DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 23 SERAT DEWA RUCI


EPS 23 SERAT DEWA RUCI


Seperti kerlip bintang di malam hari. Peniup seruling melantunkan lagu rindu dan nyanyi sunyi. Memberi damai para gembala memejamkan mata. Menjaga hidup di padang sabana. Karena esok hari angin akan kembali berlari. Memberi sejuk pada embun yang menetes di bening matamu.


“Ada hajat apakah saudaraku abah Kyai Badrussalam singgah di dukuh Somawangi?’ tanya Panembahan Mbah Iro.



Mereka duduk berdua di dalem Amperan, semacam ruang beranda samping, di Rumah Joglo yang menjadi kediaman Pemimpin Besar Trah Somawangi. Menikmati angin malam yang meniup gelisah. Menampar dedaunan yang merunduk di kegelapan. Tapi mengapa wajah renta keduanya terlihat begitu cerah?



“Sebelumnya aku mengucapkan terimakasih atas sambutanmu, dan mohon maaf karena telah merepotkanmu,” sahut Kyai Badrussalam.



Panembahan Mbah Iro menggelengkan kepalanya.


“Tidak perlu sungkan, saudaraku. Sejak pertama kali bertemu, aku sudah merasakan ada kepentingan yang akan menautkan kita semua.”



Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya, karena dia juga memiliki perasaan yang sama.


“Aku berkunjung ke kediamanmu karena aku membutuhkan bantuanmu.”


Panembahan Mbah Iro terdiam sejenak. Ditatapnya wajah sang Kyai dalam-dalam.


“Aku akan selalu membantumu, saudaraku. Katakan saja apa kesulitanmu.”


Kyai Badrussalam beringsut. Lalu mengambil bungkus kain yang ada di dalam backpack Andika. Dengan hati-hati dia membuka tali simpul hidup yang mengikat kain itu. Wajah Panembahan Mbah Iro terlihat terkesima, saat melihat dua buah kitab dan beberapa lembar daun lontar yang kering. Ada tulisan-tulisan yang di rangkai dengan rapi di atasnya.


“Hyang Jagad Dewa Batara! Apa aku sedang bermimpi?” seru Panembahan Mbah Iro.


Kedua matanya terlihat berbinar dan garis wajahnya menyiratkan kekaguman. Dengan melihat sampulnya saja, Panembahan langsung mengetahui kitab apa yang di hadapannya. Itu adalah Serat Dewa Ruci. Berisi tuntunan hidup dalam rangka mencari Guru Sejati yang langsung dihembuskan oleh Sanghyang Acintya melalui mimpi Mpu Siwamurti, sang penulis Kitab.


“Apa Panembahan mengenal kitab ini?”


Panembahan Mbah Iro langsung menganggukkan kepalanya.


“Kitab ini merupakan sumber dari segala sumber segala kitab yang di tulis para mpu yang hidup di bumi nusantara ribuan tahun yang lalu. Tidak ada yang pernah melihatnya. Hanya Roro Lawe yang hafal luar dalam isi daripada kitab ini. Dan ilmunya dia wariskan seluruhnya kepada Endang Darsulasikin, keponakannya sendiri, puteri Panembahan Somawangi. Beliau kemudian menulis sebuah kitab yang menjadi pedoman hidup Trah Somawangi yang disebut kitab Irodarsulasikin.”


Kyai Badrussalam terdiam mendengar penjelasan Panembahan Mbah Iro. Dia melihat ada titik air di kedua sudut mata Pemimpin Besar Trah Somawangi. Seperti sebuah kerinduan yang terlampiaskan. Atau keharuan yang tertumpah saat mendapakan surat cinta dari belahan hati yang tiba-tiba muncul dihadapannya.


“Bolehkah aku menyentuhnya saudaraku?” tanya Panembahan Mbah Iro.


Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya.


“Silahkan Panembahan. Justru kedatanganku kemari untuk meminta Panembahan menerjemahkan isi kitab-kitab ini. Karena aku dan Andika tidak memahami bahasanya.”


Dengan tangan bergetar Panembahan Mbah Iro meraih kitab itu, Lalu mendekapnya dalam pelukannya. Perlahan air matanya menetes. Sungguh merupakan anugerah yang tak terkira, di usianya yang hampir purna, bisa melihat kitab yang dianggap sudah musnah ini.


Beberapa saat keduanya terdiam. Kyai Badrussalam membiarkan Panembahan Mbah Iro larut dalam perasaannya. Dia tidak mau merusak kebahagiaan yang begitu terpancar di garis sahabat tuanya itu. Mungkin bagi Panembahan Mbah Iro, Serat Dewa Ruci adalah kitab suci yang berisi ilmu dan tuntunan akan kehidupan setelah kematian.


