EPS 85 NAGARAJA BARUKLINTING
“AARGGH!!!”
Dandung terkesiap kaget, sementara Ken Darsih langsung melompat ke udara, lalu mendarat di atas pucuk pohon tertinggi. Tubuh indahnya berdiri gagah. Pandangannya di lempar jauh, mencari sumber suara. Jelas tadi dia mendengar suara naga yang menggeram marah, tapi itu bukan suara ibunya. Ibunya sudah mati dibunuh Miryam, bahkan sukmanya pun sudah dihanguskan oleh pendekar yang belum dia ketahui siapa namanya.
Suara itu jauh dari bukit Kethileng, dan berasal dari deretan perbukitan utara pulau Jawa. Tapi suara itu terdengar begitu gamblang di telinganya. Bahkan Dandung yang tidak memiliki kekuatan supranatural pun bisa mendengarnya dengan jelas. Walaupun dia belum bisa membedakan, suara yang ia dengar tadi suara auman harimau atau singa? Atau bukan suara keduanya, karena memang terdengar lebih mengerikan.
“Seperti suara binatang buas yang menggeram, tapi itu bukan Singa atau Harimau. Lalu suara apa itu, makhluk jadi-jadian?” batin Dandung sambil mengamati tubuh Ken Darsih yang berdiri di pucuk daun yang paling tinggi tanpa goyah sedikitpun.
Perwira muda itu langsung waspada. Dia mempersiapkan revolvernya kembali. Walaupun hanya manusia biasa, tapi Dandung adalah prajurit terlatih yang siap menghadapi situasi apapun. Termasuk peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar daya nalarnya. Dan dia akan melindungi Ken Darsih dengan nyawanya, meski dia tahu gadis setengah siluman itu tidak membutuhkan bantuannya.
“Wush! Wrrr! Siuut!”
Krak! Kretek! Brak! Bum!
Mendadak angin berhembus kencang, mengayunkan dahan dan ranting ke segala arah. Menerbangkan debu dan dedaunan kering, tinggi ke udara. Menyeret tubuh Dandung beberapa langkah ke belakang. Untunglah pepohonan di hutan kecipir begitu rapat, sehingga kedua tangannya yang kekar dapat berpegangan diantara keduanya. Beberapa dahan dan ranting patah dan bertumbangan jatuh ke bumi.
“Ken Darsih!” teriaknya.
Pemuda itu sudah tidak lagi melihat Ken Darsih di tempatnya. Pucuk pohon dimana tadi dia berdiri sudah kosong. Tak ada siapapun di sana. Dandung menebarkan pandangannnya ke setiap sudut diatas. Tapi tubuh gadis itu seperti hilang terbawa angin, pergi dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat mata manusia biasa. Lalu kemana perginya?
Mendadak angin berhenti berhembus. Segala keributan dan kegaduhan yang barusan terjadi, seolah hilang begitu saja. Suasana menjadi hening dan sepi. Tidak terdengar suara apapun, kecuali dengus napas Dandung yang memburu. Kedua bola matanya berputar liar mencari gadis pujaanya, tapi tidak ketemu juga.
“Ken Darsih! Dimana kamu!” teriaknya sekali lagi.
Suaranya yang tinggi terdengar menggema, mengisi sudut-sudut hutan yang kosong. Lalu memantul kembali dan tertangkap oleh telinganya sendiri. Sesudah itu sepi lagi. Dandung terperangkap dalam suasana sunyi yang sangat menegangkan. Detak jantung terdngar lebih rapat dan lebih keras. Rasa khawatirnya terhadap nasib Ken Darsih membuat wajahnya mengeras.
“Aku tidak akan mengampuni makhluk apapun yang berani menyakiti kekasihku,” batinnya.
“HRRRGH!”
Suara itu terdengar lagi, lirih, lebih seperti dengusan nafas. Kali ini persis di belakangnya. Tubuh Dandung otomatis meloncat, sampai terguling ke tanah dan menabrak batang pohon besar. Dia langsung berbalik, wajahnya terkesiap luar biasa saat melihat makhluk raksasa yang baru pernah dijumpainya.
“What! ….What kind of creature is that?”
Di depannya muncul kepala makhluk yang sangat mengerikan sebesar rumah. Sosoknya mirip kepala monster yang sering dia lihat di komik-komik Mangatoon. Mulutnya menganga, memperlihatkan empat buat taring seperti cula badak yang sangat tajam. Lidahnya yang bercabang terjulur keluar masuk ke dalam mulutnya. Dua buah bola matanya berwarna merah darah, menatap tajam tubuh Dandung. Ada surai emas yang menghiasai kepalanya yang bermahkota.
