EPS 50 TAMU AGUNG
Tepat saat purnama mencapai puncaknya, suasana di pondok pesantren Kesatryan Santri mendadak berubah. Cuaca yang tadinya terasa hangat berubah menjadi dingin. Hawa dingin yang merebak, membekukan rumput dan dedaunan. Bahkan butiran embun pun berubah menjadi titik-titik salju. Menciptakan nuansa putih pada atap gedung-gedung pesantren.
Hawa dingin itu terus menyebar, membuat para santri merapatkan selimutnya. Namun hawa dingin itu sungguh menyiksa. Aliran darah seperti berhenti mengalir. Urat-urat syaraf terasa linu, membuat tidur mereka gelisah dan tidak tenang. Beberapa santri yang masih terjaga berusaha membuat api unggun dan berkerumun di sekitarnya. Mereka juga beramai-ramai membuat minuman dan makanan hangat untuk mengusir rasa dingin.
“Mengapa malam ini mendadak hawa berubah menjadi dingin ya?” tanya Alimin merapatkan kain sarungnya.
Mukhsin Bae yang duduk disampingnya malah memakai baju lapis tiga plus jaket dan kain sarung. Tubuhnya menjadi terlihat gemuk.
“Iyya. Di..dingin sekali,” ucapnya sambil menggigil. “I..ini musim apa sih?”
Alimin tersenyum melihat wajah sahabatnya.
“Ini sih tidak ada hubungannya dengan musim hujan atau musim kemarau.”
Mukhsin Bae menatap wajah sahabatnya penuh tanya.
“Apa maksudmu?”
“Kalau hawanya sedingin ini, ada hubungannya dengan musim kawin. Hahaha…” sahut Alimin sambil tergelak.
“Kepalamu gundul! Hahaha…” Mukhsin Bae ikut tergelak. “Eh, memangnya kalau hawanya dingin begini, si otong mau diajak berdiri tegak?”
Alimin terdiam, berpikir sejenak.
“Bisa dong. Kalaupun tidak mau, kan ada caranya biar si otong mau berdiri.”
“Hah? Bagaimana caranya?” tanya Mukhsin Bae, kali ini wajahnya terlihat penasaran.
“Ikat saja pada batang kayu atau bambu. Hahaha…”Alimin tergelak lagi.
“Hah?”
Mulut Mukhsin Bae melongo. Lalu melengos kesal.
“Huh! Dasar playboy cap duren tiga, omongannya ngaco,melulu.”
“Kamunya juga salah nanya. Aku kan juga belum punya pengalaman masalah begituan, “ balas Alimin.
“Tapi sok halu,” celetuk Mukhsin Bae.
“Hahaha…!”
Akhirnya dua orang jomblo permanen itu tertawa bersama. Mereka tenggelam dalam candaan panjang sampai tubuh mereka tak kuat lagi menahan rasa dingin yang menusuk. Mukhsin Bae berdiri, bermaksud masuk ke tempat tidurnya, sedangkan Alimin bersiap kembali ke klinik dimana dia biasa terlelap.
Namun belum lagi mereka beranjak, mendadak gerakan mereka terhenti. Tiba-tiba wajah bulan yang tadinya terang benderang, perlahan meredup. Setelah itu gugusan asap merah bergerak menutupi wajah bulan. Semakin lama semakin merah, bahkan menutupi wajah bulan. Dan kini wajah purnama berubah menjadi merah …. semerah darah.
“Ap..apa itu Alimin?” tanya Mukhsin Bae dengan bibir bergetar.
Alimin yang lebih pemberani hanya terdiam. Dia menatap wajah bulan itu dengan tenang, walaupun tubuhnya gemetar.
“Ap..apa itu Alimin?”
Mukhsin Bae mengulang pertanyaannya, kali ini tangannya memegang erat lengan sahabatnya itu.
"Kenapa wajah bulan mengeluarkan darah? Apakah ada makhluk yang melukainya?”
“Itu bukan darah. Ada gugusan awan berwarna merah yang menutupinya,” sahut Alimin akhirnya.
Lalu sudut matanya menangkap bayangan putih yang keluar dari gedung utama, dimana Kyai Badrussalam dan keluarganya tinggal. Bayangan putih itu melompat dengan cepat diantara tembok-tembok bangunan yang saling berhadapan, melesat ke atas menuju atap. Setelah itu tubuhnya melayang ringan bertumpu pada pucuk besi penangkal petir.
“Hah? Apa kau melihatnya juga Alimin?” tanya Mukhsin Bae.
“Ya, itu abah kita, Kyai Badrussalam,” sahut Alimin.
