EPS 27 VIDEO PEMUNUHAN
Hari yang berat. Di Markas Kepolisian, AKP Dandhung sedang sibuk memeriksa file-file kasus narkoba yang berhubungan dengan almarhum Bripka Edhik. Mimik wajahnya begitu serius mengamati layar laptopnya. Memeriksa dokumen forensik yang baru dikirim online ke alamat web miliknya. Iptu Frida yang sedang berjalan melewati ruangannya, menyapa dengan senyum manisnya.
“Selamat malam, Ndan!”
Dandung menengok sebentar, tersenyum lalu menjawab singkat.
“Selamat malam, Frida. Kamu cantik sekali malam ini.”
Frida tersenyum senang. Lalu meletakkan kopi yang ada di tangannya ke atas meja.
“Silahkan kopinya mas.”
“OK. Terimakasih.”
Frida ingin mencium ujung kepala Dandhung tapi diurungkannya. Lalu dia keluar ruangan lagi sambil menyisakan senyum di bibirnya. Ah, atasannya itu begitu dingin hanya untuk sekedar menggodanya, batinnya sambil menoleh sekali lagi ke ruangan Dandung. Kematian anak buah sekaligus sahabatnya, Bripka Edhik, itu telah membuat perhatian Dandung tersedot untuk menyelidikinya.
Tak lama berselang, gantian dokter Santoso dari bagian forensik yang menyambangi ruangannya. Kali ini Dandung menyambutnya dengan semangat.
“Selamat malam Kapten!”
“Selamat malam Dok. Apa yang kau bawa?”
“Dokumen dari Forensik tentang hasil uji balistik peluru-peluru yang kita temukan pada kasus pembunuhan Bripka Edhik,” sahut dokter muda itu. “Kau sedang menunggunya kan?”
Dandung menganggukkan kepalanya.
“Kau sudah membuat kesimpulannya?”
“Iya, kau dapat membacanya. Tapi…?”
Santoso tidak meneruskan kalimatnya. Dandhung mengernyitkan dahinya. Terlihat ada keraguan di wajah ahli forensik itu.
“Ada apa San? Ada yang terlihat aneh?”
“Peluru – peluru itu terindikasi berasal dari senjata yang standarnya berasal dari pistol revolver kuno ciptaan Samuel Colt pada tahun 1835.”
Dandung terkesiap kaget.
“Maksudmu peluru-pelurunya berasal dari senjata tua? Senjata yang sudah dianggap musnah itu?”
“Ya,” sahut Santoso pendek.
Revolver, atau wheel gun, adalah salah satu jenis senjata api yang populer di dunia. Cara menggunakannya cukup dengan masukkan peluru ke dalam tabung berputar, dan ketika “pin hammer” alias pelatuk memukul “primer”--bagian di amunisi yang bertugas sebagai pemantik gunpowder atau mesiu--maka peluru/proyektil akan terlontar bak roket. Pertama kali ditemukan oleh ilmuwan China, tapi kemudian disempurnakan oleh ahli senjata Amerika Samuel Colt, pada tahun 1836.
“Apa maksud dari semua ini dok?” tanya Dandung sedikit bingung.
Santoso menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu. Yang jelas aku merasakan aura mistis dari peluru-peluru itu. Bahkan setelah memeriksa tubuh Edhik, aku merasa ada bayangan hitam yang mengejar-ngejarku.”
Wajah Santoso mendadak diliputi rasa takut. Tapi berusaha kerasa untuk menhan rasa takutnya dan mencoba bersikap tenang. Namun Dandung dapat melihat getaran tubuh dan kaki Santoso seperti orang ketakutan. Apalagi wajahnya mendadak pucat dan tatapannya tak lagi fokus. Beberapa kali dia menengok ke belakang seperti ada orang yang mengikutinya.
Dandung langsung sigap. Dirapikannya berkas-berkas yang disampaikan dokter Santoso tadi. Setelah menyimpan berkas itu di dalam lemari arsip, polisi muda itu lantas memakai jaket kulit dan topi hitamnya. Digamitnya lengan Santoso untuk megikuti langkahnya.
“Eh, kita mau kemana Ndung?” tanya Santoso.
“Aku akan mengantarmu,” sahutnya pendek.
Terlihat dokter Santoso tersenyum senang. Wajahnya begitu gembira. Bergegas dia berdiri dan setengah berlari menyusul langkah Dandung yang panjang. Namun baru saja Dandung tiba di tempat parker, tiba-tiba ponselnya bergetar. Dandung mengangkatnya. Pak Simson?
“Selamat malam, Ndan!”
“Selamat malam Ndung!” sahut AKBP Simson Hutapea. “Ke ruangan saya sebentar!”
