DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 65 TEMPAT SEMBUNYI


EPS 65 TEMPAT SEMBUNYI


Walaupun Akira terlihat gembira bermain bersama badut lucu di pantai Eurwangni bersama teman-temannya, tapi lama-kelamaan dia merasa bosan juga. Ah, rasanya lebih asyik bermain bersama kak Ryong. Dia bias main kuda-kudaan,mebuat istana pasir, main laying-layang, main bola dan permainan lainnya. Kalau main dengan badut, seharian hanya menyanyi dan menyanyi. Hal yang membuatnya cepat bosan.



“Kakak!” teriaknya memanggil Andini yang sedang memejamkan matanya di sebuah kursi panjang.


Andini langsung membuka matanya.


“Ada apa Akira? Apa badut itu sudah pergi?” tanya Andini.


Bocah sembilan tahun itu menggelengkan kepalanya.


“Belum. Tuh masih disana,” sahutnya sambil menunjuk sang badut yang sedang berjoget.


Andini mengarahkan pandangannya, melihat badut itu masih bernyanyi riang sambil berjoged bersama teman-teman Akira.


“Kenapa kamu berhenti? Kamu lapar?”


Akira meggelengkan kepalanya kembali.


“Tidak kakak. Aku hanya kangen sama kak Ryong.”


Andini tertegun. Ternyata Akira merasakan kerinduan yang sama kepada Ryong.



“Apa kakak membawa ponsel?”


“Tentu saja bawa sayang. Ini hal paling penting dalam hidupku,” ucap Andini. “Memangnya ada apa?”


“Hubungi kak Ryong, minta dia datang kemari”


“Apa?”



Andini terkesiap kaget, tapi wajah Akira terlihat memelas. Lalu dia mengambil kembali handphonenya dan menghubungi Ryong Bae. Terdengar bunyi nada getar sebuah ponsel. Anehnya, suaranya tidak jauh dari posisi Andini sekarang. Gadis itu mengernyitkan keningnya. Dia langsung mengangkat teleponnya begitu terlihat Ryong menerima panggilannya.



“Hello. Andini’s speaking,” sahutnya.


Tapi jawaban Ryong sungguh mengejutkan dirinya.


“Andini, cepat matikan teleponnya!”



Andini terkesiap. Dia langsung menoleh ke arah sang Badut, yang juga sedang memegang ponsel di telinganya. Badut itu menganggukkan kepalanya, seolah sedang memberi keyakinan pada Andini.



“Ryong?...Kau..”



Andini langsung tanggap. Gadis itu langsung mematikan ponselnya. Badut itu berjalan tergesa menghampiri Andini dan Akira. Bahkan dia langsung berjongkok di depan Akira sambil tersenyum lebar.



“Akira, ini aku, Ryong,” sapanya ramah.


Melihat senyum itu, Akira langsung mengenalinya.


“Kak Ryong!”


“Ssstt! Jangan berbicara terlalu keras anak pintar,” kata Ryong.



Tangan kanannya mengangkat tubuh Akira dalam gendongannya, sementara tangan kirinya memegang tangan Andini dan mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu.


“Ayo, Andini. Kita harus meninggalkan tempat ini secepatnya?”


Andini menurut saja ketika tangan kekar itu menyeret tangannya. Ada perasaan tak menentu yang memenuhi hati gadis itu. Ini pertama kalinya tangannya di pegang erat oleh laki-laki. Dan kebetulan laki-laki yang pertama menyentuhnya adalah sosok yang sedang dia rindukan di pantai ini.



“Kenapa Ryong,” tanya Andini sambil berjalan.


“Aku akan menjelaskannya nanti Andini,” ujar Ryong.



Tanpa menoleh sedikitpun ke wajah gadis itu, Ryong terus menarik tangan Andini. Kadang mereka berjalan cepat, kadang mengendap-endap seperti sedang bermain petak umpet. Bahkan mereka sempat berhenti di balik tempat sampah besar selama beberapa saat. Tanpa suara, tanpa kata-kata. Hanya dengus nafas Ryong yang terdengar menghembus keras wajah Andini.



Gadis itu tidak tahu, tindakannya menghubungi ponsel Ryong membuat pemuda itu mengaktifkan ponselnya. Dan itu cukup untuk Josephine Conan mengendus keberadaannya. Sinyal telepon Ryong yang aktif langsung tertangkap mesin pencari data milik agen swasta yang disewa Lee Min Ho untuk membawa Ryong Bae ke hadapannya.



“Bos! Sinyap ponselnya aktif,” teriak salah satu anak buahnya dari depan layar monitor besar di ruangan itu.


Josephine segera berlari menghampirinya.


“Tandai posisinya Jun.”


“Dia ada di pantai Eurwangni, pantai di dekat bandara internasional Incheon, Seoul!”



