DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 89 CINTA AYAH


EPS 89 CINTA AYAH


Ayah mungkin tak pandai menunjukkan rasa cinta pada anak-anaknya, tapi dibalik itu semua ia diam-diam berjuang dan berkorban demi masa depan mereka. Subrata memandangi kepergian Susan sampai tubuh perempuan itu menghilang di balik pintu lift. Lalu dia berjalan kembali ke Balkon. Menikmati kembali pemandangan bintang dari lantai paling atas gedung Ritz Carlton Hotel setinggi 450 meter itu.


Alam semesta tempat jutaan benda-benda langit bergerak secara teratur dengan cara yang penuh misteri. Disamping menawarkan keindahan, juga menyimpan potensi bahaya yang mengerikan, saat benda-benda itu saling bertabrakan. Bumi menjadi salah satu planet yang sering dihantam benda-benda angkasa yang tersesat masuk ke orbit bumi. Sebagian besar hancur dan gagal menembus atmosfer, sebagian kecil lolos dan menghancurkan permukaan bumi.


Jegjegjegjegjeg!



Mendadak terdengar suara helikopter memecah keheningan malam menjelang pagi itu, Subrata menajamkan penglihatannya. Sebuah helikopter tempur Apache tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang gedung-gedung pencakar langit. Setelah meliuk di udara dan membentuk setengah lingkaran, burung besi bermesin super canggih itu berhenti tepat di depan balkon dimana Subrata berdiri.



Subrata menengadahkan kedua tangannya di depan wajah. Sinar lampu sorot yang menyilaukan dari helikopter itu membuat matanya tidak bisa melihat dengan jelas. Untuk sesaat dia dia tidak melihat apa-apa. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah itu dia menatap ke depan kembali. Tepat saat itu sang pilot menekan tombol fire pada papan panel dihadapannya.



‘Wush!”



Sebuah rudal patriot yang sangat akurat dan berkekuatan tinggi meluncur dengan sangat cepat. Tepat mengarah ke balkon kamarnya. Mata Subrata langsung terbelalak. Tidak ada waktu untuk menghindar dan kesempatan untuk berlari. Dia hanya bisa melihat peluru kendali itu meluncur tepat ke arah tubuhnya. Namun senyum lebar tetap tersungging di wajahnya yang begitu tenang.



SYIUT! SYIUT! SYIUT! SYIUT!



Empat berkas cahaya berwarna kuning keemasan tiba-tiba muncul dari kegelapan atap hotel. Melesat cepat membentuk garis cahaya yang menyilaukan mata. Dua cahaya menyambut kedatangan rudal Patriot, dua cahaya lainnya menyasar ke arah pesawat helicopter Apache yang terbang mengapung di udara. Wajah sang pilot mendadak pucat pasi dan tak sempat lagi bersuara.



BLAR! BLAR! BUM!



Terkena sambaran cahaya-cahaya laser tadi, rudal patriot dan helikopter itu langsung meledak hampir bersamaan. Suaranya menggelegar, menggetarkan langit diatas kota San Fransisco. Subrata masih berdiri tegak di tempatnya. Ledakan super dahsyat yang terjadi di depan matanya, sama sekali tidak membuatnya terluka. Rupanya ruang balkon itu sudah dilapisi kaca anti peluru yang sangat tebal dan transparan.



Brak! Prak! Bug!



Beberapa serpihan logam ada yang terlempar ke arah dirinya dengar cepat, namun hanya membentur dinding kaca itu dengan sangat keras. Namun tidak ada yang retak ataupun pecah, bahkan bergetarpun tidak. Inilah yang disebut sebagai X-Ray Shield, sebuah sistem pertahanan yang dirancang perusahaan senjata miliknya. Sungguh sebuah sistem pertahanan yang sangat canggih, yang hanya dimiliki orang-orang sekelas Subrata.



Tap! Tap! Tap!



Terdengar langkah kaki yang berlari cepat masuk ke dalam kamar.


“Protection Dome!” teriak komandannya.


Beberapa pengawal Subrata masuk ke dalam ruangan dengan senjata siap tempur. Mereka berdiri membentuk pagar betis untuk melindungi sang big bosnya. Lalu berjalan cepat dari balkon kamarnya, lalu keluar melalui pintu rahasia. Beberapa pengawal lainnya langsung membersihkan tempat itu dengan cepat, menghilangkan jejak Subrata di kamar Presidential Suite hotel Ritz Carlton hingga sidik jarinya pun hilang tak berbekas.


