DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 43 HIPNOTERAPI


EPS 43 HIPNOTERAPI


Malam yang dingin dan membekukan. Apalagi menjelang pagi, saat butiran-butiran embun mulai turun membasahi bumi. Namun itu tak menyurutkan langkah para aparat penegak hokum untuk melaksanakan tugasnya. Seolah tak kenal lelah, tak kenal medan dan tak kenal waktu, mereka bergerak serentak dalam garis koordinasi menyisir daerah sekitar kawasan hunian elit Pantai Indah Kapuk.



“Awali dengan doa. Bergerak dalam garis berantai, selalu waspada dan saling melindungi diri dan teman kalian masing-masing,” ujar Simson.



Menyabung nyawa, mempertaruhkan jiwa, menghadapi musuh yang tidak nyata. Mereka tidak tahu musuh yang mereka hadapi ada di depan, di samping atau di belakang. Mungkin juga mereka ada di atas ataupun dibawah bumi. Sebagian mereka bahkan sudah meyakini kalau musuh yang mereka hadapi memiliki kekuatan supranatural atau bahkan makhluk astral yang bergentayangan karena terbawa dendam kepada polisi.



“Siapkan senjata-senjata dan kemampuan beladiri yang kalian miliki, dan selalu dalam posisi siap tempur. Musuh kita memiliki kemampuan hipnoterapi yang bisa mempengaruhi indera kalian,” tambah Simson lagi.



Mereka mentasbihkan senjata-senjata yang mereka miliki dengan doa-doa sesuai keyakinan masing-masing. Peluru-pelurunya juga di berikan ritual khusus, agar dapat melenyapkan apapun makhluk yang nekad mengganggu polisi-polisi itu. Ternyata ritual itu dapat meningkatkan keberanian dan mental mereka di lapangan. Mereka terus bergerak menyususri setiap sudut dan menggeledah tempat-tempat yang mencurigakan.



Namun sampai matahari merekah di ufuk timur, mereka tidak berhasil menemukan orang yang mereka cari. Akhirnya pencarian di hentikan. Simson kembali ke rumah Dandung. Menemui kembali anak buahnya yang tadi malam berjaga. Rupanya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sesampainya di rumah Dandung, dia langsung masuk ke ruang CCTV dimana Dandung dan anggota lainnya sedang menunggunya,



“Ada dugaan pak Ulin dan Bripda Vino terkena pengaruh aksi hipnotis. Bahkan sampai sekarang mereka masih belum sadar. Aku curiga pelakunya masih berada di dekat kita, karena dalam aksi hipnotis harus ada interaksi antara si pelaku dan korbannya.”



“Apakah kita sudah melakukan penyisiran kawasan Pantai Indah Kapuk Ndan?” Tanya Dandung.


“Sudah. Tapi sampai saat ini belum ada hasilnya.”



AKBP Simson duduk sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya. Dibutuhkan kesabaran dan ketenangan untuk mengungkap kasus-kasus sulit seperti ini.



“Mohon ijin memberi saran Ndan,” ujar Frida tiba-tiba.


Simson menatap Frida sambil menganggukkan kepalanya.


“Silahkan.”



“Kalau aksi hipnotis membutuhkan interaksi antara pelaku dan korbannya, lebih baik kita tanya Abribtu Sukamto yang melihat penampakan AKP Dandung di taman, Ndan.”



Serentak semua perhatian tertuju kepada Abriptu Sukamto, salah satu penembak jitu yang berada diatas atap dan melihat penampakan Dandung keluar dari kerimbunan pohon.



“Abriptu Sukamto, duduklah di depanku,” perintah Simson.


Ajun Brigadir Polisi Satu Sukamto segera berjalan menghampiri meja Simson dan mengambil tempat duduk di depannya.



“Mohon ijin duduk Ndan.”


Simson menganggukkan kepalanya. Kemudian dia memberi isyarat agar Iptu Frida mulai mengajukan pertanyaan kepada Abripda Sokamto. Frida menganggukkan kepalanya, lalu berjalan menghampiri Abriptu Sukamto. Seorang anggota lainnya menyiapkan laptop untuk mencatat hasil interogasi itu.



“Saat kau melihat penampakan AKP Dandung di taman, apa yang sedang kau lakukan?”


“Sesuai protap saya sedang membidik gerakan mencurigakan dari arah taman Ndan.”



“Apakah ada orang lain di sampingmu?”


“Tidak ada.”



“Apakah ada orang lain yang terlihat di sekitarmu?”


“Tidak ada.”



