DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 69 MENGHADAP EYANG MIRYAM


EPS 69 MENGHADAP EYANG MIRYAM


“Panembahan Somawangi menjadi lelaki yang hampir sempurna. Kekurangannya hanyalah dia tidak bisa membohongi usianya sendiri. Walaupun memiliki raga layaknya pemuda berusia duapuluh lima tahun, tetapi usianya tidak pernah berubah. Dia tetap berusia di atas delapan puluh tahun. Karena usia adalah garis takdir yang tidak bisa dirubah oleh manusia,” ungkap Panembahan Mbah Iro.


Pranaja, Andika dan yang lainnya menganggukkan kepalanya. Mereka ,mulai memahami jalan ceritanya. Kisah hidup Panembahan Somawangi dan awal mula Trah Somawangi.


“Berarti setelah itu Eyang Panembahan Somawangi menikah dengan Eyang Riyani?” tanya Pranaja.


“Kau benar, Eyang Panembahan Somawangi menikah dengan Raden Ayu Ameswari Setyiriyaning Dyah Pitaloka, puteri Demang Wanasepi. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai empat orang putera dan satu orang puteri.”


Panembahan menghentikan ceritanya, lalu membuka lembar berikutnya dari kitab Irodarsulasikin.


“Putera pertama adalah Pangeran Haryo Ranggawiyana Kertanaki. Beliau yang mendapatkan anugerah kekuatan gabungan dari ketiga putera Begawan Wanayasa. Dia memiliki pukulan yang sangat dahsyat karena merupakan gabungan kekuatan inti air, angin dan api. Serta kekuatan dari langit Anugerah Mata Dewa dan batu Mustikaning Jagad.”


“Setelah itu, seperti sebuah siklus yang dirancang oleh roro Lawe, kekuatan gabungan itu diwariskan kepada keturunan Trah Somawangi setiap seratus tahun sekali. Dan sesuai garis takdir, pada tahun kembar 2020, keturunan Trah Somawangi yang mendapatkan kekuatan itu adalah Rich Pranaja.”


Serentak semua orang memandang Pranaja, kali ini dengan tatapan kagum.


“Kakek, kalau begitu, siapa yang menulis Kitab Irodarsulasikin ini?” tanya Andika.


“Yang menulis kitab Irodarsulasikin adalah puteri bungsu Panembahan Somawangi, yaitu Raden Ayu Sri Endang Darsulasikin. Dia mewarisi kecedarasan budenya, eyang Roro Lawe, si Dewi Pengetahuan.”


Semua orang yang ada di dalam pendopo diam seperti terkesima. Tapi wajah-wajah Pranaja, Eyang Penatus, Raden Mas Parto, bahkan Panembahan Mbah Iro terlihat lega. Sekarang sudah jelas semua misteri Miryam, Panembahan Somawangi dan keberadaan Trah Somawangi.


“Kalau begitu, sudah saatnya kita menghadap Eyang Miryam untuk meluruskan kesalahpahaman ini,” ujar Eyang Penatus.


“Agar kita tidak lagi di cap sebagai pembohong oleh isteri pertama Eyang Panembahan Somawangi,” sambung Raden Mas Parto.


Lagi-lagi Panembahan Mbah Iro menatap Kyai Badrussalam, meminta pendapatnya.


“Ya. Aku setuju. Tapi aku sarankan cukup Pranaja saja yang menemui eyang sambungnya, karena hanya kamu yang mampu meredam kekuatan Miryam.”


Panembahan Mbah Iro menganggukkan kepalanya. Bagaimanapun Kyai Badrussalam adalah tuan rumah yang harus di hormati. Apapun yang dilakukan harus mendengarkan pertimbangan-pertimbangan sang kyai. Karena dia lebih tahu kondisi kejiwaan Miryam dan kekuatannya.


“Baiklah. Kalau begitu aku meminta waktu untuk berbicara terlebih dahulu dengan Pranaja dan para tetua kami,” sahut Panembahan Mbah Iro.


Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya. Akhirnya jamuan untuk menyambut kedatangan para tamu dari Padukuhan Somawangi usai sudah. Panembahan Mbah Iro beserta rombongan dipersilahkan untuk beristirahat di gedung Abu Hurairah, yang terletak di sebelah gedung utama.


Mereka segera mematangkan rencana pertemuan Pranaja dengan Eyang Miryam.


“Kalau begitu, aku mengizinkan Pranaja untuk menemui eyang Miryam. Aku yakin ada maksud lain dari Kyai Badrussalam mengundang kita kesini, serta meminta Pranaja untuk menemui Miryam,” kata Panembahan Mbah Iro.


“Baik kakek, aku siap. Doakanlah aku selalu ya?” sahut Pranaja.


