EPS 122 BUKAN DI TEMPAT LAIN
Rasa takut adalah musuh terbesar yang harus dikalahkan. Karena dia membuat kita menjadi ragu, tidak percaya diri dan menghambat upaya kita menunjukkan potensi secara optimal. Maka musuh terbesar dalam hidup kita adalah mengalahkan rasa takut agar tak selalu menyelimuti hati. Tabuhlah gendering perangmu, lalu berteriaklah senyaring mungkin. Sampai musuh merasa gentar dan tak lagi jumawa menghadapimu.
Dengan penuh waspada, Ron Muller dan ratusan pengawal dan tentara bayaran anak didik kakaknya bergerak serentak menaiki bukit Kethileng. Mereka adalah pasukan yang terlatih menaklukkan medan tempur yang paling sulit sekalipun. Dengan kemampuan menyelinap dan menyamar bagaikan siluman mereka bergerak tanpa suara sampai ke puncak bukit dan mengamati pemandangan menakjubkan Megapolitan City yang terhampar di bawahnya.
Tiba-tiba terdengar teriakan suara burung hantu memecah keheningan hutan, dari jauh sayup-sayup terdengar suara musik traditional. Suara gong, kendang, disusul suara kenong dan krompyang menyatu membentuk suara gamelan. Semakin lama suara itu semakin keras dan begitu dekat. Ron dan anak buahnya sampai harus menengok kesana kemari mencari sumber suara.
Seingatnya tidak ada seoramgpun yang ditemuinya di hutan ini, lalu siapa yang sedang menabuh alat musik Jawa ini? Ron menggelengkan kepalanya. Pikirannya terlalu naïf untuk mempercayai hal-hal ghaib semacam itu. Tanpa mempedulikan alunan gamelan itu, mereka terus bergerak menuju puncak bukit. Mereka ingin menilai keadaan di Megapolitan dari puncak Kethileng, sebelum melakukan serangan.
Menjelang pagi, sampailah mereka semua di puncak bukit. Di puncak bukit Kethileng inilah terletak hamparan hijau hutan Kecipir. Hutan yang begitu dikeramatkan oleh warga desa Jalatunda. Sehingga disebut juga hutan larangan. Ron meminta mereka tetap menyembunyikan dirinya sampai ada perintah selanjutnya. Lalu mendadak seperti ada hawa panas yang membakar kulit dan pepohonan di sekitarnya.
‘Wush!’
Dan langit menjelang pagi itu mendadak memerah. Segumpal nyala api sebesar gubuk melesat cepat di atas hutan Kecipir menuju sendang Kumitir. Terang warna api yang panas terasa membakar kulit dari jarak puluhan meter. Pepohonan di hutan kecipir seperti meranggas tiba-tiba. Berubah menjadi hitam dan berasap. Padahal gumpalan cahaya api itu hanya melewatinya.
“Aaargh!”
Puluhan anak buah Ron Muller yang bersembunyi di balik kerimbunan pepohonan itu ikut meregang nyawa tubuh hitam terpanggang. Sebagian lainnya tewas dengan luka bakar yang sangat serius, karena daya bakar panas api itu meresap sampai ke sumsum tulangnya. Sebagian besar lainnya yang beruntung harus berlarian kesana kemari mencari tempat perlindungan yang lebih teduh.
“Apa itu Fritz? Senjata macam apa itu?” tanya Ron ditengah rasa terkejutnya.
Fritz terdiam memandang sahabatnya Koln yang juga terlihat kebingungan. Mereka belum pernah menemui senjata dengan efek panas sedakhsyat itu.
“Eh, kenapa kalian malah tertegun seperti orang kebingungan?” tanya Ron.
“Aku belum pernah melihat senjata dengan efek panas sedahsyat itu Ron. Kalau roket penghancur malah aku pernah menggunakannya,” sahut Koln.
“Kalau itu senjata, berarti keberadaan kita sudah diketahui Pramono?” tanya Fritz.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Fritz. Mereka akhirnya terdiam, bermain dengan pikirannya masing-masing. Ada sedikit rasa ragu dan bimbang yang mendadak menggelayuti hati dan perasaan mereka. Benar juga kata Fritz, kalau itu benar-benar senjata, berarti keberadaan mereka telah diketahui musuh. Tapi kalau efek panas itu bukan senjata, lalu energi apa yang telah menyebabkan puluhan anak buahnya meregang nyawa?
