EPS 30 KETIDAKBERDAYAAN NYAI BLORONG
Dandung menatap wajah ayu itu pada jarak yang begitu dekat. Melihat besarnya rasa cinta yang terlukis di mata Frida. Menikmati getaran-getaran rasa yang tercipta. Mengingat pengorbanannya yang begitu tulus kepadanya. Gadis yang rela menyerahkan kesuciannya tanpa menuntut cinta darinya. Gadis yang hanya memikirkan kebahagiaan Dandung tanpa pernah mengharapkan perlakukan yang sama darinya.
“Mas Dandung bilang apa?” bibir Frida bergetar dengan wajah tak percaya.
Dandung mendekatkan wajahnya. Disentuhnya ranum merah muda itu dengan bibirnya. Begitu lembut dan hangat. Frida memejamkan matanya. Tapi kali ini berbeda, tidak ada gejolak yang membara dari sentuhan Dandung. Hanya diam membeku. Frida membuka matanya kembali. Melihat titik air yang menggumpal di kedua sudut mata lelaki pujaannya itu. Mas Dandung menangis? batinnya.
Frida mendorong tubuh Dandung dengan lembut. Lalu menatap wajahnya dalam-dalam. Hatinya benar-benar tersentuh oleh air mata Dandung yang menetes perlahan.
“I love you, Free,” ucap Dandung lagi.
Gadis itu masih terdiam. Masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“I love you, Free. Aku mencintaimu. Berjanjilah, kau tidak akan pergi kemana-mana. Aku tidak mau kehilangan kamu. Aku membutuhkanmu,” kata-kata romantis itu keluar bagaikan rentetan peluru dari bibir Dandung.
Frida belum sempat bereaksi apapun, ketika kepalanya kembali dibenamkan ke dalam dada bidang itu. Memeluknya dengan begitu erat seolah ada rasa ketakutan akan kehilangan sesuatu yang sangat disayanginya. Dan degup jantung itu, begitu jelas tertangkap di telinga Frida. Dan sekarang dia yakin, akan ketulusan cinta sang kapten tampan ini.
“I love you, too,” bisik polwan tercantik ini.
***
Dan kata-kata ungkapan cinta yang keluar dari bibir Dandung itu mendengung ke udara, Lalu mengalir terbawa angin. Melewati gunung-gunung, bukit-bukit, lembah, hutan dan sawah. Menyelam ke dalam danau, sungai dan saluran irigasi serta butiran-butiran air yang mengalir ke dalam laut. Terus bergerak dan menggema, menusuk gendang telinga Ken Darsih yang sedang di balut dendam dan amarah di Istana Karang Bolong.
“I Love you, Free!”
Ken Darsih tersentak kaget. Tubuhnya yang masih terpaku mendengar cerita Daningrum tentang kebusukan Panembahan Somawangi yang memindahkan dirinya dari rahim Miryam menjadi murka. Gadis itu tidak tahu artinya cinta, dia juga tidak paham kata-kata yang diucapkan Dandung, tapi entah kenapa, kata-kata itu seperti menyulut kemarahannya.
“Aaargghh! Somawangi! Aku akan membalas perbuatanmu kepadaku!” teriaknya.
Suaranya begitu kuat dan bertenaga. Menghasilkan getaran dahsyat yang meruntuhkan tembok-tembok istana Karang Bolong.
Brrggh! Bruk! Prang! Pyar!
“Kikikikikik! Betapa rendahnya derajatmu di hadapan mata manusia, anak muda.”
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang membuat bulu kuduk berdiri. Disusul suara sesorang yang terdengar begitu dingin tapi menusuk hati. Dengan cepat Ken Darsih menebarkan pandangannya. Mencari sosok yang berani menertawakannya. Hm, Nyai Blorong, si ratu ular.
“Jaga bicaramu ratu ular! Aku tidak takut kepadamu!” teriak Ken Darsih.
“Kikikikik! Tenanglah anak muda. Kenapa harus marah-marah. Aku kan hanya mengatakan sesuatu yang nyata iya kan?” sahut Nyai Blorong. “Kau hanyalah anak siluman ular rendahan yang mudah dikalahkan. Tidak seperti aku! Kikikikik..!”
“Mulutmu terlalu sombong Blorong!”
“Sombong? Itu bagian dari sifatku sebagai siluman. Tapi yang paling penting adalah aku kuat dan digdaya. Sehingga banyak manusia yang datang untuk memujaku. Tidak ada satu manusiapun yang berani merendahkan derajatku. Karena aku sanggup membunuh mereka bahkan lewat mimpi. Kikikikik!”
Ken Darsih tersenyum sinis.
“Hm, aku jadi penasaran, ingin mengenal sekuat apa dirimu. Bersiaplah Blorong, aku yang akan menghancurkan kesombonganmu!” teriak Ken Darsih.
