EPS 41 PENYERANG MISTERIUS
Malam sudah larut. Suasana begitu sepi dan mencekam di sekitar rumah Dandung di kawasan elit perumahan Pantai Indah Kapuk. Dandung baru saja terlelap, setelah semalaman berjaga duduk disamping tempat tidur Frida. Dia benar-benar menjaga gadis itu dengan sepenuh jiwanya. Pistolnya bahkan sudah terkokang siap diledakkan kepada siapapun yang berani membahayakan keselamatan kekasihnya itu.
“Tidurlah mas. Kau juga butuh mengistirahatkan hati dan pikiranmu,” ujar Frida.
Ditatapnya wajah sang kapten dengan perasaan khawatir. Setelah berbagai peristiwa tragis yang terjadi pada anak buahnya, jiwa Dandung memang sedikit terguncang. Dia seperti mengalami trauma, ketakutan berlebihan akn kehilangan orang-orang yang di sayanginya. Apalagi setelah terbunuhnya Edhik, dokter Santoso, dan dua orang anak buahnya, Dandung jadi bersikap over protektif kepada Frida.
“Tidak. Aku akan menjagamu di setiap detik waktu yang merambat. Aku akan melindungimu di setiap detak jantung yang merapat. Tidak ada sesuatupun yang bisa menghalangi .jalanku. Apalagi hanya sekedar rasa kantuk,” ujar Dandung dengan wajah tegang.
Frida tersenyum manis sekali. Ah, mungkin malam ini dia menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Sekian lama dia mencintai laki-laki didepannya itu dengan sepenuh hatinya. tanpa mengharapkan apa-apa. Dia juga membiarkan Dandung merenggut kesuciannya, demi melihat lelaki itu tersenyum bahagia. Selalu memaafkan walaupun hatinya tersakiti, dan membalas setiap kesalahan dengan doa.
Dan sekarang dia sedang menuai buah dari apa yang dia tanam. Pada akhirnya Dandung menyatakan cintanya. Bahkan melebihi harapannya, Dandung terlihat betul-betul tidak mau kehilangan dirinya. Siang malam menjaganya dengan segenap jiwa, walaupun nyawa tarhannya. Ketulusan cintanya seperti terbayar lunas.
“Kamu lupa kalau aku ini juga seorang polisi? Bahkan aku pemegang sabuk hitam Karate,” ujar Frida. “Kau masih saja tidak percaya aku bisa menjaga diriku sendiri?”
Dandung menatap mata Frida dalam-dalam.
“Aku percaya dengan kemampuan bela dirimu, tapi aku tidak percaya kau bisa melindumgi dirimu dari serangan musuh kita yang satu ini.”
Frida menaikkan kedua alis matanya.
“Memang seberapa tangguh musuh kita mas?”
“Aku tidak tahu Free. Yang jelas dari sekian kasus pembunuhan polisi yang terkait dengan masalah ini, kita belum mendapat petunjuk apapun tentang pelakunya.”
Frida menatap mata Dandung dalam-dalam. Dia dapat melihat kemarahan yang begitu dalam, tapi berusaha keras untuk menahannya. Bagaimanapun mereka adalah aparat penegak hukum, yang harus bekerja berdasarkan petunjuk dan alat bukti. Bukan menuruti emosi apalagi dendam kesumat. Mungkin inilah yang membuat Dandung sedikit frustasi. Apalagi setelah Pak Simson membebaskannya dari tugas ini dan memberinya cuti selama dua minggu.
Frida memegang tangan Dandung, lalu menekannya. Sambil tiduran dia memijit tangan Dandung dari siku sampai telapak tangannya. Kapten tampan itu hanya terdiam, menikmati desiran-desiran halus yang muncul karena pijatan tangan lembut Frida. Menikmati getaran-getaran cinta yang merehatkan raganya. Dan tak berapa lama, laki-laki tangguh itupun tak mampu menolak batasannya sebagai manusia biasa. Dia tertidur pulas di samping kekasih yang seharian di jaganya.
“Selamat tidur cinta,” bisik Frida, sambil menutupi tubuh kekasihnya dengan selimut tebal. Dikecupnya kening komandannya itu.
Kemudian Frida bangkit dari tidurnya. Mengambil air wudhlu, dan memakai mukenanya. Melaksanakan kewajibannya sebagai hamba kepada Sang Khaliknya. Mengadukan kegundahan hatinya lewat doa-doa. Menguatkan jiwa dan pikirannya lewat dzikir dan pujian kepada Sang Maha Pencipta.
