EPS 102 PENCURI KOLAM
Malam begitu gelap dan sepi. Hawa yang dingin dan hujan yang baru saja berhenti, membuat orang-orang enggan keluar rumah. Bulan muncul kembali setelah beberapa saat tersembunyi dibalik awan hitam. Cahaya putihnya yang mengenai butir-butir air, dibiaskan menjadi spektrum berbagai macam warna cahaya pelangi. Indah sekali.
Mukhsin Bae berjalan sendirian menyusuri jalan persawahan menuju ke Pesantren Ksatriyan Santri. Seperti biasa, setiap malam Jum’at dia mendapat tugas dari Kyai Badrussalam untuk mengisi pengajian di masjid kampung tdak jauh dari pondok.. Selesainya sampai jam tengah malam.
“Ah sehabis hujan banyak kecebong pada keluar. Kebetulan nih, sambil memancing belut” ujarnya.
Rupanya dia memang sudah punya rencana untuk melakukan hobi yang telah lama ditinggalkannya itu. Dengan lincah dia menangkap anak kodok yang berlompatan di atas pematang. Lalu mengeluarkan pancing belut yang tadi dia selipkan di dalam kopiahnya. Setelah memberi umpan pada kailnya, lalu dia duduk berjongkok diantara batang padi. Biasanya belut suka mencari makan pada malam hari. Apalagi sehabis hujan, banyak makhluk yang kelaparan.
KRESSSAKKK!!!
Tiba-tiba terdengar suara dedaunan kering yang terinjak sesuatu. Mukhsin Bae jadi waspada. Dia melihat sekeliling. Dari jarak limabelas langkah, nampak beberapa sosok bayangan berjalan mengendap-endap. Mukhsin berusaha menajamkan indera penglihatannya. Namun gelapnya malam menghalangi pandangannya.
Namun nalurinya sebagai santri senior yang dulu bercita-cita menjadi detektif cilik langsung muncul.
“Hm, dari gerakan-gerakannya sosok-sosok itu menunjukkan gelagat mencurigakan. Aku harus mengikuti mereka,” batinnya.
Dengan langkah perlahan dan hati-hati dia mengikuti mereka. Arahnya menuju kolam ikan milik kakek Mursyid, kakeknya Andika, yang berisi ikan gurame siap panen.
“Hm..rupanya mereka mau mencuri ikan,” kata hatinya.
Betul juga dugaan Mukhsin. Begitu sampai di kolam, mereka nampak merunduk dan masuk ke dalam kolam. Pemuda yang dulu pernah bercita-cita menjadi polisi itu berusaha lebih mendekat. Tapi dalamnya air kolam seperti menelan tubuh-tubuh mereka. Mukhsin tidak bisa melihatnya lagi. Diapun berpikir untuk kembali saja ke rumah meminta bantuan.
“Berbahaya kalau aku terus mendekatinya. Lebih baik aku memberitahu teman-teman,” katanya dalam hati.
Bergegas dia kembali ke jalan menuju pesantren. Sampai di pesantren suasana juga sepi. Rupanya para santri lebih suka menghangatkan badan di kamar mereka daripada pergi keluar. Langkahnya terus bergerak menuju ke arah klinik milik Andika. Di tempat yang biasa digunakan sebagai tempat tidur Andika dan sahabatnya, Alimin, dia mengetuk jendela kamar , sahabatnya itu.
“Tok…tok..tok! Assalaamu’alaikum. Alimin! Alimin!,”ucapnya perlahan.
Alimin membuka jendela.
“Wa'alaikumsalam! Eh, Mukhsin sontoloyo. Kamu baru pulang mengaji?” sahut Alimin dengan wajah mengantuk..
“Iya. Ayo keluar! Ada hal penting yang harus kita lakukan.”
“Ah, Mukhsin. Baru saja aku mau tidur, malah kau ajak aku keluar. Tidak mau ah! Lagian buat apa kita ke sana?”
“Sstt..jangan keras-keras! Dengarkan, aku baru saja melihat sosok yang mencurigakan di kolam kakek Mursyid,” jelas Mukhsin.
“Apa!! Maling maksudmu?” Alimin tampak kaget.
“Sstt..! Ya belum tentu,” sahut Mukhsin. “Makanya ayo kita pastikan.”
Alimin mengangguk-angguk. Bergegas dia melingkarkan kain sarungnya di leher dan keluar menyusul Mukhsin. Dengan langkah hati-hati mereka bermaksud segera kembali ke kolam ikan.
“Alimin! Mukhsin! Kalian mau kemana?” tiba-tiba satu suara mengagetkan mereka.
Serempak keduanya menoleh ke belakang.
“Mas Andika?” seru mereka hampir berbarengan.
