DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 25 JALAN HIDUP


EPS 25 JALAN HIDUP


Malam sudah larut. Bulan purnama bersinar begitu terang dalam bentuknya yang bulat sempurna. Ryong Nae atau Ren maju selangkah ke depan batu hitam di atas meja kecil. Dia menyalakan dua batang hio, kemudian berjalan memutari benda itu sambil bersenandung. Mengalunkan senandung suci untuk Seongju, Dewa tertinggi, yang dia yakini telah memberikan banyak kenikmatan,


Juga karena hidup membutuhkan arah yang jelas, sehingga kita tetap berada di jalan cahaya. Di ruang sunyi dia melafadzkan doa, menyerahkan sepenuh hatinya dalam pertapaan segala jiwa.para dewa yang Agung. Agar selalu diberikan keselamatan dan kelancaran dan mendapatkan apa seharusnya dia dapatkan.


Setelah sembahyang, Ren duduk termangu memandang bulan. Hatinya merasa begitu rindu tapi entah kepada siapa. Biasanya, setiap kali hatinya di landa kerinduan dia akan menumpahkannya kepada bulan. Dari balik jendela kamarnya di lantai tiga rumah susun yang besar dia menikmati suasana purnama pada malam itu.


“Kamu belum tidur Ren?” tanya Song, teman karibnya yang tinggal di kamar sebelah.


“Belum. Aku masih ingin menikmati wajah bulan,” sahut Ren.


Pandangannya sama sekali tak beralih. Dia terus memandang bulan sambil berharap ada sesuatu yang membalas kerinduannya. Tapi bulan tak pernah berubah. Dari waktu ke waktu wajahnya tetap sama. Begitu cantik dan menenangkan. Seolah tidak ada kesedihan yang diembannya.


“Baiklah. Tapi kau harus tidur secepatnya. Besok pagi kita bekerja lebih giat lagi untuk mendapatkan banyak uang,” kata Song sambil menutup pintu kamar Ren.


Ren menganggukkan kepalanya. Lalu dia kembali melanjutkan lamunannya. Lama dia duduk dibalik jendela. Kepalanya disandarkan pada tembok dibelakangnya. Tanpa sadar dia jatuh ke alam mimpi.


Brug!


Kakinya terperosok ke dalam tumpukan abu. Dia memandang sekelilingnya. Yang ada hanyalah lautan abu yang menghampar, kering dan berdebu. Di kejauhan nampak ada lubang-lubang dan kawah yang mengeluarkan panas. Tempat apa ini? Suhunya lebih tinggi daripada suhu Korea


Tidak nampak ada pepohonan, bahkan rumputpun tidak mau tumbuh. Matahari terasa begitu dekat dan begitu besar. Mungkin tiga kali lipat matahari yang biasa dia lihat selama ini. Bersinar gagah menggantung di langit yang hitam, tanpa awan. Tidak ada siapapun atau makhluk apapun disekitarnya. Ah, tempat ini aneh tapi anehnya dia tidak merasa asing disini.


“Hai!” teriaknya. Berharap ada seseorang yang mendengar dan memberitahunya tempat apa ini.”Hai!” suaranya bergema dan memantul kearahnya lagi.


Perlahan Ren melangkahkan kakinya diatas tumpukan abu yang panas dan berdebu. Lalu seperti terdengar bisikan di telinganya.


“Ini adalah rumahmu.”


Ren terloncat kaget. Suara renyah yang sangat dia rindukan.


“Pranaja?” ujarnya.


Dia menengok kesana kemari mencari pemuda yang selalu mengisi hatinya itu, tapi tidak ada siapapun.


“Pranajaa!” teriaknya dengan sekuat tenaga.


Bibirnya bergetar saat menyebut nama pemuda itu. Dadanya terasa begitu sesak. Hampir saja dia menitikkan air mata, saat dia merasa seperti ada tangan yang menggoyang pundaknya.


“Ren, bangunlah!”


Ren membuka mata. Tampak Song sedang menatap wajahnya penuh rasa cemas.


Ren mengusap-usap matanya. Ah, ternyata dia cuma mimpi bertemu Pranaja.


“Setelah itu kamu mandi ya. Ingat kita akan tampil di taman kota pagi ini.”


