EPS 83 BERHARAP PADA WAKTU
Bungaku, ku dengar suaramu memanggilku. Jalani semua dan janganlah kau bersedih. Hapuslah air matamu, lepaskan risau yang hanya membuatmu kan terluka. Aku pun rindu, mengejar semua mimpi yang berarti. Cobalah kau hayati artimu bagiku. Bahkan bintang pun tak dapat menggantikan dirimu.
Miryam mengusap kedua matanya yang mulai mengembun. Ditatapnya wajah Andika dalam-dalam. Kenapa tidak terpikir olehku ya? batinnya. Andika membuka kedua tangannya. Miryam berdiri perlahan menghampirinya. Merengkuh tubuh Andika, lalu merebahkan kepalanya di dada pemuda itu. Terdengar detak jantung suaminya yang berada di dalam tubuh Andika berdegup semakin keras.
Dugdug..dugdug…dugdug…
Air matanya semakin deras mengalir, tapi dia tetap berusaha mengembangkan senyumnya.
“Apa yang sedang kau lakukan dalam mimpimu kakang?” Miryam bermonolog. “Tidurlah sepuasmu, dan bagunlah saat kau sudah lelah dengan mimpimu.”
Dugdugdug...Dugdugdug...Dugdugdug…
Detak jantungnya berbunyi semakin cepat. Rupanya jantung Santika merasakan kehadiran perempuan yang dicintainya.
“Aku datang hanya untuk meminta restumu. Puteramu membutuhkan nama, dan aku harus memberikannya karena kau masih terlelap dalam mimpimu. Apakah kau mengizinkan aku?” bisik Miryam di bibir bergetar.
Dugdugdug!...Dugdugdug!...Dugdugdug!...
Suara detak jantung Santika bahkan terdengar di telinga Andika. Sepertinya Santika mengizinkan Miryam untuk memberi nama buah hati mereka.
“Kau benar Andika, kakang Santika telah merestui aku untuk memberi nama puteraku,” ujar Miryam sambil tersenyum.
Dia melepaskan kedua tangannya yang memeluk tubuh Andika. Lalu dia kembali duduk di peraduannya. Berkali-kali kedua tangannya berusaha menghentikan air matanya yang terus mengalir. Tapi tak berhasil. Rasanya perasaannya sedang melambung dalam keharuan karena bahagia.
“Kalau begitu sekarang pikirkan siapa nama yang akan kau berikan kepada puteramu,” kata Andika. “Jangan lama-lama, acara selamatan akan segera di mulai.”
“Sebenarnya kakang Santika dan aku telah mempersiapkan nama untuk buah hati kami, baik itu putera maupun puteri. Dan nama itu selalu kusimpan dalam pikiranku.”
Miryam terdiam, keningnya berkerut seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Andika duduk terdiam didepannya, menunggu jawabannya. Hingga akhirnya Miryam menyebut sebuah nama.
“Namanya Arya Janu.”
Andika menganggukkan kepalanya.
“Arya Janu? Nama yang sangat bagus. Kau pintar memberi nama anakmu Miryam.”
“Hm, nama itu merupakan julukan orang-orang Jalatunda kepada pemimpinya, yaitu kakang Santika.”
“Memang artinya apa?”
“Artinya?” Miryam tersenyum malu-malu. “Lelaki yang mampu mewujudkan mimpi.”
Andika mengangguk-angguk lagi. Nama yang memiliki makna yang sangat dalam. Sekaligus doa yang sangat baik dari kedua orang tuanya.
“Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu. Abah dan para tamu sedang menungguku sekarang. Aku akan mengabarkan berita gembira ini kepada mereka.”
Miryam tersenyum lebar. Andika menjadi takjub. Setelah sekian lama mereka bersama, baru kali ini dia melihat senyum perempuan bidadari ini begitu lebar. Menandakan kalau hatinya sedang sangat bahagia. Tidak seperti hari-hari Miryam yang selalu dirundung kesedihan dan air mata.
“Terimakasih Andika. Setelah kakang Santika, kau adalah laki-laki kedua yang ada dalam hatiku. Kau terlalu baik sebagai manusia. Terimakasih,” Miryam mengulagi ucapan terima kasihnya kepada pemuda berhati malaikat itu.
“Tetaplah tersenyum Miryam. Kau adalah bunga yang sangat dirindukan oleh banyak hati. Mereka takjub melihat ketangguhanmu melawan kejamnya takdir dan mempertahankan keyakinanmu akan kehidupan yang bahagia bersama kakang Santikamu.”