“Apakah kau sedang berbicara dengan seseorang, maksudku lewat peralatan komunikasimu?”


“Tidak Ndan.”



“Apakah kau mendengar ada orang yang berbicara denganmu?”


Abriptu Sukamto terdiam. Frida mengulang pertanyaannya.


“Hm, maksudku ada orang yang berbicara denganmu lewat saluran telekomunikasi?”



Frida memandang Dandung sekilas. Kedua alis matanya dinaikkan ke atas.



“Apa yang mereka bicarakan?”


“Ada yang mengatakan, hai lihat! Ada AKP Dandung di taman! Terus ada suara lain yang membenarkan. Betul, dia adalah AKP Dandung, jangan tembak! Terus satu suara lagi mengatakan, rupanya AKP Dandung sedang mengecek kesiagaan kita.”



“Terus apa yang kau lakukan?”


“Saya tetap membidik sosok mencurigakan yang muncul dari kerimbunan taman. Tapi lewat teleskop aku bisa pastikan itu memang Pak Dandung.”



“Tapi ternyata sosok yang terlihat di layar CCTV bukan pak Dandung kan?”


“Betul Ndan. Saya juga masih bingung, kenapa berubah?”



Frida mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Oke. Sudah cukup. Silahkan kau kembali ke tempatmu”


“Siap Ndan!”



Pak Simson meminta semua petugas yang berjaga tadi malam untuk kembali ke markas. Setelah ruangan CCTV kosong dia berbincang dengan Dandung dan Frida.



“Jadi apa kesimpulanmu Frida?” tanya Simson.


“Dugaan saya, Abriptu Sukamto terpengaruh aksi elektromagnetik hipnoterapi pak. Perpaduan antara ilmu hypnosis dengan memanfaatkan peralatan canggih yaitu gelombang suara yang keluar dari peralatan komunikasinya.”



“Hm,” gumam Simson. “Sangat menarik. Kerjamu bagus inspektur.”


Frida hanya tersenyum tipis.



“Menurutmu apa yang harus kita lakukan?”


“Saya pikir kita butuh ahli forensik yang mengerti hipnosis, hipnotis dan hipnoterapi.”


Simson mengangguk-anggukkan kepalanya.


Lalu menoleh kepada Dandung.


“Ada yang ingin kau sampaikan?”


“Satu pertanyaan besar Ndan. Kenapa pelaku hipnotis itu bisa masuk ke dalam jaringan telekomunikasi anggota kita? Apakah ada orang kita yang bekerjasama, atau juga menjadi korban aksi hipnotis tanpa dia sadari?” sahut Dandung.


Simson tersenyum. Sudah lama dia mengagumi kecerdasan anak buahnya itu. Intusinya tajam dan sangat lugas dalam melaksanakan tugas-tugasnya.



“Ya. Kau benar. Nanti akan kita selidiki. Aku khawatir jangan-jangan sudah banyak anggota kita yang ikut terpengaruh aksi hipnotis ini.”



“Iya Ndan, Kalau mendengar cerita Abriptu Sukamto tadi, bahwa banyak suara yang mempengaruhi pikirannya, berarti ini pelakunya lebih dari satu orang pak. Mereka terus memberikan informasi yang berulang untuk mempengaruhi alam bawah sadar si korban.”



Simson mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya sedikit gembira, seperti baru dapat pencerahan dari kasus yang tadinya begitu gelap. Memang selalu ada titik cahaya bahkan di dalam palung yang paling gelap sekalipun.



“Kalau begitu aku akan pergi ke Rumah Sakit untuk menemui bagian Forensik,” katanya.



Dandung dan Frida serentak berdiri sambil memberi salam hormat. Simson berbalik dan pergi keluar meninggalkan Dandung dan Frida berdua di ruang CCTV. Dandung memeluk pinggang Frida dan mengecup keningnya. Kemudian dia duduk dan memangku kekasihnya itu.



“Eh, kenapa kau tak terpengaruh aksi hipnotis tadi malam Free?”


“Aku sedang sholat ketika peristiwa itu terjadi mas. Aksi hipnotis hanya berhasil pada jiwa-jiwa yang kosong.”



Dandung langsung terdiam. Mendadak jiwanya merasa kecil dihadapan Frida. Kekasihnya itu sudah begitu khusyuk menjalankan kewajibanya. Sementara dia hanya bisa memberinya dosa. Beberapa saat ditatapnya mata indah itu, lalu Kapten tampan itu berbisik lirih.



“Ajari aku sholat Free!”