EPS 35 PANEMBAHAN PRANAJA
Bulan, berhentilah mengejarnya dan jadikan aku Mataharimu….
Larut adalah sesuatu yang hilang dalam putaran yang tak bertepi. Rasa adalah bayangan semu tentang keindahan yang menipu. Suka adalah pandangan mata yang terkontaminasi. Rindu adalah angan berlebihan terhadap sesuatu yang tak ada. Dan cinta adalah akumulasi dari semuanya.
Tenggelam dalam suasana sunyi, bermain dengan kekecewaan karea cinta yang berlebihan? Panembahan Mbah Iro, Raden Mas Parto, Eyang Penatus dan Rich Pranaja saling menundukkan kepala. Bermain dengan hati dan pikirannya sendiri. Seperti orang yang tiba-tiba merasa kehilangan jati diri, dan tersesat di dunia yang gelap. Cahaya yang terang itu sekarang tinggal kerlip di malam sunyi.
Jiwa mereka terguncang, seperti belum siap mengetahui sisi kelam Panembahan Somawangi yang selama ini mereka puja sebagai manusia setara dewa. Lalu terjadi kontradiksi. Memindahkan janin dari rahim ibunya kepada rahim perempuan lain tanpa diketahui? Itu adalah kejahatan yang sempurna. Kekejaman yang paling brutal, tanpa memperhitungkan berapa hati yang akan tersakiti. Dan itu akan menjadi noktah hitam yang ditanggung anak keturunannya.
“Benar-benar bodoh dan pengecut!” gumam Pranaja tiba-tiba.
Panembahan Mbah Iro, Eyang Penatus dan Raden Mas Parto seperti tersentak. Pandangan mereka serentak memelototi Pranaja. Tidak pernah ada seorang pun yang berani berbicara jelek palagi memaki Panembahan Somawangi. Manusia yang selama ini mereka puja layaknya dewa.
“Kalau benar Miryam adalah isteri Eyang Panembahan Somawangi, berarti kita ini siapa, kakek? Dalam kitab Irodarsulasikin jelas tertulis, isteri Eyang Panembahan Somawangi adalah Raden Ayu Ameswari Setyariyaning Diah Pitaloka, Atau Eyang Riyani,” gumam Pranaja kembali.
Dia sama tak peduli dengan tatapan kemarahan kakek-kakeknya. Baginya saat ini kemarahan bukanlah sesuatu yang penting. Apa yang terjadi dengan Miryam dan Ken Darsih adalah tragedi kemanusiaan. Apalagi kalau sampai kedua bidadari itu bertarung menyabung nyawa tanpa mengetahui siapa diri mereka sebenarnya.
“Aku harus menemui Eyang Miryam di Pesantren abah Badrussalam,” ujarnya.
Mendengar kata-kata Pranaja, ketiga kakeknya serentak membelalakkan matanya lebih lebar lagi. Pranaja akan menemui Miryam? Bukankah itu tindakan yang terlalu tegesa-gesa?
“Jangan bertindak ceroboh Pranaja! Kita belum tahu pasti siapa Miryam sebenarnya!” ujar Raden Mas Parto tajam.
“Kau adalah pemimpin besar Trah Somawangi. Jangan sampai tindakanmu menyakiti seluruh keturunan Begawan Wanayasa!” sambung Eyang Penatus tak kalah keras.
Pranaja memandang kedua wajah kakeknya itu.
“Lalu darimana kita akan mendapat kepastian kalau bukan dari Eyang Miryam sendiri? Justeru karena aku adalah Pemimpin Besar Trah Somawangi, aku bertanggung jawab untuk mengetahui sejelas-jelasnya tentang keberadaan kita kakek.”
“Pedoman hidup Trah Somawangi adalah kitab Irodarsulasikin cucuku, itulah yang harus kita yakini,” ujar Panembahan Mbah Iro dengan suara tertahan.
“Dan ternyata itu tidak cukup kakek. Kitab ini tidak bisa menjawab apa yang ditulis dalam daun lontar itu. Aku yakin cerita ini benar. Eyang Senthir adalah seorang Acarya, aku yakin dia tidak berbohong,” sahut Pranaja.
Pandangan mata ketiga kakeknya perlahan meredup.
“Apa yang harus kita lakukan kakek? Terus memendam kebohongan, atau berupaya mencari kebenaran?” ujar Pranaja lagi.
Ketiga kakeknya terdiam, berusaha menangkap maksud kata-kata pemuda itu.
“Bayangkan kakek, kalau Miryam sampai bertemu Ken Darsih diluar pengetahuan kita. Lalu keduanya bertarung sampai ada yang terluka, ini akan menjadi dosa Eyang Panembahan Somawangi dan seluruh anak keturunannya,” tandas Pranaja.
Ah, ucapan Pranaja begitu menyentuh hati ketiga kakeknya. Mereka langsung menundukkan kepalanya. Memberi rasa hormat kepada pemimpin baru mereka. Ternyata Pranaja begitu keras dan berani menunjukkan tanggung jawabnya, bahkan dalam situasi yang tiba-tiba mengacaukan hati dan pikran mereka. Panembahan Mbah Iro menggeser duduknya, mendekati Pranaja.