Dalam keadaan hening dan khusyuk, indera perasanya mejadi lebih tajam. Sekilas dia mendengan suara benda jatuh. Lalu diikuti langkah kaki yang sangat halus menuju ke dalam rumah. Gadis itu langsung waspada. Jelas itu bukan langkah kaki para penjaga. Karena mereka dilarang masuk ke dalam rumah, kecuali dalam keadaan terpaksa. Frida mencopot mukenanya, kemudian mematikan lampu tempat dia melakukan sholat.
“Klik!"
Bunyi saklar lampu sempat membuat langkah kaki itu terhenti. Beberapa saat Frida diam menunggu. Dia tidak mau membangunkan Dandung yang baru terlelap. Langkah kaki itu terdengar lagi, semakin mendekat ke dalam rumah.
Ceklek! Zrrd!
Terdengar suara kunci dan pintu di geser. Wajah Frida terkesiap kaget. Pintu itu sudah dikunci dengan peralatan khusus dan hanya Dandung yang punya kode-kodenya. Tapi mengapa pintu itu bisa di buka dengan mudahnya? Frida semakin waspada, dia diam menunggu di dalam kamar, sambil menjaga Dandung. Dua buah pisau komando diselipkan dibalik pinggangnya. Dalam hatinya dia terus membaca dzikir.
Dan seperti dugaannya, langkah kaki itu semakin mendekati kamarnya. Terdengar semakin lambat dan semakin ringan, lalu berhenti tepat di depan pintu. Frida semakin waspada. Betul kata Dandung, kali ini mereka benar-benar menghadapi musuh yang tangguh. Menguasai data, menguasai medan dan menguasai tekhnologi. Seaat kemudian terlihat pegangan pintunya mulai berputar.
“Rupanya mas Dandung lupa menguncinya,” batin Frida.
Zrrd!
Terdengar benda berat yang digeser. Pintu kamar itu terbuka perlahan. Kedua tangan Frida memegang pisau komando di pinggangnya dengan erat. Terlihat sosok manusia memakai jubah serba hitam memasuki kamar mereka. Ada sebuah topeng berwarna putih menutupi wajahnya. Dan di tangan kanannya dia memegang sebuah pistol yang diarah ke tubuh Dandung yang sedang tertidur lelap.
“Aargh!” teriak orang itu.
Pisau berbentuk belati itu tepat mengenai punggung tangan dan paha orang itu. Pistolnya jatuh ke lantai. Tubuh Frida langsung melompat ke udara. Begitu mendarat, dia langsung menebas leher orang itu dengan punggung tangannya sendiri. Orang itu tidak sempat melakuan perlawanan.
Bug!
“Aakh!”
Teriak orang itu. Tebasan tangan Frida tepat mengenai tengkuknya dan membuat prag itu langsung jatuh tak sadarkan diri. Gadis itu berdiri gagah mengamati tubuh penyerangnya. Tiba-tiba dari kegelapan muncul orang lainnya yang mengacungkan senjatanya tepat ke arah Frida. Polwan cantik itu tak sempat lagi menghindar. Dia hanya memejamkan matanya.
Dor!
Terdengar bunyi tembakan.
Bug!
Suara benda jatuh.
Aaakh!
Frida membuka matanya. Dilihatnya si penyerang sudah terkapar di lantai. Frida menoleh ke belakang. Terlihat Dandung berdiri tegak sambil mengacungkan pistolnya. Rupanya suara keributan itu telah membangunkannya pada saat yang tepat. Saat si penyerang hendak menembak Frida, dia langsung bereaksi. Pistolya meletus dan si penyerang sudah roboh. Dandung melompat, merangkul Frida dari belakang, kemudian menjatuhkannya.
Brug!
Tubuh dua orang perwira polisi itu jatuh ke lantai dalam posisi tiarap. Pandangan mata Dandung berputar mengawasi keadaan.
Drrt..drrttt!
Ponselnya berbunyi, Dandung mengangkatnya.
“Halo! Apa semuanya baiak-baik saja ndan?” tanya komandan pasukan khusus yang berjaga di luar rumahnya.
“Ada dua korban jatuh di dalam,” sahut Dandung. “Amankan keadaan.”
“Siap Komandan!”
Dandung duduk berjongkok. Beberapa orang anggota pasukan pengawal masuk ke dalam ruangan. Perlahan tangannya membuka topeng yang dipakai penyerang yang pingsan dipukul Frida. Dan wajah Dandung langsung terkesiap kaget.
“Pak Ulin!” teriak Dandung dan Frida hampir bersamaan.
“Pak salah satu korban terluka tembak adalah Bripda Vino, salah satu anggota kita.”
Wajah Dandung terkejut untuk yang kedua kalinya.
“Apa!”
Lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak. Ini tidak benar.”
Mendadak seorang anak buahnya ikut masuk dengan tubuh menggigil.
“Di taman, Abripda Herwan meninggal dengan luka tusuk di ulu hatinya Komandan!”