***
Acara selamatan tujuh hari putera Miryam dan Santika berjalan lancar. Apalagi setelah Andika berhasil membujuk Miryam untuk memberikan nama. Nampak ada rasa lega di wajah kyai Badrussalam. Walaupun sebenarnya dia sudah mempersiapkan nama cadangan jika Miryam tetap bersikukuh tidak mau memberikan nama untuk puteranya.
“Sesuai dengan keinginan orang tuanya, maka jabang bayi putera Miryam dan Santika ini akan diberi nama Arya Janu. Maknanya adalah laki-laki yang mampu mewujudkan mimpi,” ujar Kyai Badrussalam yang disambut suara bisik-bisik para tamu undangan.
“Eh, kenapa bayinya tidak diperlihatkan kepada kita?” tanya salah satu dari mereka.
Temannya hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku juga tidak tahu. Tapi aku curiga, mungkin wujud bayi itu tidak seperti bayi pada umumnya. Kabarnya dia sangat kuat. Pukulannya sanggup meremukkan tulang orang dewasa.”
“Sstt! Jangan bergosip, pamali,” sambung orang ketiga. “Kata orang, bayi ini sangat sakti. Dia bisa mengetahui kalau ada orang yang berbicara jelek mengenai dirinya.”
Mendengar kata-kata temannya, kedua orang yang sedang membecarakan Arya Janu itu langsung terkesiap. Mereka berusaha menutup mulutnya rapat-rapat. Tapi tak urung matanya melihat kesana-kemari, seperti ketakutan ada hal tak kasat mata yang sedang mengawasi mereka.
“Hem!” kyai Badrussalam terbatuk, mencoba menenangkan suasana. “Dan saya mohon maaf, karena satu dan lain hal, Miryam dan puteranya Arya Janu belum bisa dihadirkan di depan kita semua.”
Beberapa saat kemudian, setelah pembacaan doa, jamuan makan ala pesantren pun dimulai. Beberapa makanan tradisional sumbangan masyarakat sekitar pesantren di sajikan, menambah selera makan para tamu yang hadir. Apalagi saat hidangan kambing guling ala chef Pranaja di hidangkan, semua langsung menyerbunya.
“Wah, ternyata resep kambing guling milikmu sangat disukai para tamu Pranaja. Lihatlah, semua kambing hampir habis, tinggal tersisa tulang-tulangnya,” kata Andika.
Tidak ada respon dari Pranaja. Dia hanya duduk diam, seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Andika segera menggeser duduknya mendekati pemuda bertubuh gempal itu.
“Eh, Pranaja. Ada apa denganmu? Masih terpikir dengan eyangmu yang cantik itu?” ledek Andika.
Pranaja menganggukkan kepalanya. Sontak Andika terkekeh.
“Ternyata benar dugaanku. Kau langsung jatuh cinta begitu melihat eyang Miryam, hehehe..”
Pranaja memadang wajah Andika yang sedang menertawakannya. Lalu pemuda itu menggelengkan kepalanya.
“Aku memang terpesona dengan kecantikan eyang Miryam, tapi bukan itu yang sedang aku pikirkan.”
Andika mengernyitkan keningnya.
“Kalau begitu, apa yang membuatmu gelisah sejak kita kembali dari kamar Miryam?”
“Apa kau memperhatikan laki-laki dewasa yang tertidur di dalam peti kaca?”
“Owh, itu suaminya Miryam. Namanya Santika.”
Pranaja mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Aku juga sudah menduganya. Berarti jasad Santika ikut terkubur selama limaratus tahun bersama tubuh Miryam?”
“Ya. Karena tubuhnya terselubung kekuatan Tirtanala. Kau bisa merasakannya kan?”
“Ya. Tentu saja. Walaupun aku juga tidak pernah menyangka kekuatan Tirtanala mampu menjaga tubuh yang sudah mati sebegitu lamanya.”
Salah satu kekuatan Tirtanala adalah menyejukkan sekaligus menyembuhkan. Yaitu kekuatan yang mampu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak dan menggantinya dengan sel-sel baru. Itulah mengapa jasad Santika tidak mengalami pembusukan walaupun terkubur selama ratusan tahun lamanya. Walaupun begitu, tetap saja Tirtanala yg tidak dapat menghidupkan orang yang sudah mati.
“Tapi mengapa jasad Santika tidak segera dikuburkan? Apa yang sedang ditunggu Miryam?” tanya Pranaja lagi.
Andika menghela nafas panjang, lalu menatap wajah sahabatnya itu lekat.
“Karena keyakinan. Miryam yakin suatu saat perjalanan cintanya bersama Santika akan menemukan kebahagiaan. Dengan kekuatan Tirtanala yang dimilikinya, dia tinggal berharap pada waktu.”