EPS 57 RINDU DI ATAS DENDAM
Rinduku bagai sembilu. Kenangan bersamamu membuatku tersedu. Karena rasa sakit yang menyergapku, tak bisa menghapus bayangmu. Dan dalam rindu yang terpatri di tiap sudut jiwaku, ada dendam yang tumbuh menggebu. Walaupun aku tahu, untuk menyakitimu, aku tidak akan pernah mampu. Karena cinta ini, telah membunuhku.
Dandung tersenyum sendiri mengingat pertemuannya dengan ‘bocah nakal itu’. Anak seusia itu memang sedang mengalami pubertas, mudah tertarik dengan lawan jenis dan belum memiliki kriteria yang jelas tentang pasangan yang ingin dimiliki. Saat dirinya seusia Pranaja, mungkin pacarnya jauh lebih banyak, hehehe..
“Untung dia adik sahabatku sendiri,” batinnya.
Lalu perhatiannya kembali focus kea rah sendang Kumitir. Kakinya melangkah perlahan di pinggir sendang, lalu dia naik ke atas batu besar yang ujungnya menyorok ke tengah, sehingga dia dapat melihat dasar sendang dengan lebih leluasa. Di pandanginya setiap sudut dengan cermat, mencari sosok Ken Darsih. Namun setelah sekian lama, dia tidak dapat menemukan keberadaan gadis itu.
“Dimana Ken Darsih? Apakah dia langsung pergi begitu purnama usai tanpa menunggu kehadiranku?” batinnya. “Apa yang terjadi dengan dirinya?”
Dandung sadar, dia memang tidak tepat waktu menjemput gadis itu sesuai janjinya. Namun dia tidak pernah mengira kalau Ken Darsih akan pergi begitu saja tanpa mendengar penjelasan dari dirinya. Mendadak hatinya menjadi cemas memikirkan nasib gadis itu. Apakah Ken Darsih berhasil menyembuhkan dirinya dan pergi dengan kemarahan. Atau dia pergi begitu saja dalam keadaan tubuhnya yang masih terluka parah?
“Ken! Ken Darsih! Dimana kamu? Ini aku Dandung!” teriaknya memanggil nama gadis itu berulang-ulang.
Suaranya menggema mengisi setiap sudut hutan. Lalu terbawa angin yang sayup-sayup berhembus di udara. Di tangkap garis-garis gelombang elektromagnetik yang ditimbulkan oleh medan magnet bumi. Mengantarkannya dalam bentuk resonansi suara yang tertangkap oleh indera pendengaran Ken Darsih yang sedang dalam perjalanan untuk menemui Miryam yang baru saja melahirkan adiknya.
“Dandung?” gumam Ken Darsih.
***
Terbawa rasa dendam dan amarah, Ken Darsih langsung pergi mencari keberadaan Miryam, bahkan sebelum purnama mencapai puncaknya. Berita mengenai kelahiran adik kandungnya tepat pada malam purnama membuatnya tak sabar lagi. Apalagi tubuhnya sudah terasa cukup kuat walaupun masa penyembuhannya belum selesai. Berbekal berbagai kekuatan tambahan dari Ratu Pantai Selatan, dia cukup percaya diri menghadapi Miryam.
“Malam ini juga aku akan menuntaskan urusan kita yang belum selesai Miryam,” batinnya.
Dia tak sabar menunggu purnama usai yang tinggal beberapa menit lagi. Dengan langkah tegak dia berjalan dari dasar sendang menuju kea rah batu besar. Luar biasa, walaupun telah merendam tubuhnya selama lima purnama, namun baju yang dipakainya terlihat tidak basah sama sekali. Di atas batu besar itu dia berhenti sejenak.
“Terakhir kali aku bertemu Miryam, saat aku bertarung dengannya di atas sebuah bangunan yang sangat tinggi. Dan letaknya cukup jauh dari sini. Aku harus naik burung besi untuk sampai ke tempat itu,” pikirnya.
