EPS 90 MEMBUANG GELISAH
Keserakahan adalah tindakan bodoh yang dilakukan orang-orang yang pintar. Yang lebih suka berburu gajah di seberang lautan, daripada membersihkan debu di pelupuk mata. Menganggap rumput tetangga lebih hijau dibanding rumput di halaman sendiri. Berdiri menantang sambil menepuk dada, mengibarkan arogansi pada layar imaji yang ternyata hanya ilusi.
Tubuh Marcon bergetar hebat, Keringat dingin mengalir begitu deras dari wajah dan ujung rambutnya. Tembok keangkuhan yang selama ini menyelimuti citra dirinya sebagai pengusaha milenial paling prospektif telah runtuh. Intuisi bisnisnya yang selalu cemerlang mendulang dolar, kini hancur berantakan. Seperti elang yang sayapnya mendadak patah, lalu meluncur dan berdebum jatuh ke bumi.
Di istananya, Marcon masih merutuki kebodohannya. Penampilannya betul-betul berantakan. Beberapa botol vodka yang sudah kosong berserakan dimana-mana. Situasi kini berbalik. Marcon yang datang penuh kesombongan, kini di wajahnya terbayang kekalahan dan ketakutan. Subrata benar-benar telah membuatnya melihat kenyataan bahwa dia belum berada di level tertinggi untuk memenangkan setiap pertempuran.
“Mexican Viscom Media dan Allpanigard’s Castle adalah harga yang pantas untuk ditukar dengan Megapolitan,” ucap Subrata dengan wajah yang datar. “Itu kalau kau berniat menyelamatkan perusahaanmu, Marcon.”
“Subrataa…!” teriak Marcon dengan suara keras.
“Kau sendiri yang datang untuk menawar Megapolitan, setelah aku sebutkan nilainya, kenapa kau malah berteriak marah-marah?”
Subrata bangkit berdiri. Berjalan perlahan mendekati Marcon. Kini tubuh pengusaha dunia beda generasi itu saling berdiri berhadapan.
“Hanya ini yang bisa menyelamatkan hidupmu. Dan aku hanya menawarkan sekali.”
Marcon memandang Subrata dengan tatapan marah. Tapi dia sadar, itu adalah hal yang paling mungkin dilakukan saat ini. Mempertahankan MVM yang sudah hancur sama saja tindakan bunuh diri. Lebih baik mengelola Megapolitan yang nilainya sedang naik kembali. Atau paling tidak ada gunung emas yang bisa menyelamatkannya dari kebangkrutan.
“Baik, aku akan membayarnya tapi dengan satu syarat. Kau bisa memiliki Mexican Viscom Media dan Allpanigard Castle, tapi dengan perjanjian, aku bisa membelinya kembali suatu saat nanti,” ujar Marcon Allpanigard.
Subrata hanya tertawa, tapi bagi Marcon itu adalah seringai serigala yang siap menerkam. Harga dirinya benar-benar terhina. Mexican Viscom Media dan Allpanigard Castle adalah dua kaki yang selama ini menopang dinding keangkuhannya. Lalu apa yang akan terjadi saat kedua kakinya diserahkan kepada orang lain. Lumpuh?
“Marcon! Apa yang kau lakukan?” teriak Susan yang baru saja datang.
Ruang kerja pemuda itu sangat berantakan, botol-botol minuman dan batang rokok bertebaran dimana-mana. Tubuhnya tergeletak di atas karpet tebal yang terlihat berlubang disana-sini karena terbakar punting rokok. Susan meletakkan tasnya, lalu berjongkok di samping pemuda itu.
“Kamu mabuk dan merokok?” tanya Susan.
Walaupun menyukai pesta dan dunia malam, tapi Marcon jarang sekali minum sampai mabuk. Dia juga tidak merokok. Susan mendudukkan tubuh pemuda itu, lalu disandarkan ke kursi sudut. Mengambil segelas air putih hangat lalu meminumkannya ke bibirnya.
“Susan,” Marcon membuka matanya. “Kau datang sayang.”
Lalu pemuda itu tertawa, getir. Impiannya untuk memiliki Megapolitan telah terwujud, tapi dia tidak pernah berharap kehilangan dua asetnya yang paling berharga.
“Aku telah gagal Susan. Subrata mengalahkan aku, hehehe…”
Susan menggelengkan kepalanya.
“Sejak kapan kau menjadi pecundang Marcon? Pertempuran belum selesai, bagiku ini bahkan baru di mulai.”
Marcon terdiam.
“Kau masih bisa merebut kembali semua milikmu itu. Ingat perjanjianmu dengan Subrata.”
