EPS 45 CINTA FITRI
Bulan tak berkabut. Menggantung kokoh di angkasa raya. Seolah sedang menebarkan pesonanya sebagai raja di malam hari. Sinarnya yang terang menghapus kegelapan di muka bumi. Membantu para pengembara menemukan jalannya kembali agar tidak tersesat. Membuat anak-anak berkumpul untuk bermain di halaman rumah mereka yang luas. Menumbuhkan kerinduan akan masa-masa kecil yang bahagia. Tanpa beban, tanpa banyak keinginan.
“Masa kanak-kanak adalah hal yang paling aku rindukan dalam hidupku Vania,” ujar Subrata. “Aku selalu ingat saat-saat masih nyantri kepada Kyai Hasbulloh, ayahnya Kangmas Badrussalam.”
Vania menatap wajah Subrata heran.
“Apa yang kau inginkan mas?”
“Seandainya waktu bisa di putar balik, ingin rasanya aku kembali ke masa lalu, menata ulang hidupku untuk memperbaiki kesalahan-kesalahanku.”
“Apa kau sedang menyesali hidupmu mas?” tanya Vania heran.
Subrata adalah taipan yang masuk daftar sepuluh orang terkaya di dunia. Bisnisnya terus menjalar agresif di berbagai negara. Melalui perusahaan induknya, Subrata’s Holding Company dia mengembangkan berbagai macam bisnis, mulai dari infrastruktur, property, pertambangan, telekomunikasi, senjata berat dan peralatan tempur, sampai tekhnologi digital. Semua dijalankan dengan perhitungan cermat dan berhasil menjadi perusahaan-perusahaan raksasa.
Salah satu anak perusahaannya di Indonesia Megapolitan Intercorp, mengembangkan bisnis property dan hunian super eksklusif yang diminati para pelaku bisnis kelas dunia, para sultan dan hampir seluruh kepala negara sudah memesan hunian bak istana di Megapolitan City. Hingga akhirnya terjadi banjir lumpur karena kebocoran pada pengeboran gas bumi yang belum bisa di hentikan. Hal yang juga membuat saham Megapolitan langsung anjlok ke titik terendah dalam satu dekade.
Tapi, apa karena hal itu Subrata menyesali hidupnya?
“Setiap orang pasti pernah menyesali hidupnya dan ingin menjadi orang lain, Vania. Perempuan secantik kamu saja pernah menyesal karena hidungmu tidak seindah hidungnya Dilraba Dilmurat,” ujar Subrata sambil mencubit hidung istrinya.
Dilraba Dilmurat adalah artis China keturunan Uighur, yang baru saja dinobatkan sebagai wanita tercantik di dunia. Dia adalah ikon kecantikan dan kemurnian yang menjadi dambaan hampir setiap perempuan di dunia. Disaat banyak artis yang operasi plastic untuk memperbaiki kekurangannya, Dilraba mampu tampil menjadi nomer satu dengan kecantikan alaminya.
Vania tertunduk malu. Ada semburat merah menghiasi wajahnya.
“Bukan menyesal mas, aku hanya mengagumi dan mengandaikan saja,” kilahnya.
Subrata menahan tawanya, tapi wajahnya begitu menggoda.
“Sama. Aku juga bukannya sedang menyesali hidupku. It’s just a conditional, pengandaian saja,” sahut Subrata.
“Hahaha”
Lalu kedua pasangan suami istri yang selalu romantis itu tertawa bersama. Suaranya begitu lepas, seolah masalah apapun yang mereka hadapi hanyalah permainan kecil yang mudah diatasi.
“Kamu adalah perempuan tercantik yang pernah aku temui Vania. Satu-satunya cinta yang aku miliki di dalam hidupku,” puji Subrata sambil menatap wajah Vania dalam-dalam.
Vania balas menatap wajah isterinya.
“Kaulah satu-satunya, kau yang teristimewa. Maukah dirimu, menemaniku selamanya?” tanya Subrata lagi.
Dengan penuh keyakinan, Vania menganggukkan kepala.
“Yes, I do,” sahut Vania lirih.
Subrata merengkuh tubuh isteri cantiknya. Lalu dibenamkannya wajah cantik itu ke dalam dadanya yang bidang. Terdengar desah nafas Subrata yang dihempaskan. Seperti melepaskan sesuatu yang menghimpit jiwanya, atau sedang merasakan kemenangan? Karena Vania adalah sumber kekuatannya.
Drrt!..Drrt!..Drtt!