Andika berjalan tenang menghampiri kedua pemuda itu.
“Kenapa kalian berjalan mengendap-endap begitu? Hah? Mau ngelayap ya? Atau mau ke kota nonton bioskop?”
“Tidak mas,” mereka masih kompak menggeleng dan membantah.
“Eh, Mas Andika. Lagi ronda mas?” ucap Alimin kemudian.
“Tidak. Aku sedang jalan-jalan saja.”
Hem! Lalu terdengar orang terbatuk muncul dari dalam kegelapan.
“Lho ada Mas Pranaja! Kebetulan kita ketemu,” seru Mukhsin Bae.
“Iya. Kebetulan kita lagi patroli melihat-lihat keadaan. Ada apa kalian pergi malam-malam?,” ujar Rich Pranaja sambil tersenyum..
“Wah, kebetulan kala ada mas Pranaja, kita jadi merasa aman, “ ujar Mukhsin lagi,” Kita juga sedang mengintai beberapa orang.”
Rich Pranaja menatap keduanya. Indera keenamnya seperti mendeteksi sesuatu yang ganjil. Lalu dia menyuruh Mukhsin untuk menceritakan kejadian yang tadi dialaminya?
“Begini mas. Waktu pulang mengisi pengajian tadi, aku lihat ada beberapa sosok mencurigakan disekitar kolam ikannya kakek Mursyid. Gerak-gerik mereka sangat terselubung.,” kata Mukhsin.
“Ada berapa orang yang kau lihat?”
“Sekitar tujuh orang mas.”
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Bagus.” Puji Pranaja.
“Sekarang bagaimana mas?” ujar Alimin.
Andika segera memanggil beberapa santri yang sedang tidur.. Dia lalu membagi tugas mereka untuk berpencar di sekitar kolam ikan yang luasnya hampir dua hektar tersebut.
“Mukhsin dan Alimin ikut aku!” teriak Rich Pranaja. “Jangan jauh-jauh ya?”
Kedua pemuda itu bersiap. Setelah disepakati, mereka segera melaksanakan tugasnya masing-masing. Andika dan para santri tetap berjaga di Pesantren. Menjaga segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi di pesantren. Sementara Pranaja bersama Mukhsin dan Alimin pergi ke tempat kejadian perkara untuk memeriksa kebenaran cerita Mukhsin Bae.
“Ayo kita berangkat,” kata Pranaja.
Pranaja, Mukhsin, Alimin dan dua orang santri muda segera berangkat. Sesampanya di tempat dekat kolam milik kakek Mursyid. mereka berjalan merunduk diantara rumpun padi. Mereka terus
mengamati suasana sekitar kolam dari tengah sawah. Ada sekitar empat puluh lima kolam ikan yang mereka amati satu persatu. Situasi jadi terasa mencekam.
“Sstt…Sin! Kok nggak ada siapa-siapa?” tanya Alimin.
Mukhsin hanya mengernyitkan dahi. Dia juga tidak tahu kemana mereka pergi.
“Mereka adalah pencuri-pencuri profesional. Dalam melakukan aksinya mereka begitu tenang, nyaris tanpa suara,” bisik Pranaja.
Mendadak salah satu santri mendekati mereka.
“Mas Pranaja! Mereka mungkin benar. Ada jejak kaki manusia meninggalkan tempat ini di kolam nomer enam.”
“Hm, bagus!” sahut Rich Pranaja,” Aku akan memeriksanya!”
Mereka langsung mengepung tempat itu.Namun kolam itu begitu luas sehingga mereka kesulitan untuk menemukan jejak kaki lainya. Huft, Pranaja membuang nafas kasar. Membuang rasa gelisah yang meyelimuti hati dan pikirannya.
***
Setelah mendapat perintah dari Nyai Ken Darsih, Dewi Nawangwulan segera mempersiapkan diri, Dia meminta bantuan keenam saudaranya untuk membantunya. Mereka adalah siluman berbentuk peri-peri cantik yang tinggal di suatu tempat tersembunyi di sudut langit.Mereka menggunakan cahaya pelangi sebagai panduan untuk ke bumi.
"Setelah menginjakkan kaki ke bumi, segera mencari tahu keberadaan telaga yang murni untuk berendam," kata Nawang Wulan.
Agar mereka benar-benar berubah menjadi seperti manusia mereka harus merendam tubuhnya di dasar telaga. Air bumi yang suci akan membuat mereka akan kehilangan bau sebagaimana peri dalam keadaan normal. Kalau sudah begitu, sangat sulit membedakan antara manusia jelmaan para peri itu dengan manusia biasa. Disaat mereka turun itulah mereka menemukan kolam yang cukup luas yang mereka kira sebagai telaga.