Lalu dia mencabut seruling mustikanya dan melemparkannya ke udara. Seruling itu berputar sangat cepat, menimbulkan putaran angin yang sangat dahsyat. Bahkan tubuh Dewi Suryakanti yang masih tergeletak tak berdaya di dekat Ken Darsih langsung terdorong dan melayang menabrak tembok istana.
Brug!
Daningrum yang melihat situasi semakin memburuk segera berteriak memanggil puterinya.
“Ken Darsih! Hentikan! Kau bisa membunuh ibumu!”
Ken Darsih tersentak kaget. Dia langsung menghentikan serangannya. Serulingnya melayang ringan, dan masuk kembali ke dalam pinggangnya.
“Hentikan anakku! Hanya kanjeng ratu Nyai Blorong yang bisa membantumu menuntaskan dendam kita!”
Ken Darsih berdiri tegak kembali.
“Tidak ibu! Aku tidak butuh bantuan siapapun untuk mengalahkan Somawangi.”
“Kikikikik! Bagaimana mungkin kau menang melawan Somawangi, melawan isterinya saja kau tidak sanggup mengalahkannya,” sahut nyai Blorong.
“Yang dimaksud kanjeng Ratu, kau pernah bertarung dengan Miryam kan? Nah, Miryam akhirnya menjadi isterinya Somawangi,” sambung Daningrum.
Ken Darsih tercekat. Ya, dia memang pernah bertarung dengan perempuan yang disebut ibu kandungnya juga. Dan dia berhasil dikalahkannya.
“Redakan kemarahanmu nak, hilangkan egomu. Di luar sana banyak manusia yang memiliki kekuatan melebihi kekuatan siluman. Kecuali kita mau bersatu, pasti kita bisa mengalahkan mereka,” ujar Daningrum.
“Apa maksudmu ibu?” tanya Ken Darsih.
“Minta maaf kepada kanjeng Ratu Nyai Blorong. Lalu minta bantuannya untuk mengalahkan Panembahan Somawangi.”
“Apa! Minta maaf?” ujar Ken Darsih sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku tidak akan mengemis bantuannya dengan meminta maaf.”
“Tolonglah anakku. Lakukan semua demi ibu,” bujuk Daningrum dengan wajah memelas.
Tapi Ken Darsih tidak bergeming. Sekalipun dibayar denga nyawa, dia tidak akan mau tunduk kepada Nyai Blorong.
“Lihatlah nasibmu ibu. Mereka tetap menyiksa ibu walaupun ibu sudah menyerahkan hidup ibu kepada mereka. Dan apa yang ibu dapatkan? Hanya omong kosong!”
Kata-kata Ken Darsih seperti menampat wajah Nyai Blorong. Matanya terlihat memerah dan lidahnya yang bercabang terlihat keluar masuk dengan cepat. Dan Ken Darsih seperti menemukan momen yang tepat untuk menghancurkan kepongahan ratu ular itu.
“Mereka hanyalah pengecut yang memanfaatkan hidup ibu. Mereka sebenarnya punya dendam kepada manusia, tapi mereka terlalu takut untuk muncul. Sehingga bersembunyi di dasar laut. Kalau benar mereka memiliki kekuatan, pasti sudak sejak dari dulu mereka muncul di tengah dunia manusia.”
Nyai Blorong seperti tersedak. Dia tidak kuat lagi menahan kemarahannya. Tapi kali ini giliran Ken Darsih yang menertawakannya.
“Tenang Ratu Ular, Jangan marah. Seperti kata ibuku tadi, kita harus bekerja sama untuk mengalahkan musuh-musuh manusia kita. Tapi dalam kedudukan yang sama tinggi, karena aku tidak sudi menyembahmu.”
Nyai Blorong terdiam. Selama ratusan tahun, dia mendapatkan tugas dari Kanjeng Ratu Pantai Laut Selatan untuk menyesatkan jiwa seluruh manusia. Namun setiap saat ada saja manusia-manusia suci seperti Begawan Wanayasa dan putera-puterinya yang selalu menghalangi langkah-langkahnya. Lalu muncul juga orang-orang macam Kyai Badrussalam yang doa sucinya sanggup meluruhkan seluruh kedigdayaannya. Dia selalu gagal menghadapi mereka. Hanya manusia-manusia berjiwa lemah yang mau menjadi pengikutnya.
“Baiklah Ken Darsih, aku terima tawaranmu. Kau adalah manusia setengah siluman. Tubuhmu lebih kuat dari siluman biasa. Bahkan kau tidak mempan kalau hanya diusir dengan mantera dan doa-doa.”
Ken Darsih tersenyum jumawa. Siasatnya berhasil melemahkan keangkuhan Nyai Blorong. Ratu ular itu seperti terpojok dalam ketidakberdayaan.
“Baik. Kalau begitu aku yang akan melakukan tugasmu menghancurkan manusia-manusia yang menjadi musuhmu. Syaratnya, beri aku kekuatanmu dan bebaskan ibuku dari perjanjian apapun denganmu.”
Dengan berat hati Nyai Blorong menganggukkan kepalanya.