“Siapa pemilik kitab-kitab ini saudaraku?” tanya Panembahan Mbah Iro kemudian.


“Kitab ini berada di dalam peti batu bersama sepasang suami isteri yang hidup limaratus tahun yang lalu. Peti batu itu terpendam di bawah pohon jambu yang menjadi tempat pertemuan kita pertama kali.”


Panembahan Mbah Iro kembali terkesiap kaget.


“Maksudmu pohon keramat yang tumbuh di lokasi Megapolitan? Pohon yang diselimuti kekuatan Tirtanala?”


Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya. Panembahan Mbah Iro mencoba kembali mengingat momen pertemuan itu.


Malam begitu gelap dan dingin. Terlihat bayangan yang berkelebat cepat menelusuri wilayah Megapolitan. Dari gerakannya yang begitu cepat, dapat ditebak kalau dia adalah tokoh dunia persilatan yang mumpuni. Tubuhnya begitu ringan melayang di atas tanah Megapolitan yang begitu luas, tandus dan gersang. Tidak nampak ada satu batang pohon pun yang tumbuh di area yang luasnya ribuan hektar itu.


“Aku harus menemukan Pranaja sebelum purnama datang esok hari,” batin Panembahan Mbah Iro.


Baru saja dia mendapat wangsit dari Begawan Wanayasa untuk membawa Pranaja ke puncak gunung mati. Tubuh pemuda itu akan di rendam dalam telaga berisi air panas yang disebut Sendang Edi Peni, selama tujuh hari tujuh malam. Namun tiba-tiba, langkahnya terhenti saat melihat ada keanehan di depan matanya.


“Eh, pohon apa itu? Kenapa batangnya memancarkan cahaya?”


Sebatang pohon jambu tumbuh menjulang sendirian di tengah tanah tandus itu. Begitu kokoh dan tegak seperti ada kekuatan gaib yang menopangnya. Dan Panembahan Mbah Iro mengenali kekuatan yang menyelubungi pohon itu.


“Kekuatan Tirtanala? Benarkah apa yang kurasakan? Pohon itu memancarkan kekuatan Tirtanala?” batinnya.


Perlahan dia melangkah menghampiri pohon itu. Lalu berdiri tegak di hadapannya. Dengan tangan gemetar dia menyentuh batangnya. Hm, begitu dingin dan menyengat. Ada hawa dingin yang berusaha merasuk ke dalam aliran darahnya, begitu dingin dan membekukan. Panembahan langsung menarik tangannya kembali. Dipandanginya pohon itu dalam-dalam.


“Hm, teka-teki apa lagi ini?” batinnya.


Tiba-tiba terdengar ada suara seseorang memanggil namanya. Suaranya begitu renyah, dan dia tahu siapa pemilik suara itu.


“Kakek! Kakek Panembahan ada disini!” teriak Pranaja.


Tapi Panembahan Mbah Iro tidak memperdulikannya. Dia terus saja memandangi Pohon Cinta itu dengan seksama. Rupanya dia belum bisa mengatasi rasa terkejutnya, saat menyadari pohon keramat itu dingin membeku karena kekuatan Tirtanala. Kekuatan yang hanya dimiliki oleh keturunan Trah Somawangi Yang Terpilih. Bahkan dia sendiri sebagai pemimpin Trah Somawangi tidak menguasainya.



Karena Yang Terpilih adalah Rich Pranaja.



“Kakek! Hallouuww!” teriak Pranaja berusaha mengalihkan perhatian Panembahan.



Beberapa saat Panembahan Mbah Iro masih berdiri terpaku.


“Kau mengenali kekuatan yang membuat pohon ini bertahan hidup kan Pranaja?”



Pranaja yang sedang duduk mencangkung di atas batu besar, menganggukkan kepalanya.


“Tentu saja kakek. Ini adalah kekuatan Tirtanala,” jawab Pranaja.



Wajah Panembahan bertambah tegang. Dia menatap tajam Pranaja.


“Mungkinkah ini pohon warisan Panembahan Somawangi. Maksudku beliau yang menanamnya sendiri, kemudian menyelimutinya dengan kekuatan Tirtanala, sehingga dia bias hidup abadi?”



Pranaja hanya terdiam. Dia memang tidak tahu harus menjawab apa. Yang jelas dia heran, tidak biasanya kakek Panembahan bertanya kepadanya. Biasanya dia yang banyak bertanya kepada guru besar kitab Irodarsulasikin itu.



“Memangnya kisah pohon ini tidak ada dalam kitab Irodarsulasikin kakek?” tanya Pranaja.



Sang Panembahan hanya menggelengkan kepalanya. Lalu mereka saling terdiam, bermain dengan pikirannya masing-masing.