Lebih terkejut lagi dia melihat tubuh Ken Darsih duduk diantara dua lubang hidungnya. Dia sama sekali tidak terlihat takut atau khawatir. Bahkan tersenyum akrab, seolah sudah mengenal monster dalam wujud nyata tersebut. Diusap-usapnya kepala monster itu dengan lembut.
“Dandung,” panggil Ken Darsih.
Dandung tak langsung menjawab. Dia malah menodongkan revolvernya ke arah monster itu.
“Ken…Darsih. A..apa yang sedang kau lakukan?”
Ken Darsih tersenyum.
“Hrrrggh..”
Monster itu menggeram lagi. Lidahnya yang berwarna hitam menyentuh tubuh Dandung. Pemuda itu langsung melompat ke belakang. Tapi lidah itu terus memburunya, Bahkan membelit seluruh tubuhnya dengan kuat. Lalu mengangkatnya ke udara dan mendudukkannya di belakang Ken Darsih. Dandung mencoba meronta, tetapi kekuatannya bukan tandingan lidah Nagaraja.
‘Ugh..Ugh..Ugh..Huft..!’
Ken Darsih membalikkan tubuhnya. Kedua tangannya memegang kuat kepala Dandung. Lalu ditatapnya wajah pemuda tampan itu.
“Tenang Dandung. Tatap mataku dalam-dalam.”
Dandung tidak bisa lagi mengerakkan tubuh dan kepalanya. Matanya menatap mata Ken Darsih dalam-dalam. Seperti melihat sendang Kumitir yang sejuk di dalamnya. Perlahan hati perwira muda itu menjadi tenang. Nafasnya yang terdengar memburu mulai melambat. Matanya mulai meredup, dan rahangnya melembut.
“Lepaskan lilitanmu Nagaraja!” perintah Ken Darsih.
Walaupun Nagaraja Baruklinting adalah kakak kandung Nyai Nagabadra, dan raja dari seluruh siluman Naga yang menguasai beberapa bukit dan gua di tanah Jawa. Tapi Ken Darsih adalah panglima perang kerajaan Laut Kidul di wilayah Darat. Artinya segala jenis jin dan siluman berada di bawah perintahnya.
“Baik, Nyai!” sahut Nagaraja.
Perlahan dia melepaskan lilitannya. Dan membiarkan Dandung duduk berhadapan dengan junjungannya.
“Tenang Dandung. Hiruplah nafasmu dalam-dalam untuk memulihkan kekuatanmu,” ucap Ken Darsih lembut.
Dandung menghirup nafas dalam-dalam. Lalu menghempaskannya ke udara.
“Huft!”
Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, menghilangkan rasa terkejutnya. Sebelum kembali memandang wajah ayu Ken Darsih.
“Ken Darsih. Kau selalu mengejutkan aku,” katanya.
Ken Darsih tersenyum.
“Kau sudah tidak takut lagi?”
Dandung menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak pernah takut kepada siapapun. Aku hanya mengkhawatirkan keselamatanmu.”
Ah, manis sekali kata-kata Dandung. Di saat-saat seperti itu masih saja bibirnya mengeluarkan kata-kata romantis. Ken Darsih yang masih lugu itu sampai malu mendengarnya. Terlihat semburat merah jambu memenuhi wajahnya yang bening sempurna. Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya, membelakangi Dandung kembali. Betapa Dandung ingin memeluk tubuh sempurna itu, tapi dia merasa ragu.
“Hrrrgh…”
Suara geraman Nagaraja menyadarkan Dandung. Dia hanya menghela nafas, menahan hasratnya.
“Ken, kau tadi mengatakan Nagaraja Baruklinting penguasa bukit Rawa Pening?”
Ken Darsih menganggukkan kepalanya, membenarkan kata-kata pemuda itu.
“Setahuku, Rawa Pening itu sebuah danau bukan sebuah bukit.”
“Kau benar. Rawa Pening itu memang sebuah danau. Tapi di dalam danau itu ada sebuah bukit dimana Rajanaga tinggal. Pada jaman dahulu, bukit itu terendam oleh banjir bandang hingga tenggelam dan terbentuk menjadi danau.”
Dandung mengangguk-anggukkan kepalanya. Saat masih SD gurunya pernah menceritakan tentang Nagaraja Baruklinting dan asal usul Rawa Pening.
Tapi itu kan hanya sebuah dongeng?