Ren menepuk dahinya. Baru ingat kalau dia dan Song berencana untuk tampil di taman kota. Setelah menjalankan proses karantina selama lima bulan, akhirnya Ren mendapat izin tinggal di Korea Selatan. Berbeda dengan kakaknya Ryong, karena pernah menjadi anggota militer Korea Utara, maka saat membelot ke Korea Selatan, dia harus menjalani proses asimilasi lebih lama. Dia juga tidak tahu dimana kakaknya berada.


Setelah minum dua gelas air putih, segera dia menyambar handuk dan lari ke kamar mandi. Tidak sampai lima menit dia sudah keluar lagi dengan rambut yang masih basah. Dikeringkannya rambutnya dengan hair dryer. Lalu memakai pakaian bela dirinya. Pagi ini mereka akan mengamen di pusat kota, dengan mempertunjukkan keahliannya bermain pedang. Satu-satunya keahlian yang dapat dia lakukan untuk bertahan hidup di negeri asing.


***


Ren berdiri tegak di tengah tanah lapang itu. Matanya di pejamkan, dan bibir indahnya terkatup rapat. Rupanya dia sedang memusatkan pikirannya, sesuai perintah Song. Orang-orang yang sedang menonton pertunjukkannya terdiam membeku, wajah mereka masih menyiratkan rasa penasaran.


“Sebagai pendekar pedang, kau harus memiliki kecepatan, sampai musuhmu tak bisa melihatmu” kata Song memberi kata pengantar setiap gerakan Ren.


Tubuh Ren berlari cepat ke depan, lalu melompat dan bersalto diudara. Bayangannya berkelebat secepat angin. Orang-orang bahkan tidak bisa melihat gerakannya.


“Woa..” gumam para penonton serempak.


Banyak orang yang baru pertama kali melihat atraksi yang dilakukannya. Tubuh tinggi ramping itu bersalto dan berputar di udara. Mulut penonton malah sudah melongo sejak Ren berjalan ke tengah ruangan tadi. Mengagumi kecantikannya.


“Antara gerakan yang pertama dengan gerakan selanjutnya harus ada keserasian,” ujar Song lagi.


Pedang di tangan Ren disapukan ke kanan dan kekiri, keatas dan ke bawah. Menyapu, menangkis dan menusuk. Sinar yang ditimbulkan karena pantulan sinar lampu yang mengenai pedang itu begitu menyilaukan, seperti sebaran pita putih, membentuk lingkaran-lingkaran bayangan.


“Ketepatan dalam setiap sasaran adalah hal yang mutlak di butuhkan,” sambung Song,”Artinya kau harus memiliki tingkat konsetrasi yang tinggi, dibarengi kekuatan dan ketepatan menusukkan pedangmu supaya tepat sasaran.”


Kaki Ren berputar di udara kemudian tubuhnya meliuk sambil melontarkan tinju yang panjang (Chang Quan) ke depan. Kepalan tangannya menabrak dinding udara dan kecepatannya menimbulkan suara gesekan angin yang mengalir cepat…wuass!... wuss! dab!


“Dan yang tidak boleh kau lupakan, Pendekar pedang selalu mengedepankan keindahan dalam setiap gerakannya. Karena hakikat dari permainan pedang adalah keharmonisan antara hati dan pikiran, jiwa dan raga,” Song mengakhiri kalimatnya.


Ren berdiri tegak, mengatur nafasnya perlahan. Kemudian dia mulai bergerak kembali. Di awali dengan pukulan tangan kedepan, badan sedikit membungkuk lalu dengan cepat tubuhnya berputar sambil meluncurkan pukulan, tangkisan dan tendangan. Seluruh tubuhnya bergerak dalam suatu kombinasi yang serasi, tepat dan begitu indah untuk dilihat.


Lalu dalam sekejap, tubuhnya di selubungi larikan sinar pedangnya yang menyilaukan. Tiba-tiba Song melemparkan tongkat kayu yang ada di sampingnya. Begitu mendekati tubuh Ren, kilatan pedang itu langsung menyelubungi tongkat itu. Lalu Ren menarik dan mengangkat pedangnya ke udara. Tongkat itu sepertinya masih utuh saat di udara, tapi begitu jatuh ke tanah langsung terpotong menjadi beberapa bagian.


Prak! Prol!


Beberapa saat suasana menjadi hening. Orang-orang menatap Ren dengan mata melotot. Gadis itu menurunkan pedangnya. Kulit wajahnya yang bening tampak memerah karena kelelahan. Lalu dia berlari dan berdiri di sudut kerumunan sambil membungkuk memberi hormat.


Plok! Plok! Plok!