***


Di jalan depan hotel Ritz Carlton, Susan yang baru saja keluar dengan mobil para pengawalnya, melihat dengan jelas peristiwa itu. Dari awal kedatangan pesawat helikopter itu, dia sudah merasa curiga. Apalagi saat melihat api yang keluar dari ekor rudal patriot ditembakkan dari pesawat tempur dan melesat cepat ke arah balkon dimana tadi dia dan Subrata berdiri menikmati bintang.



BLAR! BLAR! BUM!




“Subrata!” teriaknya.


Tanpa menoleh ke arah sopir, dia memerintahkan agar mobilnya dihentikan.


“Subrata!” teriakannya semakin keras. ” Berhenti! Berhenti! Berhenti, pak!”


Tapi perintahnya sama sekali tak digubris. Mobil yang mengantarnya terus saja melaju menyusuri jalan kota yang terlihat lengang. Bahkan seorang pengawal yang duduk di samping supur pin tidak bereaksi apa-apa, padahal baru saja terjadi ledakan di hotel tempat big bosnya tinggal. Susan langsung membalikkan tubuhnya, menoleh ke arah mereka dengan tatapan mata penuh rasa marah.



“Calm down ma’am. Everything is fine,” ujar si pengawal dengan sopan.


“Heh! Kalian anak buahnya Subrata kan? Kenapa kalian membiarkan saja bos kalian yang sedang berada dalam bahaya?”


“Nothing happened to mr. Subrata ma’am. You can call him after we get home.”



Susan terhenyak. Segera dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Subrata. Nomornya masih aktif, tapi tidak ada jawaban. Heh, gadis itu menghela nafas panjang. Paling tidak hal itu membuat perasaannya sedikit lega. Dan dia percaya Subrata dikelilingi para pengawal terbaik di dunia.



Akhirnya mobil pengawal Subrata itu sampai di rumah Susan. Perempuan itu segera turun dari mobil dan menelpon kembali. Nomornya masih tetap aktif, tapi belum juga diangkat oleh Subrata. Lalu seorang pengawalnya turun dan memberikan ponselnya.



“Use emergency number ma’am.”


Susan menerimanya. Ponsel itu sudah tersambung.


“Halo, ada apa Fred?” suara Subrata di ujung telpon.


“Halo, Subrata ini aku, Susan, apa kau baik-baik saja?” sahut Susan.


“Owh, ya Susan. Aku baik-baik saja. Sekarang masuklah ke dalam rumahmu. Tutup semua pintu dan jendela dan untuk hari ini jangan menerima siapapun yang datang ke rumahmu,” pesan Subrata.


Susan terdiam beberapa saat.


“Iya. Oke," ucapnya sambil melihat sekeliling rumahnya.


“Jangan takut, para pengawalku akan menjagamu duapuluh empat jam.”


Susan mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu hubungan telepon mereka terputus. Susan bergegas masuk ke dalam rumahnya. Sebelum menutup pintu, dia sempat melihat ke sekeliling rumahnya. Terlihat beberapa mobil asing terparkir tidak jauh dari rumahnya yang terletak di kawasan elit. San Fransisco. Itu pasti para pengawal Subrata, batinnya.



Setelah mandi dan memakai baju tidurnya, Susan tiduran di kamarnya. Setelah peristiwa yang terjadi semalam, rasanya tubuhnya begitu penat dan butuh istirahat. Tapi entah kenapa kedua matanya seperti tidak mau terpejam. Hatinya begitu gelisah dan tak tenang. Satu persatu dia mencoba merangkai kata-kata Subrata tadi malam.



‘Ternyata Subrata memiliki seorang putera, bernama Andika. Tapi dia tidak tertarik dengan dunia bisnis ayahnya, sehingga Subrata berencana menjadikan Marcon Allpanigard sebagai penggantinya. Rencana yang sangat cerdik, dan Subrata berusaha merubah karakter Marcon dengan caranya,’ batinnya.



Bibirnya tersenyum lebar, saat kedua matanya terpejam, jatuh ke alam mimpi.