Josephine langsung memberikan perintah kepada seluruh anak buahnya di jalan untuk bergerak menuju pantai Eurwangni. Pantai yang begitu cantik dan damai. Pasirnya padat dan airnya dangkal sehingga banyak anak-anak yang bermain di sana. Namun kurang diminati para pelancong dalam dan luar neegri.




Ryong dan Andini sudah berada di pintu keluar dari pantai, saat mobil-mobil detektif swasta itu berkejaran masuk ke dalam lokasi pantai Eurwangni. Ryong langsung berjongkok diikuti Andini dan Akira dibalik tembok tempat sampah. Begitu mobil-mobil itu lewat, terlihat wajah Ryong sedikit lega. Dia langsung membuka baju badutnya dan dimasukkan ke dalam tempat sampah. Di tetap tidak akan mudah dikenali karena wajahnya masih coreng moreng.



Ryong masih tetap membopong Akira dan menggandeng tangan Andini, seolah tidak ingin melepaskannya. Mereka terus berjalan menyelinap diantara keramaian. Beberapa orang sempat tersenyum geli meihat wajah Ryong. Namun pemuda it uterus berjalan sampai di pool taksi. Dengan sebuah taksi, Ryong mengajak Andini ke flat kecil yang disewanya.



“Inilah tempat tinggalku Andini. Kecil dan sumpek,” ujar Ryong dengan wajah malu.


“Bolehkan aku meminta sesuatu?” sahut gadis itu.


Ryong menganggukkan kepalanya.


“Katakan saja Andini. Mudah-mudahan aku bisa mewujudkannya.”


“Kenapa kau masih saja memegang tanganku, kalau kita sudah sampai di rumahmu?”



“Apa?”


Ryong terkesiap kaget mendengar kata-kata Andini. Ini untuk kedua kalinya dia memegang tangan gadis itu dan lupa melepaskannya. Buru-buru dia melepaskan tangan lembut gadis yang mulai mengisi hari-harinya itu.



“Eh, maaf Andini. Aku lupa lagi,” Ryong tergagap.


Andini hanya tersenyum tipis, Tapi ada semburat merah di garis wajahnya yang bening. Ryong mengajak Andini dan Akira masuk ke dalam flatnya. Walaupun kecil tapi terasa luas dan bersih. Ryong benar-benar pintar mengatur interior rumahnya.



“Ryong, kau belum menceriterakan apa yang terjadi denganmu. Aku jadi merasa takut,” ujar Andini mengungkapkan pertanyaan yang sedari tadi mengusik hatinya.



Ryong lalu menceriterakan kalau sejak pagi banyak orang-orang ‘asing’ yang mengawasi setiap sudut kota. Sebagai mantan perwira di angkatan bersenjata Korea Utara, di hapal betul dengan pola pergerakan intelijen. Dia khawatir kalau orang-orang asing itu adalah agen-agen Kore Utara yang sedang memburu dirinya dan adiknya Ryung Nae.



“Karena itulah aku menyuruhmu mematikan ponsel. Dan benar saja banyak detektif swasta yang datang ke Eurwangni kan?”



Andini menganggukkan kepalanya. Ternyata insting Ryong tidak melenceng. Orang-orang asing itu memang sedang mengincar dirinya.



“Kita butuh tempat persembunyian baru Andini,” ujar Ryong dengan cemas.


“Kau bisa bersembunyi di rumahku Ryong.”


“Maksudmu, rumah bosmu?”


“Bukan, rumahku sendiri?’


“Oh ya? Dimana?”


“Indonesia.”



What? Bibir Ryong sampai melongo. Tapi kemudian pemuda itu menggelengkan kepalanya.


“Tidak. Aku tidak akan meninggalkan Ren sendirian disini.”


“Siapa bilang Ren masih disini?”


Ryong terkesiap kaget.


“A..apa maksudmu Andini.”



“Siapa tahu Ren sudah dibawa Pranaja ke Indonesia. Sudah sekian lamanya kau mencari adikmu di Seoul, tapi tidak ketemu kan? Padahal Seoul bukan kota yang begitu luas, maksudku luasnya masih kalah dengan Jakarta.”



Ryong terdiam. Ren ada di Indonesia? Masuk akal juga. Dia yakin dengan kemampuan dan cinta yang dimilikinya, Pranaja akan menjaga Ren seutuhnya.



“Bagaiman Ryong? Kau mau ke Jakarta?”


Ryong menganggukkan kepalanya.


“Baiklah. Tapi bagaimana dengan Akira?”


“Kita akan membawanya. Aku sudah biasa membawanya pulang ke Indonesia. Toh papa dan mamahnya ada di Singapura saat ini,” jelas Andini.



Ryong menatap wajah Andini dalam-dalam. Ah, banyak kata yang ingin dia ucapkan, tapi mengapa mulutnya seperti terkunci?



“Oke!”



Itu saja…hehehe….