih tersisa. Mendadak terdengar suara pintu di ketuk perlahan.
Tok! Tok! Tok!
Zrrd!
Pintu kayu jati tebal itu terbuka. Jhoni Kamandanu, direktur personalia masuk membawa setumpuk berkas untuk di tandatangani. Selepas kasus Pramono, Megapolitan Intercorp melakukan pembersihan besar-besaran. Banyak karyawan yang diduga dekat dengan Pramono diberhentikan dengan hormat. Sebagai gantinya, perusahaan merekrut karyawan-karyawan baru sesuai arahan Subrata.
“Selamat pagi Pak!”
“Selamat pagi!. Duduklah Jhon!”
Jhoni mengambil tempat duduk di atas sofa besar di sudut ruangan.
“Bagaimana Jhon?”
“Ini berkas pelamar yang direkomendasikan diterima sebagai karyawan baru pak.”
“Oke. Aku akan memeriksanya,” ujar Desta sambil beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri sofa besar itu. “Ada yang istimewa Jhon?”
Jhoni tersenyum.
“Insya Alloh semuanya istimewa pak. Setelah melalui penelitian dan penilaian yang ketat dari tim HRD, inilah person-person terbaik dari ribuan orang yang masuk melamar ke perusahaan kita pak.”
Desta segera menghempaskan tubuhnya di atas sofa besar itu. Lalu tangannya meraih tumpukan besar berkas-berkas itu dan mulai memeriksanya. Wajahnya terlihat biasa-biasa saja. Sampai dia melihat map berwarna merah darah yang bertuliskan huruf-huruf Tionghoa dengan tinta emas. Di bawahnya ada nama University of Beijing, Magister of Economy Program, 2020. Lalu diperiksanya berkas di dalamnya.
“Fitri Ray Queena Aisha?” ujarnya menyebut nama seseorang yang tertera disana.
Lulusan terbaik program magister ekonomi Beijing University, dengan nilai sempurna. Semua mata kuliah diselesaikan dengan skor sepuluh dari sepuluh. Ada foto gadis berhijab yang terlampir di dalamnya. Terlihat wajahnya yang putih dengan mata sipit, yang menandakan gadis ini kemungkinan adalah keturunan Tionghoa. Ada juga profil tentang hasil karya dan prestasi yang pernah diraihnya dalam ajang kompetisi sains internasional.
“Hm, cantik, cerdas, relijius dan produktif. Menarik,” pikir Desta. “Menarik sebagai pegawai sekaligus sebagai pendamping hidup. Hehehe…”
Tanpa sadar bibirnya tersenyum sendiri.
“Kenapa pak?” tanya Jhoni yang heran melihat atasannya tersenyum sendiri.
“Eh, ups!” Desta tergagap. “ Tidak apa-apa Jhon. Sudah kamu kembali saja ke ruanganmu, biar aku selesaikan dulu memeriksa seluruh berkas ini.”
“Baik Pak,” sahut Jhoni.
Segera dia beranjak pergi meninggalkan ruangan bos nya. Sementara Desta melanjutkan memeriksa berkas Fitri. Dari raut wajahnya, jelas ada ketertarikan yang tersirat. Rupanya kecantikan dan kecerdasan Fitri telah membuat hatinya penasaran ingin mengenal gadis itu lebih jauh. Apalagi selama ini dia sering diledek teman-temannya bukan sebagai Presiden Direktur Megapolitan tetapi sebagai Presiden Direktur Megajomblo Indonesia.
Desta duduk di kursi Presdir kembali, lalu menghubungi Jhoni di ruangannya.
“Bagaimana pak?” tanya Jhoni.
“Semua rekomendasimu sudah aku periksa. Oke, aku setuju menjadikan mereka pegawai baru di Megapolitan Intercorp. Kirim surat pemberitahuan dan pastikan mereka mulai bekerja hari Senin besok. Adakan pesta kecil untuk menyambut mereka” perintah Desta.
“Siap pak. Hari ini juga akan kami kirim surat pemberitahuan untuk mereka.”
Jhoni meletakkan gagang telepon sambil mengernyitkan keningnya. Pesta kecil? Kenapa pak Desta langsung menyetujui rekomendasinya? Biasanya dia sangat ketat memeriksa setiap orang yang dia rekomendasikan sebagai karyawan baru di Megapolitan.
Apa yang mempengaruhi pikirannya?