Terdengar bunyi ponsel yang bergetar. Vania meraih ponselnya. Lalu melihat layarnya. Wajahnya terlihat berubah sumringah dan bahagia.
“Assalamu’alaikum. Mama!”
“Wa’alaikum salam. Fitri!”
Fitri Ray Queena Aisha adalah tunangan Andika, putera satu-satunya Subrata dan Vania. Saat ini Fitri sedang menempuh pendidikan Magister of Economy di University of Beijing. Gadis keturunan Tionghoa yang menjadi pacar Andika saat masih SMP, kemudian terpisah, tapi bertemu lagi saat Andika dan ibunya sedang berlibur ke Beijing. Cinta lama pun bersambung kembali, antara Andika dan Fitri.
Setelah bertunangan Fitri memutuskan untuk merampungkan studinya. Sedangkan Andika memilih kembali ke Pesantren Ksatryan Santri untuk mengurus klinik kecilnya di sana.
Vania tertawa, sementara Subrata hanya tersenyum melihat wajah bahagia istrinya.
“Waduh, anak mama sayang, satu-satu dong. Mama mau jawab yang mana dulu nih?”
Fitri ikut tertawa.
“Terserah mama deh. Pokoknya Fitri mau dengar semuanya.”
“Iya, iya. Alkhamdulillah, mama dan papamu sehat-sehat saja. Kami semua baik-baik saja Fitri. Aduh, sayang, mama juga rindu berat sama kamu.”
“Hahaha,” mereka tertawa.
Kemudian kedua calon menantu dan mertua itu berbincang sampai tengah malam. Tenggelam dalam perbincangan panjang. Kadang diselingi suara tawa yang menggelegak dari bibir Vania. Sementara Subrata duduk sambil menyeruput secangkir black coffee kesukaannya. Dengan setia mendengarkan dan ikut menikmati kebahagiaan istrinya.
***
Setelah sholat malam, Vania merebahkan tubuhnya di samping Subrata yang sudah terlebih dulu bersemayam di atas ranjangnya.
“Duh, yang baru saja ketemu sama puterinya, sampai lupa sama suami,” ujar Subrata melihat Vania yang masih senyum-senyum sendiri.
“Ih, papa senangnya merusak suasana hati mama deh,” ujar Vania merengut.
Subrata terkekeh, lalu dikecupnya sekilas ranum merah itu.
“Cerita apa saja kalian, kelihatannya asyik banget.”
“Banyak sih pa, paling banyak si cerita tentang Andika. Puteramu itu ternyata bucin banget pa. Kata Fitri, Andika selalu menelponnya sehari tiga kali. Pada jam-jam makan, seperti minum obat gitu. Lucu kan?” kata Vania masih terkekeh.
Subrata ikut tersenyum.
“Andika kan menelpon pada jam-jam istirahat, biar tidak mengganggu kesibukan Fitri,” ujarnya seperti membenarkan tindakan Andika. “Terus cerita apalagi. Sekilas aku mendengar dia menyebut-nyebut Megapolitan?”
Vania menganggukkan kepalanya.
“Oh, iya pa. Jadi Fitri mendapat keistimewaan. Dia bisa lulus lebih cepat karena nilainya bagus semua. Dia mendapat nilai terbaik di semua mata kuliahnya.”
“Cum Laude?
“Suma Cum Laude. Karena nilainya benar-benar sempurna.”
Subrata berdecak kagum.
“Lalu apa hubungannya dengan Megapolitan?”
“Dia membaca di Jurnal Internasional tentang situasi Megapolitan yang sedang terpuruk. Saham yang jatuh pada titik terendah. Dia berniat pulang ke Indonesia dan melamar pekerjaan sebagai konsultan di Megapolitan.”
“Kenapa melamar? Aku bisa menjadikannya sebagai CEO di Megapolitan Intercorp.”
Vania menggeleng cepat. Wajahnya terlihat kesal.
“Ih, papa selalu begitu. Fitri tidak mau bekerja atas rekomendasi siapapun. Dia ingin melamar bekerja dan dipilih karena prestasinya, bukan karena koneksinya.”
Wow, Subrata tercengang.
“Fitri datang karena cinta Pa. Dia hadir untuk mencoba menyelamatkan Megapolitan berdasarkan keilmuannya. Dan dia ingin bergerak bebas, tanpa digelayuti orang-orang yang menjilat, bila mereka tahu Fitri adalah calon menantu kita.”
Subrata terdiam. Pandangannya fokus pada langit-langit kamar. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tidak ada yang tahu. Yang jelas, ada senyum tipis yang terbentuk di kedua sudut bibirnya.