Susan mengingatkan kembali perjanjian Marcon dengan Subrata, bahwa di boleh membeli kembali kepemilikan Mexican Viscom Media dan Allpanigard’s Castle suatu saat nanti.
“Sekarang lupakan mereka untuk sementara. Tata ulang kembali langkah-langkahmu Marcon. Sekarang kau adalah pemilik Megapolitan. Ini lah kesempatanmu untuk memperbaiki semuanya.”
“Apa yang harus aku lakukan, Susan?”
“Belajarlah dari musuhmu bagaimana dia bisa mengalahkan kamu. Itu saja.”
Marcon masih terdiam. Perlahan bola matanya bergerak-gerak, lalu memandang perempuan yang dicintainya itu dalam-dalam. Ternyata Susan sangat perduli dengannya. Jangan-jangan benar kata Subrata.
“Susan,” panggilnya ragu.
“Ya?”
“Apakah benar kata-kata Subrata?”
“Kata-kata Subrata? Yang mana?”
“Bahwa kau juga mencintaiku?”
Deg!
Pertanyaan itu begitu menohok. Apalagi tatapan mata Marcon begitu berharap. Susan jadi salah tingkah. Dia tahu, jauh di dalam lubuk hatinya, dia juga mencintai pemuda itu. Dari dulu dia selalu menyimpan cintanya hanya untuk Marcon Allpanigard. Tapi dia juga tahu, ini bukan saat yang tepat untuknya membuka hati kepada pemuda itu.
“Jangan berpikir berlebihan Marcon. Aku memperhatikanmu karena ini adalah tugasku,” ujar Susan sambil mengalihkan pandangannya.
Lalu dia berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Ah, dia tak akan kuat menahan perasaan ini kalau masih berada di dalam ruangan Marcon.
“Mandilah dan bersihkan dirimu. Aku akan meminta office boy untuk merapikan ruang kerjamu,” ujar Susan sambil berlalu.
Marcon menatap kepergian gadis itu sampai hilang dari pandangan. Lalu menangkupkan kedua telapak tangannya. Diusapkannya dari ujung kepala kemudian turun hingga menutupi wajahnya. Setelah itu menarik nafas panjang dan menghempaskannya secara kasar. Berusaha membuang rasa gelisah yang membelenggu.
“Huft!”
***
Megapolitan begitu sibuk. Para pekerja sudah dipanggil kembali untuk melaksanakan tugas-tugasnya yang terhenti. Berkat penanganan yang terkonsep sesuai rencana Fitri Ray, semburan lumpur panas sudah bisa di atasi. Bahkan dia bisa merubah kubangan lumpur yang aal mulanya dianggap bencana, menjadi destinasi wisata yang banyak menarik orang untuk berkunjung. Citra Megapolitan telah kembali, pembangunan hunian elit dilanjutkan kembali.
Di saat semua orang sibuk dengan pekerjaanya, hanya Desta Rahman yang terlihat gelisah. Presiden Direktur sementara Megapolitan Intercorp, itu berjalan bolak-balik di dalam kantornya. Mulutnya berbicara sendiri, dan kedua tangannya berkali-kali menggaruk-garuk kepanya yang tidak gatal. Sesekali pandangannya mengarah ke ruangan dimana Fitri Ray bekerja.
“Assalamu’alaikum!” ucap Joni Kamandanu, direktur personalia.
“Wa’alaikum salam. Masuk Jon,” sahut Desta.
Joni masuk dan duduk, lalu terdiam. Memandang wajah Desta yang gelisah.
“Eh, kenapa diam Jon? Ada apa kau menemuiku?” tanya Desta.
“Maaf. Pak Desta terlihat sedang tidak fokus. Jadi saya diam,” sahut Joni.
Desta tersenyum sedikit salah tingkah.
“Sedikit pusing karena pekerjaan,” kilahnya.
Joni ikut tersenyum.
“Apa pak Desta sudah mendengar berita ini?”
“Berita apa Jon?”
“Mengenai kepemilikan saham perusahaan kita yang telah menjadi milik Marcon Alpanigard seutuhnya.”
Desta mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mendengar berita itu langsung dari Subrata tadi malam. Tapi big bosnya meminta dia untuk tenang agar tidak mengganggu target perusahaan yang sedang di kejar.
“Ya, aku sudah mendengarnya. Pak Subrata yang memberitahu aku,” ucapnya.
Tapi bukan itu yang menggelisahkan hatiku Jon. Aku gelisah karena sedang memikirkan bagaimana caranya mendekati Fitri Ray dan mengutarakan perasaan cintaku kepada gadis bermata sipit itu, batin Desta.
“Heh…”
Desta menghela nafas, membuang gelisah di dalam hatinya.