Ingatannya melayang kembali saat bertarung dengan Miryam di atap gedung Menara Subrata’s yang ketinggiannya lebih dari 250 meter. Dia juga ingat dia datang ke tempat itu dengan menyusup ke dalam sebuah helikopter bersama Blade Muller dan anak buahnya yang baru saja mengakhiri kontrak kerjanya dengan Megapolitan Intercorp
Ken Darsih masih berdiri tegak di atas batu besar itu. Dia mencoba mencari keberadaan Miryam lewat indera penciumannya yang tajam. Beberapa kali lidahnya terlihat menjulur keluar. Kebiasaan bangsa ular mendeteksi keberadaan musuhnya lewat sensor panas yang terletak di bawah lidahnya. Maka dia sering menjulurkan lidahnya untuk mendeteksi tubuh manusia sebagai makhluk yang berdarah panas.
“Hm, ternyata Miryam sudah tidak ada digedung tinggi itu lagi. Tapi telah berpindah ke tempat yang jauh dari keramaian, sebuah tempat suci yang dimiliki seorang lelaki berjubah putih,” batinnya, mengacu pada pesantren milik Kyai Badrussalam.
“Tidak ada waktu untuk menunggu lebih lama lagi. Sebelum bayi itu tumbuh besar dan merepotkanku, lebih baik aku habisi sekarang saja, bersama ibunya,” gumamnya.
Setelah memantapkan hatinya, kedua kakinya langsung menhentak, menerbangkan tubuhnya ke udara. Melayang tinggi lalu turun lagi dan hinggap di atas pohon Ara yang cukup besar.
“Tunggulah kematianmu Miryam, malaikat mautmu akan segera nenjemputmu,” gumamnya.
Setelah itu tubuhnya melayang lagi, diiringi suara teriakan yang cukup keras.
‘Heyaa!’
Sesaat kemudian tubuh gadis bidadari terlihat melayang-layang di udara. Kadang turun sejenak untuk menjakkan kakinya di pucuk dedaunan, lalu melompat tinggi lagi. Memakai celana panjang dan kaos hitam, ditutup dengan kardigan berwarna putih, kecantikannya semakin terlihat. Apalagi saat terbang di udara, dan kardigannya berkibar-kibar bagaikan kelebat pahlawan super yang ada di komik-komik Mangatoon.
Namun belum ada setengah perjalanan, mendadak dia seperti mendengar suara yang memanggil-manggil namanya. Suara pemuda yang diam-diam dirindukannya selama lima purnama. Dan entah kenapa suara itu mampu mendinginkan suasana hatinya yang sedang diliputi kemarahan.
“Ken! Ken Darsih! Dimana kamu? Ini aku Dandung!” suara itu terus memanggil namanya berulang-ulang.
Suara itu dibawa gelombang udara yang datang terus menerus menusuk gendang telinganya. Menggugah hatinya dan wajahnya langsung terkesiap.
“Dandung?” gumamnya.
Tubuhnya yang saat itu sedang melayang-layang di udara, langsung mendarat diatas sebuah dahan pohon besar. Suara Dandung, orang pertama yang mengusik rasa rindunya, begitu menusuk gendang telinganya. Dan Dia tahu kalau pemuda itu sedang mencarinya di puncak bukit Kethileng. Untuk sesaat hatinya menjadi bimbang, namun ada senyum yang terbentuk di sudut bibirnya.
“Dandung?” ucapnya sekali lagi, seperti tidak percaya dengan pendengarannya. “Kau datang mencariku?”
Untuk sesaat dia berdiri terpaku. Hatinya begitu bimbang antara menuntaskan dendam kesumatnya atau menemui pemuda yang dirindukannya. Dia menghela nafas panjang berkali-kali. Mengacak-acak rambutnya yang hitam tergerai. Namun wajahnya tidak lagi menunjukkan kemarahan, dan senyumnya telah senantiasa terkembang. Apalagi suara pemuda itu terdengar mengetuk ruang rindunya tanpa jeda.
“Ken! Ken Darsih! Dimana kamu? Ini aku Dandung!”
“Ken! Ken Darsih! Dimana kamu? Ini aku Dandung!”
“Ken! Ken Darsih! Dimana kamu? Ini aku Dandung!”
Seperti kendang yang dipukul bertalu-talu, getarannya begitu menggaung Meruntuhkan segala amarah dan dendam yang mengepung. Namun layaknya kisah dalam film roman picisan, diatas dendam selalu ada rindu yang menggunung. Dan akhirnya Ken Darsih memutuskan dengan penuh keyakinan, dia akan pulang untuk menemui Dandung.