“Siap Ndan!”
Dandung menghentikan langkah, lalu menebarkan pandangannya. Dia melihat ada empat orang polisi muda yang sedang piket di ruang jaga. Segera dia memanggil salah satu dari mereka.
“Hai! Handono!”teriaknya sambil melambaikan tangannya.
Setengah berlari Bripka Handono menghampirinya. Sesampainya di depan Dandung dia berdiri tegak dan menyampaikan salam hormat.
“Malam Han. Siapa keomandan jaga malam ini?”
“Siap Ndan. Saya sendiri.”
“Baik. Perintahkan dua orang anak buahmu untuk mengawal dokter Santoso kembali ke ruang forensik.”
“Siap Ndan! Mohon ijin kembali ke ruang jaga.”
Setelah memberi hormat, Handono membalikkan tubuhnya. Bergegas kembali ke ruang jaga. Sementara Dandung menoleh ke Dokter Santoso yang terlihat kecewa.
“Maaf Dok, ada panggilan mendadak dari pak Simson. Tapi jangan khawatir, ada dua polisi yang akan mengawalmu.”
Dengan terpaksa Santoso menganggukkan kepala. Beberapa saat kemudian dua orang polisi berpakaian preman mendekati mereka. Mereka baru saja mendapat perintah untuk mengawal dokter Santoso kembali ke ruang forensik di Rumah Sakit Polri. Sekilas Dandung menatap kepergian mobil mereka, sebelum bergegas menemui atasannya, AKBP Simson Hutapea.
***
Malam semakin larut. Dandung masuk ke dalam ruang pak Simson dengan perlahan. Nampak atasannya itu sedang fokus melihat layar ponselnya.
“Selamat malam Ndan!” sapa Dandung.
“Duduk Ndung!” perintah Simson.
Dandung duduk di depan meja kerja Simson.
“Aku baru saja mendapat kiriman video saat pembunuhan Edhik terjadi. Kau pasti terkejut melihatnya.”
Dandung menaikkan dua buah alis matanya. Matanya terlihat berbinar dan bersemangat untuk melihat bukti rekaman dari layar ponsel yang dikirim oleh seseorang yang tidak mau di sebut namanya. Rupanya dia sempat merekam adegan terakhir saat keributan antara Bripka Edhik dan pembunuhnya terjadi.
“Kurang ajar kau! Kau gak punya mata?” teriak Edhik marah.
“Maaf bang! Menghindari sepeda motor yang memotong jalan tadi,” sahut seseorang.
Nampak orang itu menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya, seperti meminta maaf. Tapi anehnya, wajahnya orang itu tak terlihat dengan jelas karena dia memakai topeng!
“Enak saja minta maaf! Buka topengmu!” teriak Edhik lagi.
Lalu terdengar suara seorang laki-laki yang duduk di belakang kemudi. Dia melambaikan tangannya ke arah Edhik. Namun wajahnya juga tidak terlihat, karena kondisi jalan yang remang-remang dan kaca mobil yang gelap juga.
“Hai, Dhik!”
“Hai, Santoso!”
Mendadak wajah Edhik tersenyum. Rasa marah di wajahnya tiba-tiba hilang. Malah Dandung yang terkejut bukan kepalang mendengar nama yang disebut Bripka Edhik.
“Santoso?” batinnya.
Terlihat mereka berbincang sejenak sambil tertawa-tawa. Orang bertopeng mengulurkan tangannya dan menepuk bahu Edhik.
“Sudah tidak marah lagi kan bang?” katanya.
“Tentu saja tidak”sahut Edhik sambil tertawa lebar.
“Ikhlas?”
“Ikhlas dong.”
:”Baiklah.”
Edhik masih tertawa. Dandung melihat pemandangan itu dengan wajah tegang. Santoso? Siapakah Santoso itu? Apakah dia adalah dokter Santoso? Ahli forensik yang baru saja menemuinya tadi?
“Apa!”
Terlihat orang bertopeng itu mengeluarkan pistolnya. Lalu ujung senjata itu ditempelkan dibawah dagu Bripka Edhik yang masih tertawa. Saat orang itu menarik pelatuknya, anak buahnya itu masih terlihat bahagia. Dan…
“Dhor!”
Senjata itu menyalak, memuntahkan pelurunya. Tembus dari bawah dagu, menembus kepalanya. Darah terpancar, merah bercampur sedikit warna putih, tubuh Edhik langsung jatuh beserta sepeda motornya. Tanpa sadar Dandung berdiri sambil memegang kedua lengan kursinya. Dan bibirnya berteriak keras.
“EDHIIIK!!”