Kedua mata Mukhsin Bae dan Alimin terpukau melihat kemampuan ilmu ringan tubuh Abah mereka. Sudah banyak cerita tentang kehebatan kyai Badrussalam yang mereka dengar dari orang-orang, yang kadang dilebih-lebihkan. Tapi baru kali ini mereka melihat sendiri, guru mereka berdiri tegak di atas puncak penangkal petir tanpa goyah sedikitpun.
***
Kyai Badrussalam sedang berdzikir ketika dia merasakan keanehan yang terjadi. Mendadak suhu ruangan menurun drastis diikuti hawa dingin yang menyergap. Lalu matanya terbuka, firasatnya mengatakan pesantren akan kedatangan tamu agung. Manusia yang memiliki kekuatan yang luar biasa.
“Astaghfirullohal’adziem,” gumamnya beristighfar.
Lalu matanya terpejam kembali. Berusaha menajamkan indera keenamnya untuk mencari tahu siapa tamu yang akan datang. Tapi gagal. Bahkan bayanganya pun tidak bias di tangkap. Baru kali ini dia tidak bisa menebak siapa tamu yang akan mengunjunginya. Luar biasa, manusia macam apa yang akan berkunjung malam ini. Apakah dia bermaksud jahat atau bermaksud baik?
“Astaghfirullohal’adziem,” kembali bibinya mengucapkan istighfar.
“Astaghfirullohal’adziem.”
Kyai Badrussalam memegang erat tasbihnya, lalu berdiri dan berjalan keluar dari biliknya. Di luar ruangan terlihat Andika yang sedang tekun mempelajari serat Dewaruci peninggalan Eyang Senthir. Pemuda itu telah mendapatkan izin dari Miryam untuk mendalami kitab yang menjadi rujukan segala kitab nusantara ini. Tidak ingin mengganggu kekhusyukkan Andika. Kakinya terus melangkah keluar ruangan.
“Maaf, abah hendak pergi kemana?” malah Andika yang bertanya.
Kyai Badrussalam menghetikan langkahnya, lalu menoleh kepada pemuda itu.
“Aku ingin keluar sebentar. Tetaplah kau disini Andika, jangan keluar dari ruangan.”
“Baik Abah.”
Namun Kyai Badrussalam menatap Andika dari ujung rambut sampai ujung kepala. Wajahnya terlihat penasaran dengan santri keyangannya itu.
“Kau tidak merasakan hawa dingin Andika?”
Andika menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Bahkan tubuhku terasa hangat.”
Kyai Badrussalam tersenyum. Dia memandang takjub serat Dewaruci yang ada di tangan pemuda itu. Dia tahu pasti serat Dewaruci itulah yang sedang melindungi Andika dari serangan hawa dingin yang membekukan. Hm, baru membacanya saja, Andika sudah bias merasakan kekuatannya.
“Teruslah membaca. Jangan perdulikan apapun yang terjadi di luar,” pesannya.
“Baik Abah,” sahut Andika lagi.
Kyai Badrussalam melanjutkan langkahnya. Begitu membuka pintu dia dikejutkan dengan wajah bulan yang berubah. Cahaya purnama yang terang, mendadak meredup. Ada gugusan awan merah yang sedang melewatinya. Bahkan kemudian bentang alam menjadi gelap karena wajah bulan berubah menjadi merah darah. Tubuh Kyai Badrussalam langsung melompat tinggi, dengan berpijak dari tembok-tembok bangunan pesantren.
“Heya!”
Terlihat tubuhnya melayang ringan sebelum menjejakkan kakinya di atas pucuk besi penangkal petir di atap gedung. Tubuhnya berdiri tegak tanpa kehilangan keseimbangan. Matanya tajam menatap wajah bulan. Bibirnya terus melafadzkan kalimat-kalimat dzikir dan pujian ke hadlirat Alloh Subhanahu wa ta’ala.
“Laa illaha illa anta subhanaka inni kuntuminadzolimiin.”
Seperti tersapu angin, gugusan awan berwarna merah itu pergi dan menghilang entah kemana. Wajah bulan kembali ke bentuknya yang semula. Sinarnya yang putih terang, kembali menyinari bentang alam yang diselubungi kegelapan. Hawa dingin yang begitu membekukan juga mendadak hilang. Digantikan hawa sejuk yang menyegarkan.
“Hm,” Kyai Badrussalam menghela nafasnya.
Dia masih tegak berdiri di tempatnya semula. Menunggu tamu agung yang akan berkunjung ke pesantrennya.
“Oaaa! Oaaa! Oaaa!”
Terdengar suara tangis bayi yang menggema menusuk telinga. Wajah kyai Badrussalam terkesiap. Suara bayi itu terdengar begitu nyaring memecah keheningan malam.
Dan suara itu datang dari kamar MIRYAM!