Pranaja menatap dalam ketiga kakeknya. Mereka begitu mempercayainya, dan dia tidak boleh mengecawakan harapan mereka. Hm, eyang Miryam, tunggulah kedatanganku, cucumu yang penuh bakti, Rich Pranaja.


***


Angin sore adalah pertanda bahwa waktu siang hari dibumi akan segera usai. Sinar matahari yang terik mulai meredup dan tubuhnya perlahan bergerak menuju garis cakrawala. Orang beranggapan bahwa sang raja surya akan masuk ke dalam peraduan untuk beristirahat memulihkan tenaganya. Karena esok hari, tugas yang sama sudah menantinya, memancarkan cahaya untuk menyinari dunia.


“Assalamu’alaikum!” sapa Andika dari luar kamar Miryam.


“Wa’alaikumsalam! Silahkan masuk Andika,” sahut Miryam manja.


Miryam memang meminta Andika untuk datang karena dia ingin mengabarkan sesuatu kepada suaminya, Santika.


Andika membuka pintu, diikuti Pranaja dibelakangnya. Lalu mereka berdua masuk dan duduk bersila didalam kamar Miryam. Nampak perempuan itu duduk membelakangi, sambil neteki puteranya. Betapa asyiknya Miryam merawat puteranya, hingga seolah dia tidak melihat kedatangan Andika dan Pranaja.


Dan begitu Pranaja masuk, Miryam langsung menghentikan kegiatannya. Rupanya dia mendeteksi kekuatan Tirtanala yang dimiliki Pranaja.


“Siapa yang bersamamu, Andika?” tanya Miryam tanpa menoleh ke belakang.


“Ini sahabatku Pranaja. Kebetulan sahabatku ini adalah juga cucumu.”


Miryam menghela nafas panjang. Rupanya dia teringat percakapannya dengan Kyai Badrussalam, tentang trah keurunan Panembahan Somawangi.. Perlahan Miryam membalikkan tubuhnya. Pranaja terperanjat, melihat satu pemandangan indah dideoan matanya. Perempuan ini cantik sekali, batinnya. Lalu dia mencolek pundak dokter muda itu.


“Eh, Andika. Eyang Miryamnya kemana?” bisiknya.


“Apa kau melihat ada orang lain disini? Eyang Miryam ya perempuan yang ada di depan kita ini.”


“What?” sahut Pranaja


Matanya membulat sempurna. Seperti baru saja melihat bidadari turun dari truk. Panah Dewa Amor begitu deras menghujam lubuk hatinya. Untuk kesekian kalinya dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya, kecantikan Miryam adalah abadi, yang membuat laki-laki muda macam Pranaja langsung tertarik kepadanya.. Sayang dia adalah nenekmu, Pranaja. Hehehe…


“Rupanya kau orangnya yang mengaku sebagai keturunan kangmas Somawangi?” tanya Miryam dengan wajah datar.


“I..iyya betul eyang. Aku salah satu keturunan eyang Panembahan Somawangi,” sahut Pranaja sedikit tergagap.


Miryam malah tersenyum sinis.


“Aku kenal kangmas Somawangi luar dalam. Dia tidak mungkin mempunyai anak. Jadi jangan mencoba menipuku dengan kebohonganmu.”


“Mengenai hal itu aku bisa menjelaskannya eyang. Tidak ada yang berbo…”


“Katanya kau juga menguasai kekuatan Tirtanala?”


Miryam memotong kata-kata Pranaja. Baru saja dia menganggukkan kepalanya, tubuh perempuan bidadari itu melesat sangat cepat ke hadapan Pranaja. Bahkan Andika tak melihat gerakannya, tahu-tahu Miryam sudah berada di depan Pranaja dan memegang ujung kepala pemuda itu.


“Kekuatan Tirtanala!” teriaknya.


Seketika ruangan kamar Miryam mendadak dingin. Hawa dingin yang membekukan dan menghancurkan menyerang tubuh Pranaja. Sebenarnya dia melihat gerakan Miryam saat menyerangnya, tapi Pranaja diam saja. Dia tahu, Miryam hanya bermaksud untuk menguji kekuatannya, bukan untuk melukainya. Dia membiarkan hawa dingin itu masuk melalui pori-pori kulitnya dan merasuk ke dalam aliran darah dan urat syarafnya.


Beberapa saat kemudian Miryam menghentikan serangannya, dia melihat Pranaja malah tersenyum-senyum. Sekarang dia yakin, Pranaja memang menguasai kekuatan murni Tirtanala, seperti yang diajarkan oleh Panembahan Somawangi. Tapi perempuan bidadari masih ingin menguji kekuatan Pranaja yang lainnya. Dia pun menarik tubuh Pranaja keluar dari kamarnya, lalu melemparkannya ke udara.


“Kekuatan Geni Sawiji!”