“Aku jadi teringat buku catatan kakakku, kalau hutan Kethileng adalah hutan yang sangat angker. Banyak terjadi hal-hal aneh diluar daya nalar kita,” gumam Ron.
Fritz dan Koln saling berpandangan.
“Maksudmu kekuatan panas tadi bisa jadi merupakan kekuatan supranatural?” tanya Fritz.
Ron mengangguk tidak yakin. Nampak keraguan membayang di wajahnya.
“Apa yang akan kita lakukan Ron?” tanya Koln.
Ron menghela napas kasar, kelihatan dia berusaha rasa takut di dalam hatinya.
“Kita harus berhenti sejenak sambil mengamati segala sesuatunya. Perintahkan teman-teman yang lainnya agar tidak bergerak lagi. Jangan terpisah, saling melindungi dan bersikap waspada,” ujarnya.
Fritz dan Kolm menganggukkan kepalanya. Mereka segera memberi kode stand by, agar pasukan mereka tetap bersembunyi dan saling melindungi. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk menilai keadaan. Karena sebentar lagi fajar menyingsing di ufuk timur dan matahari akan segera keluar dari peraduannya.
***
Di atas sendang Kumitir, Banaspati masih duduk membeku dalam keterkejutannya. Dia masih tak yakin dengan pendengarannya. Walaupun dia percaya kalau Ken Darsih adalah anak Miryam, melihat kemiripan wajahnya, tak urung kata-kata gadis itu membuatnya seperti mendengar petir di siang bolong. Untuk sesaat bahkan jantungnya berhenti berdetak.
“Kenapa kau terdiam Banaspati. Apa yang telah dilakukan Miryam terhadapmu sehingga kau seperti siluman linglung?” tanya Nagaraja.
Banaspati menggelengkan kepalanya.
“Hm. tentu saja. Pasti ada pesan yang dia sampaikan kepadaku kan?”
Banaspati menganggukkan kepalanya.
“Sekarang katakan padaku apa pesannya.”
“Miryam mengirim salam kepada Nyai dan berpesan agar Nyai tidak menjadi pecundang, dan supaya datang sendiri menghadapinya.”
Ssshh!
Bibir Ken Darsih langsung mendesis. Mendadak wajah cantiknya berubah menjadi ungu, pertanda dia sedang berada di puncak kemarahannya. Giginya terdengar bergemeretak, kuku-kuku jarinya berubah hitam dan memanjang. Penuh racun tingkat tinggi yang akan langsung membunuh musuhnya dalam keadaan gosong walau hanya tergores kulitnya saja. Asap tipis keluar dari ujung kepalanya. Miryam benar-benar telah merendahkannya!
“Kurang ajar! Aku akan menyumpal mulut perempuan itu dengan kesombonganya sendiri. Dia akan menyesali dirinya yang telah menghina kemampuanku!”
Tubuhnya langsung berdiri tegak dan siap melayang pergi menuju Pesantren Kesatryan Santri, tapi lagi-lagi Nagaraja mengingatkannya untuk tidak menuruti nafsu amarahnya. Ekor siluman naga itu menghalangi langkah Ken Darsih agar tidak meninggalkan bukit Kethileng.
“Jangan terpancing omongan Miryam, Nyai. Kalau kau datang kesana, sama saja ku melakukan tindakan bunuh diri!” teriak Nagaraja.
Ssshh!
Ken Darsih mendesis sekali lagi. Lidahnya yang memanjang dan bercabang itu keluar masuk mulutnya dengan cepat. Pandangannya tajam menatap sang Raja siluman naga.
“Tidak ada seorang manusiapun yang akan selamat karena berani menghina Nyai Ken Darsih, senapati perang Kerajaan Laut Kidul!”
“Tapi kalau kau ke sana malah akan merugikan dirimu. Karena itulah yang mereka inginkan untuk menjebak dirimu.”
“Apa maksudmu?”
“Kita akan menunggu Miryam disini. Bukit Kethileng adalah rumahmu, sendang Kumitir adalah pelindungmu. Kau akan menghadapi Miryam satu lawan satu di sini, di rumahmu sendiri, bukan di tempat lain.”
Ken Darsih terdiam, merenungkan kata-kata bijak itu. Dan dia tahu, selama ini kata-kata Nagaraja selalu terbukti kebenarannya. Ya, dia akan menunggu, menghadapi Miryam dalam pertarungan hidup mati di rumahnya sendiri.
Bukan di tempat lain.