“Maafkan kami,” ucap Panembahan Mbah Iro pada akhirnya. “Apa yang kau ucapkan benar, Pranaja. Sebaiknya kau menemui Kyai Badrussalam dan menyampaikan maksud hatimu untuk menemui Miryam.”
“Maaf kakek. Setelah mendengar kisah hidup Miryam yang ditulis Eyang Senthir tadi, tiba-tiba aku ingin berkunjung ke Pesantren Ksatryan Santri,” ucap Pranaja.
Kyai Badrussalam tersenyum.
“Kau adalah Pemimpin Besar Trah Somawangi. Dengan senang hati kami akan menyambut kedatanganmu Panembahan Pranaja.”
Andika langsung menutup mulutnya karena tak tahan mendengar kata-kata Abah Kyai Badrussalam yang terdengar aneh.
‘Panembahan Pranaja? Hehehe…tua banget,’ batinnya.
Wajah Pranaja langsung bersemu merah sambil melirik Andika.
‘Pasti Andika sedang menertawakan aku,’ katanya dalam hati.
“Ehm, begini kakek. Aku juga bermaksud menemui Eyang Miryam, boleh kan?”
Lagi-lagi Andika menutup mulutnya menahan tawa.
‘Eyang Miryam? Bahkan kau akan jatuh cinta begitu melihatnya Pranaja,’ batin Andika lagi. ‘Hehehe..’
“Maaf Panembahan. Ada baiknya kau menunda pertemuanmu dengan eyangmu itu,” ujar Kyai Badrussalam.
“Kenapa Kek?”
“Saat ini Eyangmu itu sedang menunggu kelahiran puteranya. Aku tidak ingin jiwanya terguncang dan mengganggu bayi yang ada di dalam rahimnya.”
Pranaja mengernyitkan keningnya. Eyang Miryam hamil? Bukankah suaminya sudah meninggal? batinnya.
“Sebelum Santika meninggal, mereka adalah suami isteri. Dan janin itu sudah ada dan ikut terpendam di dalam peti batu selama limaratus tahun,” sahut kyai Badrussalam seperti bisa membaca batin Pranaja.
What? Mulut Pranaja tanpa sadar terbuka. Bayi itu tetap hidup dalam rahim ibunya selama lebih dari limaratus tahun? Di rendam dalam kekuatan Tirtanala? Pasti dia sangat kuat.
“Baiklah kakek. Aku akan mengikuti nasihatmu,” kata Pranaja sambil menganggukkan kepalanya.
Pranaja segera bangkit dari duduknya. Wajahnya sedikit ditekuk. Huh! Andika pasti sedang menertawakan aku, batinnya kesal. Lalu dia membalikkan tubuhnya, hendak kembali ke tempat Panembahan Mbah Iro. Namun mendadak Andika memanggilnya.
“Eits! Tunggu dulu Eyang Panembahan!”
Pranaja menghentikan langkahnya. Tapi dia tidak mau berbalik dan memandang wajah Andika. Dia tahu pasti pemuda itu sedang menertawakannya.
“Gak pakai Eyang kali!” gumam Pranaja kesal.
“Ups, Salah! Maaf Panembahan gak pakai Eyang! Tapi kalau kau mau mengunjungiku sebagai teman, boleh kok. Iya kan Abah?” ujar Andika.
Dia menengok ke arah Kyai Badrussalam sambil tersenyum lebar. Kyai Badrussalam juga ikut tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.
“Tentu saja boleh, Pranaja,” katanya.
Hahaha…
Akhirnya semua tertawa. Memecah kebekuan yang sejak tadi tercipta. Mencairkan suasana kaku yang terjadi karena catatan sang Acarya.
***
Di ruang sunyi. Miryam duduk sendiri. Melantunkan nyanyian dari sudut kamar. Sambil menikmati wajah bulan yang tersamar. Karena gugusan awan hitam sedang melewatinya, perlahan menutupi sebagian wajahnya. Sampai suasana betul-betul gelap. Seperti cinta yang tak lagi berharap.
Sesaat bulan benar-benar mati. Angin kering bertiup dari gunung mati. Burung gagak berkoar di dahan mati. Hanya cinta Miryam yang tak pernah mati. Mengalun merdu menusuk hati, mengabarkan rindu yang tak bertepi.
Kidung kedresaning kapti, (Nyanyian kesungguhan hati)
Yayah nglamong tanpa mangsa, (Seolah meracau tanpa kenal waktu)
Hingan silarja jatine, (Hingga keselamatan yang paling hakiki)
Satata samaptaptinya, (Selalu siap hatinya)
Raket rakiting ruksa, (Menghadapi rangkaian gangguan)
Tahan tumaneming siku, (Kuat menghadapi kemarahan)
Karasuk sakeh kasrakat. (Menerima semua penderitaan)
(Rangga Warsita, Serat Jayengbaya)
Ah, air mata ini, tak pernah kering untukmu Miryam. Seandainya aku bisa menjadi Mataharimu….